
Vito masih mencengkram tanganku, ia membawaku masuk ke dalam gedung fakultas kedokteran.
"Woy, Vit lo mau bawa kemana calon bini orang!" Teriak Fina mencoba mengejar kami. Akhirnya Fina berhasil meraih tanganku.
"Lo jangan ikut campur, Fin!" Vito menghempaskan tangan Fina yang menahanku. "Gue mau ngomong empat mata sama dia. Jangan ganggu!"
Fina yang khawatir melirik ke arahku. Aku pun mengangguk pada Fina agar ia membiarkan Vito membawaku. Jujur, aku cukup penasaran juga dia akan apa dan mengatakan apa.
Beberapa saat kami tiba di rooftop gedung fakultas itu. "Lepasin!" Kutarik tanganku sendiri dengan keras. Akhirnya tanganku lepas dari cengkramannya.
Dengan marah ia berteriak. "LO UDAH GILA?!"
Dahiku mengerut tak mengerti. "Maksudnya?"
"Orang yang akan lo nikahin itu suami tante lo 'kan? Gimana bisa lo nikahin suami tante lo sendiri?!"
Dengan tenang aku menjawabnya. "Denger ya, pertama, ini gak ada hubungannya sama lo. Kedua, harusnya gue gak perlu jelasin ini sama lo, tapi kalau lo bener-bener pengen tahu, Tante gue sama Om Rey udah cerai!"
"Tapi tetep aja lo itu PELAKOR!!" Vito meninggikan volume bicaranya saat mengatakan kata itu. "Gimana bisa lo nikahin mantan suami tante lo sendiri? Lo gak mikirin perasaan tante lo? Lo gak mikirin tanggapan orang-orang?!"
Kata-kata Vito berhasil menyulut emosiku. Ku raih kedua kerah kemejanya, sama sekali tak takut padanya. "Apa hak lo ngehina gue lagi kayak gitu?! Lo gak tahu apa-apa tentang gue, jangan sok ikut campur!"
Vito malah menggenggam tanganku yang masih mencengkram kerah kemejanya. Wajahnya begitu dekat hingga matanya yang tiba-tiba sedikit basah, bisa kulihat dengan jelas. Tatapannya memelas padaku. "Gue gak menghina lo, gue peduli sama lo, Nis."
Ku lepaskan tanganku dengan kesal. "Gue gak perlu lo peduli sama gue. Lo udah bukan temen gue lagi semenjak lo ngehina gue waktu itu!"
"Gue salah paham, Nis." Lirihnya menyesal.
__ADS_1
"Rendah banget cara lo mandang gue!" Ucapku tak terima. "Lo mikir gue serendah itu, sedangkan lo sendiri apa? Bukannya justru lo yang jadi simpanan tante-tante!"
"ITU KARENA GUE PENGEN DILIHAT SAMA LO!!" Suaranya menggelegar. Pundaknya naik turun. "Gue pengen lo nganggep gue. Gue pengen lo ngelirik dan mengakui keberadaan gue!"
Sesaat aku terdiam. Apa maksud ucapannya? Apa dia sedang mengiyakan bahwa selama ini dia adalah...
"Apa... maksud lo? Lo...beneran jadi... simpenan tante-tante?" Tanyaku tak percaya.
Vito mengusap kasar wajahnya. Ia berjalan menuju tepi rooftop dan menyanggakan kedua tangannya di sana, meninggalkanku yang masih tertegun tak percaya. Ia terdiam dan membiarkan semilir angin membelainya.
Aku sendiri terdiam mematung, masih syok karena Vito mengakui semua itu. Selama ini aku tak pernah benar-benar mempercayai gosip itu. Aku selalu percaya bahwa Vito adalah laki-laki yang baik. Dia dikenal sebagai siswa berprestasi dan fokus pada pendidikannya hingga ia bisa mendapatkan beasiswa penuh di fakultas kedokteran ini.
"Gue...suka sama lo." Ucapnya tiba-tiba. Ia menoleh kepadaku dan mengulanginya. "Gue suka sama lo, Nis."
Aku pernah mendengar hal ini dari Fina, tapi sekali lagi, aku tak pernah benar-benar mempercayainya.
"Gue suka sejak pertama kali lihat lo pas orientasi." Vito berjalan ke arahku. "Setelah kenal sama lo, gue bahkan makin suka. Tapi lo gak pernah sekalipun ngelirik gue. Sampai gue mikir kayaknya gue harus berubah. Lo gak akan ngelihat gue kalau gue masih aja kayak gini. "
"Iya gue emang beg0! Dan itu gara-gara lo! Gue makin benci sama diri gue sendiri karena setelah gue berubah pun, lo gak pernah ngelihat gue." Wajahnya terlihat sedih dan frustasi.
"Vito, lo bener-bener udah gak waras. Kenapa lo berpikiran pendek kayak gitu? Kalau gue gak pernah ngelihat lo, kenapa lo gak nyari cewek lain? Kenapa lo malah ngelakuin hal bodoh kayak gitu? Emang dengan lo berubah kayak gitu, gue bakal jadi ngelihat lo? Denger ya, penampilan lo yang dulu itu gak ada yang salah! Malah gue lebih suka lo yang dulu. Bukan lo yang sekarang yang sukanya tebar pesona!"
"Gue tahu, Nis! Gue sadar kalau gue udah salah ambil langkah! Gue udah berhenti. Semenjak lihat lo sama Om lo gue sadar, hal yang udah gue lakuin justru bakal bikin lo tambah gak ngelirik gue. Bukannya jadi cowok yang keren depan lo, gue malah jadi cowok rendah, gak punya harga diri."
Aku masih tak percaya dengan apa yang Vito lakukan. "Otak pinter lo itu dipake juga buat hal-hal kayak gini bisa gak sih? Vito yang gue kenal itu cowok beasiswa, kritis, pinter, dan calon dokter sukses! Gue bener-bener gak percaya lo sampai ngejual diri lo demi hal yang sama sekali gak penting kayak gitu!"
Wajah Vito semakin muram. Aku tahu mungkin kata-kataku ini terdengar jahat, tapi ia harus sadar, apa yang sudah dilakukannya itu sudah di luar batas.
__ADS_1
"Nasi udah jadi bubur. Tapi lo bisa jamin dan pegang kata-kata gue, gue udah gak pernah ngelakuin itu lagi." Ujarnya sungguh-sungguh.
"Walaupun lo bilang udah nggak, nyatanya lo udah pernah serendah itu. Dan yang bikin gue gak paham lo ngelakuin ini karena gue! Lo bener-bener tega bikin gue ngerasa bersalah kayak gini!"
"Maafin gue, Nis." Sesalnya.
Walaupun hatiku masih begitu kesal dan tak habis pikir, tapi tak ada yang bisa aku lakukan. Aku akan segera memiliki hidup baru. Aku tak ingin memiliki masalah seperti ini.
Akhirnya hanya satu yang bisa aku lakukan, memaafkannya. Lagipula Vito sudah menyesalinya.
Ku hela nafasku dalam, san ku hembuskan panjang. "Udahlah, lupain aja semua."
Vito langsung saja menatap ke arahku tercengang. "Lo maafin gue?"
"Ya mau gimana lagi. Yang penting lo udah nyesel 'kan sama perbuatan lo itu." Rasa iba menelusup di hatiku. "Gue juga minta maaf karena gak bisa balas perasaan lo. Bagi gue lo cuma temen, gak pernah lebih dari itu."
Vito terdiam juga tak menatapku.
"Iya, gue ngerti, Nis." Ucapnya setelah beberapa lama. "Maafin gue karena udah ngambil tindakan bodoh. Juga bawa-bawa lo. Tapi apa gak bisa, lo pacaran sama gue sebentar aja? Dengan alasan kasihan sama gue juga gue gak apa-apa, gue terima." Ucapnya penuh harap.
Otak Vito benar-benar sudah rusak.
"Vito, gue ini udah mau nikah." Tegasku. "Gue cinta banget sama calon suami gue. Gak ada cowok lain yang gue pikirin selain dia. Kenapa sih lo harus segininya? Cewek yang mau sama lo itu banyak, Vit. Lo itu calon dokter! Lo itu keren dengan apa adanya lo! Tanpa lo ngubah penampilan lo, lo itu udah banyak yang suka."
"Terus kenapa lo gak suka sama gue?"
"Gue gak tahu. Emang gue bisa nentuin mau suka sama siapa? Cinta itu gak bisa kita arahin buat tertuju sama siapa, Vit. Cinta gue cuma buat Om Rey."
__ADS_1
"Dan cinta gue cuma buat lo, Nis. Walaupun lo nikah sama Om lo itu, gue bakal tetep suka sama lo." Ucapnya penuh kesungguhan.
Kembali ku hanya bisa tertegun seraya memijit kepalaku yang tiba-tiba berdenyut.