
"Nis, lo harus lihat ini." Tiba-tiba saja Fina menghampiriku yang sedang mengerjakan tugasku di salah satu ruang kuliah.
"Lihat apa, sih?" Tanyaku. Jari-jariku masih sibuk mengetik di atas keyboard dan mataku tertuju pada layar laptop. Sesekali aku melirik ke buku dan ke arah layar lagi.
"Lo lihat dulu ke sini." Tegas Fina.
Aku pun menghela nafas tak sabar. Tugasku ini harus segera aku selesaikan sebelum jam mata kuliah berikutnya yang akan dimulai sekitar 15 menit lagi, tapi Fina malah menggangguku.
Akhirnya aku meraih ponsel Fina dan menatapnya. Aku melihat ia memperlihatkan ku akun instagram milik seseorang, yang saat ku telisik itu adalah milik Tante Manda. "Ini akunnya Tante Manda?" Aku melihat-lihat sebentar akunnya dan melihat banyak sekali foto yang sering diupload nya, khas sekali dengan gaya hidup para sosialita ibu kota. "Terus kenapa emangnya lo sampai seheboh itu?"
"Lo lihat foto yang ini." Fina menyentuh layar ponselnya dan seketika salah satu foto terbuka. Tante Manda sedang berpose 'full body' dengan menggunakan minidress dan juga high heels. "Sekarang buka HP lo, terus buka foto si Vito yang waktu itu disebarin sama anak-anak di grup angkatan."
Seketika aku penasaran. Sebuah pemikiran muncul di kepalaku. Apa Fina sedang menyangka bahwa Tante Manda adalah...
Masa sih ada kebetulan seperti itu?
Aku segera mengecek ponselku dan membuka foto itu. Berkali-kali aku melihat ke arah ponsel Fina yang menampilkan foto Tante Manda, dan juga ke arah ponselku yang menunjukkan foto Vito yang sedang berjalan bersama seorang wanita yang menautkan tangannya di lengan Vito.
"Ini...." Aku terkesiap, terkejut bukan main. Sontak aku menatap ke arah Fina.
Ia mengangguk dengan ekspresi yang tak kalah terkejutnya denganku. "Tante yang melihara si Vito itu tante lo, Nis. Tante Manda. Yang sekarang jadi madu lo."
Ku telisik lagi kedua foto itu, berharap apa yang aku lihat salah. Namun pakaian yang digunakannya sama persis, rambut coklatnya, high heels yang digunakannya, semuanya sama persis.
"Tadi gue lagi iseng aja scrolling. Dan penasaran pengen lihat instagramnya Tante lo. Tahunya gue lihat foto ini dan inget sama bajunya."
Aku kini benar-benar yakin. Seratus persen itu adalah Tante Manda. Namun hatiku masih menolak untuk mempercayainya.
Aku pun teringat saat Vito mengantarkan Tante Manda yang mabuk malam itu. Lalu Tante Manda yang tiba-tiba saja menghampiriku dan Vito yang berada di toko pakaian bayi waktu itu. Saat ku ingat-ingat lagi, ekspresi Vito saat mengantar Tante Manda, dan juga ekspresi Tante Manda saat menghampiri kami, keduanya terlihat begitu canggung.
"Masa sih Vito berondongnya Tante Manda, Fin?" Aku masih tidak bisa mempercayainya.
"Kita harus tanyain ini langsung sama dia." Fina membereskan semua laptop dan bukuku.
"Tapi bentar lagi kita masuk?" Aku mengingatkan.
"Lo gak cek grup? Dosennya gak ada. Ada rapat dadakan katanya." Semua barang-barangku sudah berada di dalam tasku. "Sekarang kita ke fakultas sebelah. Kita cari si Vito."
Dengan pikiran yang masih linglung, aku mengikuti Fina yang berjalan terburu ke arah fakultas kedokteran. Kami mengedarkan mata, mencari sosok tinggi kurus itu. Saat berada di taman dalam fakultas itu, aku melihat sosok yang kami cari-cari.
"Disana, Fin." Aku pun segera menghampirinya. "Vito!" Panggilku membuatnya yang sedang melamun sendirian di sebuah bangku taman dengan sebuah buku dipangkuannya, tiba-tiba ia begitu tegang saat melihatku.
__ADS_1
"Ni-nis... Ngapain lo di sini?" Tanyanya dengan gugup.
"Ikut gue." Ujarku seraya berbalik. Aku menoleh sekilas dan melihat Vito berjalan di belakangku.
Beberapa saat kami sudah berada di rooftop. Aku dan Vito berdiri berhadapan, sedangkan Fina berdiri di sebelahku.
Aku membuka ponselku dan ponsel Fina, kemudian memperlihatkannya padanya. "Jawab pertanyaan gue dengan jujur. Cewek yang gandeng lo ini, tante gue atau bukan?"
Vito hanya tertunduk lesu. Ia tidak terkejut, malah terlihat seperti pasrah.
"Vito, jawab! Ini Tante Manda bukan? Selama ini lo selalu nyangkal kalau lo gak ikut-ikutan Stefan. Itu bohong 'kan? Sebenernya lo jadi berondong juga 'kan? Dan Tante yang bayar lo itu Tante Manda?!" Teriakku.
"Jawab kalau ditanya! Mau gue tendang dulu baru lo buka mulut?" Fina ikut memaksa Vito.
Vito menghela nafas. "Iya itu gue." Pasrahnya.
Seketika tubuhku lemas.
"Lo udah gila, Vit?!" Bukan hanya aku yang tak menyangka, tapi juga Fina.
"Gue gak tahu awalnya kalau Danis ponakannya Tante Manda!" Ucapnya membela diri.
"Gue bener-bener gak nyangka lo bener-bener jadi peliharaannya Tante-tante. Terlebih 'tante' lo itu adalah Tante gue!"
"Gue beneran malu udah pernah nganggep lo temen!" Ujar Fina emosi. "Gue lebih suka ngelihat lo jadi anak cupu kesayangan guru, pakai motor matic butut lo, daripada lo kayak gini! Baju lo, motor lo, lo kira lo keren sekarang? Lo kira Danis ngelirik lo sekarang?! Gue tanya buat apa lo kayak gitu?!"
Sekali lagi Vito hanya bungkam. Ia tak berkata apapun.
"Gue juga mau nanya, apa lo masih berhubungan sama Tante Manda sampai sekarang?" Tanyaku.
Hal ini sangat membuatku penasaran. Jika iya, maka benar, 'penyakit' Tante Manda ini belum juga sembuh. Lagi-lagi iya mempermainkan kami.
"Jawab!" Teriak Fina.
Vito menatapku dengan pasrah. "Iya."
Aku dan Fina bersih tatap dengan syok.
"Lo tahu 'kan Tante Manda itu udah nikah lagi sama suaminya Danis? Kenapa lo masih datengin dia?" Tanya Fina.
"Karena..." Ia mengusap wajahnya kasar. "Dia lagi hamil."
__ADS_1
Dahiku mengerut. "Apa urusannya sama lo? Kenapa lo segitu pedulinya sama Tante Manda yang lagi hamil? Jangan-jangan lo udah ada rasa sama Tante Manda?"
"Atau..." Fina bersuara lalu terdiam. Sontak aku melihat ke arahnya, membuat Fina melihat ke arahku juga.
"Atau apa Fin?" Tanyaku.
Ia menatap ke arah Vito. "Lo yang ngehamilin Tante Manda?" Tebak Fina, membuatku tak bisa berkata-kata.
Tidak mungkin seperti itu 'kan? Kalau benar, berarti selama ini Vito ikut membantu Tante Manda untuk menutupi kehamilannya, dan juga membantu Tante Manda menikahi Mas Rey?
Hatiku berdenyut nyeri.
"Bilang kalau itu bohong..." Air mataku tiba-tiba saja menggenang.
"Gak mungkin seorang cowok masih peduli sama cewek yang lagi hamil, kalau dia bukan ayah dari anak yang dikandung cewek itu. Iya 'kan?" Desak Fina. Ia menatapku. "Lo bilang Om Rey gak peduli sama Tante Manda yang lagi hamil, karena dia ngerasa bukan dia yang hamilin. Tapi Vito, malah masih suka datengin Tante lo. Apalagi alasannya kalau bukan karena Vito itu ayah dari anak yang dikandung tante lo!"
Vito menatapku, tatapannya juga semakin terlihat kacau sekarang. Aku dan Fina tak bersuara lagi. Kami menunggu pernyataan Vito.
"Sorry, Nis..."
Hanya itu yang dikatakannya. Tidak ada penjelasan apapun lagi.
Seketika aku mendekat padanya dan meraih kerah kemejanya. "TEGA BANGET LO!!"
Vito masih terdiam menghindari tatapanku. "Gara-gara Tante Manda gue harus rela dimadu karena gue mikir Tante Manda hamil karena Mas Rey! Gara-gara Tante Manda gue berantem sama Mas Rey! Selama ini gue terus-terusan nangis, gue sakit hati, gue ngeratapin nasib gue karena harus dimadu sama Tante gue sendiri! Gue gak aneh, sama Tante Manda yang bisa setega itu sama gue. Tapi lo?! Lo ikut-ikutan nutupin semuanya! Lo bantuin Tante Manda buat ngancurin hubungan gue sama Mas Rey! Lo punya hati gak sih?!"
Emosiku benar-benar meluap. Aku marah sekali. Aku juga tak menyangka. Vito, temanku, tega sekali berbuat seperti ini padaku.
"Justru karena gue punya hati, gue ngelakuin itu!" Akhirnya Vito pun meled^kkan emosinya. "Karena hati gue tertuju sama lo! Udah berapa kali gue bilang gue suka, gue sayang sama lo, Nis! Gue kerja sama sama Tante Manda supaya gue bisa dapetin lo dan dia bisa dapetin mantan suaminya lagi!"
"Gila, bener-bener udah gak waras lo. Egois banget lo, Vit!" Komentar Fina yang juga tak habis pikir.
Ku lepaskan tanganku dari kerahnya dan mengusap air mataku dengan kasar. "Lo tahu, Vit. Apa yang udah lo lakuin udah bener-bener gak bisa gue maafin lagi. Lo udah keterlaluan! Selama ini walaupun gue tahu perasaan lo, gue masih ngejaga perasaan lo! Gue masih nganggep lo temen! Gue ngerasa bersalah sama lo! Tapi apa yang lo lakuin di belakang gue?! Jahat banget lo, Vit!"
Aku menangis sejadinya. Tak menyangka sama sekali penyebab semua yang aku dan Mas Rey alami adalah orang yang sudah aku anggap sebagai salah satu teman terdekatku.
Fina merangkulku dan seketika aku menyandarkan kepalaku di pundaknya. "Udah, Nis. Inget lo lagi hamil. Juga, gak pantes lo nangis sampai kayak gini cuma gara-gara cowok brengs^k kayak dia!"
"Maafin gue, Nis." Vito kini juga terdengar terisak. "Maafin gue. Gue terima kalau lo benci sama gue. Gue emang salah."
Aku pun menatapnya. "Mulai sekarang, lo bukan temen gue lagi. Jangan pernah lo datengin gue lagi. Gue muak lihat lo!"
__ADS_1
Aku meraih tangan Fina dan kami pun meninggalkan rooftop. Aku harus segera pergi, kini aku benar-benar membencinya.