Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Ulah Joni


__ADS_3

Sebenarnya Ariel masih marah setiap mengingat ada bekas wanita lain di tubuh suaminya, namun memendam kemarahan terus menerus untuk apa? Malah membuat celah wanita perusak itu masuk semakin mudah.


"Baiklah. Aku pulang dulu. Aku mau ambil baju ganti buat kita berdua." Ariel hendak bangun dari pangkuan Om Bobby namun lelaki tampan itu malah menahan tubuhnya dan tetap duduk di atas Joni yang mulai bereaksi.


"Untuk apa? Kita akan beli baju yang baru, sekarang ... Joni sudah kasih kode nih. Katanya kangen dengan Mama Ariel." Om Bobby menatap Ariel dengan tatapan penuh maksud.


"Beb, ini di kantor kamu. Bagaimana kalau itu." Ariel menunjuk CCTV di sudut ruangan Om Bobby. "Merekam semuanya?"


"Semua bisa diatur!" Dengan mudahnya Om Bobby mengangkat tubuh Ariel dan menaruhnya di atas meja kerjanya. Om Bobby berdiri dan berjalan dengan gagahnya ke arah pintu ruangannya. Ariel terus memperhatikan apa yang suaminya lakukan. Ia mengunci pintu ruangannya lalu menurunkan tirai yang menutupi jendela.


Om Bobby lalu mengambil ponsel miliknya dan menonaktifkan CCTV yang ada di ruangannya. Ia kembali tersenyum penuh maksud seraya membelai lembut wajah Ariel. "It's show time."


Om Bobby menunduk dan langsung mencium Ariel dengan rakus. Baru beberapa hari tak menyentuh Ariel rasanya seperti puasa berbulan-bulan lamanya. Om Bobby merasa tak sabaran dan membuka baju Ariel dengan sedikit memaksa. Sebuah kancing baju Ariel copot dan terjatuh di lantai, entah terus menggelinding kemana, kedua insan itu tak peduli.


Om Bobby membuka celana jeans yang Ariel kenakan dengan kesal. "Kenapa tak pakai dress saja sih biar Joni mudah bertemu tempat terindahnya," protes Om Bobby. Masih sempatnya ia mengeluh di saat Joni sudah berontak ingin segera bertemu pawangnya.


"Aku datang ke sini untuk memberi pelajaran pada wanita itu karena sudah menggodamu. Tentu aku akan memakai pakaian siap tempur agar aku bisa menghajarnya dengan sekuat tenagaku," jawab Ariel. Ia membantu Om Bobby yang kesulitan karena jeans yang dikenakannya lumayan ketat.


"Kalau begitu ... simpan tenagamu dan nikmati saja. Kali ini, aku yang akan menghukummu karena membuat Joni terasa sesak. Bersiaplah menerima hukumanmu!" Om Bobby lalu menyumpal mulut Ariel dengan bibirnya.


Ariel ingin bersuara namun Om Bobby terus menghujaninya dengan ciuman panas dan sentuhan demi sentuhan yang membuat Ariel hanya bisa menikmati tanpa protes. Ini gila, apa yang mereka lakukan di siang ini memang gila.


Braaakkk!

__ADS_1


Telepon kantor bersama beberapa dokumen berjatuhan dari meja kerja Om Bobby. Tubuh Ariel di atas meja kerja tengah menikmati setiap penyatuan yang Om Bobby lakukan. "Ouch ... kamu liar sekali, Beb."


Om Bobby menatap Joni yang tak ada loyonya, terus memaksa ingin bertarung dan bertemu sang pawang, Ariel. "Kamu suka?"


"Em ... i-ya," jawab Ariel di tengah gempuran Joni yang tak ada lelahnya.


Brakkk!


Kali ini alat tulis Om Bobby jatuh semua. Tak ada lagi yang tersisa di atas meja kerja berukuran besar tersebut. "Joni akan membuat Mama Ariel meminta ampun!"


Ariel terus merasakan kenikmatan demi kenikmatan. Om Bobby memang beda. Ia seperti seorang musafir kehausan yang bertemu dengan oase. Ia meneguk dan menghisaap sari-sari milik Ariel sampai tubuh Ariel berkeringat meski AC dinyalakan sangat dingin.


"Panggil namaku, Sayang! Panggil namaku dengan suara seksimu, Sayang!" bisik Om Bobby sambil terus menggoyang Ariel.


"Bobby ... honey ... Beb ... Ouch!"


Om Bobby pun sampai di puncak kenikmatannya. Ia terkulai lemas dengan peluh membasahi kemejanya. "Kamu ... memang hebat!" Om Bobby mengecup pipi Ariel yang terlihat ngos-ngosan sehabis bergaya bolak-balik sesuai kemauan Om Bobby.


"Kamu yang hebat, Sayang. Aku sampai beberapa kali mencapai kenikmatan berkat kamu dan Joni." Ariel berusaha duduk dengan benar di meja meski kelelahan. Om Bobby membantu Ariel dan menatapnya dengan tatapan lapar.


"Hanya kamu yang bisa membuat Joni bereaksi. Hanya kamu yang Joni mau!" Om Bobby mengusap pipi Ariel dengan penuh kasih.


Ariel menggenggam tangan kekar Om Bobby dan mengecupnya. "Aku akan lakukan apapun agar kamu dan Joni bahagia!"

__ADS_1


Om Bobby tersenyum mendengar ucapan Ariel. Hatinya senang kala Ariel mengatakan kata-kata romantis macam itu. Om Bobby sadar kalau dirinya bukanlah pria romantis. Ia cenderung dingin dan agak kaku.


"Riel, ajari aku menjadi sosok yang romantis ya! Aku tak bisa seperti kamu yang bisa bebas mengungkapkan isi hati. Aku iri." Om Bobby membuang tatapannya, tak mau sampai Ariel mengetahui rasa sakit yang ia rasakan.


"Kamu bisa, Beb. Hanya belum terbiasa saja. Tenanglah, aku akan ajari. Sekarang, tolong pakaikan aku baju. Kamu harus tanggung jawab. Pakaianku kusut dan penampilanku berantakan. Bagaimana aku keluar dari ruangan ini?" Ariel melipat kedua tangannya di dada. Ia masih belum memakai baju, yang mereka berdua lakukan sudah membuat ruangan Om Bobby berantakan bak kapal pecah. Beruntung dokumen penting sudah Om Bobby masukkan dalam laci, jika tidak mungkin ada bekas keringat mereka berdua di atasnya.


"Oke. Aku akan bertanggung jawab!" Om Bobby mengangkat Ariel dan membawanya ke kamar mandi. "Kamu bersihkan tubuh kamu dulu, akan aku cari pakaianmu di tumpukan barang-barang yang berantakan itu. Huft ... kamu memang hobby membuat segala sesuatu dalam hidupku berantakan. Bukan hanya Joni, ruanganku juga. Cepatlah bersih-bersih, sebelum kamu kembali aku acak-acak!"


Ariel tertawa mendengar ucapan Om Bobby. Baginya, kata-kata lucu seperti itu yang keluar dari mulut Om Bobby terasa lebih romantis dibanding ucapan lain. Terasa tulus dan penuh arti.


"Kenapa masih liatin aku? Mau aku acak-acak di kamar mandi?" tanya Om Bobby mengagetkan Ariel yang terus menatapnya tanpa berkedip.


"Ampun Yang Mulia. Hamba hanya tergoda dengan otot kekar Yang Mulia. Jangan dihukum ya!" Ariel tertawa lalu menutup pintu kamar mandi. Ariel menatap wajahnya di cermin, wajah bahagia yang selama ini tertutup kabut.


"Memang benar kata orang, saat jatuh cinta, seseorang pasti akan terlihat lebih bersinar. Semua pasti karena Om Bobby sudah memberiku banyak kebahagiaan." Ariel menyentuh bekas tanda kepemilikan yang berwarna merah keunguan hasil ciptaan bibir lembut yang sedotannya kuat itu. "Pantas bibirku agak bengkak, dasar Om Vakum Cleaner!"


"Udah belum? Baju kamu sudah ketemu nih!" Om Bobby mengetuk pintu kamar mandi. Mengagetkan Ariel yang sedang tersenyum sendiri. "5 menit lagi ya!"


Ariel membuka pintu kamar mandi setelah selesai bersih-bersih. Matanya membulat melihat keadaan blouse cantik yang tadi dikenakannya, rupanya bukan hanya kancingnya yang copot. "Beb, kenapa bisa robek besar seperti ini? Bukannya tadi cuma kancing saja yang copot?"


Om Bobby menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Itu ... ulah Joni. Sesekali, boleh 'kan Joni menyerang pawangnya?"


*****

__ADS_1


__ADS_2