
"Jangan coba-coba matiin teleponnya, ya!" Tegasku saat suara Mas Rey tak terdengar menyahut.
"Sayang, maaf Mas..."
"Cepet pulang." Potongku, air mata mulai keluar dan mengaburkan penglihatanku. "Ada sesuatu yang harus aku omongin."
"Sesuatu apa? Kamu baik-baik aja 'kan?" Tanyanya antara cemas dan penasaran.
"Pokoknya aku pengen ngomong ini secara langsung. Gak mau lewat telepon kayak gini. Mas harus cepet pulang."
"Mas masih..."
"Aku gak mau tahu! Pokoknya Mas harus cepet pulang! Gak ada bukti itupun gak apa-apa. Aku gak akan minta Mas buat nikahin Tante Manda lagi." Isakku.
Segera aku menghapus air mataku yang mengalir, tak ingin Mas Marcel yang sedang asyik makan di hadapanku semakin mengulum senyumnya melihat tingkah 'drama'ku ini. Sebenarnya aku malu menangis seperti ini di hadapannya yang bagiku masih sangat asing, tapi apa boleh buat.
"Kamu percaya sama Mas?" Tanyanya lega.
Aku mengangguk pasti. "Aku percaya sama Mas. Tante Manda pasti hamil bukan anaknya Mas. Mas gak mimgkin kayak gitu. Maafin aku karena udah gak percaya sama Mas."
"Terimakasih, Tuhan." Gumamnya. "Makasih, Sayang. Itu berarti banget buat Mas. Tapi tetep, Mas harus dapetin bukti itu. Kalau enggak, Mas gak tahu apa yang bisa Manda lakukan. Mas janji, Mas akan secepatnya pulang."
"Secepatnya itu kapan?!" Tanyaku tak sabar.
"Seminggu. Mas berhasil atau enggak dapetin bukti itu, dalam waktu seminggu Mas pasti akan pulang." Tekadnya.
"Bener ya, seminggu aja. Jangan lebih lama dari itu."
"Iya, Sayang. Mas janji. Tahu kamu udah percaya lagi sama Mas, Mas juga jadi pengen cepet-cepet pulang. Mas kangen sama istri Mas."
Mendengar penuturannya, tangisku mengeras. "Aku juga kangen sama Mas! Makanya cepet pulang!" Aku sudah tak peduli dengan ekspresi wajah Mas Marcel yang masih menahan tawanya karena percakapanku dan Mas Rey.
"Iya, Sayang. Mas pasti pulang secepatnya." Pungkasnya.
Setelah itu kami saling berpamitan dan akupun mengembalikan ponsel Mas Marcel padanya. Bento yang aku bawakan untuknya sudah habis dilahapnya. "Makasih ya, Mas Marcel."
"Sama-sama, Nis. Jadi dia bilang seminggu bakal disana?" Tanyanya.
Aku pun kembali menggendong tasku, bersiap untuk pergi. "Iya, katanya sih gitu. Mas Marcel, maaf ya kalau aku terus-terusan ganggu. Seudah ini aku janji gak akan ganggu lagi. Aku pergi ya."
"Gak apa-apa, Nis. Gue seneng malah bisa nonton drama live kayak gini." Kekehnya.
__ADS_1
Dasar, teman Mas Rey ini memang kurang asem.
Jika saja dia bukan teman Mas Rey sudah kuteriaki dia. Tapi berhubung ia sudah sangat berjasa karena berkat dirinya pikiranku lebih terbuka dalam menilai suamiku, juga berkat dia, rasa rinduku sedikit terobati karena akhirnya aku bisa mendengar suara Mas Rey walaupun sebentar.
Setelah itu aku pamit dan memutuskan berjalan-jalan ke Plaza Mall sebentar. Entahlah, aku tiba-tiba ingin ke sini. Aku tidak berniat membeli apapun. Hanya ingin menyegarkan pikiranku. Melihat orang-orang berlalu lalang, melihat toko-toko yang menjual berbagai macam barang, semua itu membuat aku sedikit lebih rileks, dibanding aku berada di kamar saja dan tak melakukan apapun.
Kemudian tak sengaja aku melewati sebuah toko perlengkapan bayi. Naluriku membuat kakiku bergerak begitu saja memasuki toko itu. Ku lihat pernak-pernik bayi yang lucu, kecil, dan menggemaskan.
Tanpa sadar kuusap perutku. "Nanti aku bakal kesini lagi sama Mas Rey. Tentunya saat itu aku udah tahu, di perutku ini beneran ada bayi atau enggak." Gumamku gemas sendiri.
"Nis." Seseorang memanggilku, aku pun menoleh dan melihat Vito berdiri tak jauh dariku. "Beneran lo ternyata." Ia pun berjalan mendekat padaku.
"Vito? Lo ngapain di sini?" Tanyaku.
"Gue..." ia menggaruk belakang rambutnya seperti berpikir. "Tadi abis dari kafenya Om Tanoe. Terus gak sengaja lihat lo masuk ke toko ini."
Aku mengangguk paham.
"Lo kayaknya udah gak lemes kayak kemarin? Jadi kabar itu bener?" Tanyanya penasaran.
Aku menatapnya gemas, hingga tanpa sadar aku tersenyum sumringah. "Semoga ya, Vit. Soalnya gue belum periksa."
"Kenapa?" Tanya Vito.
"Ke Korea? Ngapain?" Tanya Vito, jika aku tidak salah lihat ia seperti terkejut.
"Ada urusan pokoknya. Kepo banget sih, lo." Ujarku tak berniat menceritakan masalahku pada Vito.
"Lo... kayaknya udah gak ada masalah sama suami lo, Nis?" Tanyanya.
Pertanyaannya membuatku tertegun. Darimana ia tahu aku sedang ada masalah dengan Mas Rey?
"Ma-maksud gue kemarin lo kayak yang sedih gitu, sampai pingsan malah. Kayaknya lo lagi ada masalah sama suami lo, tapi sekarang lo kelihatan udah baikan." Nada bicara Vito mencurigakan. Juga, rasa ingin tahunya bagiku agak janggal.
"Kenapa, lo gak suka kalau gue seneng?" Tanyaku ketus.
"Enggak gitu, Nis. Gue cuma heran aja. Gue ikut seneng kok, kalau lo seneng." Ujarnya seraya tersenyum menyembunyikan ekspresi ganjilnya.
"Syukur deh. Berarti lo emang temen gue." Ku tekankan kata 'teman' padanya agar ia kembali sadar bahwa tak akan pernah ada celah bagi Vito untuk masuk diantara Mas Rey dan aku. Ia harus sadar bahwa ia hanya sekedar teman bagiku, aku harap ia bisa segera menghapus perasaannya padaku.
"Vi..."
__ADS_1
Tiba-tiba, tanpa disangka-sangka, aku melihat Tante Manda, baru saja datang memasuki toko ini dan berdiri di belakang Vito. Ia seperti akan memanggil seseorang tapi kemudian mengurungkan niatnya saat mata kami bersih tatap.
"Tante..." Gumamku.
Ia mendekat padaku. "Ngapain kamu di sini?!" Tanyanya kesal.
Dahiku mengerut. "Emang kenapa? Ini tempat umum 'kan? Tante sendiri ngapain ke sini?"
"Tante gak tahu kamu bisa lebih gak tahu malu bahkan dari seekor anj^ng kayak gini! Selama ini Tante kasih makan kamu, tapi kamu malah ngegigit sama orang yang udah berjasa buat kamu! Anj^ng aja gak akan ngegigit sama tangan yang udah ngasih dia makan!" Hinanya, matanya melotot, aku sampai khawatir bola matanya akan keluar.
Aku terkekeh meremehkan. "Anj^ng itu gak akan ngegigit sama orang yang udah melihara dia dengan baik, Tante. Kalau ngegigit, berarti majikannya yang bermasalah. Bukan anj^ngnya."
"Kamu makin pinter ngomong ya, Nis." Geramnya.
"Iya, dong. Kan Tante yang ngajarin." Sahutku tak takut.
"Kamu..." Ia masih begitu marah padaku. "Kalau Tante jadi kamu, Tante akan pergi dari keluarga Kusuma, dan sembunyi! Lihat aja kamu akan menyaksikan, Rey menikahi Tante lagi."
Tak sadar tawaku meled^k. "Tante gak usah nge-halu. Mas Rey gak akan nikahin Tante lagi. Aku tahu kok, Tante hamil bukan anaknya Mas Rey." Ucapku tak gentar.
Seketika ia murka. "Anak ini anak Rey!! Kamu gak lihat foto itu?! Kamu masih aja gak tahu diri hadir diantara Tante dan juga Rey! Kamu harus sadar, ada bayi Rey di dalam kandungan Tante. Bayi yang selama ini diinginkan Rey dan keluarganya."
Seketika aku goyah. Ada rasa ragu yang tiba-tiba saja menelusup setelah Tante Manda mengatakan itu.
Namun segera ku yakinkan diriku lagi. Tidak, bayi itu bukan bayi Mas Rey.
Tante Manda kembali memprov0kasiku. "Kamu gak tahu gimana selama ini Rey ingin Tante hamil? Sekarang Tante udah selesai bermain-main. Sekarang tiba saatnya Tante dan Rey bersatu lagi demi anak yang Tante kandung. Jadi kalau kamu punya hati, kamu lebih baik mundur, Nis. Masih belum terlambat kamu cerai sama Rey. Dan mungkin juga Tante akan ngasih maaf buat kamu dan melupakan semua tentang perselingkuhan kamu sama Rey. Tante minta, biarkan kami bertiga hidup dengan tenang!"
Aku menghela nafas jengah. "Denger baik-baik ya, Tante. Aku gak akan pernah cerai sama Mas Rey!" Tegasku. "Tante yang justru harusnya pergi jauh-jauh dan jangan ganggu Mas Rey lagi! Mas Rey suami aku sekarang. Jadi, biarkan aku sama Mas Rey hidup dengan tenang tanpa ada gangguan dari Tante!"
"Kamu masih belum ngerti sama omongan Tante barusan?!" Teriaknya masih tak mau kalah.
"Stop!" Lerai Vito yang sejak tadi terdiam mendengar perdebatanku dengan Tante Manda. "Nis, kita pergi aja ya. Lihat orang-orang ngelihat ke arah sini."
Aku menatap ke arah sekeliling, benar saja, perang mulut antara aku dan Tante Manda barusan ternyata sudah mengundang beberapa pasang mata untuk melihat ke arah kami. Vito segera menarik tanganku dan membawaku pergi.
Namun langkah kami terhenti saat tangan Tante Manda menahan tangan Vito yang lainnya.
Sontak aku kembali tak terima dengan apa yang dilakukannya. Ku hempaskan tangan Tante Manda dari tangan Vito. "Stop ya, Tante! Baru aja Tante debat sama aku tentang Mas Rey. Gak nyampe lima detik Tante udah nyari mangsa lagi!"
"Ma-mangsa...?!" Tante Manda menatapku dan Vito bergantian dengan gelagapan.
__ADS_1
Ku tarik tangan Vito hingga ia berdiri di kebelakangku, seakan membentengi Vito dari Tante Manda. "Dia ini temen aku. Kalau Tante mau cari berondong, cari yang lain, jangan dia! Aku gak mau temen aku jadi mangsa cewek ular kayak Tante!"