Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 21: Dimabuk Cinta


__ADS_3

Aku berdiri di sudut ruang ganti khusus karyawan perempuan di Bittersweet Cafe yang berada di Plaza Mall, setelah selesai mengganti bajuku dengan seragam karyawan. Ku telepon Om Rey untuk memberikan kabar.


"Jemputnya nanti gak di Bittersweet deket kampus ya, Om. Tadi Om Tanoe nugasin aku buat handle kafenya yang di Plaza Mall. Karyawannya yang tugas di sini kecelakaan tadi. Jadi aku sama temen aku di suruh buat gantiin di sini."


"Ya ampun dua orang yang kecelakaannya?" Tanya Om Rey ikut simpati dengan apa yang dialami rekan kerjaku.


"Iya, Om mereka pakai motor boncengan gitu. Jadi buat beberapa hari ke depan selama mereka izin, aku kayaknya ditempatin di sini."


"Ya udah gak apa-apa, nanti Om jemput ke sana ya jam 5 kayak biasa."


"Aku gak sampai jam 5, Om. Sampai jam 8 malam." Ujarku sedih.


"Jam 8? Kamu gak akan cape? Kamu udah aja gak usah kerja, Dan. Om akan kasih kamu uang buat kebutuhan kamu sehari-hari. Kamu berhenti ya kerja part-timenya?"


Mendengar Om Rey memintaku berhenti karena khawatir padaku, membuat hatiku menghangat.


"Gak usah, Om. Aku gak mau ngerepotin, Om. Aku udah tinggal sama Om, makan juga ditanggung Om, masa Om mau biayain semua kebutuhan aku juga?"


"Ngerepotin apa coba, Dan. Sebenernya Om gak pengen kamu kerja part time gitu. Om pengen kamu fokus aja sama kuliah kamu. Om gak mau kamu kecapean."


Apa sih Om Rey ini, membuat aku tersenyum salah tingkah saja.


"Aku gak akan kecapean. Om gak usah khawatir ya. Aku kuat kok. 'kan rajin olahraga dan makan makanan yang bergizi."


'pengennya sih aku bilang: aku gak akan cape karena saat lihat wajah ganteng Om, capeku langsung ilang.' Aku terkekeh dalam hati.


"Mulai deh keras kepala. Ya udah kalau gitu. Nanti Om bakal beli vitamin juga buat kamu. Biar kamu gak cepet sakit."


Aku mengulum senyumku. "Makasih, Om Rey baik."


"Sama-sama, Danisa... sayang."


Seketika jantungku meloncat gembira. Om Rey mengatakan 'sayang'? Apa aku salah dengar?


"Sayang...?" Ulangku.


"Iya, Sayang. Om 'kan udah bilang Om sayang sama kamu. Om cinta sama kamu."


Bibirku sampai pegal karena tak berhenti tersenyum. Siapa sangka, Om Rey bisa membuatku seperti ini sekarang.


"Tapi Om, Om 'kan belum cerai. Terus katanya kita mau balik lagi kayak semula? Kayak waktu awal tinggal di rumah Om."


"Ternyata susah, Dan. Om gak bisa kayak waktu itu lagi. Maaf ya." Ujarnya sedih. Pasti ini karena apa yang terjadi tadi pagi.

__ADS_1


"Om udah ngerusak hubungan kita. Tapi perlu kamu tahu, Dan, Om gak pernah nganggep kamu keponakan sejak awal Om merasakan perasaaan ini sama kamu. Om hanya berpura-pura aja, karena Om takut kamu malah gak nyaman."


Bukannya marah, aku malah seperti melayang di udara. Ya ampun seperti inikah rasanya jatuh cinta? Kemana saja aku selama ini?


"Gak apa-apa, Om. Gak usah minta maaf, Om gak salah. Makasih karena Om udah jaga perasaan Om pas awal-awal aku tinggal di rumah Om. Kalau Om langsung deketin aku, mungkin aku bakal ilfeel sama Om."


Om Rey terkekeh. "Kalau sekarang gimana?"


Aku terdiam sejenak. Gemas sekali rasanya ingin mengatakan sesuatu yang membuatnya merasakan juga perasaanku. Tapi aku masih harus menyimpannya untuk diriku sendiri. Sebelum Om Rey dan Tante Manda resmi bercerai, aku harus menahan untuk tidak menunjukkan perasaanku lebih jelas lagi.


"Sekarang aku nyaman, soalnya Om baik banget. Sering traktir aku juga. Pokoknya the best!"


Mendengar tawa Om Rey membuatku merasa tenang dan bahagia. "Ya udah, Om ada meeting bentar lagi. Nanti Om kabarin kalau mau berangkat."


"Oh iya bentar, Om makan malamnya gimana? Aku gak bisa masakin buat Om jadinya." Ucapku penuh sesal.


"Gak apa-apa, kamu tenang aja. Om nanti pesen online aja, atau bahan-bahan makanan 'kan ada. Nanti Om masak sendiri."


"Tapi aku gak enak sama Om. Masa Om masak sendiri, makan sendiri." Jujur aku tidak tega.


"Makasih ya, Sayang. Kalau kita lagi ketemu, Om pasti langsung peluk kamu."


"Ih Om apaan sih." Pipiku bahkan memerah sekarang, terlihat pantulan wajahku di cermin ruang ganti.


"Dan, maksud Om..." Tanpa sadar aku sudah melamun dan tidak menyahut. Terdengar suara Om Rey yang sedikit gelagapan. "Om gak maksud inget-inget tentang Manda, kok. Om cuma seneng aja karena kamu perhatian banget sama Om. Om udah gak ada rasa sama Manda sama sekali, Dan."


Aku terenyuh sekali. Padahal aku tak mengatakan apapun, aku juga tidak berpikir Om Rey masih memikirkan Tante Manda. Tapi ia sampai merasa bersalah seperti itu dan meyakinkanku bahwa ia sudah tidak ada rasa lagi terhadap Tante Manda.


"Nis!" Terdengar seseorang memanggilku dari luar ruang ganti.


"Bentar!" Sahutku.


"Iya, Om. Aku gak mikir kesana kok. Om jangan mikir gitu. Ya udah kalau gitu aku harus cepet mulai kerja, nih. Dah, lancar ya meetingnya, Om!"


Setelah mendengar sahutan darinya aku mematikan ponselku dan keluar dari ruang ganti.


"Lama banget lo ganti bajunya." Dumel Vito.


Iya, Vito. Dia bersedia menggantikan satu karyawan lainnya untuk bekerja beberapa hari ini. Jadi aku akan sering bertemu dengannya sekarang. Bahkan aku datang ke Plaza Mall ini bersama dengannya. Semoga saja tidak ada udang di balik batu. Karena aku sendiri hanya menganggap ia sedang membutuhkan pekerjaan ini saja, tidak ada maksud lain.


"Sorry, gue barusan terima telpon dulu." Terangku.


Kemudian aku dan Vito pun mulai menjalankan tugas kami. Hingga karena saking sibuknya, tak terasa waktu bekerjaku dan Vito pun selesai.

__ADS_1


"Nis, kita makan dulu yuk." Ujar Vito seraya melepas apronnya.


"Sorry. Gue langsung dijemput Om gue kayaknya."


Vito berdecak kesal. "Nis, lo bukan anak kecil lagi. Kenapa lo harus selalu dianter jemput Om lo. Lo bisa bilang sama dia kalau lo dianter gue pulangnya."


"Gak apa-apa. Gue emang pengen dijemput Om gue aja." Sekarang semuanya sudah beres dibersihkan, ku buka apron yang kukenakan. "Udah yuk kita ganti baju terus pulang." Aku melengos pergi tak memperdulikan wajah Vito yang kesal.


Sesaat kemudian aku dan Vito berpisah, dia berjalan ke arah basement dan aku ke arah lobi utama Mall dan menunggu kedatangan Om Rey di lobby luar.


Tanpa sadar aku tersenyum. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan Om Rey. Rasanya rindu sekali. Biasanya pukul 5 sore kami sudah bertemu, tapi sekarang aku harus bersabar lebih lama.


Saat aku sedang menunggu, tanpa disangka-sangka mataku menangkap sosok Tante Manda turun dari sebuah mobil dan berjalan masuk ke arah Mall.


"Tante Manda?" Gumamku terkejut.


Bukan terkejut karena tiba-tiba saja melihatnya disini, tapi karena melihat Tante Manda turun dari mobil itu bersama seorang pria.


Dan yang membuatku lebih tercengang lagi, Tante Manda bergelayut mesra pada laki-laki itu, membuat d"Apa-apaan dia?!" Gumamku marah.Segera aku mengikutinya hingga mereka berada di depan sebuah lift yang terletak di ujung Mall yang sepi. Kuputuskan untuk bersembunyi di balik tembok, ingin tahu kemana ia akan pergi dengan laki-laki itu?Saat menunggu lift terbuka, tiba-tiba saja Tante Manda mencium bibir pria itu! Sontak kututup mulutku yang terbuka."Sabar dong, Man. Kita bentar lagi nyampe kamar." Ujar pria itu dengan tangannya yang tak mau diam mengelus pinggang Tante Manda. Ia mengatakan untuk sabar, tapi ia sendiri terlihat sangat tidak sabar."Aku kangen banget sama kamu, Fer. Terakhir kita ketemu waktu kamu dateng ke Tokyo. Udah lama banget."Apa? Tokyo?"Iya kita cuma ketemu sekali waktu itu. Abisnya gimana waktu itu istri aku 'kan ikut aku dinas jadi gak bebas.""Kalau sekarang gimana?" Tanya Tante Manda dengan suara yang dibuat manja. Rasanya aku mual hanya dengan mendengarnya."Sekarang istri aku lagi pergi sama temen-temen arisannya ke Bali. Kita bisa ketemu beberapa hari ini."Kemudian lift terbuka dan keduanya masuk dengan posisi keduanya kembali berciuman dengan mesranya.Aku tak mengikutinya karena terlalu syok.Tante Manda sudah tidak waras! Ini di tempat umum, kenapa mereka bisa dengan tenangnya berciuman seperti itu? Apa mereka sudah tidak takut jika ketahuan?"Jadi bener, Tante Manda udah selingkuhin Om Rey bahkan sejak mereka masih di Jepang?" Gumamku tak habis pikir.


"Apa-apaan dia?!" Gumamku marah.


Segera aku mengikutinya hingga mereka berada di depan sebuah lift yang terletak di ujung Mall yang sepi. Kuputuskan untuk bersembunyi di balik tembok, ingin tahu kemana ia akan pergi dengan laki-laki itu?


Saat menunggu lift terbuka, tiba-tiba saja Tante Manda mencium bibir pria itu! Sontak kututup mulutku yang terbuka.


"Sabar dong, Man. Kita bentar lagi nyampe kamar." Ujar pria itu dengan tangannya yang tak mau diam mengelus pinggang Tante Manda. Ia mengatakan untuk sabar, tapi ia sendiri terlihat sangat tidak sabar.


"Aku kangen banget sama kamu, Fer. Terakhir kita ketemu waktu kamu dateng ke Tokyo. Udah lama banget."


Apa? Tokyo?


"Iya kita cuma ketemu sekali waktu itu. Abisnya gimana waktu itu istri aku 'kan ikut aku dinas jadi gak bebas."


"Kalau sekarang gimana?" Tanya Tante Manda dengan suara yang dibuat manja. Rasanya aku mual hanya dengan mendengarnya.


"Sekarang istri aku lagi pergi sama temen-temen arisannya ke Bali. Kita bisa ketemu beberapa hari ini."


Kemudian lift terbuka dan keduanya masuk dengan posisi keduanya kembali berciuman dengan mesranya.


Aku tak mengikutinya karena terlalu syok.


Tante Manda sudah tidak waras! Ini di tempat umum, kenapa mereka bisa dengan tenangnya berciuman seperti itu? Apa mereka sudah tidak takut jika ketahuan?

__ADS_1


"Jadi bener, Tante Manda udah selingkuhin Om Rey bahkan sejak mereka masih di Jepang?" Gumamku tak habis pikir.


__ADS_2