Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 59: Cinta Segi Empat


__ADS_3

Terdengar ia kini menggedor kamar kami dan melontarkan kata-kata makian. Aku berusaha mengabaikannya dan berjalan menuju tempat tidur dan membaringkan tubuhku.


"Sayang, kamu serius mau ngebanting Manda?" Mas Rey berjongkok di depanku.


Aku menatapnya heran. Mungkin Mas Rey bertanya karena beberapa waktu lalu aku pernah benar-benar membantingnya.


"Ya, enggak dong, Mas. Mana aku tega ngebanting Tante Manda yang lagi hamil." Lirihku. "Apalagi hamilnya anak Mas."


"Danisa, harus berapa kali Mas bilang, anak itu bukan anak Mas. Anak Mas itu yang ada di sini." Mas Rey memegang perutku pelan.


Melihat kedua matanya yang sayu, lelah dan sedih, sontak aku bangkit melingkarkan tanganku di sekeliling lehernya. "Mas, cuma cinta sama aku 'kan?" Tanyaku penuh harap.


Kedua tangan Mas Rey memeluk erat punggungku. "Kenapa kamu masih nanya, Sayang. Cuma kamu, Mas cuma cinta sama kamu, gak ada yang lain. Mungkin Manda sekarang istri Mas juga, tapi bagi Mas dia bukan siapa-siapa. Tolong kamu bersabar, Mas akan berusaha lagi membuktikan bahwa anak itu bukan anak Mas."


Aku melepas pelukanku. Ku gelengkan kepalaku. "Mas memang gak cinta sama Tante Manda, tapi bayi itu tetap anaknya Mas. Mas harus sayang juga sama calon bayinya Tante Manda."


"Bukan, Dan. Mas..."


"Mas, udahlah." Potongku. "Mas gak usah nyari bukti apapun lagi, kita terima aja keadaan kita sekarang. Terutama calon bayi itu, dia gak salah apa-apa."


"Tapi, Dan..."


"Mas, aku percaya Mas gak sengaja melakukannya. Aku percaya Mas hanya cinta sama aku. Tolong terima semuanya. Aku yakin, suatu saat kalau memang semua itu harus terungkap, pasti akan terungkap pada waktu yang tepat."


Mas Rey menghela nafasnya kasar, seakan tak bisa menerima kata-kataku. Aku tahu, ia masih sangat penasaran dan sangat ingin membuktikan bahwa semua ini hanya sandiwara Tante Manda, tapi aku juga lelah, aku hanya ingin kami fokus pada calon bayi kami.


Tanganku menyentuh kancing kemeja yang dipakainya, ku buka kancing paling atas. "Bahkan Mas udah gak pernah nyentuh aku lagi. Gara-gara masalah ini, Mas jadi lupa sama aku."


"Sayang... Mas gak pernah lupa sama kamu." Sanggahnya.


Aku hanya terdiam, dengan wajah yang cemberut, menunduk tak menatapnya.


Tangan Mas Rey meraih resleting dress yang aku kenakan, yang terletak di punggungku. Sontak aku menatapnya.


"Mas pengen nengokin calon dede bayi, boleh?" Tanyanya seraya menurunkan dress yang ku kenakan.


Ku jawab pertanyaannya dengan mempertemukan bibir kami. Aku butuh tenaga, aku butuh energi darinya untuk menghadapi hari-hariku ke depannya yang tak akan mudah setelah kehadiran Tante Manda.


Senjapun menjelang, langit di luar sudah berwarna biru pekat. Setelah mandi, aku menyiapkan makan malam, sedangkan Mas Rey kembali ke ruang kerjanya di lantai atas, katanya sambil menunggu aku memasak, ada pekerjaan yang harus dikerjakannya.


Setelah sekitar satu jam, makanan pun tersedia. Aku memanggil Mas Rey turun untuk makan malam, lalu aku berjalan menuju kamar Tante Manda.


"Tante, ayo makan malam dulu." Ajakku seraya mengetuk pintu. Namun beberapa kali tak ada sahutan dari dalam. Aku pun membuka pintu dan melihat kamar itu kosong, di kamar mandi juga tidak ada siapapun.


"Tante Manda kemana?" Gumamku seraya kembali ke meja makan. "Mas, Tante Manda gak ada di kamarnya."


Mas Rey yang baru saja duduk di salah satu kursi menanggapi dengan malas. "Ya udah biarin aja."

__ADS_1


"Tapi..."


"Sekarang kita makan dulu, Sayang. Kamu harus makan yang banyak mulai sekarang. Dan semua makanannya harus bergizi biar kamu dan calon anak kita sehat." Mas Rey mengambilkanku nasi beserta lauk pauknya.


"Makasih, Mas." Ujarku sumringah.


Kami pun makan malam seperti tak ada masalah apapun di dalam hidup kami. Kami mengobrol sama seperti sebelumnya. Aku bersyukur karena ternyata hal-hal sederhana seperti ini masih bisa kami lakukan walaupun keadaan kami sudah tak sama lagi.


Hingga malam hari, Tante Manda belum juga pulang. Jujur aku khawatir padanya. Telepon dan chatku juga diabaikannya.


"Mas, Tante Manda belum pulang juga. Kemana ya?" Tanyaku cemas. Mas Rey baru saja dari kamar mandi, ia berjalan santai menuju tempat tidur. Tak ada raut cemas sama sekali di wajahnya.


"Mas... " Ujarku, saat Mas Rey malah membaringkan tubuhnya di tempat tidur, menyembunyikan sebagian tubuhnya di bawah selimut, bersiap untuk tidur.


"Nanti juga dia pulang." Tangannya mengulur padaku seakan memintaku bergabung bersamanya. "Kalau gak pulang kesini, dia pasti ke apartemennya. Udah kamu gak usah cemas gitu. Ini udah malam kamu juga harus tidur sekarang."


"Mas kok gak cemas sama sekali sih?" Akhirnya aku pun bergabung dengannya di bawah selimut.


"Mas kenal Manda udah lebih dari lima tahun. Hal seenaknya kayak gini udah biasa dia lakuin." Mas Rey merengkuh tubuhku dan memelukku erat. "Sekarang lebih baik kita tidur, istirahat. Jangan terlalu mikirin Manda. Cukup pikirin Mas sama calon anak Mas aja, Sayang. Kamu bisa 'kan?"


Mendengar Mas Rey seperti itu akhirnya aku pun menyerah. Yah, walaupun dia menyebalkan, dia membuat aku harus rela berbagi suami, tapi tetap saja aku cemas. Dia tanteku, ditambah ia sedang hamil. Aku sendiri jika jadi Tante Manda akan merasa sedih, karena kami mengabaikannya seperti tadi.


Namun akal sehat menegurku. Sudahlah, Danisa.


Tante Manda saja belum tentu memikirkan hal yang sama jika ia menjadi aku. Mungkin ia akan mengabaikan aku dan tak peduli sama sekali pada perempuan yang berstatus sebagai madunya. Akhirnya beberapa saat kemudian aku dan Mas Rey terlelap.


"Siapa sih itu, Mas." Ku lirik jam dan masih tengah malam.


Mas Rey beranjak dan aku mengikutinya keluar kamar, melihat siapa yang datang. Mas Rey melihat ke arah interkom dan muncul wajah seseorang disana.


"Itu bukannya temen kamu, Sayang?" Tanya Mas Rey.


"Iya, Mas. Itu Vito. Ngapain dia ke sini malem-malem?" Sahutku bingung.


Aku pun berjalan ke arah pintu dan membukanya. Mas Rey menahan tanganku saat kami sudah berada di teras, memberi isyarat bahwa ia saja yang membuka gerbang yang terkunci itu, sedangkan aku menunggu di teras.


Saat pintu terbuka Vito segera menyapa. "Selamat Malam, Om."


"Malam. Ada apa kamu malam-malam kesini?" Tanya Mas Rey.


"Saya... " Vito melihat ke arah belakang.


"Kenapa kamu bisa bareng Manda?" Tanya Mas Rey.


Mendengar Tante Manda disebut, aku pun menghampiri Mas Rey. Gerbang pagar rumah ini memang tinggi dan tertutup jadi kita tak bisa melihat apa yang ada di luar rumah jika kita berada di halaman depan.


Saat aku mendekat, aku melihat sebuah mobil berwarna merah menyala terparkir di depan pagar. Kalau tidak salah itu adalah mobil Tante Manda.

__ADS_1


"Tadi, saya... " Vito terlihat menghindari tatapannya dengan kami. "Sa-saya gak sengaja ketemu sama tante itu. Terus saya inget dia tantenya Danisa. Dia minta dianter kesini. Jadi saya anterin."


"Lo ketemu Tante Manda dimana?" Tanyaku.


"Di... Club."


"Club? Dia mabuk?" Tanyaku.


"Iya." Ucap Vito. "Gue cuma nganter aja. Kalau gitu gue pulang, ya, Nis." Ia menatap sekilas pada Mas Rey. "Permisi Om."


Vito bersiap berbalik.


"Tunggu." Namun Mas Rey menahannya. Vito pun menoleh kembali pada kami.


"Tolong angkat dia. Bantu dia masuk ke rumah." Ucap Mas Rey.


"Mas, tapi... "


Di satu sisi aku tak enak karena Vito yang bahkan tak mengenal Tante Manda, harus sampai repot-repot mengantar Tante Manda ke sini. Sekarang ia malah diminta membawa Tante Manda lagi masuk ke rumah. Tapi di sisi lain, aku juga tidak rela Mas Rey menyentuh Tante Manda.


Vito tak langsung menyahut. "Baik, Om." Akhirnya Vito menurutinya.


Mas Rey membukakan gerbang agar Vito bisa membawa masuk mobil Tante Manda ke dalam carport. Kemudian Vito keluar dari mobil yang kini sudah terparkir dan membuka pintu penumpang.


Dipapahnya Tante Manda yang terlihat sempoyongan menuju pintu. Aku benar-benar tak paham bagaimana Tante Manda mabuk seperti ini saat dirinya tengah hamil.


"Sayang!" Tante Manda membuka matanya dan menghambur pada Mas Rey. Kini kedua tangan Tante Manda melingkar erat di leher Mas Rey.


Sontak aku memalingkan wajahku. Hatiku kembali berdenyut nyeri seakan pemandangan ini adalah sebilah pisau yang kembali menyayat hatiku.


"Lepasin, Man!" Mas Rey berusaha untuk melepaskan kedua tangan Tante Manda.


"Gak mau! Pokoknya... Tadi siang kamu udah di kamar Danis... Sekarang kamu harus... Di kamar aku... " Tante Manda meracau di tengah mabuknya.


"Kamu... " Mas Rey akan berteriak.


"Mas, cepet bawa Tante Manda ke kamarnya." Potongku cepat.


"Gendong...." Tante Manda malah semakin menjadi.


Akhirnya aku memutuskan untuk masuk lebih dulu. Aku ingin segera menghindar dari suasana menyesakkan ini.


Namun karena kurang berhati-hati, kakiku tersandung saat akan naik ke teras rumah. Tubuhku oleng ke belakang dan sepersekian detik, pikiranku sudah membayangkan aku akan terjatuh, terjengkang ke belakang.


Tapi ternyata tidak, seseorang berhasil menangkap tubuhku.


"Vito..." Gumamku.

__ADS_1


Dua buah tangan berhasil menahan punggungku. Kedua mata kami bertemu, wajah kami begitu dekat dan kedua tanganku berada di dadanya.


__ADS_2