
"Lepasin, Om. Aku mau pergi dari sini." Isakku.
Tubuhku sudah tak meronta-ronta lagi. Kakiku juga sudah berhenti menendang tulang kering Mas Rey. Kini aku hanya merasakan lemas di sekujur tubuhku. Rasanya lelah sekali.
"Tolong... kamu jangan kayak gini, Dan. Kalau kamu gak percaya sama Mas, siapa lagi yang akan percaya pada Mas..." Nada bicara Mas Rey terdengar begitu nelangsa.
Ia masih berdiri di belakangku dan mengunci tubuhku.
"Aku pengen percaya... Tapi buktinya Tante Manda hamil..." Isakku lemah. "Om balik lagi aja sama Tante... Om sama Tante... harus ngerawat bayi kal..."
"MAS GAK NYENTUH MANDA!!" Teriaknya jengah. Ia memutar tubuhku. Ku lihat matanya berurai air mata. "Mas gak nyentuh Manda, Dan. Kamu tahu Mas gak sadar waktu itu, gimana bisa Mas melakukan itu sama Manda?! Mas dijebak, Dan. Mas gak mungkin khianatin kamu!"
"Om gak boleh gitu... Tante Manda... hamil anak Om. Harusnya...harusnya... Om tanggung jawab..." Tangisku terus tak mau pergi.
"JANGAN PANGGIL OM SAMA MAS!!" Emosi kami meluap-luap. Amarah, air mata, sakit, semua kami rasakan dalam satu waktu. Kepalaku bahkan terasa pening dan berdenyut, rasanya seperti mau pecah. "Bukan Mas ayah dari bayi yang dikandung Manda! Mas yakin sekali anak yang dikandung Manda itu bukan anak Mas!"
Aku tak menjawab lagi, lidahku rasanya kelu. Tubuhku terus melemas, kepalaku terus berputar hingga akhirnya pandanganku gelap dan aku tak ingat apapun lagi setelah itu.
Hingga aku terbangun dengan keadaan kepala yang sakit luar biasa. Ku tatap langit-langit sebuah ruangan megah, kurasakan tanganku dipijit oleh seseorang. Saat aku menoleh aku melihat salah seorang ART yang bekerja di rumah ibu mertuaku duduk di lantai dengan tangannya memijat tanganku.
"Bi Karti..." Lirihku.
"Mbak Danis sudah bangun? Syukurlah. Gimana perasaannya, Mbak?" Serunya lega.
"Kepala aku sakit banget, Bi." Ku pegang kepalaku dengan tanganku yang tidak dipijat oleh Bi Karti.
"Minum dulu, Mbak." Bi Karti bangkit dan membantuku meminum seteguk air teh manis.
Ku edarkan mataku dan melihat bahwa aku berada di sebuah kamar. Kamar ini adalah kamar lama Mas Rey yang ditempatinya dulu di rumah ini.
"Om Rey mana?" Tanyaku.
"Om Rey?" Bi Karti tertegun sesaat. Ia pasti merasa aneh karena aku memanggil Mas Rey dengan sebutan Om. "Oh Tuan Rey sedang di kamar Nyonya Sekar. Nyonya pingsan juga tadi, Mbak."
Sontak aku bangkit dari posisi berbaringku. "Apa? Ibu pingsan?"
"Iya, Mbak. Tekanan darah ibu naik sampai beliau pingsan." Terang Bi Karti cemas.
"Ya ampun, ibu." Gumamku. "Terus Tante Manda?"
__ADS_1
"Nyonya Amanda sudah pergi, Mbak. Tuan Rey segera mengusirnya setelah membawa Mbak Danis ke kamar ini."
Seketika kekalutan menguasaiku lagi. Pikiranku buntu. Hatiku sesak. Air mataku kembali mengalir.
"Aku harus gimana, Bi." Isakku.
"Sabar ya, Mbak. Bibi hanya bisa memberikan doa dan semangat sama Mbak Danis. Yang bisa Bibi bilang sama Mbak Danis cuma, Mbak Danis harus percaya sama Tuan Rey. Tuan Rey orangnya baik sekali, sabar, dan juga setia. Bibi gak percaya Nyonya Amanda hamil anaknya Tuan Rey. Tuan Rey pasti sudah dijebak."
Bi Karti nampak sangat sedih. Beliau adalah pengasuh dari Mas Rey sejak Mas Rey masih bayi, ia sudah mengenal Mas Rey dengan sangat baik. Mendengar ucapannya membuat aku merasa sedikit lega karena hati kecilku pun berkata demikian, suamiku adalah orang yang sangat baik dan setia.
Namun tetap saja semuanya tidak sesederhana itu. Tante Manda membawa bukti yang sangat valid. Foto USG yang menunjukkan kehamilannya yang berusia empat minggu. Waktu yang memungkinkan terjadi kehamilan jika mereka melakukannya saat hari terakhir kami berbulan madu waktu itu.
Aku sungguh bimbang. Mana yang harus aku percaya? Tante Manda atau Mas Rey?
Terlebih apa yang harus aku lakukan sekarang? Setelah Tante Manda hamil apa aku harus menyerah dalam pernikahan ini? Pernikahan yang baru seumur jagung ini? Atau... aku harus rela menerima Tante Manda hadir diantara kami?
Di satu sisi aku tak siap jika kehilangan Mas Rey. Namun di sisi lain, aku juga tidak mau dimadu.
Pikiranku sungguh buntu. Aku tak punya tempat untuk pergi, tak juga memiliki solusi untuk masalah ini.
"Mbak Danis, Ibu mau bertemu. Bisa anda ikut dengan saya?" Tiba-tiba seorang ART lainnya mengetuk pintu kamar yang terbuka dan memintaku ikut dengannya.
Akupun beringsut dibantu oleh Bi Karti. "Aku bisa, Bi. Gak apa-apa." Ucapku saat Bi Karti terus memapahku.
Perlahan aku berjalan menuju kamar ibu mertuaku. Hingga aku melihat Mas Rey dan Mbak Dewi sudah berada di samping sang ibu.
"Danis..." Lirih ibu mertuaku saat melihatku berjalan mendekat padanya. "Sini, Nak."
Mas Rey menoleh ke arahku dan iapun bangkit membiarkanku duduk di posisinya. Kemudian ia berdiri di sampingku dan mengusap puncak kepalaku pelan, penuh kasih sayang.
Sekilas aku menatap ke arahnya. Ia tersenyum tipis padaku. "Kamu udah sehat?"
Aku tak menjawabnya dan kembali menatap ibu mertuaku.
"Danis..." Isaknya. Ia mengulurkan tangannya, dan memintaku untuk menggenggamnya.
Akupun menyambutnya. "Ibu, gimana keadaan ibu? Ibu kok sampai sakit begini. Danis jadi sedih lihatnya." Tak tega rasanya melihat tubuh rentanya terbaring dengan air mata yang mengalir deras.
"Danis, menantu ibu. Maafkan ibu... maafkan Rey..." Tangannya terus menggenggam erat tanganku.
__ADS_1
"Bu, sudah ibu jangan nangis lagi. Ingat kata dokter barusan, ibu gak boleh stress. Nanti tekanan darah ibu naik lagi." Mbak Dewi mengingatkan.
"Ibu gak salah apa-apa. Ibu jangan minta maaf ya sama Danis. Danis gak apa-apa, kok." Aku berusaha keras menahan air mataku agar tak keluar.
Suaranya lemah. "Maafkan ibu, kalau ibu terkesan egois. Tapi apakah kamu bisa berjanji untuk tidak meninggalkan Rey, Nak? Ibu tidak mau kehilangan menantu sebaik kamu. Ibu juga tidak mau Rey gagal berumah tangga untuk kedua kalinya." Mohonnya penuh harap.
Aku terdiam tak tahu harus menjawab apa. Jujur, hatiku masih sangat bimbang.
"Danisa dan Rey gak akan pernah pisah, Bu. Rey udah bilang 'kan tadi. Rey gak akan membiarkan itu." Sahut Mas Rey dengan yakinnya.
"Kamu ini tahu apa dengan perasaan perempuan? Sekarang kamu membuat mantan istri kamu mengandung. Lalu kamu masih mau mempertahankan istri kamu?! Kamu gak memikirkan perasaan Danis?! Mbak gak nyangka kamu bisa seperti ini, Rey. Kenapa kamu harus menikahi Danis kalau nyatanya kamu masih berh#srat menyentuh Manda hingga kamu menghamili dia?!" Teriak Mbak Dewi kepada sang adik.
"Mbak, aku gak minta Mbak percaya sama Rey. Rey hanya perlu Danisa percaya." Tegasnya dengan lelah.
Mbak Dewi terkekeh meremehkan. "Terus memangnya istri kamu percaya sama kamu? Dia aja sampai pingsan barusan. Kamu itu... "
"Wi... " Lerai ibu mertuaku, membuat keduanya terdiam.
"Bu, selama ini selalu saja masalah Rey yang membuat hipertensi ibu kambuh! Kenapa anak bungsu ibu ini selalu saja membuat masalah! Ibu dengar kan tadi dokter sampai berkata, ibu nyaris saja terkena stroke! Jika terjadi sesuatu pada ibu, Dewi gak akan pernah maafin Rey, Bu! Sungguh Dewi gak akan tinggal diam kalau sesuatu yang buruk terjadi pada ibu!"
Ya Tuhan, seburuk itu kemungkinan yang bisa terjadi pada ibu mertuaku karena situasi ini?
Kami terdiam beberapa saat. Kata-kata Mbak Dewi benar-benar membuat kami sadar, seakan kami baru saja terhindar dari malapetaka yang sangat buruk. Ada rasa lega dan bersalah menelusup di hati kami.
Ku tatap wajah mereka satu per satu. Mas Rey terdiam dengan wajah frustasi.
Begitu juga ibu mertuaku. Beliau terlihat begitu takut jika aku memutuskan untuk pergi meninggalkan Mas Rey. Situasi ini membuat aku tak bisa bersikap egois. Bahkan diamnya mereka kini seperti menunggu keputusanku.
Aku tak punya pilihan. Walaupun aku tak rela, walaupun aku tak tahu apakah aku sanggup atau tidak.
Baiklah, mungkin ini yang terbaik.
"Bu, " Ucapku memecah keheningan, dengan tanganku masih bertaut dengannya. Semua melihat ke arahku.
"Ibu gak usah khawatir ya, Danis gak akan ninggalin ibu. Danis akan terus ada disini sama ibu."
"Sayang... " Mas Rey menyentuh bahuku, namun aku mengabaikannya.
"Izinkan Danis tinggal disini sama ibu untuk sementara waktu ya, Bu. Sampai Danis bisa menerima kondisi kami bertiga."
__ADS_1
"Bertiga? Maksud kamu apa?!" Suara Mas Rey meninggi.
Aku menoleh, menengadah ke arahnya. "Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, Om. " Daguku bergetar, isakku hampir saja kembali terdengar. "Secepatnya, nikahi Tante Manda. "