Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 27: Tahap Selanjutnya


__ADS_3

Saat aku sedang berada di kampus, Om Rey mengabariku untuk ikut bersamanya ke suatu tempat. Kebetulan saat itu aku punya waktu luang sekitar tiga jam sebelum waktu kerjaku dimulai di pukul dua siang. Om Rey menjemputku ke kampus, membawaku ke sebuah restoran untuk makan siang, lalu ia membawaku ke suatu tempat yang tadi ia maksudkan.


"Om, beneran gak akan ngomong mau bawa aku kemana?" Tanyaku entah untuk yang keberapa kali saking penasarannya.


"Sebentar lagi kamu akan tahu, Sayang. Sabar dong."


Bagaimana bisa bersabar jika ia menolak untuk memberitahuku, tapi ia terus menerus tersenyum penuh arti.


Tak lama mobil Om Rey masuk ke sebuah area apartemen. Setelah memarkirkan mobilnya, ia membawaku menuju lift dan memijit tombol lantai 25.


"Kita mau mengunjungi seseorang?" Tanyaku tak sabar.


Om Rey menautkan tangannya padaku dan mengecup punggung tanganku gemas. "Sebentar lagi kamu akan tahu."


Ku pukul pundaknya. "Apa ih, Om, cepetan bilang! Aku penasaran banget!"


Ia terkekeh gemas. Kemudian tak lama pintu lift terbuka. Saat tiba di depan sebuah unit, kami berhenti.


"Tempelin jari kamu di handle pintu ini." Pinta Om Rey.


Dengan bingung kutempelkan ibu jariku pada sebuah area bulat di handle pintu itu. Seketika terdengar suara.


"Buka pintunya." Pinta Om Rey lagi.


Ketika aku membuka handle pintu, dan pintu itu benar-benar terbuka. Sontak aku tercengang.


"Kok pintunya bisa kebuka?" Tanyaku terheran-heran. "Ini apartemen siapa?"


Tak menyahut, Om Rey malah meraih tanganku dan membawaku memasuki apartemen itu.


Seketika nafasku tertahan.


Di seluruh lantai apartemen itu terdapat kelopak-kelopak bunga mawar putih. Kami terus berjalan ke ruang tengah dan disana sudah ada dekorasi berupa balon berwarna emas dan putih, juga sebuah banner berwarna putih dengan tulisan emas dengan bunyi,


Danisa, Will You Marry Me?


Tanpa sadar mulutku terbuka.


"Om... ini apa?" Tanyaku masih mengedarkan pandanganku.


Apartemen mewah dengan fully furnished, kelopak bunga putih di seluruh lantai, balon, dan banner itu, apa Om Rey sedang melamarku?


Om Rey meraih sebuah buket bunga mawar putih besar yang tergeletak di sofa. Ia berjalan ke arahku dan memberikan buket itu kepadaku.


"Makasih, Om." Masih dengan rasa tercengangku, ku raih buket mawar putih yang indah itu dan mencium wanginya. "Om ini apa sih, Om."


Om Rey merogoh saku blazernya dan mengeluarkan sebuah kotak yang lagi-lagi berwarna tosca, dari satu brand jewelry terkenal. Ia membuka kotak itu, memperlihatkannya padaku, menggenggam satu tanganku dan berkata, "Danisa Citra Seruni, will you marry me?"

__ADS_1


"Om... Beneran lagi ngelamar aku?"


Ia mengangguk.


"Om kita baru pacaran dua minggu!" Ujarku.


"Pacaran dua minggu udah cukup, Sayang. Om udah bilang kita gak akan pacaran lama-lama. Kita udah jalan-jalan ke tempat-tempat yang biasa didatengin orang pacaran, nonton, ngedate ala anak kuliahan, candle light dinner, hiking bareng, berenang bareng, semua udah kita lakuin dua minggu ini sesuai dengan keinginan kamu. Sekarang Om pengen kita maju lagi ke tahap selanjutnya."


"Tapi Om..."


"Proses perceraian Om udah selesai, Sayang."


Kembali aku tercengang dengan berita membahagiakan itu. "Serius, Om?"


Dianggukkan kepalanya dengan senyum bahagia dan leganya. "Om dikabarin sama pengacara Om tadi pagi."


"Selamat ya, Om. Aku bener-bener gak tahu harus bilang apa. Pokoknya aku lega dan seneng banget!" Ku simpan buket bunga itu di sofa, dan melingkarkan tanganku ke sekeliling leher Om Rey dan memeluknya.


Om Rey membawa tubuhku berputar saking bahagianya. Lalu dilepaskannya aku dan kembali menatapku. "Makanya Om sekarang ngelamar kamu. Om gak bisa nunggu lagi. Om pengen setidaknya sekarang, kalau kamu terima Om, kita udah gak jadi pacar lagi. Tapi sebelum hari pernikahan tiba, status kita adalah bertunangan."


"Tunangan?" Gumamku.


"Iya. Kita akan kenalan sama keluarga kita masing-masing. Om akan memperkenalkan kamu sama keluarga besar Om. Gitu juga sebaliknya."


Aku masih tidak yakin, hingga aku hanya terdiam tak menyahut.


Benar juga. Terbayang beberapa kejadian dimana kami hampir saja melakukan itu. Dengan status kami yang kini berpacaran, tinggal di bawah satu atap, membuat kontak fisikku dan Om Rey semakin tak bisa kami tahan. Kami benar-benar layaknya dua orang yang dimabuk asmara.


Tubuhku bahkan kembali meremang hanya dengan mengingat semua kontak fisik yang kami lakukan selama dua minggu ini.


"Om, gak bisa menahan lebih lama lagi. Om ingin bisa sentuh kamu kapanpun Om mau."


Seketika kutelan salivaku. Kata-kata Om Rey berhasil membangunkanku.


Tanpa menunggu kembali kuraih bibirnya dengan bibirku dan mulai mencumbunya. Semakin lama semakin dalam dan semakin larut dalam rasa itu. Leherku mulai dikecupnya, dihisapnya, digigitnya kecil. Tangannya sudah bergerily^ di bagian depan tubuhku.


Diraihnya kedua kakiku ke arah kedua sisi tubuhnya dan memangkuku. Dengan bibir yang masih bert^utan, Om Rey berjalan menuju salah satu kamar dan membaringkanku di tempat tidur.


"Please, Om. Jangan berhenti..." R^cauku ketika kemeja yang ku kenakan sudah terbuka seluruh kancingnya karena ulahnya.


"Sayang, kita harus..." Pergerakan Om Rey melambat. Jika sudah seperti ini ia pasti akan menghentikan semuanya.


Aku yang sudah dikuasai oleh rasaku sepenuhnya, merasa tak rela. Ku jatuhkan Om Rey ke tempat tidur dan seketika saja, perutnya sudah berada di antara kakiku. Ku tatap kedua matanya.


"Kita gak akan berhenti sekarang." Cetusku.


Kembali ku lum^t bibirnya, dan mulai melakukan pergerakan yang 0fensif, membuat Om Rey pun kembali menyerangku. Ia bangkit dari posisinya dan mulai melucuti pakaianku. Ku lakukan hal yang sama padanya.

__ADS_1


Hingga seluruh tubuhku polos tanpa sehelai benangpun, sedangkan tubuh Om Rey masih tertutup pakaian bawahnya saja.


"Sayang... Sudah cukup." Ucapnya saat tubuhku sudah berada di posisi berbaring dan tangan Om Rey nyaris menyentuh bagian inti tubuhku.


"Om... Please..." Mohonku frustasi.


Om Rey meraih selimut dan menutupi tubuh polosku dengan selimut itu. "Sayang, Om gak akan sampai pada tahap itu sebelum kamu resmi menjadi istri Om." Dikecupnya keningku dan mulai menggunakan pakaiannya.


Perlahan kewarasanku mulai kembali, dan mulai menyadari bahwa lagi-lagi aku kehilangan kendali. Sekarang aku sadar. Memang jalan terbaik adalah secepatnya kami harus menikah.


"Ya udah kalau gitu cepet nikahin aku." Pintaku.


Om Rey menoleh ke arahku dengan tangannya yang baru saja selesai mengancingkan kembali kemejanya. Ia keluar kamar dan kembali lagi dengan kotak cincin itu. Ia mengulurkan tangannya padaku dan aku pun menyambut tangannya itu. Disematkannya cincin itu di jari manisku dan mengecupnya. "Akhirnya kamu mau Om nikahi."


Aku tersenyum kecut. "Abisnya Om selalu nyentuh aku, tapi tanggung gitu." Ujarku sambil cemberut.


"Sayang, setelah menikah kita bebas melakukannya kapanpun kita mau. Terus kita bisa lanjutin pacarannya. Om gak akan ngelarang kamu main sama temen-temen kamu, kamu mau main kemana, atau ngelakuin hal-hal yang kamu suka. Pokoknya Om janji gak akan banyak yang berubah setelah kita menikah. Om juga akan ikutin semua yang kamu mau. Ngedate ala anak kuliahan, ngedate ala anak SMA bahkan, atau ngedate ala dewasa pun semua akan bisa bebas kita lakukan saat kita sudah sah sebagai suami istri."


"Ngedate ala dewasa?"


"Iya, nanti kita bisa staycation di glamping, di hotel, resort. Kita akan lebih nyaman. Kita udah gak punya batasan lagi nanti setelah menikah."


"Tapi...aku belum ingin punya anak, Om. Aku belum siap untuk hamil." Cicitku.


Om rey menghela nafasnya. "Kamu belum ingin punya anak, tapi kamu selalu 'nyerang' Om." Sindirnya dengan senyuman jahil di wajahnya.


Aku terkekeh malu. "Iya sih. Tapi maksudnya aku itu..." Nadaku menggantung, tiba-tiba kata-kata yang ingin aku ucapkan tak bisa kurangkai dengan baik.


"Iya, Om ngerti. Kita coba tunda beberapa bulan aja gimana? Atau setahun?"


"Gak apa-apa emang? Ibunya Om 'kan udah pengen punya cucu dari anak bungsunya." ucapku dengan cemberut. Memang inilah salah satu alasan yang membuatku dilema untuk setuju menikah dengan Om Rey, di samping alasan-alasan lainnya itu.


"Gak apa-apa, Sayang. Ibu pasti ngerti kok kalau kita tunda untuk beberapa bulan aja."


"Paling lama setahun ya." Tawarku memastikan.


"Iya, sedikasihnya ya." Om Rey mengusap pipiku penuh sayang. "


Sepertinya menikah bukan ide yang buruk juga. Selama ini aku terlalu overthink!ng saja sepertinya.


"Ya udah, deal." Kuajukan jari kelingkingku dan disambut oleh kelingking Om Rey. "Deal." Sahutnya.


"Tapi sampai kita menikah kamu tinggal di apartemen ini ya. Om gak bisa tinggal satu atap lagi sama kamu."


"Aku tinggal di apartemen ini? Om pasti bohong aku akan tinggal di apartemen mewah dengan pemandangan indah dari ketinggian kayak gini?"


"Iya. Apartemen ini punya kamu, Sayang. Om beli buat kamu. Tinggal disini dulu sebelum kita nikah ya, biar kita bisa jaga batasan."

__ADS_1


__ADS_2