
"Siap, adik iparku yang cantik!" Ariel mengusap kepala Prisa dengan penuh kasih. Biasanya, Prisa marah saat Papa tirinya melakukan hal tersebut, namun saat Ariel melakukannya entah kenapa Prisa menyukainya.
Sentuhan Ariel terlihat tulus dan benar-benar peduli padanya. Sambil mengirimkan film biru sesuai pesanan Ariel, mereka mengobrol ringan. Pertanyaan Ariel sangat standar, dimana Prisa sekolah, apa kesibukannya dan juga apa hobbynya.
"Kenapa kamu tak bertanya tentang Mama?" tanya Prisa.
"Memangnya aku harus bertanya tentang Mamamu?" tanya balik Ariel.
"Bukan begitu, biasanya tuh seorang menantu akan bertanya tentang mertuanya. Apa yang disukai mertuanya, apa yang tidak disukai dan bagaimana cara menarik perhatian mertuanya tersebut. Kenapa kamu tidak bertanya? Mungkin aku bisa memberikan sedikit bocoran?" tanya Prisa.
"Untuk apa? Untuk mengambil hatinya? Untuk berpura-pura baik? Kayaknya, itu bukan aku banget deh. Aku akan menjadi diriku sendiri. Kalau memang aku tidak diterima, ya sudah. Aku tak akan memaksa orang lain untuk menyukai diriku. Ini aku, apa adanya. Kalau Mama kamu menginginkan seorang menantu yang sangat cantik, pintar, dari keluarga baik-baik dan kaya raya ... aku mundur. Semua itu tak ada dalam diriku, tapi kalau Mama kamu menginginkan seorang menantu yang mencintai anaknya dengan tulus dan sepenuh hati, aku adalah orangnya." Jawaban Ariel yang tegas membuat Prisa semakin kagum dengan kakak iparnya tersebut. Nilai plus Ariel di mata Prisa semakin bertambah saja.
"Bukankah kalau kamu mengambil hati Mama semua akan menjadi lebih mudah? Hubungan kalian akan direstui dan kamu enggak usah takut Mama akan memisahkan kalian bukan?" tanya Prisa lagi.
Ariel tersenyum mendengar pertanyaan Prisa. Anak remaja memang beda, penuh rasa ingin tahu yang besar. "Kayak di sinetron saja! Tidak setuju kemudian dipisahkan. Kami berdua itu sudah menikah. Yang berhak menentukan arah pernikahan kami, ya kami berdua. Kalau memang Om Bobby tidak menginginkanku, aku bisa apa? Kalau memang Om Bobby sangat menyayangiku dan berniat mempertahankan rumah tangga kami tentu ia akan mempertahankannya. Aku tak peduli Mama kalian akan menyukaiku atau tidak. Selama aku bersikap benar dan tidak menyakiti orang lain, tak ada alasan untuk tidak menerima seseorang, kecuali ya ... karena latar belakangnya. Aku sudah menyerah duluan kalau berbicara tentang latar belakang. Aku pasti kalah."
Jawaban Ariel yang begitu pasrah dan terkesan tidak memiliki kepercayaan diri membuat Prisa semakin penasaran dengan sosok kakak ipar di depannya. Kenapa dia bilang kalau latar belakangnya kurang baik. Memang siapa dia? Apa latar belakangnya?
"Bukankah kalau cinta ... harus diperjuangkan?" tanya Prisa semakin penasaran. Di film-film yang ia tonton, sepasang kekasih yang saling cinta akan memperjuangkan cinta mereka, bahkan sampai sehidup semati, kenapa Ariel tidak?
__ADS_1
"Yang bilang aku tak mau berjuang siapa? Aku akan berjuang demi suamiku tercinta ... kalau dia juga mau memperjuangkan pernikahan kami. Kalau dia tidak mau, ya aku tak bisa memaksa. Cinta itu seperti bertepuk tangan, kalau hanya sendiri tak akan bisa bertepuk dengan nyaring. Tenanglah, aku sangat mencintai Kakakmu. Aku lebih takut kehilangan Kakakmu dibanding tak mendapat restu Mamamu. Aku ke kamar dulu ya, mau mandi. Lengket banget. Jangan lupa ya dengan janjimu, aku akan menagihnya loh!" Ariel mengusap lagi kepala Prisa lalu pergi ke kamar Om Bobby.
Kamar Om Bobby jauh lebih besar dari kamar Prisa. Ada ruangan berisi pakaian dan koleksi jam, dompet, topi dan belt milik Om Bobby. Ariel membuka lemari dan terdiam saat melihat koleksi pakaian perempuan yang masih tertata rapi di dalamnya. Ya, koleksi itu adalah milik Lisa, almarhum istri Om Bobby dulu.
"Banyak sekali bajunya, mungkinkah mereka dulu tinggal di rumah ini? Pantas Prisa terkesan sangat mengenal Lisa," gumam Ariel. Ia kembali menutup pintu lemari dan mengambil sebuah handuk bersih. Tak ada gunanya ia bersaing dengan seseorang yang sudah meninggal. Selamanya Lisa akan berada di hati Om Bobby. Bisa berada di hati Om Bobby sedikit saja sudah keberuntungan untuk Ariel.
"Wanita sepertiku tak boleh serakah, mau ini, mau itu. Sudah mendapatkan semua ini saja sudah hal yang baik untukku," batin Ariel.
Ariel mengisi bathup dengan air hangat dan menuangkan sabun ke dalamnya. Ia akan berendam dan menghilangkan penat yang begitu memenuhi isi kepalanya.
Hari ini begitu berat. Ia sudah melabrak Sinta, mengacak-acak ruangan Om Bobby dengan kegiatan panas mereka di siang hari, memergoki adik iparnya hobby menonton film biru dan yang lebih menyakitkan adalah melihat koleksi pakaian almarhum istri Om Bobby yang masih tersimpan rapi di lemari.
"Andai hidupku semudah itu ..." gumam Ariel.
Ariel memejamkan matanya dan menikmati tubuhnya yang terasa rileks. Hampir saja Ariel tertidur pulas jika Om Bobby tidak datang dan memberinya pijatan erotis.
"Ish, kamu mengagetkan aku saja!" Ariel terkejut dan langsung membuka matanya.
"Maaf ya, aku lama. Kamu menungguku sampai tertidur ya?" Om Bobby membelai wajah lembut Ariel dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Mm ... tidak sih. Aku terlalu menikmati berendam air hangat dengan sabun yang sangat wangi ini. Aku sampai tertidur saking nikmatnya," jawab Ariel jujur.
Om Bobby tersenyum mendengar jawaban Ariel. "Iya, sih. Ini sabun kesukaan Lisa. Memang membuat rileks karena wanginya."
Mendengar jawaban Om Bobby, hati Ariel yang semula sudah tenang kembali terbakar emosi. Bayangan pakaian Lisa yang tersusun rapi di dalam lemari ditambah sabun kesukaan Lisa yang masih selalu tersedia membuat kekesalan Ariel makin bertambah. Secara tiba-tiba Ariel berdiri dan berjalan ke bawah shower. Ia menyalakan shower dan membilas semua bekas sabun yang ada di tubuhnya lalu mengambil sabun lain.
Ariel mencium wangi sabun yang maskulin, sudah pasti sabun yang dipegangnya adalah milik Om Bobby. Ia memakainya beberapa kali sampai harum sabun milik Lisa tergantikan dengan harum sabun Om Bobby.
"Hey, Sayang. Kenapa kamu sampai membilas tubuhmu dengan sabun lain?" Om Bobby rupanya memperhatikan apa yang Ariel lakukan.
Ariel mematikan shower setelah bekas sabun hilang semua. Harum sekali tubuhnya beberapa kali sabunan. Ariel mengambil bathrobe dan memakainya. Ia lalu menatap Om Bobby dengan lekat. Melihat suaminya yang terlihat biasa saja dan tak sadar sudah menyakitinya, Ariel si sumbu pendek tak kuasa menahan emosinya.
"Aku sengaja membilasnya beberapa kali," jawab Ariel seraya melipat kedua tangannya di dada.
"Iya, kenapa? Bukankah kamu sudah enak habis berendam dengan sabun ini?" Om Bobby mengangkat sabun milik Lisa.
"Oh ... kalau perlu aku akan membilas lagi. Aku tak tahu kalau itu adalah sabun milik almarhum istrimu. Kalau tahu, aku lebih memilih mandi dengan deterjen saja daripada harus terus disamakan dengannya. Maaf, Beb, sudah saatnya kamu sadar, aku bukan Lisa. Jangan pernah samakan kami berdua, atau aku akan sangat marah!"
****
__ADS_1