Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Selamanya Tak Akan Merestui


__ADS_3

Galang tertidur pulas tak terganggu dengan aktifitas ranjang Ariel dan Om Bobby. Itulah gunanya Om Bobby mengajak Galang jalan-jalan seharian. Anak itu akan kelelahan dan tak terbangun saat dirinya dan Ariel bergelut memuaskan gairah masing-masing.


Tubuh Ariel sampai berkeringat melayani hasrat Om Bobby yang seakan tak pernah padam. Joni masih ingin lagi dan lagi, Ariel dengan senang hati menuruti keinginan Joni.


"Gantian, Beb, kamu yang memimpin. Aku capek," kata Ariel yang akhirnya lelah setelah menggoyang Joni beberapa kali dengan goyangan mautnya.


"Siap. Simpan tenagamu, Sayang!" Om Bobby pun melakukan tugasnya dengan baik. Ia membuat Ariel mendesaah menikmati semua permainannya sampai Joni lemas dan tertidur lelap setelah menunaikan semua hasratnya.


Om Bobby terbaring di sisi Ariel dengan nafas yang masih menderu dan dada naik turun. Lelah namun nikmat. Ariel memang selalu membuatnya puas meski dirinya akan lemas karena hasrat Om Bobby yang kuat dan tak ada lelahnya.


"Capek?" tanya Om Bobby seraya menghapus keringat yang ada di kening Ariel.


"Capek tapi enak," jawab Ariel sambil tersenyum menggoda.


"Nakal!" Om Bobby mencubit hidung Ariel lalu mengecup keningnya. "Terima kasih ya, Sayang. Aku pikir selamanya duniaku akan datar dan kelam, tapi setelah bertemu kamu ternyata duniaku jadi lebih bersinar."


"Justru aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu. Dulu duniaku sebelum bertemu kamu terasa suram dan penuh air mata tapi kini semua terasa indah. Apa yang dulu tak pernah terbayang dalam hidupku akan terjadi, kini bisa terjadi. Hal yang selama ini aku pikir hanya mimpi ternyata bisa aku rasakan. Semua berkat kamu, Beb. Betapa bersyukurnya aku memiliki kamu dalam hidupku." Ariel menyandarkan kepalanya ke dada bidang Om Bobby yang dipenuhi dengan bulu lebat namun terlihat begitu seksi di mata Ariel.


"Jangan berkata begitu. Aku juga memiliki banyak kekurangan. Aku tak sesempurna itu," kata Om Bobby merendah.

__ADS_1


Ariel tiba-tiba teringat dengan tatapan kosong Om Bobby saat di toko perhiasan tadi. Ariel mengenal Om Bobby, suaminya tiba-tiba terdiam saat melihat kalung dengan liontin bergambar apel. Tak mau menyimpan rasa penasarannya lebih lama, Ariel pun bertanya pada Om Bobby.


"Beb, boleh aku tahu kenapa tadi kamu diam saja saat melihat kalung dengan liontin berbentuk apel di toko perhiasan? Apa liontin itu mengingatkanmu pada sesuatu?" tanya Ariel dengan hati-hati.


Om Bobby tak langsung menjawab pertanyaan Ariel. Ia malah memejamkan matanya sejenak, seolah sangat berat saat mengingat hal yang menyakitkan tersebut.


"Kalau terlalu menyakitkan, tak apa kok kamu tak menjawabnya," kata Ariel yang merasa tak enak hati.


Om Bobby membuka matanya lalu menatap langit-langit kamar saat menjawab pertanyaan Ariel. "Tak apa. Aku memang harus menceritakan semua ini sama kamu. Kalung itu ... mengingatkanku pada Lisa. Kalung itu mirip sekali dengan kalung yang kuberikan untuk Lisa. Aku memberikannya hadiah agar ia tak sedih saat tahu kalau aku sulit memiliki keturunan. Lisa senang sekali dengan kalung pemberianku. Tak kusangka, kalung itu tetap ia pakai bahkan di hari kepergiannya. Kalung itu putus saat Lisa dikeluarkan dari mobil. Seakan memberi tanda perpisahan pada pemiliknya yang kini sudah pergi untuk selamanya."


"Aku turut bersedih mendengarnya, Beb. Pasti sangat menyakitkan ya saat melihat lagi kalung yang dulu begitu berkesan dalam hidupmu?" Ariel memeluk Om Bobby semakin kencang. Ia berharap pelukannya akan mampu mengusir sedikit rasa sedih yang Om Bobby rasakan.


"Awalnya aku sedih. Semua kenangan buruk itu seolah terputar lagi dalam kepalaku, karena itu aku diam saja. Untung saja kamu menyadarkanku. Membuatku kembali ke dunia nyata dan sadar kalau aku sudah memiliki kebahagiaan lain di hidupku yakni kamu dan Galang." Om Bobby tersenyum lebar. "Tetaplah terus menemaniku ya, Sayang. Aku tak tahu bagaimana hidupku tanpa kamu."


Om Bobby tersenyum melihat tingkah Ariel. Kalau sudah kelelahan, ia akan tertidur dengan mudahnya. Di tengah percakapan pun ia akan tertidur. Lucu dan menggemaskan bagi Om Bobby.


Om Bobby justru sebaliknya. Matanya sangat kering sampai tak mau dipejamkan. Ia malah menatap langit-langit kamar seraya teringat apa yang Mama Tita katakan.


"Selamanya Mama tak akan merestui hubungan kalian berdua. Kamu itu Rob, kamu sudah Mama besarkan dengan susah payah sampai Mama rela menjual diri Mama sendiri. Ini balasan kamu? Menikahi wanita yang profesinya sama hinanya dengan Mama kamu? Susah payah Mama mengangkat derajat kamu, namun kamu malah memilih wanita yang hina itu untuk menjadi istrimu? Bodoh kamu, Rob! Bodoh! Jangan harap Mama akan merestui kalian. Melihat mukanya saja Mama tak sudi!" kata Mama Tita di telepon.

__ADS_1


Huft ...


Om Bobby menghembuskan nafas berat.


Kali ini ia menyerah. Sang Mama kalau sudah membuat keputusan tak akan tergoyahkan. Om Bobby memilih Ariel menjadi istrinya. Ia akan mempertahankan rumah tangganya meski selamanya sang Mama tak akan memberi restu.


Om Bobby merengkuh Ariel dalam pelukannya. Tak pernah sekalipun Om Bobby berniat melepaskan Ariel. Ia akan mempertahankan wanita sebaik Ariel di sisinya. Ariel adalah kebahagiaannya, selamanya mereka akan bersama.


****


Setelah puas menikmati semua fasilitas di hotel mulai dari kolam renang, spa, salon sampai makanannya yang lezat, Ariel dan Om Bobby memutuskan untuk pulang. Tak lupa sebelum pulang ke rumah, Om Bobby membelikan mainan untuk Galang sesuai janjinya.


Galang membawa mainan besar di tangannya sambil tersenyum bahagia. Lagi-lagi Om Bobby begitu royal dalam memberikan hadiah, meski Galang bukan anak kandungnya. Harga tak jadi masalah selama Galang bahagia, begitu prinsip Om Bobby.


Masa senang-senang sudah selesai. Kini saatnya menjalani hari-hari seperti biasa. Hari-hari dimana Ariel menjalankan perannya sebagai seorang istri dan ibu yang baik, juga peran baru yakni seorang pebisnis.


Ya, Ariel akan mengambil kesempatan emas yang ditawarkan padanya. Ia memang memiliki nilai IPK kecil saat kuliah. Ia memang tak pernah kerja di kantoran karena perusahaan selalu menolak CV miliknya setelah tahu nilai kuliahnya kecil. Namun semua itu bukan penghalang bagi Ariel untuk maju, sukses dan berkembang.


Ariel berencana akan merubah hidupnya. Ia bukan lagi seorang sugar baby yang dengan memberikan kenikmatan bisa mendapatkan uang. Ia mau membuktikan kepada mertuanya yang selama ini memandang rendahnya kalau dirinya memiliki kemampuan, meski hanya sebagai penjual keripik.

__ADS_1


Ariel menatap karung besar berisi kentang yang belum dikupas dengan mata penuh semangat. Ia menyingsingkan lengan bajunya seraya menyemangati dirinya sendiri. "Selamat bekerja Ariel Anastasia. Buktikan kalau dirimu bisa! Semangat!"


****


__ADS_2