
Malam hari setelah makan malam, aku mengobrol bersama Bi Karti di ruang tengah sambil menonton televisi. Hingga saat jam menunjukkan pukul 9 malam kantuk mulai menguasaiku.
Aku pun memutuskan untuk tidur. Aku melangkah menuju kamar, dan Bi Karti membawa gelas bekas susu yang ku minum ke dapur.
Tepat saat itu bel berbunyi. Aku berjalan menuju interkom untuk melihat siapa yang datang. Aku melihat sebuah buket bunga di bawa oleh seseorang. Wajahnya tak terlihat karena tertutup buket bunga yang memang sangat besar itu.
"Siapa?" Tanyaku.
"Ada kiriman paket, Mbak." Sahut orang itu.
"Biar bibi lihat ke luar ya, Nyonya." Bi Karti baru saja berjalan dari arah dapur.
"Biar aku aja, Bi. Bibi terusin aja cuci piringnya." Cegahku.
Aku pun menghampiri pintu dan membukanya, lalu berjalan menuju pintu gerbang dan membukanya. Aku melihat ada mobil Mas Rey terparkir di luar gerbang.
'Kok, ada mobil Mas Rey?' tanyaku dalam hati. Aku pun celingukan namun tak menemukannya dimana pun.
Kemudian tatapanku terpaku pada orang yang membawa buket bunga yang sangat besar itu, wajahnya masih tertutup buket itu. Ku perhatikan sepatu dan juga celana yang digunakan orang itu, seketika aku mengenalnya.
"Mas Rey?" Gumamku tak yakin, bukankah seharusnya sekarang Mas Rey ada bersama Tante Manda?
Orang itu menggeser bunga yang dibawanya sehingga aku bisa melihat ke arah wajahnya.
"Kejutan!" Pekiknya. Benar saja, Mas Rey ternyata yang membawa buket bunga mawar merah yang sangat besar itu.
Sontak aku menghambur padanya, mengalungkan tanganku di lehernya, kemudian memeluknya erat. Aku masih tak percaya suamiku kini berdiri di hadapanku.
Ku jauhkan tubuhku darinya. "Mas, kok bisa kesini? Mas 'kan harusnya bareng sama..."
Mas Rey langsung memotongku. "Ini buat kamu." Disodorkannya bunga itu padaku.
"Mas..." Aku pun tertegun mendapat perlakuan romantis yang tiba-tiba itu. Kedua sudut bibirku tak bisa ku tahan untuk tak terangkat ke atas. "Makasih..."
"Sama-sama, Sayang." Ia mengecup pelan dahiku. "Mas masukin mobil dulu ya."
Ia pun berjalan menuju mobilnya dan sesaat kemudian mobil itu sudah berada di garasi. Aku menghampiri Mas Rey yang baru keluar dari pintu kemudi.
"Mas kenapa Mas pulangnya kesini? 'kan harusnya semalem lagi Mas sama Tante Manda."
Mas Rey mengambil alih buket itu. "Sini Mas bawain. Berat ya?"
"Lumayan. Gede banget sih Mas buket bunganya" Sahutku. Ia membawa buket itu dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya menggenggam tanganku, dan membawaku ke belakang mobilnya. Kemudian ia membuka bagasi dan seketika aku tercengang melihat banyak paperbag di dalamnya.
__ADS_1
"Mas beliin kamu beberapa baju dan lain-lain, nanti kamu lihat sendiri ya." Aku kembali tertegun dibuatnya. Kami pun memasuki rumah melewati pintu garasi dengan tangan penuh berbagai paperbag dari beberapa brand fashion ternama.
"Bi Karti, tolong masukin ke dalam vas ya bunganya. Simpan aja nanti di meja makan dulu." Mas Rey menyerahkan buket itu kepada Bi Karti.
"Baik, Tuan." Sahut Bi Karti.
Mas Rey membawaku ke dalam kamar kami. Saat pintu tertutup Mas Rey langsung saja menciumku dengan liarnya, membuat pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan di dalam pikiranku terpaksa aku tahan dulu dan dengan pasrah membiarkannya melahapku.
Setelah mendapatkan pelepasan, kami mandi bersama. Kemudian setelah itu Mas Rey mengeringkan rambutku dengan hair dryer. Aku duduk di depan meja rias dan menatap pantulan wajah Mas Rey dari cermin. Wajahnya terlihat lebih tampan dengan rambutnya yang masih basah. Aku bingung sendiri, kenapa jantungku masih saja berdebar ketika melihat betapa tampannya suamiku itu.
Diam-diam aku juga menelisik raut wajahnya. Ia nampak bahagia dan senyum tipis tak pernah pudar bahkan sejak ia datang membawa berbagai hadiah untukku.
"Mas..." Panggilku.
"Kenapa, Sayang?" Ia melirik sekilas padaku dari cermin itu.
"Mas belum jawab pertanyaan aku. Kenapa Mas pulang? Harusnya 'kan baru besok. Tante Manda gimana?" Tanyaku sudah sangat penasaran.
Senyumnya semakin melebar. "Mas lagi pengen sama kamu aja. Kamu gak suka Mas pulang?"
Aku menoleh ke arahnya. "Aku bukannya gak suka, tapi 'kan harusnya Mas gak boleh gitu." Aku khawatir Tante Manda akan merasa diperlakukan tidak adil dan mengacaukan kesepakatan yang sudah kami setujui waktu itu.
Mas Rey mematikan hair dryer, dan rambutku pun sudah mengering. Ia menunduk dan menciumku lagi. Cukup lama dan dalam.
Mas Rey terkekeh. "Ya udah deh besok lagi."
Kemudian ia membopongku dan membaringkanku di tempat tidur. Ia menyebrangiku dan kemudian berbaring di sampingku, menaruh kepalaku di lengannya dan merengkuhku.
"Mas," Aku mulai jengkel, bibirku sampai maju sekitar satu senti. "Dari tadi aku nanya gak jawab ih."
Mas Rey tersenyum gemas. "Tadi Mas udah jawab 'kan, Mas pengen sama kamu. Mas kangen banget sama istri Mas dan sama yang di dalam sini." Ia menyentuh perutku dan mengusapnya.
"Tapi Tante Manda gimana? Kalau dia marah-marah gimana?"
"Dia udah ada temennya."
Teman? Siapa?
"Temen..." Aku berpikir sejenak. "Ada temen Tante Manda yang lagi nginep?"
"Iya. Jadi Mas pulang aja."
Aku terdiam tak terlalu yakin. Aneh saja. Mengapa Tante Manda membiarkan seseorang menginap di saat seharusnya Mas Rey pulang ke tempatnya?
__ADS_1
"Tante Manda gak marah?" Tanyaku.
"Enggak. Dia diem aja malahan. Kayaknya setelah ini Mas gak akan tinggal sama Manda lagi."
Sontak aku duduk dan menatap Mas Rey dengan tak percaya. "Maksud Mas gimana? Gak akan tinggal sama Tante Manda lagi? Maksudnya?"
"Karena dia udah ada yang nemenin, jadi Mas gak akan nemenin Manda lagi."
Dahiku semakin mengerut, kedua alisku bersatu. "Kasih tahu aku sebenernya ada apa, Mas? Kenapa Mas ngomongnya kayak gitu? Temen Tante Manda itu siapa?" Selorohku begitu penasaran.
Mas Rey bangkit dari posisinya dan menatapku, kemudian tersenyum gemas. "Yang nemenin Manda sekarang adalah ayah dari bayi yang Manda kandung."
Hah?
Sepertinya telingaku salah mendengar. "Ap-apa Mas bilang?"
"Kamu gak salah denger, Sayang." Mas Rey meyakinkan.
"Ayah dari bayi yang Tante Manda kandung?" Ulangku dengan betul-betul tercengang. "Mas udah tahu laki-laki yang buat Tante Manda hamil?"
Mas Rey mengangguk pasti. "Mas ketemu sama laki-laki itu tadi."
Seketika hatiku dipenuhi rasa lega, bahagia, dan sama sekali tak menyangka. Aku semakin memfokuskan pandanganku pada Mas Rey. "Siapa laki-laki itu? Apa Mas kenal? Atau orang lain yang gak tahu siapa? Kok bisa Mas tahu? Dari mana?" Selorohku lagi tak sabar.
Mas Rey tertawa mendengarku yang begitu penasaran. Ia meraih tanganku. "Mas kenal orangnya. Tapi mungkin Mas belum bisa kasih tahu kamu sekarang."
Seketika aku kecewa. "Kenapa? Kenapa gak bisa?"
"Besok Mas akan ketemu sama Thomas Akagi. Mas akan bicara dulu sama dia dan menyelesaikan semuanya. Baru seudah itu Mas akan kasih tahu kamu. Sabar ya."
Wajahku cemberut, rasanya aku tak bisa membendung rasa penasaranku yang membuncah ini. "Mas gitu ih. Aku 'kan penasaran. Aku pengen tahu, Mas! Please kasih tahu aku siapa." Benar-benar tak sabar, ingin mengetahui semuanya.
Mas Rey menyentuh pipiku dan mengusapnya. "Sabar untuk sebentar lagi ya. Kamu pasti akan segera tahu siapa ayah dari bayi yang Manda kandung. Seharusnya yang kamu pikirkan sekarang adalah Mas udah bisa membuktikan bahwa Mas gak bohong. Bayi yang dikandung Manda bukan anak Mas. Laki-laki itu udah mengakui semuanya kalau bayi yang dikandung Manda adalah anaknya, dan Mas udah punya buktinya."
Sontak aku pun memeluknya. "Maafin aku ya karena aku sempet meragukan Mas."
"Itu semua udah lewat, Sayang. Yang penting kamu bisa percaya lagi sama Mas, bahkan sebelum Mas bisa membuktikan semuanya. Makasih ya. Padahal Mas tahu itu pasti sangat sulit." Mas Rey balik merengkuhku. "Sekarang tinggal satu lagi. Mas harus ketemu sama Thomas Akagi."
Aku pun melepas rengkuhanku di tubuhnya. "Mas masih harus ketemu dia? Bukannya Mas udah punya bukti? Laki-laki itu udah mengakui kalau dia ayah dari bayi yang Tante Manda kandung. Itu bukti yang kuat banget, Mas."
Mas Rey menggeleng. "Kesaksian laki-laki itu memang jadi bukti kuat bahwa Mas bukan yang menghamili Manda, tapi gak membuktikan kalau Mas gak melakukan itu sama Manda." Mas Rey kembali meraup kedua pipiku. "Mas akan buktikan, Mas sama sekali gak melakukan apapun pada saat Manda membawa Mas waktu itu."
Rasanya aku sudah tak membutuhkan bukti itu lagi. Sekarang saja, saat aku belum mengetahui bukti yang Mas Rey pegang, aku sudah kembali bisa mempercayainya sepenuh hatiku.
__ADS_1
Namun, Mas Rey benar, mengungkap semua kelicikan Tante Manda hingga ke akarnya tetap harus dilakukan. Tante Manda harus mendapatkan ganjaran atas apa yang diperbuatnya.