Om Puas Aku Lemas

Om Puas Aku Lemas
Bukan Nenek Sihir


__ADS_3

Cepat-cepat Ariel menggendong Galang dan menegurnya. "Bukan nenek sihir. Ini Tante Prisa. Tante Prisa itu bule Nak, rambutnya pirang. Bukan nenek sihir. Tante Prisa adiknya Om Papa. Ayo, salim dulu!"


Galang mengulurkan tangannya pada Prisa yang memanyunkan bibirnya. "Ternyata bukan di sekolah saja aku disebut nenek sihir, sama Galang pun aku juga dipanggil begitu." Prisa membalas uluran tangan Galang lalu mencubit pipi gembilnya. "Awas ya panggil aku nenek sihir lagi, tidak aku bagi cokelat!"


"Ayo, minta maaf dulu sama Tante Prisa!" tegur Ariel.


"Maaf, Tante," kata Galang dengan penuh penyesalan.


Prisa tersenyum seraya mengacak rambut Galang. "Iya. Tak apa. Tante sudah biasa kok. Kok kamu lucu sih? Kamu sudah sekolah belum?"


"Belum."


"Mau tambah lagi makannya Prisa?" tawar Ariel.


"Sudah cukup, Kak. Aku sudah kenyang. Enak sekali keripik buatan Kak Ariel. Aku suka. Pasti laku."


Ariel mendudukkan Galang di kursi makan. Ariel menyuapi Galang makan seraya menemani Prisa mengobrol. "Amin. Aku senang deh kamu menyukai keripik buatanku. Prisa ... Mama kamu bagaimana? Maksud aku, setelah kejadian aku dan Kakakmu ... melawannya, sikap Mama kamu bagaimana?" Ariel berkata dengan kikuk, ia takut menyakiti hati Prisa. Bagaimanapun Mama Tita adalah Mama kandungnya.


"Seperti yang sudah bisa diduga. Mama mengoceh dan mengomel terus. Aku tak tahu lagi karena aku selalu di kamar. Aku juga tak peduli. Aku sudah terlalu marah dengan sikap Mama yang egois." Prisa menghabiskan air putih yang disediakan. Perutnya kenyang dan ia merasa lebih nyaman berada di rumah Kakaknya dibanding di rumahnya sendiri.


"Maafin aku ya, Pris. Aku sudah membuat keadaan di rumah jadi kacau. Kakakmu marah besar sama Mama kamu. Semua karena masa laluku yang kelam." Ariel tertunduk sedih.


"Sudahlah, Kak. Semua orang punya masa lalu dalam hidupnya. Ada yang masa lalunya kelam, ada juga yang indah. Kita tak bisa memilihnya. Yang terpenting bagaimana masa depan kita. Mau jadi seperti apa, itu yang harus kita pikirkan," jawab Prisa.


"Kamu kok bijak sekali sih, Pris? Kamu masih muda loh," puji Ariel.


"Kalau Kak Ariel jadi aku pun akan dewasa sebelum waktunya."


"Hmm ... makin penasaran aku. Nanti cerita ya!"


"Siap. Kak Ariel juga cerita ya!"

__ADS_1


****


Sambil memasukkan keripik yang dibuatnya ke dalam plastik kemasan, Ariel memperhatikan kedekatan Prisa dan Galang. Meski awalnya mengatai Prisa sebagai nenek-nenek karena rambutnya yang pirang, rupanya sikap Prisa yang sabar dan asyik diajak bermain membuat Galang menyukainya. Mereka sudah akrab dan kini bermain bersama.


Tak lama terdengar suara klakson mobil. Galang yang mengenal sekali kedatangan Om Bobby, berlari meninggalkan Prisa dan menyambut kedatangan Papa sambungnya tersebut. Galang berdiri di teras dengan setia. Ia melompat sambil tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya sambil berteriak, "Om Papa pulang!"


Hal indah seperti ini yang membuat Om Bobby selalu rindu ingin pulang cepat. Galang menyambut kedatangannya dengan kerinduan yang besar, padahal mereka tadi pagi bertemu namun rasanya seperti sudah lama tidak bertemu.


"Om Papa!" teriak Galang sambil tertawa. Ia berlari dan menyambut Om Bobby yang sudah keluar dari mobil seraya membawa ayam goreng Sukabumi kesukaan Galang.


"Hmmm ... wangi ayam!" Hidung Galang kembang kempis menghirup wangi ayam goreng kesukaannya. Galang mengulurkan tangannya hendak mengambil bungkus ayam goreng di tangan Om Bobby.


"Eits sabar dong! Kenapa ayam gorengnya saja yang disambut? Om Papa enggak disambut nih?" Om Bobby memanyunkan bibirnya, pura-pura merajuk agar mendapat perhatian Galang. Masa sih Om Bobby bisa kalah pamor dengan seekor ayam goreng lezat?


"Eh iya, lupa!" Galang mengulurkan tangannya untuk salim, setelah itu ia meminta Om Bobby menundukkan tubuhnya agar ia bisa mengecup pipi Om Bobby dengan penuh kasih.


"Nah, begitu dong! Ini baru namanya anak Om Papa! Ini, makan ayam goreng yang banyak agar kamu tumbuh besar!" Om Bobby memberikan bungkus ayam goreng pada Galang yang langsung berlari ke dalam setelah menerima bungkusan tersebut.


Setelah Galang, kini giliran Ariel yang menyambut kepulangan Om Bobby. Ia salim lalu masuk ke dalam rumah sambil menggandeng mesra suaminya.


"Hari ini buat keripik lagi?" tanya Om Bobby.


"Iya. Hari ini aku juga buat kerupuk ikan yang terbuat dari ikan tenggiri asli. Rasanya enak, tidak melempem dan pasti kamu suka!" kata Ariel dengan penuh bangga.


"Oh ya? Masa sih? Memangnya ada ya masakan istriku yang tidak aku suka? Kayaknya aku suka semua deh, soalnya enak dan dimasak dengan penuh cinta." Om Bobby lalu membisikkan sesuatu di telinga Ariel. "Tentunya pakai goyangan maut Neng Ariel juga dong!"


Ariel tersenyum mendengar gombalan nakal suaminya. "Mulai deh nakal. Nanti aku hukum pakai goyangan maut, mau?"


"Mau banget." Keduanya tertawa dengan gombalan mesum yang mereka buat.


Tanpa mereka sadar, sejak tadi Prisa menonton kehangatan keluarga di depannya. Ia beberapa kali mengambil foto kemesraan kakaknya lalu mengirimkan foto tersebut pada sang Mama. Caption yang dikirimkannya pun cukup menohok: "Lihatlah bagaimana Kakak begitu bahagia. Hanya orang tua yang kejam dan tak punya hati nurani saja yang tak suka melihat anaknya bahagia. Seakan hidup orang tua tersebut lebih baik dan lebih bersih dari wanita yang membuat anaknya bahagia."

__ADS_1


Ya, Prisa memang terkadang sangat tak sopan pada Mamanya. Semua karena rasa kecewanya pada sang Mama yang begitu besar. Harta peninggalan sang Papa yang menjadi senjatanya bisa melawan sang Mama. Selama ada uang, sang Mama tak akan bisa berkutik.


"Loh, ada Prisa? Kamu sama siapa?" tanya Om Bobby yang terkejut melihat kedatangan adiknya. Prisa yang baru saja mengirim pesan pada Mamanya sangat terkejut dan hampir saja melempar ponselnya. Ia seperti mata-mata yang ketahuan sedang melapor pada pihak lawan saja.


"Sendiri, Kak. Bosan di rumah," jawab Prisa dengan acuh. Ia memasukkan ponselnya seraya menenangkan debaran jantungnya yang bertalu kencang.


"Mama tahu tidak kamu ke Jakarta?" tanya Om Bobby seraya berjalan masuk ke dalam rumah. Om Bobby duduk di ruang keluarga seraya menikmati secangkir teh kayu manis hangat buatan Ariel.


"Enggak usah bahas Mama deh, Kak. Bikin aku bete aja." Wajah Prisa berubah kesal saat ditanya tentang Mamanya.


"Biar bagaimanapun, Mama itu-"


Belum selesai Om Bobby bicara, Prisa sudah memotong ucapannya. "Mama kita berdua? Iya, aku tahu, Kak. Sampai hafal aku dengan nasehat panjang lebar Kakak. Tenang saja, Mama tahu kok aku di Jakarta, aku diantar supir yang pasti akan melapor pada nyonya besarnya."


"Hush, kamu ini. Jangan begitu ah. Berapa lama kamu di Jakarta?" Om Bobby menaruh cangkir tehnya di atas meja.


"Pengennya sih selamanya, tapi kalau aku pergi lama nanti rumah kita di Bandung malah jadi sarang maksiat lagi," jawab Prisa seenaknya.


"Hush! Jangan bilang begitu ah!" tegur Om Bobby.


"Memang benar kok. Kakak saja yang tak tahu. Mama tuh lagi deket sama cowok muda. Setiap hari aku dibujuk tanda tangan cek agar Mama bisa ke luar negeri sama tuh cowok."


"Kamu kasih?"


"Ya ... enggaklah! Memangnya aku sebodoh itu?"


"Bagus! Itu baru adik Kak Robbie!"


Ariel yang sejak tadi mendengar jadi penasaran. "Beb, cowok muda Mama kamu? Maksudnya apa ya?"


****

__ADS_1


Mau double up? Yuk dukung aku agar rajin nulis dengan vote, kirim kopi yang banyak dan share ya.


__ADS_2