
Ariel tak langsung masuk ke dalam kamar Om Bobby. Sekitar setengah jam ia masih menenangkan diri sambil bermain air di tepi kolam renang yang sangat bersih tersebut. Kalau hari masih siang, Ariel pasti akan menceburkan diri ke dalam kolam yang luas dengan air yang jernih.
Andai Galang ikut, pasti mereka bisa bersenang-senang di kolam renang ini. Galang sangat suka berenang. Andai Ariel bisa mengajak Galang ... sayangnya, Ariel sadar, Galang bukan bagian dari keluarga ini. Entah apakah nantinya Galang akan diterima atau tidak, Ariel sendiri tidak tahu.
Ariel mengeluarkan ponsel miliknya lalu menelepon Wawan. Ariel tak banyak berbasa-basi dengan Wawan, sebisa mungkin ia mengurangi komunikasi dengan mantan suaminya tersebut. Ariel masih menjaga perasaan Om Bobby, suaminya. Ariel melakukan video call hanya agar bisa melihat wajah putranya.
Melihat Ariel yang sedang berada di dekat kolam renang, Galang ingin ikut dan menangis. Ariel membujuknya dan mengatakan kalau ia akan mengajaknya nanti untuk berenang bersama. Galang menurut apa yang Ariel katakan. Galang tahu kalau Mamanya sudah berjanji pasti akan ditepati. Tak lama mengobrol, Ariel meminta Galang untuk tidur karena hari sudah larut malam. Ariel tak lupa menitipkan Galang pada Wawan dan berjanji akan menjemputnya besok sebelum mengakhiri panggilan mereka.
Hati Ariel sedikit tenang setelah berbicara dengan Galang. Ia sadar, Galang adalah tujuan hidupnya. Ia harus menjadi orang tua yang kuat dan berpenghasilan agar bisa menyekolahkan Galang sampai menjadi anak yang sukses. Dengan menjadi istri Om Bobby, keuangan Ariel akan aman dan stabil. Ariel bisa menabung dan akhirnya bisa menyekolahkan Galang di sekolah yang terbaik. Tak apa jika Ariel harus menahan sedikit perasaannya karena terus dianggap mirip dengan Lisa.
"Aku wanita kuat. Wanita hebat. Aku pasti kuat menghadapi semua cobaan ini. Daripada aku terus menjadi istri Mas Wawan, lahir batin tak bahagia, masih jauh lebih baik seperti ini. Setidaknya Om Bobby lebih baik, meski ia tidak sepenuhnya mencintaiku, ia tetap menyayangi Galang dan memperlakukan kami dengan baik. Meskipun cintaku hanya bertepuk sebelah tangan, aku pasti bisa bahagia dengan caraku sendiri," tekad Ariel.
__ADS_1
Ariel lalu masuk ke dalam rumah setelah tenang dan tak lagi emosi. Ia langsung menuju kamar Om Bobby dan membuka pintunya. Di dalam kamar, nampak Om Bobby sedang duduk sambil bekerja dengan laptopnya. Om Bobby menoleh ke arah Ariel dan tersenyum. Ia menepuk sofa di sampingnya agar Ariel duduk.
"Aku mau ke toilet dulu," tolak Ariel. Ia masuk ke dalam kamar mandi lalu mencuci wajahnya agar terlihat lebih segar.
Ada pemandangan yang berbeda di lemari kecil dekat wastafel tempat Ariel mencuci mukanya. Sebelumnya ada banyak sabun muka dan skincare milik Lisa yang disusun dengan rapi namun kini semuanya hilang dan menyisakan banyak ruang kosong. Ariel makin penasaran, ia mencari keberadaan sabun dan skincare milik Lisa di seluruh penjuru kamar mandi namun tak juga ia temukan. Ariel pun pergi keluar dan menanyakan hal tersebut pada Om Bobby.
"Beb, sabun yang ada di kamar mandi ... ke mana?" tanya Ariel dengan hati-hati.
Om Bobby mendekati Ariel lalu memeluk dan mengecup keningnya. "Maafkan aku ya, Yang. Aku memang laki-laki yang paling tidak peka di dunia ini, apalagi sama kamu. Maaf karena aku masih membuat isi kamar ini seolah-olah Lisa masih ada. Aku tak bermaksud menyakiti kamu, semua hanya kebiasaan semata. Aku yang masih belum bisa menerima kepergian Lisa karena rasa bersalah dalam diriku yang begitu besar ternyata malah menyakitimu."
Om Bobby melepaskan pelukannya lalu memegang kedua bahu Ariel. Kedua mata mereka saling bertemu. Ariel melihat sosok Om Bobby yang terlihat serius. Dari sorot matanya, Om Bobby terlihat sedih dan menyesal. "Aku tahu semua ini begitu menyakitkan buat kamu. Rasa sakit yang aku rasakan seharusnya tidak aku limpahkan juga sama kamu. Cukup aku yang rasakan. Aku selama ini hidup dengan bayang-bayang masa lalu dan berharap kalau semua ini tidak benar-benar terjadi. Aku berharap, Lisa masih ada. Aku berharap kecelakaan itu tak pernah ada dan aku berharap kami tidak akan kehilangan calon anak kami."
__ADS_1
Mata Om Bobby berkaca-kaca saat mengatakannya. Ariel jadi tak tega melihatnya. Ariel mengusap lembut wajah Om Bobby dengan tangannya. "Jangan pikirkan aku. Aku tak apa. Aku tak mau kamu sedih, Beb," kata Ariel dengan lembut.
"Jangan terlalu baik padaku, Sayang. Aku pantas kamu tegur. Apa yang aku lakukan sama kamu itu sangat jahat. Aku hanya terpaku dengan masa laluku saja. Aku hanya memikirkan kesedihanku tanpa aku sadari kalau aku sudah menyakiti hati kamu. Aku membuat kamu hidup dalam bayang-bayang Lisa. Aku membuat kamu merasakan kehadiran Lisa. Aku tak bisa meninggalkan semua kenangan masa laluku. Aku jahat. Aku sudah sangat menyakiti hati kamu. Jangan kamu kasihani lelaki seperti aku. Seharusnya kamu omelin aku, bahkan kamu harus pukul aku agar aku tersadar dari kebodohanku selama ini. "
"Tidak, Beb, jamu tidak salah. Wajar kalau kamu masih mengingat semuanya. Kehilangan seseorang yang sangat dicintai itu sangat berat. Aku mengerti. Aku akan berusaha menerima semuanya. Aku hanya ... hanya sedikit terbakar emosi. Kamu tahu aku bukan, aku Ariel si sumbu pendek, mudah sekali marah dan emosi. Aku sekarang sudah tenang. Aku takkan marah lagi. Kalau nanti aku marah lagi, aku janji tak akan melampiaskannya sama kamu," kata Ariel sambil berlinang air mata.
Om Bobby meraih tangan Ariel dan mengecupnya. Entah mengapa hatinya sakit saat mendengar Ariel mengatakan kalau selama ini ia baik-baik saja padahal sebenarnya tidak sama sekali. Hati Ariel sakit namun ia lebih memilih mengorbankan perasaannya hanya demi melihat Om Bobby bahagia. "Jangan lakukan itu lagi padaku. Jangan terlalu mengorbankan perasaanmu demi orang lain. Kamu berhak dihargai. Kamu berhak dihormati. Kamu tak harus terus mengalah. Aku yang harus introspeksi diri. Aku ini kepala rumah tangga. Aku punya istri yang harus aku jaga perasaannya. Aku hanya terlalu bodoh dan tak sadar diri dan membiarkan semua kenangan masa lalu kita terus menyakiti hati kamu,"
"Aku minta maaf sekali sama kamu. Mulai sekarang, aku berjanji akan menghapus semua kenangan masa laluku dengan Lisa. Mungkin tidak akan sepenuhnya hilang namun aku yakin bersama kamu semua kenangan itu akan tergantikan dengan kenangan yang lebih manis lagi. Maaf ... aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku mohon, tegur aku kalau aku salah. Jangan kamu terus memendam perasaan dan menyakiti diri kamu sendiri. Percayalah, Kamu terlalu berharga, kamu terlalu baik dan aku terlalu beruntung karena telah mendapatkan kamu. "
****
__ADS_1