Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Sayang Om Papa


__ADS_3

Galang sangat excited berada di aquarium raksasa dengan banyak ikan yang berenang di atasnya. Rasanya tak ada lelahnya anak itu menunjuk satu persatu ikan yang ia lihat.


"Mama, itu ikan mas bukan?" tanya Galang membuat Ariel dan Om Bobby tertawa terbahak-bahak mendengarnya.


"Bukan, Sayang! Ikan mas itu hidupnya di air tawar, bukan di air laut. Itu ikan hias yang sering Galang lihat di tukang ikan. Macam-macam loh jenisnya," jawab Ariel sok tahu padahal dia sendiri tidak tahu ikan apa yang Galang tunjuk.


"Galang, coba lihat deh, ikannya besar sekali!" Om Bobby menunjuk ke arah ikan pari yang berenang dari kejauhan dan akan mendekat ke arah mereka. Galang mengikuti arah yang Om Bobby ditunjukkan. Matanya membola dan ia seakan takjub saat melihat ikan pari yang besar tersebut lewat di atas kepalanya. "Wow, besar sekali! Sebesar ini!" Galang merentangkan kedua tangannya seolah mengukur besarnya ikan pari dari sudut pandangnya. Ariel dan Om Bobby kembali tersenyum melihat kelucuan Galang.


"Ayo, Om Papa gendong biar Galang coba tangkap ikan yang besar ya!" Om Bobby menggendong Galang dan mengangkatnya tinggi-tinggi agar ia bisa menyentuh kaca akuarium yang ada di atas kepalanya. Galang begitu terpukau melihat ikan dengan jarak yang dekat sekali. Ia tertawa bahagia dan sesekali memekik kegirangan.


Ariel terus memperhatikan interaksi antara Om Bobby dengan Galang. Mereka memang bukan ayah dan anak yang memiliki hubungan darah namun kedekatan mereka bahkan lebih dekat daripada Galang dengan ayah kandungnya sendiri. Ariel melihat kalau Om Bobby sangat menyayangi Galang, begitu pun sebaliknya. Om Bobby yang terlihat begitu bahagia saat bersama Galang seakan menggambarkan isi hatinya yang sebenarnya.


"Mama, ayo dong! Mama jangan bengong aja!" Galang menarik tangan Ariel agar mengikuti langkahnya yang sudah jauh di depan.


"Oh iya, maaf ya, Mama bengong terus nih!" Ariel kembali tersenyum. Ia mengikuti kemana Galang ingin pergi. Mereka lalu menonton pertunjukkan lumba-lumba. Hewan itu sangat pintar dan menurut saja apa yang diperintahkan.


"Kelen ya, Om!" puji Galang yang duduk dipangkuan Om Bobby.


"Iya. Galang mau dicium sama ikan lumba-lumba tidak?" tanya Om Bobby.


"Galang takut, Om Papa. Kalau Galang digigit bagaimana?" tanya balik Galang.

__ADS_1


"Tenang saja. Ada Om Papa yang temani. Galang percaya sama Om Papa bukan?" tanya Om Bobby yang dijawab Galang dengan anggukan. "Ayo kita antri agar bisa dicium ikan!"


"Mama Ariel mau dicium ikan juga tidak? Atau Mama Ariel maunya dicium Papa Robbie saja?" ledek Om Bobby setelah Galang berjalan duluan untuk mengantri karena sudah tak sabaran.


"Hmm ... kalau dicium ikan lumba-lumba pasti amis deh. Mama Ariel lebih memilih dicium Om Bobby aja deh, soalnya kayak ada manis-manisnya!" jawab Ariel seraya tersenyum malu.


"Ih nakal ya. Suka sekali menggoda Papa Robbie! Baiklah kalau Mama Ariel memilih dicium Papa Robbie. Tunggu ya! Aku mau membahagiakan Galang dulu!" Om Bobby berjalan menghampiri Galang yang sudah tak sabaran ingin dicium ikan lumba-lumba. Ariel hanya memperhatikan dari jauh. Ia cukup menjadi juru foto yang siap mengabadikan momen bahagia Galang dan Om Bobby dengan kamera dari ponsel terbarunya.


Ya, secara tiba-tiba Om Bobby membelikan Ariel ponsel keluaran terbaru. Om Bobby baru saja memberikannya pada Ariel sesaat sebelum mereka pergi. Ariel kembali terkejut dengan surprise yang Om Bobby berikan. Keren sekali ponsel di tangannya, membuat Ariel terlihat makin berkelas saja.


Beberapa foto dan video pun Ariel ambil. Galang sangat pemberani sampai tidak merasa takut saat dicium ikan. Senyumnya yang lebar seakan menggambarkan kalau dirinya amat nyaman berada di dekat Om Bobby, sosok ayah yang selama ini Galang butuhkan.


Om Bobby terus menjaga Galang. Mengiyakan setiap keinginan anak itu. Memang terkesan agak memanjakan Galang namun Ariel biarkan selama masih dalam tahap wajar. Ariel tahu kalau Om Bobby melakukan semua itu karena ia amat menyayangi Galang dengan sepenuh hati.


Ariel dan Om Bobby memilih tempat duduk yang nyaman. Om Bobby menghadap ke arah tembok di belakang Ariel sementara dirinya dan Galang menghadap ke depan. Banyak pengunjung yang datang dengan pakaian yang terlihat bak orang kelas atas. Ariel beruntung memakai pakaian terbaiknya. Rasa percaya dirinya naik satu level karena ia harus memantaskan diri saat bersama Om Bobby.


Om Bobby sibuk memesankan menu makanan sementara Ariel memilih untuk melihat-lihat pemandangan di depannya. Ariel belum pernah ke tempat ini, takut salah pesan, lebih baik menyerahkan pada Om Bobby saja yang sudah sering makan di tempat ini.


Mata Ariel memperhatikan pengunjung yang datang bersama keluarga besarnya. Makanan yang dipesan sangat banyak, Ariel jadi kagum karena tahu harga makanan di tempat ini lebh mahal dari di warung seafood tendaan. Mata Ariel lalu menatap ke pengunjung yang lain.


"Sayang, aku ke toilet dulu ya!" kata Om Bobby.

__ADS_1


"Iya, Beb," jawab Ariel sambil tersenyum. Saat Om Bobby pergi ke toilet, Ariel mengajak Galang mengobrol. Anak itu menceritakan gambar ikan di gelas souvenir yang dibelikan Om Bobby untuknya dengan penuh semangat.


Sambil mendengarkan cerita Galang sesekali Ariel merapihkan rambut lurus Galang. "Galang senang sekali dong pergi sama Om Papa?" tanya Ariel di sela cerita Galang.


"Senang sekali, Ma," jawab Galang dengan cepat.


"Galang sayang sama Om Papa?" tanya Ariel lagi meski ia sudah tahu jawabannya.


"Sayang sekali, Ma. Om Papa baik. Galang sayang Om Papa!" jawab Galang penuh semangat.


"Good, anak pintar!" Ariel tak lagi mengajak Galang bicara saat makanan yang dipesan tiba. Om Bobby masih belum kembali. "Galang, Mama cuci tangan dulu ya. Galang jangan kemana-mana, oke?"


Ariel meninggalkan Galang dan pergi ke washtafel. Ia membersihkan tangannya dengan cepat lalu kembali ke tempatnya. Betapa terkejutnya Ariel saat melihat siapa yang duduk di tempatnya dan sedang mengajak Galang mengobrol.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Ariel dengan ketus. Ia tak suka dengan lelaki di depannya. Lelaki yang pernah menggoreskan luka yang mendalam dan membuatnya menjadi orang jahat. Lelaki yang dulu amat ia cintai sampai rela memberikan apapun untuk lelaki tersebut, termasuk mengkhianati sahabatnya sendiri.


"Hi, Riel. Apa kabar?" tanya Noah sok akrab.


"Kabarku baik sebelum bertemu kamu. Mau apa kamu mendekati anakku?" tanya Ariel sambil menatap tajam ke arah Noah.


"Aku ... hanya menemani anak kamu saja saat kamu tinggal cuci tangan. Riel, ada yang mau aku bicarakan. Bisa kita bicara sebentar?"

__ADS_1


****


__ADS_2