Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Belajar Menjadi Pebisnis


__ADS_3

"Mama, Galang boyeh bantu?" tanya Galang yang tak mau melihat Ariel kelelahan bekerja mengupas kentang dalam jumlah banyak.


"Galang mau bantu Mama? Pintar sekali anak Mama. Boleh kok, Sayang." Ariel memberikan pengupas kentang pada Galang.


Di umur Galang sekarang Ariel mengajarinya berbagai hal. Ariel tidak mau memanjakannya karena ingin Galang tumbuh menjadi anak yang mandiri dan pintar. Ariel mengajari cara mengupas kentang dengan pengupas kentang yang dirasa aman untuk anak seusianya.


Awalnya memang sulit namun anak itu rupanya belajar dengan cepat dan akhirnya bisa membantu Ariel mengupas beberapa buah kentang. Suatu prestasi di usia Galang saat ini. "Pintarnya anak Mama!" Tak lupa Ariel memberikan pujian agar Galang semakin semangat.


Asisten rumah tangga Ariel juga turut membantu. Mereka bertiga bekerja mengupasi sekarung kentang sambil mengobrol dan mendengar celotehan lucu dari mulut mungil Galang. Pekerjaan membuat keripik tak berhenti sampai disitu saja. Ariel juga harus membuat bumbu untuk keripik dan menggoreng keripik sampai matang dan renyah. Ariel benar-benar bekerja keras hari ini. Ia berencana akan menaruh keripik buatannya di Toko Kue Ibu milik Ibu Sri yang kemarin menawarinya bekerja sama.


Om Bobby tidak melarang Ariel untuk bekerja. Ia senang melihat Ariel begitu bersemangat dan memiliki sesuatu yang ingin dituju. Sebagai suami yang baik, Om Bobby hanya bisa mendukung. Ia biarkan istrinya berkreasi dan mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang bermanfaat.


Walaupun sibuk di dapur, Ariel tidak melupakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik. Semua keperluan Om Bobby sudah ia siapkan. Ariel ingin membuktikan kalau ia adalah ibu rumah tangga yang mampu mengerjakan pekerjaan sambilan di waktu senggangnya.


Ariel membawa keripik buatannya ke Toko Kue Ibu milik Ibu Sri keesokan harinya. Ia meminta karyawan Ibu Sri untuk menghubungi Bos mereka sesuai yang dikatakan Bu Sri saat di bazar.

__ADS_1


Tak lama menunggu Ibu Sri datang dengan penampilannya yang khas, baju dengan warna yang berbeda antara atasan dengan bawahan. Hari ini Ibu Sri mengenakan blouse tangan panjang berwarna pink dengan celana panjang berwarna kuning. Benar-benar warna yang tabrakan dan tidak nyambung sama sekali. Ariel tidak tahu kenapa Bu Sri memakai baju seperti itu, yang Ariel tahu itu adalah ciri khas Bu Sri.


"Eh Ibu Ariel sudah datang. Maaf ya menunggu lama," sapa Ibu Sri dengan ramah. Ibu Sri lalu berbicara pada karyawannya dan menyuruh mereka menyiapkan minuman dingin dan cemilan lalu mengajak Ariel naik ke lantai 2 toko miliknya yang merupakan kantor sekaligus ruang istirahat pribadinya.


"Silakan duduk, Ibu Ariel." Ibu Sri sangat ramah. Ariel hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Dia masih malu berhadapan langsung dengan Ibu Sri. Wanita di depannya seperti memiliki kharisma yang membuat orang merasa segan dan hormat saat berhadapan dengannya.


"Bagaimana, seru bukan menjadi ibu rumah tangga tapi memiliki bisnis sendiri?" Ibu Sri mengeluarkan cemilan kue kering untuk Ariel nikmati lalu menaruhnya di atas meja.


"Iya, Bu. Ternyata seru juga menjadi seorang pebisnis. Awalnya saya ragu, apakah keripik saya akan laku, ternyata setelah saya buat banyak yang suka," jawab Ariel.


"Iya, Bu. Saya kagum sama Ibu. Toko kue Ibu sangat besar dan ada beberapa cabangnya. Saya jadi terinspirasi dan ingin sukses seperti Ibu juga," puji Ariel.


"Ah bisa saja kamu. Saya suka dengan semangat berjuang kamu. Semangatnya orang sukses. Kamu tahu tidak, dulu itu saya seperti kamu. Saya bukan orang kaya yang punya modal untuk membuat toko kue. Saya berjualan di bazar ditemani sahabat saya. Kami berteriak-teriak untuk memasarkan barang dagangan kami. Saat melihat kamu, loh kok saya jadi teringat masa lalu saya. Bagaimana saya meniti karir sampai akhirnya bisa memiliki beberapa toko, makanya saya yakin kalau kamu akan sukses dan punya usaha yang maju juga," cerita Bu Sri.


"Oh ya? Wah, keren. Saya tidak menyangka loh. Ibu memang hebat sampai bisa sesukses sekarang. Saya makin terinspirasi sama Ibu," puji Ariel lagi. Ia benar-benar kagum dengan kehebatan Ibu Sri. Selain pribadinya yang asyik juga pintar, pantas bisnisnya sukses.

__ADS_1


"Saya tidak sehebat itu ah, saya hanya orang yang punya keyakinan kuat saja akan berhasil. Saya juga yakin kalau kamu akan sukses seperti saya, karena itu saya membuka kesempatan untuk kamu menitipkan kripik kamu di toko saya. Nanti, kalau keripik kamu semakin laku dan maju, kamu bisa berjualan sendiri. Kamu bisa membuat pabrik sendiri. Saya hanya membuka jalan saja. Saya yakin kripik kamu akan laku karena memang enak." Ucapan Bu Sri membuat Ariel semakin percaya diri. Ia makin optimis kalau keripik buatannya akan laku seperti apa yang Bu Sri katakan.


"Terima kasih banyak atas kepercayaan dan kesempatan yang diberikan kepada saya, Bu. Ibu membuat saya memiliki semangat dan mempercayai kalau saya punya sesuatu yang hebat. Awalnya saya ragu, saya merasa diri saya bukan orang yang pintar. Nilai kuliah saya jelek, melamar kerja di sana-sini tidak diterima. Saya ingin membuktikan kalau saya itu adalah orang yang bisa melakukan sesuatu yang berguna,"


"Banyak yang memandang saya dengan sebelah mata. Saya tak mau seperti itu terus, karena itu saya belajar sedikit demi sedikit sampai akhirnya bisa membuat keripik. Saya hanya ingin terlihat sedikit ... saya lebih baik di depan mertua saya. Saya harap, saya bisa sukses dan membuktikan sama mertua saya kalau saya layak untuk anaknya." Air mata Ariel menetes saat mengatakan hal tersebut. Meski baru mengenal Bu Sri namun ia merasa bisa mencurahkan semua isi hatinya pada wanita bijak tersebut.


"Niat kamu sudah baik. Jalan kamu pun juga sudah baik. Kamu ingin membuat bangga mertuamu. Itu yang membuat saya tambah yakin kalau kamu akan sukses. Jangan patah semangat ya, mau setinggi apapun tangga di depanmu yang harus kamu naiki, yakin saja kalau kakimu itu akan kuat menapaki satu demi satu anak tangga yang tinggi tersebut. Setelah kamu punya keyakinan, kamu harus berusaha mewujudkan keyakinan kamu tersebut. Jangan mengeluh, hal itu akan membuat perjalanan kamu menjadi lebih berat. Lebih baik kamu berdoa di setiap langkah kamu agar terasa ringan sampai akhirnya kamu bisa mencapai anak tangga tertinggi yakni kesuksesan."


Memang tidak salah Ariel mempercayakan langkah awal bisnisnya pada Ibu Sri. Baru mulai saja ia sudah dikasih wejangan dari orang yang bijak tersebut. Kini, rasa ketidakpercayaan diri Ariel perlahan mulai hilang. Ariel sudah menjadi sosok yang penuh semangat. Ia memiliki tekad yang kuat dan keyakinan kalau dirinya akan berhasil. Bu Sri berhasil membangun kepercayaan diri Ariel seutuhnya.


"Jangan lupa terus berinovasi ya, jangan jadi orang yang hanya berpuas diri dengan kesuksesan yang kamu miliki saat ini. Kamu harus terus belajar, belajar dan belajar. Karena tak pernah ada yang salah jika kamu mau belajar. Bersiap-siaplah kamu, mulai hari ini kamu harus membuat stok keripik yang lebih banyak lagi dan membuat variasi keripik yang lebih enak dan berbeda dari yang lain. Kamu tunggu berita baik dari saya ya!"


Bu Sri benar-benar membuat Ariel optimis kalau bisnis kripiknya akan berhasil. Ariel tersenyum dan pulang dengan hati yang senang dan penuh semangat. Ia lalu kembali belajar cara membuat aneka keripik yang enak. Ia perbaiki kesalahan-kesalahan sebelumnya dan berinovasi membuat keripik yang baru. Setelah mencoba keripik ubi, Ariel mencoba keripik talas, keripik ikan, keripik sayuran dan aneka keripik lain.


Ariel tersenyum melihat nominal yang masuk ke rekeningnya di akhir bulan. Ia tak menyangka dari hasil membuat keripik saja ia bisa menghasilkan uang yang lumayan besar. Ia pun menunjukkannya kepada Om Bobbie hasil kerja kerasnya. "Sayang, Lihatlah! Ini hasil aku berjualan keripik. Bagaimana menurutmu?"

__ADS_1


****


__ADS_2