Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 44: Istri Kecil


__ADS_3

Malam itu semua pintu sudah kukunci. Akupun berjalan menuju saklar lampu untuk mematikan lampu ruang tengah. Namun sebelum aku mematikannya, kembali aku melihat sekeliling ruangan itu. Penuh dengan warna-warna pastel.


Aku tersenyum bahagia. Masih merasa ini berlebihan.


Saat kami pulang dari bulan madu waktu itu, aku dikejutkan dengan desain interior rumah Mas Rey yang berubah. Asalnya seluruh ruangan disini didominasi dengan warna putih, abu, dan hitam. Terkesan elegan dan modern. Namun saat aku memasuki rumah, keadaan interiornya sudah sangat berubah. Bahkan 90% furniturnya diganti.


Seluruh rumah ini di desain ulang dengan warna-warni pastel. Mulai dari sofa, karpet, hingga ke pernak-pernik terkecil. Bahkan foto pernikahan kami sudah menggantung di salah satu dinding ruang tamu.


Dan yang membuatku lebih takjub lagi, kamar utama pun berubah, didominasi warna mint, soft pink, putih, dan emas. Foto-fotoku dan foto Mas Rey tergantung di berbagai sisi. Walk in closet juga sudah dibagi dua, sebelah kiri adalah tempat untukku, dan sebelah kanan untuk barang-barang Mas Rey.


Rumah ini seperti sama sekali baru. Tidak hanya interior, tapi eksterior juga di desain ulang. Alasan Mas Rey merubah seluruh rumah ini karena ia ingin menghapus semua hal yang akan mengingatkan kami pada masa lalu dan menatap masa depan yang lebih baik. Ia juga ingin meyakinkanku bahwa kini akulah istri sahnya.


Alasan mengapa sekarang rumah ini bertemakan pastel adalah karena menurut Mas Rey ada filosofinya tersendiri. Dulu ia merasa hidupnya putih abu seperti interior rumah ini. Tapi semua berubah menjadi lebih berwarna sejak aku datang ke rumah itu.


Itulah yang Mas Rey katakan yang semakin saja menunjukkan sisi romantisnya semenjak aku resmi menjadi istrinya.


"Juga, maaf Mas belum bisa beliin kamu rumah sebesar rumah ibu. Tapi Mas janji, suatu hari Mas akan buatkan kamu sebuah rumah yang lebih besar dan mewah dari rumah ibu." Janjinya.


Tapi aku langsung menolaknya. Aku benar-benar tak menginginkannya. Bagiku rumah ini sudah lebih dari cukup. Rumah ini luas, nyaman, dan berbagai fasilitaspun ada. Tidak terlalu besar untuk kami berdua. Terlebih, rumah ini dibuat sendiri sedikit demi sedikit oleh Mas Rey sejak ia mendapatkan gaji pertamanya sebagai arsitek. Rumah ini penuh sejarah dan cerita.


Aku tak perlu rumah lain, disaat rumah ini saja sudah sangat sarat makna. Lagipula dimanapun aku tinggal asalkan bersama dengannya aku tak masalah, aku akan sangat bahagia dan tidak keberatan.


Akhirnya kumatikan saklar lampu itu dan berhenti mengagumi interior rumah yang kini terkesan lebih hangat dan ceria ini. Aku mendongak melihat ke lantai atas. Ruangan kerja Mas Rey masih menyala. Ia memang mengatakan akan begadang malam ini untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda karena bulan madu kami.


Akupun berjalan menaiki tangga dengan membawa sebuah nampan berisi segelas susu hangat, roti, dan sebuah apel yang sudah kupotong. Suamiku membutuhkan nutrisi agar ia bisa menyelesaikan pekerjaannya malam ini.


Sampai di ambang pintu ruang kerjanya, Mas Rey bukan sedang bekerja. Ia malah sedang melamun menatap ke luar jendela yang menampilkan kolam renang yang terletak di halaman belakang.


Aku sedikit khawatir, sudah sejak ia kembali dari menghilangnya waktu itu, aku sering memergokinya dalam keadaan seperti ini, tiba-tiba melamun.


"Mas, aku bawain cemilan, nih." Aku berjalan menghampirinya. Namun saat aku sudah berada disampingnya dan meletakkan nampan di meja kecil di samping meja kerjanya pun, ia masih sibuk dengan lamunannya.

__ADS_1


Ku sentuh pipinya. "Mas..."


Mas Rey terlihat begitu terkejut, kentara sekali pikirannya sedang tidak berada di sini bersamanya. "Sayang, kamu ke sini? Oh, makasih makanannya." Ia menoleh ke arahku dan makanan di nampan di sampingnya.


"Sama-sama, Mas." Ucapku seraya menatapnya cemas. "Mas lagi ngelamun lagi ya barusan?"


Mas Rey meraih tanganku dan membimbingku duduk di salah satu pahanya. "Enggak, kok. Siapa yang ngelamun, Sayang. Mas cuma lagi mikirin kerjaan aja."


"Mas kayaknya cape. Kita tidur aja yuk? Besok lagi kerjanya." Ucapku khawatir seraya menggenggam sebelah tangannya yang merengkuh pinggangku.


"Mas harus selesain semua sekarang. Kamu tidur duluan aja ya. Atau mau Mas temenin dulu sampai kamu tidur?"


Aku menggeleng, "Gak usah. Aku tidur sendiri aja. Tapi janji ya jangan terlalu malem Mas begadangnya."


"Iya, Sayang. Gak lebih dari jam 1 malam." Janjinya.


Akupun meraup kedua pipinya dan mengecup bibir suamiku. "Good night, Suamiku."


"Good night, Istri kecilku." Sahut Mas Rey. Membuatku tersenyum geli.


Karena usiaku yang baru 18 tahun, ia jadi memanggilku seperti itu. Tapi aku tidak mungkin membalasnya dengan menyebutnya suami besarku.


Rasanya jadi aneh sekali. Konotasinya malah jadi seperti Mas Rey besar secara fisiknya. Tidak cocok dengan Mas Rey yang memiliki tubuh yang ideal.


Aku pun beranjak dari pangkuannya. Saat aku mulai berjalan meninggalkannya, tangannya tak melepaskan tanganku.


"Sayang..." Lirihnya.


"Kenapa, Mas?" Tanyaku heran, karena ia kembali mengajakku bicara setelah kami berpamitan barusan.


Ia menatapku beberapa saat. "Kamu...percaya 'kan kalau Mas cinta sekali sama kamu? Mas sangat sayang sama kamu melebihi apapun juga?"

__ADS_1


Aku tertegun beberapa saat. Kenapa ya, Mas Rey jadi sering menanyakan hal ini? Sejak pulang dari bulan madu minggu lalu, sudah beberapa kali ia menanyakan ini.


Akupun kembali mendekat padanya dan merengkuh kepalanya. Ia pun menenggelamkan wajahnya di dadaku. "Mas kenapa sih, Mas udah nanya ini berapa kali loh? Aku udah jawab 'kan, aku percaya sama Mas. Mas sayang sama aku, dan aku juga sayang banget sama Mas." Ku kecup pucuk kepalanya beberapa kali.


Ku rasakan kedua tangan Mas Rey mendekap pinggangku erat. Ia tak menjawab apapun. Kubiarkan kami seperti itu untuk beberapa saat. Sepertinya ia memang sedang banyak pikiran.


"Kamu udah selesai belum dapetnya?" Tanya Mas Rey akhirnya.


Seketika rasa bersalah kembali menjalar di hatiku. "Dikit lagi." Cicitku.


Mas Rey menjauhkan kepalanya dari dadaku, karena tiba-tiba saja aku tidak lagi memeluknya dengan erat. Ia menatap wajahku yang kini sendu. Bibirku maju sekitar satu sentimeter.


Ia tersenyum padaku. "Sayang, udah dong. Mas cuma nanya aja. Pengen tahu aja kapan Mas bisa manja-manja lagi sama kamu."


Seketika aku kembali merasa gundah. Ini sudah lebih baik dibandingkan saat minggu lalu, ketika kami baru saja pulang. Aku mendapati ada noda di celanaku. Saat itu aku terus menangis sesenggukan sambil terduduk di kloset kamar mandi yang tertutup. Mas Rey sampai harus menggendongku seperti anak-anak, dimana aku digendongnya dengan kedua kakiku melingkar diantara tubuhnya. Mas Rey melakukannya karena aku belum juga berhenti menangis dan duduk di kloset itu bahkan setelah 30 menit.


"Tapi... harusnya aku hamil sekarang karena kita udah sering ngelakuinnya waktu honeymoon." Ucapku sedih.


Mas Rey mengusap pipiku pelan. "Masih banyak waktu, Sayang. Mungkin kita memang harus nikmatin masa-masa berdua dulu kayak gini. Nanti kita berusaha lagi ya."


"Tapi 'kan aku pengen kasih anak secepetnya buat Mas Rey."


"Sayang, kondisi Mas waktu itu mungkin emang lagi gak fit. Terus kamu juga 'kan lagi sakit. Kita sama-sama kecapean."


"Terus Mas juga sempet ngilang." Tiba-tiba saja kejadian itu kuingat kembali. "Aku udah nungguin Mas seharian tapi Masnya gak ada. Aku yang lagi sakit jadi tambah stress karena mikirin Mas yang tiba-tiba ngilang. Bener 'kan firasat aku waktu itu. Untungnya ternyata Mas cuma ngebantuin temen Mas yang sakit. Aku kira Mas kenapa-kenapa." Isakku semakin menjadi mengingat betapa paniknya aku saat itu, sendirian, di negara orang, dan Mas Rey baru kembali saat sudah pukul 9 malam waktu setempat.


Mas Rey terlihat sedih dan merasa bersalah. "Maafin Mas, Sayang." Ia menyeka kembali air mataku sampai benar-benar tak bersisa.


Aku tidak bermaksud untuk membuat kami bersedih kembali. Lagipula aku tidak menyalahkan Mas Rey jika kejadiannya memang seperti itu. Ia bertemu temannya dan tiba-tiba saja temannya sakit dan ia harus mengantarnya ke rumah sakit dan menunggu sampai kerabatnya dari luar kota datang menjaganya.


Akhirnya aku duduk di pangkuan Mas Rey lagi, menghadap ke arahnya, dan melingkarkan tanganku di sekeliling lehernya. "Kalau mau dimaafin, gendong aku ke kamar." Ucapku manja.

__ADS_1


Lesung pipinya muncul seraya senyum tipis terbit di wajahnya. "Ya udah, Mas anterin dan kelonin dulu istri Mas yang manja ini."


Iapun mulai menggendongku dan membawaku ke kamar kami.


__ADS_2