
Air mataku tak mau berhenti keluar. Rasanya duniaku tak tahu lagi bagaimana caranya untuk bisa kembali baik-baik saja seperti dulu. Nelangsa. Menyedihkan. Kesal sekali, namun tak ada yang bisa aku perbuat.
Terdengar pintu kamar terbuka dan tertutup lagi. Tak lama Mas Rey sudah berjongkok di depanku. Ia meraih kedua tanganku yang menutup wajahku.
"Sayang..." Panggilnya lirih.
"Maafin aku, Mas..." Ujarku sesenggukan. "Aku gak sengaja..."
Mas Rey merengkuh tubuhku. "Kenapa kamu minta maaf, Sayang. Mas yang justru salah di sini. Mas terpaksa memapah Manda. Maafin, Mas."
Tuhan, apa setiap hari harus seperti ini rasanya? Menahan cemburu, menahan jengah. Ditambah dengan kejadian tadi, rasa bersalah karena tak sengaja menyentuh Vito di depan Mas Rey, memperburuk semuanya.
"Aku gak sengaja... Kaki aku kesandung..." Isakku sambil terus menjelaskan semuanya.
"Mas tahu, Sayang. Mas lihat sendiri kamu gak sengaja. Udah, gak apa-apa." Mas Rey mengusap rambutku di tengah pelukannya.
Aku terus menangis beberapa saat hingga tanpa sadar aku tertidur karena kelelahan. Pagi harinya, aku terbangun dalam pelukan Mas Rey. Suasana hatiku juga sedikit meringan, hanya saja mataku terasa sangat bengkak. Dan benar saja, saat ku melihat ke arah cermin di meja rias, mataku bengkak sekali.
Segera aku melakukan rutinitasku di pagi hari itu. Aku sedikit agak santai, karena libur semester sedang berlangsung sekarang. Namun semua itu tak lantas membuatku berleha-leha. Di pukul setengah enam pagi, aku sudah berada di dapur, membuat bekal makanan dan juga sarapan.
Saat sedang sibuk mengolah masakan, Tante manda menghampiriku dengan rambut yang acak-acakan, make upnya masih menempel di wajahnya dan terlihat berantakan.
"Ambilin minum." Perintahnya seraya duduk di salah satu kursi bar di counter dapur.
Tak mau berdebat aku pun mengambilkannya segelas air putih. Ia segera meneguknya habis. Dan aku kembali sibuk di depan kompor.
Samar aku mencium bau rokok, dan saat berbalik benar saja, Tante Manda sedang asyik menghisap benda berasap itu.
"Tante! Tante itu lagi hamil, aku juga lagi hamil! Tante tahu 'kan asap rokok itu gak bagus buat ibu hamil?!" Tegurku.
Tante Manda malah terkekeh. "Segitu seneng dan bangganya kamu hamil di usia 18 tahun? Atau kamu seneng karena dihamilin sama Rey? Kamu udah mirip sug^r b^by."
Kata-kata Tante benar-benar membuat emosiku tersulut. "Harus banget Tante ngomong kayak gitu?"
"Kenapa? Emang bener. Rey sering Tante tinggalin. Dia kesepian. Terus tiba-tiba kamu dateng, remaja tanggung yang bahkan buah d^danya aja baru jadi. Ya udah, gak tahan deh Rey lihat kamu."
"Aku sama Mas Rey gak kayak gitu ya, Tante! Kami saling jatuh cinta!"
Tante Manda terbahak. "Cinta? Jangan bikin Tante ketawa deh, Nis. Naif banget kamu bilang kamu sama Rey saling jatuh cinta. Rey itu cuma manfaatin kamu aja. Tante yakin Rey sering sentuh kamu sejak awal kamu tinggal di sini. Terus kamu juga keenakan. Iya 'kan?"
__ADS_1
Aku menghela nafas jengah. "Terserah Tante aja mau ngomong apa. Toh, percuma jelasin sama Tante soalnya Tante gak akan ngerti. Tante 'kan gak punya hati."
"Kamu kali yang gak punya hati. Ngerebut suami tante kamu sendiri. Kamu masih ngomongin tentang hati, Nis?" Ujarnya dingin, dengan mulut yang terus mengeluarkan asap.
"Ngerebut? Coba Tante inget-inget, kayak gimana sikap Tante sama Mas Rey. Dia yang setia selama lima tahun sama Tante, kenapa tiba-tiba berpaling sama aku? Kalau Tante bisa jaga dengan baik rumah tangga Tante, kalau Tante bisa bikin Mas Rey nyaman sama Tante, aku gak akan ada diantara kalian."
Tante Manda terdiam sejenak. Ia mematikan rokoknya yang sudah pendek.
"Fine, Tante emang salah dulu. Tapi kali ini, Tante gak akan nyerah. Tante udah berhasil mengandung anak Rey, Tante udah jadi istri Rey lagi. Satu langkah lagi, tante akan buat Rey jatuh cinta lagi sama Tante. Tante akan bikin dia sadar kalau cinta dia sama Tante masih ada." Ucapnya dengan yakin.
Kata-katanya itu seketika membuat tanganku yang sedang menggenggam spatula, bergetar saking kerasnya aku mencengkramnya. Aku tak terima dengan ucapan Tante Manda.
Dan, di lubuk hatiku, muncul rasa takut jika semua yang diinginkannya terwujud, aku takut Mas Rey kembali jatuh cinta padanya.
"Kamu gak tahu 'kan, Rey pernah sangat mencintai Tante. Dia memperlakukan Tante dengan sangat romantis, lembut, dan segala hal yang diinginkan perempuan di dunia ini, pernah Rey lakuin buat Tante. Sebenernya, Tante sedikit merasa bersyukur karena kamu hadir diantara Rey sama Tante. Karena jujur, Tante jadi sadar tentang perasaan Tante sendiri. Terutama seudah bayi ini ada di kandungan Tante, Tante jadi makin sadar kalau ternyata cuma Rey yang Tante cintai. Cuma Rey pemilik hati Tante."
Air mataku jatuh kembali, namun Tante Manda tak bisa melihatnya karena aku membelakanginya. Kata-katanya berhasil membuatku kembali merasa bahwa akulah pihak ketiga, bukan dia.
"Sekarang, Tante akan bikin kamu sadar sama posisi kamu. Kamu hanya mengenal Rey dalam waktu beberapa bulan aja. Sedangkan Tante dan Rey, pernah benar-benar saling mencintai selama hampir dua tahun, sebelum akhirnya hubungan kami hambar. Rey hanya merasa nyaman sama kamu, dia gak benar-benar cinta sama kamu, Nis. Rey bukan laki-laki yang mudah jatuh cinta. Dia cuma nganggep kamu 'tempat singgah' saat dia ngerasa Tante jauh dari dia."
Tante Manda terdiam beberapa saat. Sedangkan aku berusaha agar ia tak tahu bahwa kini aku tengah membanjirkan air mata di kedua pipiku.
Kemudian aku mendengar pintu kamar Tante Manda terbuka dan tertutup kembali.
Seketika aku keluarkan isakku walaupun tanpa suara. Kesal sekali. Kenapa aku tak bisa melawannya. Kenapa aku malah menangis seperti ini?
Hatiku sakit sekali.
Sakit.
Sekali.
"Sayang?"
Terdengar suara Mas Rey di belakangku. Ia memutar tubuhku dan ia tertegun. Air mata di pipiku sudah membanjir, basah tanpa ada sedikitpun bagian yang kering. Daguku terus meneteskan air mata. Beberapa tetesan juga membasahi bajuku, sisanya jatuh ke lantai.
"Sayang, kamu kenapa?" Mas Rey merengkuh kepalaku mendekat pada dadanya. Namun aku menolaknya dan berlari menuju kamar, dan melanjutkan tangisku di sana.
Lalu terdengar Mas Rey berteriak.
__ADS_1
"MANDA!!" Murkanya seraya menggedor pintu kamar Tante Manda.
Kemudian mereka saling berteriak. Aku tak terlalu mendengar jelas. Yang samar aku dengar, Mas Rey menyalahkan Tante Manda atas keadaanku yang menangis sampai seperti ini. Tante manda juga berteriak membalas teriakan Mas Rey dengan kata-kata makian yang merendahkanku. Mereka terus seperti itu, hanya mendengarnya saja membuat kepalaku seakan mau pecah.
Ku raih ponselku dan mencari kontak ibuku dan meneleponnya.
"Bunda..." Ucapku saat telepon tersambung.
"Nis? Kamu kenapa nangis?"
"Bunda... Danis gak kuat... Danis pengen pulang...." Isakku.
"Nak, kamu harus sabar. Bunda tahu ini gak mudah, tapi kamu harus kuat. Inget bayi yang kamu kandung. Kamu inget dia butuh ayahnya."
"Tapi, Bunda... Danis gak kuat tinggal kayak gini sama Tante Manda. Danis..."
Nyaris saja aku mengatakan ingin mengakhiri semuanya. Biar aku saja yang pergi dari mereka. Namun aku tak bisa, aku tak bisa melepaskan Mas Rey. Aku membutuhkannya. Aku mencintainya. Aku tak mau kehilangannya.
Tapi aku juga tak sanggup jika harus terus seperti ini. Aku harus bagaimana?
Akhirnya setelah beberapa saat, setelah mendengar semua kata-kata dari ibuku yang menguatkanku, perlahan aku bisa menguasai emosiku lagi. Perlahan isakku mereda. Setelah memastikan aku sudah kembali baik-baik saja, ibuku menyudahi sambungan telepon kami.
Namun aku baru menyadari, suara teriakan dari Mas Rey dan Tante Manda sudah tak terdengar lagi. Mas Rey juga tidak menghampiriku ke kamar.
Aku pun bangkit dari tepi tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Sayup aku mendengar suara dari kamar Tante Manda. Aku pun mendekat ke kamarnya dan semakin terdengar suara seseorang yang sedang munt^h. Aku masuk ke kamar Tante Manda dan suara itu semakin jelas terdengar.
Aku pun tiba di depan pintu kamar mandi yang terbuka. Tante Manda sedang muntah dengan Mas Rey memegangi rambutnya dan memijat pelan punggungnya.
"Kamu belum makan 'kan? Tapi kenapa muntah sebanyak itu?" Tanya Mas Rey.
"Aku juga gak tahu. Aku selalu kayak gini tiap pagi. Cape banget rasanya." Keluh Tante Manda. Ia sudah berhenti memunt^hkan isi perutnya. Kini ia bangkit dari posisi membungkuknya.
Matanya tak sengaja menangkap kehadiranku. Ia langsung saja menyandarkan kepalanya pada dada Mas Rey. "Kepala aku pusing, Rey. Badan aku lemes."
Mas Rey sontak membopong tubuh Tante Manda, membuat hatiku kembali terluka. Namun aku tak ingin kehadiranku disadari olehnya. Aku pun perlahan keluar kamar dan bersembunyi di balik tembok.
Aku mengintip sedikit dan melihat Mas Rey sudah membaringkan tubuh Tante Manda di tempat tidurnya. Namun bukannya melepaskan tangannya yang melingkar di leher Mas Rey, Tante Manda malah tetap pada posisinya.
Sepersekian detik kemudian, Tante Manda sudah mempertemukan bibirnya dengan bibir Mas Rey.
__ADS_1