
Amanda's point of view
Pintu apartemennya terdengar diakses oleh seseorang. Kemudian pintu itu terbuka dan muncul seorang pria kurus, tinggi, dan bermata sipit. Ia membuka sepatunya dan menghampiri Amanda yang sedang duduk di sofa seraya menyesap cairan merah pekat pada sebuah gelas tinggi.
"Minum alkohol lagi." Tegur Vito.
Amanda menatap Vito dengan kesal. "Peduli apa kamu sama Tante? Ngapain juga kamu kesini? Bukannya kamu pergi sama Danis?!"
Dahi Vito mengerut merasa aneh pada sikap Amanda. Ia pun duduk di sofa sebelah Amanda dan bersandar mencari nyaman. "Pergi sama Danis apaan. Orang seudah dari toko perlengkapan bayi, dia langsung pulang."
Sedikitnya, mendengar penjelasan Vito hatinya yang panas sedikit mendingin. "Dia langsung pulang?"
"Iyalah. Emang Tante kira mau apa? Danis itu makan bareng aku di kampus aja gak mau. Apalagi ini, jangankan makan. Sekedar ngobrol lebih lama juga dia gak akan mau. Dia itu setia banget sama suaminya. Kadang heran kenapa kalian itu tante dan keponakan tapi beda banget?"
"Apaan sih? Kamu banding-bandingin Tante sama Danis?!" Geramnya.
Vito tak menjawab. Ia meraih gelas yang Amanda genggam dan menaruhnya di atas meja. Ia beringsut dan menarik Amanda agar bersandar padanya. Ia merengkuh pundak Amanda dan menyandarkan kepala Amanda pada dadanya.
"Ngapain sih, kamu?" Tanya Amanda dengan sedikit salah tingkah. Ia berlagak sedikit enggan, namun akhirnya ia diam-diam merasa nyaman dengan pelukan itu.
"Aku lagi bayangin kalau aku lagi meluk Danis." Ucap Vito tanpa perasaan.
"Kamu..." Amanda bangkit berniat meneriakinya, tapi baru sedikit tangan Vito menahannya supaya Amanda tetap berada dalam rangkulannya.
"Bercanda, Tan. Aku cuma pengen tante jangan marah-marah terus. Kasian anak aku di dalam perut Tante jadi ikut ketakutan."
Seketika Amanda terdiam dan merasa nyaman. Ia sangat suka saat Vito sudah menunjukkan perhatiannya.
"Tan, kayaknya aku makin suka sama Danis." Ucap Vito lirih, membuat Amanda seketika merasa sangat kesal. "Dia bener-bener bikin jantungku deg-degan cuma dengan megang tangan aku."
Amanda bangkit, dengan marah ia menatap pada Vito. "Danis, Danis, dan Danis! Gak kamu, Gak Rey, Danis yang dipikirin. Apa sih bagusnya anak itu?! Dia cuma anak yang gak tahu diri dan sok kecentilan!"
"Tante kenapa sih? Tante tahu gimana perasaan aku sama Danis. Tante juga suka ngomongin tentang Rey. Kenapa aku gak boleh?"
"Tante gak suka! Bukannya kita udah sepakat kalau kita berdua hanya akan ngomongin kita aja? Kamu yang ngomong gitu 'kan?"
"Itu 'kan waktu aku masih jadi berondongnya Tante. Sekarang 'kan enggak. Tante bayar aku juga enggak."
"Terus kenapa kamu masih dateng kesini, nginep, kamu perhatian sama Tante, buat apa itu Vit?"
Amanda kesal bukan main. Atau lebih tepatnya, cemburu.
Iya, Amanda mengakuinya. Ia cemburu karena rasa cinta terhadap ayah kandung dari bayinya itu mulai tumbuh di hatinya.
Baru saja Vito begitu perhatian padanya, tapi sedetik kemudian Vito mencurahkan isi hatinya mengenai rasanya terhadap keponakannya tersebut. Amanda tahu ia mulai terpikat secara emosional pada Vito karena perhatian dan rasa nyaman yang Vito berikan padanya selama ia mengandung.
Ia mulai bertanya-tanya, hubungan seperti apa yang sebenarnya ia jalin bersama Vito?
__ADS_1
Vito menatap Amanda lekat.
"Semua aku lakuin karena Tante mengandung anak aku. Sebelum Tante bisa nikahin Rey, aku bakal jagain Tante. Aku kayak gini karena aku ngerasa bertanggung jawab aja. Aku gak mau terjadi apa-apa sama Tante ataupun anak aku. Apalagi Tante ini ceroboh banget, gak bisa jaga kandungan Tante. Semua harus selalu aku 'kan yang ingetin."
Seketika Amanda merasakan perasaan aneh itu lagi, menggantikan rasa kesal dan cemburunya. Perasaan asing yang membuat hatinya menghangat.
"Tapi," Lanjut Vito dengan wajah yang sendu. "Aku pesimis kalau rencana kita akan berhasil. Danis kayaknya gak akan pernah jadi milik aku. Dan Tante juga gak akan dapetin Rey."
Kata-kata Vito menampar Amanda. Ia segera menyadarkan dirinya. Ia harus mencegah perasaannya pada Vito tumbuh lebih besar lagi.
Ia harus bisa fokus kembali pada ambisinya, yaitu memiliki Rey kembali.
"Tante gak peduli ya kalau kamu gak dapetin Danis. Tapi Tante, pasti bisa dapetin Rey lagi." Tekadnya.
Vito mengerlingkan bola matanya mendengar keegoisan Amanda.
"Tante tahu gak, Rey lagi ke Korea sekarang. Dia pasti lagi nyari surat hasil DNA itu."
"Apa?" Amanda begitu terkejut. "Tahu dari mana kamu?"
"Danis yang bilang tadi. Dan dari raut wajahnya aku rasa Danis udah gak berantem lagi sama Rey. Foto itu gak berhasil membuat hubungan mereka jadi renggang. Sekarang terima aja, rencana Tante udah gagal."
"Gak mungkin." Gumam Amanda tak percaya. "Mereka berantem hebat waktu Tante ke rumah Bu Sekar."
"Nyatanya Danis sekarang lagi nunggu Rey pulang buat periksa ke dokter."
"Ke dokter? Dokter apa?" Amanda berharap dugaan yang tiba-tiba muncul di kepalanya itu salah.
"Enggak! Itu gak boleh terjadi! Danis gak mungkin hamil."
Amanda terus menggelengkan kepalanya frustasi. Ia semakin marah dengan keadaan dirinya yang terus menerus mendapat masalah, hingga kabar mengenai kehamilan Danisa menjadi hal yang membuatnya di puncak emosinya.
"Anak Rey gak mungkin ada di perutnya Danis!"
Ia mulai histeris dan menatap nanar pada Vito. Kedua tangannya mulai menghujani Vito dengan pukulan-pukulan. "Gara-gara kamu Tante hamil! Harusnya Tante yang hamil anaknya Rey!!"
Vito mencoba menghalau tangan-tangan Amanda yang menghujamnya. "Tante tenang!"
Kini pukulannya beralih ke perutnya. "Anak sialan!" Umpatnya.
"Tante, stop!" Vito begitu panik karena tiba-tiba Amanda bersikap histeris. Ia mencoba untuk menghentikan Amanda memukul-mukul perut dimana terdapat janin yang bersemayam didalamnya.
Akhirnya Amanda tak berkutik. Tangan Vito berhasil mengunci kedua tangannya. Ia tak lagi histeris namun menangis sesenggukan. "Rey... Tolong balik lagi sama aku..." Tangisnya pilu.
Vito yang tahu betul bagaimana rasanya bertepuk sebelah tangan, merasa begitu berempati pada Amanda. Direngkuhnya tubuh Amanda ke dalam pelukannya lagi.
Vito menepuk-nepuk punggung Amanda, berharap apa yang dilakukannya bisa membuat Amanda sedikit lebih tenang.
__ADS_1
Diam-diam ia berpikir bagaimana caranya agar rencana mereka memisahkan Danisa dan Rey tetap berhasil. Karena, walaupun ia pesimis akan sangat sulit memisahkan keduanya, keinginannya untuk memiliki Danisa, masih tetap berakar kuat di hatinya.
"Bantu Tante, Vit. Bantu Tante buat dapetin Rey lagi." Mohon Amanda dengan putus asanya.
"Iya. Aku akan bantu Tante. Tante tenang ya. Kalau tante kayak gini, bayi di dalam perut Tante juga ikutan sedih, Tan."
Amanda melepaskan pelukan Vito. Ia kembali menatap kesal pada pria kurus itu.
"Tante gak peduli sama bayi ini! Dia udah gak ada gunanya. Rey pasti nemuin temennya, dr. Yamato. Dia dokter yang cukup punya pengaruh di rumah sakit tempat Rey ngelakuin tes itu. Dia pasti minta tolong sama dia buat dapetin hasil DNA itu. Tante bener-bener lupa kalau Rey kenal baik sama dokter itu. Rey pasti dapetin bukti itu dengan bantuan dr. Yamato."
Diusaknya rambut coklatnya dengan frustasi. "Thomas Akagi udah ngebuang Tante, si tua bangka Toshi juga udah gak akan bantu Tante lagi. Semuanya hancur!"
"Tante, udahlah, Tan. Tante... "
"Besok Tante akan gugurin anak ini." Ucapnya tiba-tiba.
Vito total tercengang.
"Tante udah gila!? Aku gak akan ngebiarin itu terjadi!"
"Kamu gak tahu gimana ngerepotinnya anak ini! Tante mual dan muntah setiap pagi! Dia juga gak ada gunanya sekarang, dia gak akan bisa bikin Rey kembali sama Tante! Kalau Tante ab0rsi, kamu juga gak perlu repot-repot ngerasa bertanggung jawab sama Tante!"
"Tapi aku gak setuju! Aku bakal nemenin Tante terus selama anak itu ada di kandungan Tante!" Vito bersih kukuh.
"Tante gak peduli! Tante udah gak butuh janin ini! Pokoknya Tante cuma pengen balas dendam sama Danis. Tante bakal cari cara lain buat misahin mereka. Kalau Tante gak milikin Rey, Danis juga gak akan bisa."
"Tante harus mikir lebih jernih bisa gak sih?!"
Amanda masih tak sabar. "Gimana caranya Tante bisa berpikir jernih saat Tante udah ketahuan bohong? Yang ada Rey tambah benci sama Tante!"
Vito tersenyum. Diraihnya rambut Amanda dan menyelipkannya ke belakang telinga. "Tante ini terlalu kebawa emosi. Coba sekarang Tante tenang dulu, biar bisa mikirin gimana caranya kita tetep bisa masuk diantara Danis dan Rey."
"Tante udah gak bisa mikir. Tante pusing." Ucap Amanda menyerah.
"Sekarang, Tante telepon orang yang namanya Toshi itu."
Amanda menatap Vito penasaran. "Ngehubungin Toshi?"
Vito tersenyum penuh arti. "Iya. Tante belum nyoba buat hubungin dia dan tanyain gimana keadaannya di sana."
"Dia itu baru bisa jalan kalau dikasih jatah, Vit. Sekarang gimana caranya Tante bisa 'bayar' dia kalau Tante minta tolong sama dia?! Gak mungkin Tante terbang ke Jepang atau ke Korea sekarang. Jatah cuti Tante udah abis, Thomas udah buang Tante, uang Tante juga menipis!" Amanda sungguh buntu.
"Cuma sekedar cek aja, Tan. Nanti kita pikirin langkah berikutnya saat udah tahu keadaan di sana kayak gimana."
Akhirnya Amanda menuruti Vito. Tidak ada salahnya juga menelepon Toshi dan bertanya apakah Rey mendapatkan surat itu atau tidak.
Telepon tersambung. "Moshi-moshi..."
__ADS_1
Vito menatap Amanda, menunggu dengan penasaran. Tiba-tiba seringai muncul di wajah Amanda saat mendengar penjelasan Toshi di telepon.
Saat Amanda menutup teleponnya. "Gimana?" Tanya Vito tak sabar.