
Staycation hari ini benar-benar membuat Ariel dan Galang sangat bahagia dan bersyukur memiliki Om Bobby di sisi mereka, menginap di hotel bintang 5 dan menikmati segala fasilitas mewah. Hal seperti ini memang pernah Ariel rasakan tapi dulu, saat ia masih menjadi sugar baby-nya Om Sam. Itu pun Ariel tak bisa menikmati fasilitas yang ada karena dirinya hanya berada di kamar saja dan bertugas melayani hasrat Om Sam. Sekarang, saat menjadi istrinya Om Bobby, Ariel dan Galang bisa menikmati semua fasilitas yang ada di hotel keren ini, sepuasnya.
Hotel yang letaknya bersebelahan langsung dengan supermarket ini memiliki konsep hotel keluarga dengan begitu banyak fasilitas. Jelas, hotel hasil Megaproyek Mangkudewa tak diragukan lagi bagusnya. Banyak pengunjung yang datang untuk menghabiskan waktu dengan keluarga, dari jalan-jalan sampai nongkrong di spot yang keren untuk foto-foto.
Sebelum menginap, Om Bobby mengajak Ariel ke Mall untuk berbelanja dan membelikan Ariel sebuah tas baru yang harganya lumayan fantastis. "Ini untuk kado pernikahan kita."
"Loh, bukankah waktu itu kamu sudah membelikan aku hadiah pernikahan, Beb?" tanya balik Ariel yang seakan tak percaya kalau dirinya bisa memiliki tas mahal ini. Tas yang biasa dipakai para sosialialita yang selama ini hanya bisa ia lihat tokonya dari kejauhan tanpa berani masuk ke dalam karena takut tidak sanggup mendengar berapa harganya. Mendengar harganya saja ia tak sanggup apalagi membelinya?
"Itu dulu, Yang. Sekarang setelah pernikahan kita diresmikan ada hadiah lagi. Ini adalah hadiah atas disahkannya pernikahan kita. Hadiah karena berhasil melewati cobaan menghadapi para warga yang super kepo. Hadiah karena berhasil memuaskan Joni dengan goyangan kamu yang sangat aduhai. Kamu layak mendapatkannya, bahkan lebih dari itu," kata Om Bobby sambil tersenyum.
Hati siapa yang tak akan terenyuh mendapat suami yang tampan, baik dan perhatian seperti Om Bobby? Ariel memeluk Om Bobby sebagai wujud rasa senangnya. "Terima kasih banyak, Sayang!"
"Terima kasihnya nanti saja, sekarang kita pergi ke toko perhiasan. Ada yang mau aku belikan untuk kamu!" Ariel berjalan sambil menggandeng Om Bobby yang menggandengnya dengan tangan kanan sementara Galang ia gandeng dengan tangan kiri.
"Nanti ya Galang beli mainan. Om Papa mau belikan Mama Ariel sesuatu dulu, oke?"
Mendengar akan dibelikan mainan, Galang tentu saja berseru kegirangan. "Iya. Asyik, Galang akan dibelikan mainan!"
Ariel dan Om Bobby, keduanya tersenyum melihat kebahagiaan yang kini dimiliki keluarga mereka. Om Bobby pun memilih satu toko perhiasan yang dari luar saja sudah terlihat lux untuk mereka masuki.
"Selamat malam, Pak, Bu. Selamat datang di Paris Jewellery. Bapak dan Ibu mau cari perhiasan apa? Ada yang bisa saya bantu?" sambut pelayan toko dengan ramah dan senyum lebar di wajah.
"Saya mau kalung yang cantik untuk istri cantik saya," kata Om Bobby dengan penuh rasa bangga.
"Ish, malu ah, Beb, kamu muji aku di depan orang," kata Ariel malu-malu.
__ADS_1
"Loh, kalau bukan aku yang memuji kamu, siapa lagi?" Terdengar nada bangga dalam perkataan Om Bobby.
"Iya, Beb. Iya. Udah ah, aku makin malu." Ariel menunduk malu dengan wajahnya yang memerah. Om Bobby terlalu memujanya. Menjadikan Ariel wanita paling beruntung di muka bumi ini.
Om Bobby tersenyum, baginya sikap Ariel sangat menggemaskan. Begitu jujur dan apa adanya. Om Bobby kemudian memilihkan sendiri kalung untuk Ariel. Ada beraneka macam kalung cantik yang harganya sangat mahal namun kualitasnya tak perlu diragukan lagi. Tatapannya tertuju pada sebuah kalung dengan liontin berbentuk apel, mirip sekali dengan kalung yang dulu pernah ia belikan untuk almarhum Lisa.
"Beb, Beb!" Ariel menyentuh bahu Om Bobby.
Disentuh bahunya oleh Ariel membuat Om Bobby tersadar dari lamunannya. "Eh, iya, kenapa?"
"Kamu kenapa?" Ariel melihat kalung yang tadi membuat Om Bobby terpaku. Kalung dengan liontin apel yang lucu. Ariel menyukainya. "Kalungnya bagus," puji Ariel.
"Jangan! Itu kurang bagus. Yang lain saja!" tolak Om Bobby.
Ariel melihat sesuatu yang aneh dari suaminya. "Beb, ada apa?"
Ariel memaksakan senyum di wajahnya. Ia tahu ada sesuatu yang Om Bobby sembunyikan. "Oke."
Ariel kemudian memilih sebuah kalung dengan liontin berbentuk segiempat dengan berlian di bagian tengahnya. "Kalau ini bagaimana?" tanya Ariel.
"Bagus. Kamu suka?" Om Bobby meminta pelayan mengeluarkan kalung yang Ariel pilih dari dalam etalase kaca.
"Suka, tapi kalau mahal tak usah ya, Beb. Sayang uangnya," kata Ariel.
Om Bobby menerima kalung dari pelayan dan langsung memakaikan di leher Ariel. "Bagus. Cocok sekali buat kamu," puji Om Bobby.
__ADS_1
"Benarkah? Coba aku lihat!" Ariel melihat dirinya di cermin. Memang benar, kalung mahal akan membuat kepercayaan diri seseorang akan meningkat. Leher jenjang Ariel terlihat indah sekali dihiasi kalung bertahtakan berlian. "Bagus sekali."
"Iya. Kita beli yang ini ya!" Om Bobby kemudian berbicara pada pelayan. "Langsung dipakai saja, Mbak. Saya bayar sekarang!"
"Baik, Pak!"
Saat Om Bobby membayar kalung, Ariel terus memandangi dirinya di cermin. Betapa beruntungnya nasib Ariel saat ini. Tidak semua wanita seruntung Ariel memiliki suami yang tampan, kaya dan baik hati macam Om Bobby.
Om Bobby juga bukan orang yang pelit. Kalung mahal seperti ini saja ia belikan tanpa berpikir dua kali. Belum tas mahal yang tadi ia belikan juga. Entah sudah berapa banyak uang yang ia keluarkan hari ini demi membahagiakan Ariel dan Galang.
Sebuah senyum terukir di wajah Ariel. Senyum bahagia penuh dengan rasa syukur atas semua nikmat yang ia rasakan. Benar kata orang, akan ada langit yang cerah setelah ombak.
"Sudah? Masih mau ngaca lebih lama lagi?" tanya Om Bobby yang sudah selesai membayar kalung.
Ariel tertawa kecil, malu sudah ketahuan mematut diri di cermin terlalu lama. "Sudah cukup kok, Beb. Sekarang kita mau kemana lagi? Langsung ke hotel?"
"Iya. Sudah malam. Kasihan Galang terlihat agak mengantuk," jawab Om Bobby. Mereka pun berjalan keluar toko dengan diiringi senyum hangat dari pelayan toko yang sudah berhasil menjual salah satu kalung mahal di toko mereka.
"Hmm ... Galang yang agak mengantuk atau Om Papa nih yang mau bobo?" goda Ariel.
"Kayaknya Om Papa deh yang mau bobo. Eh, bukan bobo deh." Om Bobby membisikkan sesuatu di telinga Ariel. "Tapi mau boboin Mama Ariel. Mama Ariel capek tidak?"
"Tentu tidak dong. Apa sih yang enggak buat Om Papa?"
****
__ADS_1
Hi Semua!
Jangan lupa mampir ke cerita Prisa yang super hot dengan judul : Tante Senang Tante Bayar. Dimana? Baca komentar ya 😁😍