
Di bawah guyuran air shower, Om Bobby menuntaskan gairahnya. Rasa kesal, tak rela Ariel berbicara dengan Wawan dan merasa Ariel adalah miliknya semua tercurahkan dalam penyatuan keduanya. Suara keduanya mendulang gairah seakan menyatu dengan suara air.
Om Bobby dan Ariel bahkan lupa kalau hari sudah malam. Lupa kalau mereka juga harus beristirahat. Semua demi memuaskan gairah masing-masing yang seakan tak pernah padam. Sampai akhirnya Om Bobby mencapai puncak kenikmatannya bersama Ariel.
Om Bobby mencium bibir Ariel dengan lembut bersama tenaganya yang seakan habis terkuras. Sambil menempelkan keningnya di kening Ariel, Om Bobby berbisik pelan. "Kamu adalah milikku, ingat itu!"
Ariel hanya bisa mengangguk. Nafasnya masih menderu. Ia harus menenangkan debaran jantungnya dahulu. Terserah Om Bobby mau mengatakan apa, dirinya merasa lemas sehabis memuaskan gairah Om Bobby. Ariel bahkan pasrah saat Om Bobby memandikannya. Menyabuni seluruh tubuhnya dan memakaikannya handuk.
Ariel seperti makhluk tanpa jiwa, yang jiwanya sudah disandra oleh pesona Om Bobby. Lemah dan pasrah sehabis diberikan kenikmatan bertubi-tubi. Ariel pun langsung tertidur pulas dan lupa kalau anaknya tidur seorang diri di kamar sebelah.
Om Bobby menarik Ariel dalam pelukannya dan ikut terbuai dalam mimpi indah bersama. Belum lama tertidur, Om Bobby mendengar suara tangisan Galang yang dengan kencang memanggil Mamanya.
"Mama! Mama!" Galang menangis seraya memanggil Mamanya. Ia merasa takut saat terjaga dari tidurnya dan tak mendapati Ariel berada di sebelahnya. Takut ditinggalkan. Takut merasa sendirian tanpa sosok sang Mama yang selalu melindunginya.
Om Bobby bergegas turun dari tempat tidur dan menghampiri Galang. Melihat kedatangan Om Bobby, anak itu langsung memeluknya sambil menangis kencang. "Loh, kok, anak pemberani nangis?" tanya Om Bobby seraya mengusap punggung Galang.
"Mama ... Mama!"
"Cup cup cup, nyariin Mama ya? Yuk, Om antar ke Mama. Jangan nangis ya! Anak laki-laki tidak boleh cengeng. Kalau Galang cengeng dan lemah, siapa yang akan jagain Mama dari serangan Dinosaurus?" bujuk Om Bobby dengan lembut.
Tangis Galang perlahan mereda. "Alang kuat. Alang tidak nanis," kata Galang dengan suara sesegukan.
"Pintar. Itu baru anak Om. Ayo, kita ke Mama!" Om Bobby menggendong Galang dan mengajaknya ke kamar. Nampak Ariel masih tertidur pulas karena kelelahan. Ia bahkan tak tahu anaknya terbangun dan mencari keberadaannya.
__ADS_1
"Mama-" Galang hendak menangis lagi namun Om Bobby menyuruhnya diam.
"Sst! Jangan nangis. Nanti Mama bangun. Galang bobo aja di samping Mama ya," bujuk Om Bobby.
Galang mengangguk. Ia menuruti setiap perkataan Om Bobby. Anak itu tidur sambil memeluk Ariel.
Om Bobby tersenyum melihat Ibu dan anak yang seolah tak bisa terpisahkan tersebut. Menikahi Ariel berarti harus siap menerima Galang, begitu pun sebaliknya. Menyayangi Galang berarti harus mendapatkan hati Ariel.
Om Bobby menyisipkan anak rambut yang jatuh di wajah Ariel ke belakang telinganya. Om Bobby tak bisa membayangkan betapa sepinya tinggal sendirian tanpa dua orang di sampingnya. "Pasti akan membosankan," gumam Om Bobby pelan.
Tak lama rasa kantuk kembali datang. Om Bobby memeluk Ariel dan Galang lalu tertidur pulas.
****
"Jadi, siapa yang akhirnya lolos casting untuk iklan alat kontrasepsi kita?" tanya Om Bobby pada asisten pribadinya, Bayu.
Om Bobby teringat gadis yang ia wawancarai. Di antara yang lain, memang dia yang paling memenuhi kriteria. "Oke. Siapkan kontrak kerja dengannya. Kapan syuting bisa dimulai?"
"Baik, Pak. Dari bagian properti dan produksi baru siap sekitar dua hari lagi, Pak. Ada syuting untuk iklan susu UHT yang harus dikerjakan dahulu," lapor Bayu.
"Kok lama. Masalahnya dimana? Bukankah semua sudah siap dan tinggal syuting saja?" tanya Om Bobby sambil mengernyitkan keningnya. Om Bobby pikir saat ia tinggal sehari untuk bolos kerja, semua masalah di kantor akan beres, ternyata tidak.
"Itu ... Pak, modelnya nangis terus," jawab Bayu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal tersebut.
__ADS_1
"Nangis? Memang tidak ada orang tuanya yang mendiamkan? Memang kalian tak bisa membujuknya?" cecar Om Bobby.
Bayu bingung mau menjawab apa. Om Bobby tiba-tiba berdiri dan berjalan menuju studio tempat syuting iklan susu UHT dibuat. Ia memantau kerja anak buahnya secara langsung.
Melihat bos besar mereka datang, para karyawan menunduk untuk memberi hormat. Om Bobby melihat karyawan yang sudah putus asa membujuk model iklan mereka yang terus menangis tak mau syuting. Mama sang anak pun sudah menenangkan anak itu namun tak berhasil.
Om Bobby berjalan mendekat, terlihat anak balita itu nampak ketakutan melihatnya. Om Bobby menyunggingkan seulas senyum sambil merunduk agar bisa lebih dekat dengan anak balita yang menjadi model iklannya.
"Hi, Boy, kenapa kamu nangis?" tanya Om Bobby dengan ramah.
Anak itu masih bersembunyi di balik Mamanya. "Kamu mau susu?" Om Bobby menawarkan susu UHT yang ada di dekatnya. Anak itu bukannya senang malah kembali menangis.
"It's oke kalau kamu tidak mau. Kalau mainan mau?" Om Bobby mengambil sebuah mainan mobil-mobilan dan berhasil menyita perhatian model kecilnya tersebut. Anak itu mengulurkan tangannya dan menerima mainan yang Om Bobby berikan.
Om Bobby menghela nafas dan berbicara pada Mama model kecilnya. "Nampaknya kerja sama tak bisa diteruskan. Anak Ibu sudah takut dan agak trauma saat melihat susu yang kami iklankan. Kalaupun diteruskan, tak akan bagus untuk semuanya. Iklan yang kami buat tidak akan dapat ekspresi naturalnya dan anak Ibu akan trauma, malah akan takut dengan susu kalau dibiarkan berlarut-larut."
Om Bobby seakan tahu apa yang ditakutkan orang tua model kecilnya. "Tenanglah, kami tak akan menuntut pinalty atas pembatalan kontrak. Kesehatan mental anak ibu lebih penting dari semuanya."
Semua karyawan dan orang tua model itu melihat ke arah Om Bobby dengan tatapan kagum. Mereka pikir Om Bobby akan datang dan marah-marah, ternyata tidak. Setelah mengucapkan terima kasih, anak dan ibu itu pun pergi. Tinggalah anak buah Om Bobby yang harus putar otak mencari model yang cocok sementara waktu sudah mepet.
"Masalah model, biar saya yang urus," kata Om Bobby menenangkan anak buahnya. Ia lalu mengambil ponsel miliknya dan menelepon bala bantuan.
"Riel, bawa Galang ke kantorku. Aku akan kirim taksi. Tolong dandani dia dengan baju yang paling lucu, oke?" Om Bobby menutup panggilannya dan meminta staffnya bersiap-siap.
__ADS_1
"Ayo, semuanya siapkan lagi properti untuk syuting. Model kita sebentar lagi akan datang!"
****