
Ariel akhirnya bisa bernafas lega. Malaikat pelindungnya sudah datang. Malaikat yang benar-benar melindunginya dan tak akan membiarkannya terluka sedikit pun. Tidak seperti Om Sam yang berpura-pura melindungi namun ternyata punya maksud terselubung demi mendapatkan keuntungan sendiri.
"Apa-apaan kalian? Kenapa semua berkumpul di depan rumah saya?" Om Bobby berjalan dengan tegap seraya menatap satu persatu warga yang terlihat emosi. "Apa begini warga komplek yang berprinsip kalau kerukunan dan ketentraman adalah nomor satu seperti slogan di depan komplek? Begini, hah?"
Semua warga terdiam. Mereka seakan takut dengan kedatangan pemilik rumah yang sebenarnya. Bapak Robbie yang selama ini mereka kenal sebagai sosok yang pendiam dan jarang menyapa, terlihat semakin berkarisma. Duda tampan yang menjadi idola para ibu-ibu kini datang dengan wajahnya yang terlihat marah karena kekasih hatinya diusik.
Om Bobby menatap para warga satu persatu. Tatapannya kemudian tertuju kepada Om Sam yang tersungkur di lantai setelah ditendang oleh Ariel. Kebetulan Om Bobby tadi melihatnya dari kejauhan. Rumahnya memang lebih tinggi daripada jalanan komplek, saat Ariel menendang Om Sam dengan sekuat tenaga, Om Bobby tertawa terbahak-bahak di dalam mobil.
Sudah Om Bobby duga kalau istrinya itu bukanlah wanita lemah yang akan menangis dan diam saja saat orang lain memperlakukannya dengan tidak adil. Kemarin, Ariel menangis karena menyesali perbuatannya. Om Bobby membiarkan Ariel melakukan hal tersebut semata-mata agar Ariel lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Agar Ariel bertaubat dan tak pernah berpikir untuk kembali ke jalan yang dulu pernah ia tempuh.
"Maaf, Bapak Robbie, kedatangan kami ke rumah Bapak malam ini dikarenakan kami mendengar pengaduan dan keributan yang terjadi pada malam bazar kemarin. Kami dengar tentang masa lalu Ibu Ariel yang seorang perempuan 'simpanan'. Warga di sini khawatir dan menanyakan status Ibu Ariel pada saya. Warga di sini pun mulai curiga kalau Bapak Robbie dan Ibu Ariel sudah melakukan, maaf, kumpul kebo". Pak RT memberikan penjelasan kepada Om Bobby tujuan mereka datang ke rumah Om Bobby malam ini.
"Sungguh kecurigaan yang aneh ya, Pak, saya dan Ariel itu manusia, kalau mau kumpul ya memang kumpul manusia bukan kumpul kebo. Itu saja kalian sudah salah. Kami sudah tinggal lama di komplek ini, kenapa baru ditanyakan sekarang?" tanya balik Om Bobby.
Om Bobby kembali melanjutkan ucapannya. "Sejujurnya saya kecewa dengan adanya keributan kemarin yang jelas-jelas merugikan Ariel. Dia dipermalukan di depan umum padahal sebenarnya acara tersebut bukan ajang untuk mempermalukan orang lain tapi untuk berjualan dan meramaikan acara komplek ini. Tidak ada tindakan dari pihak keamanan dan Bapak selaku perangkat desa untuk membubarkan aksi keributan yang dibuat kemarin, malah masalah ini semakin lebar,"
__ADS_1
"Hari ini Bapak malah memfasilitasi para warga yang sudah terhasut dengan keributan kemarin untuk datang ke rumah saya beramai-ramai. Kalau memang penasaran, kenapa Bapak tidak langsung datang menemui saya? Kenapa harus membawa-bawa warga? Bukankah itu hanya membuat keadaan semakin keruh saja?" cecar Om Bobby.
Pak RT terdiam mendengar kata-kata Om Bobby yang berbicara dengan tenang namun kata-katanya membuat ia tak bisa membalas balik. Kata-kata yang cerdas, tidak membuat keadaan semakin panas dan malah membuat Pak RT jadi introspeksi diri.
"Sebenarnya apa sih yang Bapak dan Ibu semua khawatirkan? Saya kumpul kebo, gitu? Kalian jadi sial karena saya kumpul kebo? Saya rasa kalian harus introspeksi diri. Sial itu bisa saja bukan karena ada orang yang kumpul kebo tapi karena kalian yang berpikiran sempit dan suka negatif thinking sama orang lain. Itu yang bikin kalian makin sial dan apes." Lagi-lagi Om Bobby menatap satu persatu warga yang datang sambil berjalan bak bos besar sampai akhirnya tiba di dekat Ariel.
Om Bobby mendorong pagar rumahnya agak lebar. Ia biarkan pagar rumahnya terbuka agar semua orang tahu kalau ia tidak takut menghadapi semua warga karena dirinya tidak bersalah.
Om Bobby mengulurkan tangannya pada Ariel. Tanpa ragu, Ariel mendekat dan bersembunyi di belakang tubuh kekar Om Bobby seraya memeluk lengannya yang kekar.
Tanpa diduga, Om Bobby melakukan apa yang tadi Ariel lakukan. Ia kembali menendang Om Sam sampai kembali jatuh tersungkur. Tak ada yang menolong Om Sam. Semua warga malah menatapnya dengan tatapan jijik seraya membicarakan kesialannya.
"Orang seperti dia tuh enggak pantes dekat-dekat rumah saya. Kalian pasti pernah melihat sendiri bukan, dia tuh suka berada di depan rumah saya sambil meminta dibukakan pintu. Dia ini nih yang jadi biang perkaranya. Yang kemarin ribut di bazar itu adalah mantan istrinya dia. Seharusnya kalian bisa nilai sendiri kenapa rumah tangga mereka sampai bercerai? Jangan menyalahkan Ariel. Mereka yang enggak bener. Mantan istrinya datang ke bazar dan marah-marah sama Ariel, kenapa kalian malah membela mantan istrinya? Lihatlah kelakuan dia. Centil. Suka menggoda orang. Ariel sudah tidak mau sama dia tapi dia yang terus mengejar Ariel. Wajar kalau istrinya merasa kalah saing dengan Ariel. Tapi sudahlah, apa yang terjadi dengan mereka di masa lalu, sudah berlalu. Ariel sudah punya kehidupan sendiri sekarang,"
"Sebenarnya saya tidak mau mengumbar kehidupan pribadi saya kepada banyak orang. Namun saya menyadari kalau saya hidup bertetangga, saya hidup dengan tetangga yang super kepo dan ingin tahu tentang urusan saya. Kalian pasti penasaran dengan hubungan saya dan Ariel bukan? Saya dan Ariel ... kami adalah sepasang suami istri. Tak ada kumpul kebo seperti yang kalian pikir." Dengan tenang dan penuh keyakinan Om Bobby membuka hubungannya ke depan publik.
__ADS_1
"Bohong! Tidak ada buktinya mereka sudah menikah!" Om Sam berusaha kembali berdiri seraya memanasi kembali warga yang mulai tenang.
"Kenapa saya harus tunjukin bukti pernikahan saya sama kamu? Enggak penting! Siapa kamu? Kamu cuma orang yang selalu mengusik kedamaian rumah tangga saya. Enggak perlu saya tunjukkan bukti. Cukup kami berdua yang tahu." Jawaban Om Bobby membuat para warga kembali berbisik-bisik dan siap mengajukan protes.
"Tuh 'kan, dia enggak bisa menunjukkan buktinya. Apa yang dia katakan tuh cuma omong kosong belaka. Mereka pasti punya hubungan lebih. Ayolah, masa sih kalian membiarkan komplek ini dihuni oleh orang seperti itu?" Om Sam yang tidak terima sudah dua kali ditendang kini mulai memanasi warga. Ia mau membalas karena sudah dipermalukan di depan umum.
"Iya tuh, dia benar! Buktinya apa? Masa sih kalian tidak bisa membuktikan kalau kalian sudah menikah?" Desak salah seorang ibu-ibu yang tadi bertemu dengan Ariel di taman. Om Sam berhasil menyulut emosinya.
"Iya. Kalau udah menikah ada buktinya dong. Jangan cuma ngomong doang. Buktikan!" warga yang lain pun mulai tersulut emosinya dan kembali menagih barang bukti.
Ariel menatap Om Bobby yang kini mengeluarkan ponsel miliknya. Foto saat dirinya dan Ariel sedang berdiri dan memamerkan cincin yang mereka kenakan pun ditunjukkan pada Pak RT dan Pak RW terlebih dahulu baru ke warga yang lain. "Ini buktinya. Masih tidak percaya?"
"Yah ... bukti kayak gitu doang sih bisa dimanipulasi. Bisa saja 'kan kalian berfoto selfie sambil memamerkan cincin di tangan? Mana buku nikahnya? Mana foto nikahnya? Masa sih tidak ada bukti yang lebih meyakinkan?"
****
__ADS_1