Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 67: Menyerah


__ADS_3

Vito's Point of View


Sepulang dari rumah Danisa, Vito termenung di balkon kamarnya yang sempit. Saking stressnya ia menyulut sebatang rokok dan menghisapnya. Sesekali ia memang merokok jika ia sedang banyak pikiran seperti sekarang.


Kata-kata Danisa terus terngiang di kepalanya. Ia kini tahu, bahwa rencananya untuk memisahkan Danisa dan Rey sudah gagal. Mungkin berhasil bagi Amanda, karena Amanda berhasil menikahi Rey kembali. Tapi bagi Vito, tak pernah ada celah baginya untuk bisa menjadi dekat dengan Danisa.


Ia berpikir, apa caranya salah? Atau memang perasaan Danisa sebesar itu pada Rey hingga tak ada lagi tempat di hati Danisa untuknya? Ia benar-benar putus asa dan mulai lelah mengharapkan cintanya berbalas.


Apakah ia harus menyerah saja?


Hatinya sudah semakin condong pada pilihan itu. Ia sudah lelah mengetuk pintu hati Danisa, memelas agar Danisa membuka hatinya, tapi tak pernah Danisa lakukan.


Di sisi lain, rasa bersalah dan sesal juga terus memenuhi sudut hatinya. Ia sangat sadar bahwa seharusnya, daripada ia mengejar Danisa, seharusnya ia bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya terhadap Amanda.


Bayi yang dikandung Amanda, tak bisa ia abaikan. Naluri seorang ayah sudah muncul di dalam dirinya sejak mengetahui kabar kehamilan Amanda.


Seharusnya ia melarang Amanda untuk melancarkan rencananya. Seandainya ia sadar lebih cepat bahwa Danisa tak mungkin memberikan hatinya kepadanya, Vito akan segera mencegah Amanda untuk mengembalikan statusnya sebagai istri dari mantan suaminya. Menikahinya, merawat kehamilan Amanda, dan membesarkan anak itu.


Namun Amanda terlalu keras kepala. Ambisius. Wanita itu akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Vito sendiri tak kuasa untuk mengubah cara pandang Amanda dalam menghadapi masalahnya. Apalagi, saat Amanda mengatakan ia lebih baik kehilangan bayi itu daripada ia tak mendapatkan Rey kembali, membuat Vito tak punya pilihan lain selain membiarkan Amanda melancarkan aksinya.


Ia menghela nafas kasar.


Mendapatkan Danisa tidak bisa, bahkan harapan untuk bisa mengobati rasa sakit yang dirasakan Danisa pun tak mampu ia wujudkan. Bertanggung jawab atas perbuatannya pun ia tak bisa.


Alhasil hidupnya sudah kehilangan ketenangan. Rasa bersalah kini terus menghantuinya.


Keesokan harinya, Vito bersiap untuk ke kampus. Hari itu ia tidak terlalu terburu-buru karena kuliahnya akan dimulai pukul 10. Namun ada beberapa tugas yang harus dikerjakannya, jadi ia berencana untuk mengerjakannya di perpustakaan sebelum waktu kuliahnya tiba.


Saat sudah menunggangi motornya, ponselnya berdering. Amanda menelponnya, memintanya membelikan ayam sambal kemangi. Itu adalah permintaan lain yang Vito tahu diinginkan akibat kehamilannya. Maka dari itu Vito rak bisa mengabaikannya.


Ia pun melajukan motornya dan mencari makanan yang Amanda minta itu. Gagal sudah rencananya untuk merampungkan tugas, karena memenuhi keinginan ngidam dari Amanda, jauh lebih penting baginya bahkan dari mengerjakan tugas.


Beberapa saat kemudian ia menekan bel dan pintu penthouse baru milik Amanda pun terbuka.


"Kamu bawa ayam sambal kemanginya?" Tanya Amanda dengan wajah yang pucat.


"Bawa, kok. Tante kenapa?" Vito sedikit khawatir. Ia berjalan mengekor Amanda yang berjalan menuju dapur.


"Lambung Tante perih." Ucapnya.

__ADS_1


Vito menghela nafas jengah. Selama hamil, Amanda seperti kehilangan kemandiriannya. Ia sangat bergantung padanya. Bahkan untuk makan, ia lebih sering menghubungi Vito. Ia sering mengabaikan waktu makannya.


"Obat yang waktu itu aku bawain masih ada?" Tanya Vito, seraya menyiapkan makanan.


"Udah diminum barusan." Ujarnya lemas.


Vito menyodorkan ayam sambal kemangi yang sudah ia tata di sebuah piring. Amanda langsung menyantapnya.


"Kok gak pedes?" Protesnya.


"Udah aku bilang, tante harus ngurangin makan pedes." Vito mengingatkan.


Amanda mendengus kesal. "Mana enak makan ini kalau gak pedes." Ia berhenti memakan makanan itu.


"Seenggaknya Tante makan, dong. Tante butuh banyak nutrisi." Vito mencoba membujuknya.


Amanda malah masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Vito mengikutinya dan membentaknya dengan kesal. "Tante maunya gimana! Aku udah bawain makanan yang Tante mau tapi malah gak Tante makan! Aku sampai skip rencana aku buat ngerjain tugas demi dateng kesini! Tante bisa gak hargain sedikit apa yang aku lakuin?!"


"Kamu bisa gak sih gak bentak-bentak Tante?! Suruh siapa makanannya gak pedes?!"


"Tante harusnya sekarang udah gak minta sama aku buat beliin semua kepengen Tante! Tante 'kan udah punya suami, kenapa masih hubungin aku buat bawain Tante ini itu? Suruh suami Tante yang beli!"


"Aku gak lupa, Tan! Aku dengan senang hari bawain apapun yang Tante mau! Tapi aku paling gak suka kalau Tante malah gak ngehargain apa yang udah aku lakuin buat Tante!"


"Kamu bisanya cuma ngedumel aja! Pergi kamu dari sini!"


Vito tercengang. "Tante ngusir aku?"


"Kalau kamu mau bikin Tante tambah pusing, mending kamu pergi aja!" Amanda berbalik dan berbaring membelakangi Vito.


Vito memijit kepalanya pelan. Ia mencoba untuk tidak emosi menanggapi Amanda yang memang lebih sensitif setelah dirinya hamil.


"Tan, kita harus berhenti. Aku cape kayak gini." Lirih Vito.


Amanda menoleh ke arah Vito. "Berhenti?"


"Aku gak berhasil dapetin Danis. Tante juga, walaupun berhasil nikahin Rey lagi, tapi dia gak perhatian sama Tante. Dia gak sayang sama Tante. Dia gak pernah sentuh Tante lagi. Tante gak bahagia. Jadi buat apa kita terusin semuanya?"


Vito duduk di samping Amanda dan meraih tangan Amanda.

__ADS_1


"Kita jangan melangkah lebih jauh lagi, Tan. Cukup sampai disini aja. Turunin ego Tante, lupain ambisi Tante buat balas dendam sama Danis dan..." Vito menatap Amanda dengan lekat. "Kita nikah aja."


Amanda terdiam. Ia syok mendengar apa yang diucapkan oleh Vito. Kemudian ia melepaskan tangannya yang digenggam Vito. "Kamu jangan bikin Tante ketawa ya, Vit. Tante nikah sama kamu? Itu gak akan pernah terjadi!"


"Tante harus bisa terima kalau Rey lebih memilih Danisa, itu karena kesalahan Tante sendiri. Tante yang udah sia-siain Rey."


"SEMUANYA SALAH DANISA!" Teriaknya dengan penuh emosi. "Rey selama ini bisa menerima Tante yang seperti ini! Bahkan di saat Tante ada di titik ingin dia menceraikan Tante, dia tetap ada di samping Tante. Dia mempertahankan rumah tangga kami! Tapi sejak ada Danisa, Rey berubah. Dia buang Tante dan langsung minta kami bercerai. Sekarang Tante udah berhasil menikah lagi sama dia, jadi Tante gak akan pernah lepasin Rey lagi!"


"Tapi Tan, Rey akan tahu suatu hari kalau anak ini bukan anaknya! Tante akan kehilangan dia lagi. Tante siap untuk itu?"


"Enggak. Tante gak akan ngebiarin itu terjadi. Kamu harusnya bantuin Tante! Kamu harusnya deketin Danisa dan buat dia berpaling sama kamu! Itu tujuan kita, Vito!"


Vito menatap Amanda dengan lelah. "Aku gak akan ngejar Danisa lagi. Aku ingin menikahi Tante dan merawat bayi kita sama-sama."


Seketika air mata Amanda menggenang.


Diusapnya pipi Amanda. "Kita harus menebus dosa kita, Tan. Aku akan nyoba buat mencintai Tante."


Kata-kata itu berhasil menyentuh hati Amanda. Debaran aneh itu kembali memenuhi sudut hati Amanda.


Namun dihempaskannya tangan Vito dan menatapnya dingin. "Kamu itu cuma berondong pemuas hasr^t Tante. Jangan lupa sama posisi kamu, Vito. Asal kamu tahu ya, Rey selamanya akan menjadi satu-satunya laki-laki yang berstatus sebagai suami Tante. Tante gak sudi menyebut kamu sebagai 'suami'. Juga, mungkin kamu harus tahu ini. Walaupun sikap Rey seperti itu. Ia masih mengabaikan Tante, dia belum mengakui kalau anak ini anaknya, tapi setiap dia datang kesini menemui Tante, kami selalu melakukannya."


Amanda mendekatkan wajahnya pada Vito. "Dia selalu menyentuh Tante, seperti dulu."


Hati Vito terasa panas mendengarnya.


"Sekarang Tante gak peduli kalau kamu berhenti ngejar Danis. Tapi Tante akan terus membuat Rey kembali jatuh cinta pada Tante. Awalnya dia mengabaikan Tante, perlahan sekarang dia mulai menyentuh Tante lagi. Seudah ini, Tante yakin, dia pasti akan memberikan perhatiannya lagi pada Tante. Jadi, kamu lupakan omong kosong kamu tadi. Jika perlu, kamu gak perlu dateng kesini lagi."


***


Di taman kota


Vito merutuk dirinya sendiri karena tak berhati-hati.


"Bukan Danisa yang sakit, terus siapa?" Tanya Rey dengan wajah yang tenang.


Wajah Vito memucat. Ia tak bisa berkata apapun. Ia melangkah mundur dan bersiap pergi. Namun tentu saja Rey tak membiarkannya.


Dicengkramnya kerah Vito dan membenturkan tubuh Vito pada sisi mobilnya. Sebelah lengannya mendorong kuat leher Vito, membuat Vito tak berkutik.

__ADS_1


"Kalau bukan Danisa yang sakit. Apa mungkin Manda?" Tanya Rey dengan nada mengintimidasi. "Lalu, kenapa kamu bisa tahu tentang keadaan Manda. Kamu kenal dengan dia?"


__ADS_2