Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Rengekan Galang


__ADS_3

"Kakak kok diam aja sih? Kakak bujuk dong seharusnya Kak Ariel agar Kak Ariel bisa ikut sama Kakak!" omel Prisa saat mereka dalam perjalanan ke Bandung. "Memangnya Kakak tidak sadar apa kalau Kak Ariel itu habis menangis semalaman? Kakak sudah tahu 'kan cerita yang sebenarnya, kenapa Kakak berpura-pura seakan tidak ada yang terjadi?"


Om Bobby menghela nafas dalam. Pagi-pagi adiknya sudah mengomelinya habis-habisan. Memang, adiknya yang satu ini berbeda dari anak remaja yang lain. Pikirannya terlalu dewasa dibandingkan dengan usianya. Entah karena terlalu pintar, atau karena terlalu banyak mengalami pahitnya cobaan hidup yang membuatnya dewasa sebelum waktunya.


"Lalu kamu mau Kakak kayak gimana? Marah-marah ke Kak Dena? Enggak 'kan? Prisa, Kakak kenal bagaimana kakak iparmu. Ariel tuh kelihatannya saja sedih dan lemah, aslinya dia itu kuat. Cobaan hidupnya lebih banyak daripada yang kamu pikirkan. Kalau cuma menghadapi warga begitu saja sih, paling dia cuma nangis, selanjutnya kamu lihat aja nanti," jawab Om Bobby dengan santai.


"Tapi, Kak, Kak Ariel itu sangat sedih. Memangnya Kakak tidak bisa melihat kalau matanya itu bengkak? Itu pertanda kalau Kak Ariel menangis semalamam. Aku sudah cerita sama kakak apa yang telah terjadi bukan, aku pikir Kakak akan menghibur Kak Ariel, ternyata Kakak cuek saja. Emangnya Kakak tidak peduli ya dengan Kak Ariel?" tanya Prisa.


"Kata siapa Kakak tidak peduli? Dek, Ariel nangis itu bukan karena dia malu di depan para warga. Ariel menangis itu karena dia merasa bersalah pada Kak Dena. Ariel pernah cerita sama Kakak kalau dia menyesali apa yang sudah ia lakukan di masa lalu. Ariel berbuat seperti itu juga karena ia butuh uang, terpaksa. Selama ini, Ariel dan Kak Dena tak pernah bertemu sama sekali. Sekarang saat mereka mereka dipertemukan, rasa bersalah Ariel lebih menguasai daripada rasa malu, karena itu Ariel diam saja,"


"Kamu itu tidak benar-benar mengenal Ariel. Kalau kamu memang benar kenal siapa Ariel, dia pasti akan melawan. Ibaratnya, kamu senggol dia, maka dia akan mendorong kamu. Dia wanita kuat, Kakak diam bukan karena kakak tidak membelanya. Kakak punya cara sendiri untuk membela istri Kakak. Kamu tenanglah. Biar Ariel itu urusan Kakak. Tugas kamu adalah menyadarkan Mama. Mau sampai kapan dia ikut campur dengan rumah tangga Kakak?" Om Bobby tetap fokus mengemudi di jalan tol yang lengang dengan hati yang kesal.


Bagaimana Om Bobby tidak kesal, semua yang terjadi pada Ariel tak lain karena ulah Mamanya sendiri. Kalau Mamanya tidak suka dengan seseorang maka ia akan berbuat apa saja untuk menyingkirkan orang tersebut. Selama ini Om Bobby tidak mau berumah tangga karena tahu watak sang Mama. Istri yang dipilih haruslah yang berasal dari kalangan atas. Siapa yang mau menikah dengan lelaki yang impoten macam Om Bobby? Tak ada. Kalau mereka tahu Om Bobby memiliki masalah dengan Joni, mungkin dalam waktu 1 atau dua bulan mereka akan langsung menuntut cerai. Itulah kenapa Om Bobby tidak mau menikah dengan jodoh yang dipilihkan oleh sang Mama. Pilihan Om Bobby adalah Ariel, wanita kuat yang ia yakin bisa melawan kuasa sang Mama.


Om Bobby mengantarkan Prisa sampai depan pintu pagar saja. Ia sengaja tidak turun dari mobil karena malas bertemu dengan Mamanya yang menyebalkan itu. Rupanya Mama Tita melihat kedatangan anaknya. Dia pun langsung keluar dan menghadang mobil Om Bobby.

__ADS_1


"Jadi kamu tidak mau ketemu Mama sekarang? Pasti wanita itu yang sudah mencuci otak kamu!" tanya Mama Tita sambil melipat kedua tangannya di dada


"Bukan tidak mau, cuma males aja. Ada yang mau dibicarakan tidak, Ma? Kalau tidak, aku harus pergi. Ada meeting dengan klien," jawab Om Bobby dengan dingin.


"Robbie! Jadi begini cara kamu memperlakukan Mama? Hanya karena wanita itu, kamu jadi tidak menghormati Mama? Sadar kamu, Rob! Dia bukan wanita baik-baik. Kalau dia memang wanita yang baik, dia tidak akan menghancurkan rumah tangga Dena dan Sam!"


"Aku tak mau bahas ini lagi sama Mama. Capek. Sam dan Dena, rumah tangga mereka hancur ya karena mereka sendiri yang tidak bisa menjaganya. Ariel hanyalah orang yang salah di tempat yang salah. Mereka yang sudah menghianati pernikahan mereka. Mereka yang sudah menghancurkan sendiri pernikahan mereka. Kak Dena yang sibuk dengan pekerjaannya dan Sam yang kesepian dan butuh teman. Apa bedanya mereka dengan Mama? Mama juga kesepian dan butuh teman hidup bukan? Kebetulan saja saat itu Ariel hadir. Mama jangan menilai Istriku yang buruk dulu. Coba Mama kenali dia lebih jauh. Ariel itu tidak beruntung seperti Mama dulu. Sekarang Ariel sudah berubah, sudah taubat dan menjadi istri yang baik untukku. Kalau Mama terus-menerus menyakiti istriku dan membuat keributan lagi seperti kemarin, maka aku terpaksa akan menyakiti hati Mama. Tolong, Mama hargai istriku seperti aku menghargai apa yang Mama lakukan di masa lalu. Aku pergi dulu. Ingat pesanku, jangan lagi melakukan sesuatu yang berlebihan seperti kemarin." Om Bobby lalu pergi setelah mengancam Sang Mama yang terlihat makin kesal karena Bobby benar-benar tak lagi mendengarkannya.


*****


"Galang mau main apa? Mobil-mobilan? Atau main Lego?" tanya Ariel dengan suara yang lembut.


"Galang bosan main di rumah. Galang mau ke taman. Mau main ayunan! "


Ariel menghela nafas dalam. Sudah ia duga, anaknya akan merengek minta ke taman. Setelah apa yang terjadi kemarin rasanya Ariel enggan untuk pergi ke taman dan bertemu dengan warga sekitar. Ia hanya mencoba menghindari masalah dan tidak memperbesar masalah. Kalau Ariel menampakan wajahnya pada banyak orang saat ini mungkin keadaan bisa tambah parah. Lebih baik Ariel di rumah saja dan menunggu sang suami pulang.

__ADS_1


"Mama tidak boleh keluar sama Om Papa. Kita main di rumah aja ya!" bohong Ariel.


"Enggak mau! Sekarang Galang mau keluar. Galang bosan. Sekarang mau ke taman. Mama jahat, Galang enggak boleh ke taman! Galang mau ke taman. Pokoknya Galang mau main ayunan di taman!" Galang pun mulai menangis dan merengek minta main ke taman.


Ariel sudah membujuknya dengan berbagai cara, mulai dari menawarinya es krim, mengajaknya memasak bersama, sampai membuat mainan dari kardus bekas. Galang tetap tidak mau. Ia ingin main ke taman karena sudah bosan berada di rumah seharian.


Tangisan Galang semakin kencang, segala bujuk rayu Ariel semua ditolak. Ariel bingung mau melakukan apa, sampai akhirnya ia pun mengiyakan keinginan Galang. Ariel menghirup udara banyak-banyak, ia lalu mengangkat wajahnya dan pergi ke taman dengan sang buah hati tercinta. Mengesampirkan rasa takut dan malu yang ada.


Semula taman tak begitu ramai. Tempat ayunan juga kosong. Galang bisa bermain sampai puas. Ariel merasa tenang karena tak banyak orang, namun sayangnya Ariel tak bisa bernafas lega lebih lama karena secara kebetulan rombongan ibu-ibu yang baru saja selesai arisan lewat di depan Taman.


"Loh, bukannya itu si penjual keripik yang suka merusak rumah tangga orang? Ngapain di taman? Wah, jangan-jangan dia lagi nyari target baru nih?" kata ibu-ibu yang kemarin mendengar apa yang terjadi antara Ariel dengan Tante Dena.


"Oh iya, benar itu dia. Ngapain dia ada di taman? Wah nggak bener nih, ayo kita samperin! Orang kayak dia tuh enggak boleh berkeliaran di komplek ini. Kalau sampai suami kita digebet sama dia, bagaimana dengan masa depan kita kelak?"


"Iya benar, Ayo kita samperin! Kalau perlu kita usir dia!"

__ADS_1


****


__ADS_2