
Mata Om Bobby perlahan melihat dengan jelas siapa yang sedang menggodanya. Ia terbelalak kaget. Bukan Ariel yang sedang bermain-main dengan Joni melainkan wanita lain.
"Sinta? Ngapain kamu?" Om Bobby mendorong Sinta dan cepat-cepat menutup Joni.
"Bukankah ... Om eh Bapak menyukainya? Aku sedang berusaha membangunkan si doi yang besar itu loh." Sinta menunjuk ke arah Joni.
"Doi?" Om Bobby menatap Joni, adiknya itu terbangun dan secara mengejutkan tiba-tiba loyo kembali. Kening Om Bobby berkerut, kenapa bisa loyo lagi?
"Tunggu, bukan itu yang harus aku pikirkan sekarang. Bagaimana Sinta bisa masuk?" batin Om Bobby.
Mata Om Bobby menatap pintu luar kamarnya yang mengarah ke balkon. "Saya tidak mau seluruh kru tahu apa yang terjadi. Kembali ke kamar kamu sekarang!" perintah Om Bobby dengan tegas.
Sinta memanyunkan bibirnya. "Kenapa sih, Om? Bukankah Om menyukai apa yang aku lakukan?" Sinta bukannya kapok dan pergi namun malah membuka kancing bajunya dan memamerkan aset miliknya yang kencang dan menggoda tersebut.
Om Bobby menghela nafas lelah. Joni sudah tertidur kembali. Joni tak mau berdiri kalau bukan dengan pawangnya. "Kata siapa? Aku hanya berpikir kamu adalah istriku. Saat aku menyadari kalau kamu bukanlah istriku, ya ... aku tak tertarik sama sekali. Kembalilah ke kamarmu."
"Tapi aku mau-" Sinta kembali memajukan dirinya namun Om Bobby dengan cepat mengambil bantal dan mendorong Sinta menjauh. Tidak sepenuh tenaga karena gadis bertubuh kurus itu pasti akan terjatuh nanti, cukup agar ia tak lagi menggoda.
"Aku bukan tak bisa memarahimu. Bukan tak mampu berteriak sampai semua kru datang dan melihat apa yang terjadi. Bukan. Aku hanya menjaga harga diri kamu di depan yang lain. Kembalilah ke kamarmu sebelum kesabaranku habis!" kata Om Bobby dengan tegas namun menakutkan.
"Tak bisakah Om memberiku kesempatan? Aku akan memuaskan Om. Aku tak akan meminta bayaran. Cukup ... suka sama suka." Sinta tak patah semangat. Ia sudah benar-benar terjerat pesona Om Bobby, tak peduli kalau apa yang dilakukannya sudah menjatuhkan harga dirinya sendiri.
"Kembali ke kamarmu atau aku akan memanggil semua orang dan membuatmu malu?" ancam Om Bobby seraya menunjuk ke arah balkon.
Sinta berdiri dan menghentakkan kakinya di lantai. Ia kesal. Ia merasa ditolak. Malu sekali rasanya, seperti kehilangan muka di depan lelaki yang disukainya.
__ADS_1
Sinta lalu berjalan ke arah balkon namun ucapan Om Bobby membuat langkahnya terhenti. "Aku pastikan kalau iklan ini adalah iklan pertama dan terakhir kamu dengan perusahaanku. Aku mencari artis yang bertalenta bukan artis yang suka menggoda."
Perkataan pedas Om Bobby membuat air mata Sinta tak kuasa untuk ia tahan. Malu, sedih dan perasaan ditolak, semua bercampur jadi satu. Perasaan yang baru sekali ini ia rasakan.
Om Bobby menatap Joni yang tertidur pulas dengan tatapan heran. "Ada apa dengan kamu, Jon? Tadi kamu hampir saja tergoda namun tiba-tiba kamu loyo kembali saat tahu kalau itu bukan Ariel. Apa kamu kini tak pernah mengharapkan wanita lain selain Ariel?"
****
Om Bobby menatap Sinta yang sedang berakting dengan tatapan tajam dan marah. Ia teringat dengan sikap lancang Sinta semalam yang secara tidak sopan berani masuk ke dalam kamarnya. Wajah lugu dan cantik yang Sinta memiliki ternyata selama ini hanyalah palsu. Di dalamnya tersimpan jiwa penggoda yang hampir saja membuat Om Bobby mengecewakan istrinya.
Om Bobby bersikap agak tempramen hari ini. Setiap kru dan artis yang membuat kesalahan, langsung ia omeli, padahal ini bukan sifat asli Om Bobby. Pekerjaan pun menjadi lebih cepat karena semua takut melihat Om Bobby yang murka.
Selesai syuting, Sinta pun terlihat lesu. Ia tak akan lagi mendapat job di perusahaan milik Om Bobby, seperti ancaman Om Bobby semalam. Tamat sudah karirnya, saat Bayu mengatakan kalau perusahaan tak akan lagi melanjutkan kerjasama dengannya.
Sinta menatap Om Bobby yang terlihat serius dengan berkas di tangannya, dengan tatapan sedih. Rasanya tak rela kehilangan semua yang berhasil ia gapai hanya karena gairahnya semata. Mau bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur. Menyesal pun percuma karena sekali Om Bobby sudah membuat keputusan, maka tak akan ia batalkan lagi.
Ariel mengirimkan pesan dan melaporkan kegiatannya hari ini, mengajak Galang ke taman sambil menyuapi anak menggemaskan itu. Sebenarnya apa yang Ariel ceritakan adalah hal yang membosankan, hanya kegiatannya di rumah mengurus anak. Namun semua itu bagi Om Bobby terasa indah. Ia suka melihat ekspresi wajah Galang yang tertawa saat bermain ayunan. Ia suka melihat Ariel dan Galang berfoto selfi namun fotonya selalu blur karena Galang tak bisa diam. Semua hal receh itu selalu mengukir senyum di wajah Om Bobby.
Seperti biasa, kepulangan Om Bobby selalu disambut dengan suka cita oleh Galang. Anak itu seakan sudah hafal dengan suara mobil Om Bobby dan akan langsung berlari menyambut kedatangannya sambil meloncat kegirangan, malah kadang sambil berjoget tak jelas.
"Om puyang! Om puyang! Om puyang!" Galang berseru kegirangan.
Ariel juga ikut tersenyum menyambut kepulangan suaminya. Ia cepat-cepat merapikan diri agar terlihat segar saat Om Bobby melihatnya.
Galang berlari saat Om Bobby keluar dari mobil. Ia langsung minta gendong dan memeluk Om Bobby dengan penuh kasih sayang, tak lupa anak itu salim terlebih dahulu sebagai wujud hormatnya. "Om ana? (Om kemana?)"
__ADS_1
"Om kerja, Galang. Galang kangen ya sama Om?" tanya Om Bobby seraya mengusap kepala Galang dengan tanganya.
"Anen. Om, Galang unya mainan." Galang mengajak Om Bobby masuk ke dalam dan tak sabar ingin memamerkan mainan pemberian Wawan.
"Oh ya? Mainan apa? Dari siapa?"
"Papa," jawab Galang dengan jujur.
Wajah Om Bobby berubah masam mendengar Galang dibelikan mainan oleh Papa kandungnya. "Nanti Om belikan lagi yang lebih besar. Kiss Om dulu dong!" Om Bobby menunjuk pipinya. Galang dengan patuh menuruti permintaan Om Bobby. "Pintar, anak Om!"
Om Bobby menatap Ariel dengan tatapan penuh maksud. "Kalau Mama Galang, tidak kiss Om nih?" Om Bobby memainkan kedua alisnya.
Ariel tersenyum. Ia maju dan mengecup pipi Om Bobby, suaminya meminta lebih. Mencium cepat bibir Ariel saat Galang dialihkan perhatiannya untuk melihat cicak.
"Nakal ih! Ayo, kita ke dalam!" Ariel menitipkan Galang pada asisten rumah tangga mereka karena harus menyiapkan pakaian ganti untuk Om Bobby.
Sebuah kaos dan celana pendek sudah Ariel siapkan sehabis Om Bobby mandi sudah tersedia di atas tempat tidur. Tak lama Om Bobby keluar dengan memakai handuk yang terlilit di pinggangnya. Om Bobby memeluk Ariel dari belakang seraya mengecupnya pipinya. "Kangen."
Ariel tersenyum lalu berbalik badan. "Nakal, aku juga kangen sama kamu, Beb."
Saat ingin mengusap bulu di dada Om Bobby, senyum di wajah Ariel menghilang. Sorot matanya tertuju pada warna merah tanda kepemilikan yang masih baru dibuat. "Ini ... apa?"
Mata Ariel mulai dipenuhi air mata. "Siapa yang membuatnya? Kamu ... selingkuh?"
****
__ADS_1
Hi Semua! Jangan lupa follow Ig aku: @mizzly_ dan fb: Mizzly untuk tahu novel terbaru aku ya. Akan ada tokoh yang beda dan kisah yang beda tentunya. Ikutin terus ya 😍😍