Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 37: Rencana


__ADS_3

Amanda's Point of View


Pintu apartemen Amanda digedor dengan kerasnya. Bel juga terus berbunyi, begitu kentara seseorang ingin segera dibukakan pintu. Dengan santai Amanda bangkit dari sofa dan tersenyum, sudah mengira siapa yang datang dengan begitu terburunya.


Ia berjalan menuju pintu dan membukanya. Tampak Vito dengan wajah yang pucat dan berkeringat berdiri di sana.


"Halo, sayang." Amanda menarik tengkuk Vito dan bersiap mengecup bibirnya. Namun segera ditangkisnya tangan Amanda dan mendorong Amanda masuk.


"Maksud foto yang tante kirim itu apa?!" Tanyanya panik.


Amanda masuk lebih dalam ke dalam apartemennya dan meraih segelas wine dan kembali duduk di sofa, menopangkan sebelah kakinya. Diminumnya seteguk kecil wine di tangannya tak menggubris Vito yang sudah sangat tidak sabar.


"TANTE!!" Teriak Vito tak sabar.


Amanda terkekeh. "Rupanya Papa Vito udah gak sabar pengen lihat anaknya."


Vito semakin pucat mendengar kata-kata Amanda. Tangannya mengepal kuat hingga gemetaran. Amanda meraih sebuah foto USG empat dimensi yang tergeletak di meja dan memberikannya pada Vito.


"Usianya 4 minggu." Amanda menyesap kembali wine di tangannya.


Dengan gemetar Vito meraih kertas itu. "Gak mungkin." Dijambaknya rambutnya frustasi. "Itu bukan anak aku 'kan?! Tante sering berhubungan sama laki-laki lain! Itu mungkin anaknya Sean! Atau D^ddy tante! Atau cowok yang namanya Ferdi itu! Atau... atau..." Vito panik hingga ia meracau memikirkan hal yang mungkin terjadi.


Amanda terbahak. "Kamu takut banget sih? Santai aja. Tante panggil kamu kesini bukan untuk minta kamu tanggung jawab."


Ekspresi Vito berubah antara bingung dan sedikit lega. "Santai tante bilang?!"


Amanda menghela nafas dramatis. "Sebetulnya selama sebulan terakhir Tante udah berpikir. Awalnya tante bener-bener bingung. Apa tante biarin anak ini hidup atau tante ^borsi aja?" Ucapnya enteng seraya menggerak-gerakan gelas itu sehingga wine berwarna merah pekat di dalamnya berputar mengikuti gerakan.


Vito tak paham mengapa Amanda bisa berkata semudah itu seakan apa yang akan dilakukannya bukan sesuatu yang besar. "Tante jangan gila. Itu sama aja tante ngebun^h anak tante sendiri!"


"Terus kamu maunya tante melahirkan anak ini, terus tante ngerawat dia dengan suami seorang mahasiswa yang nafkahin tante aja belum bisa? Terus kalau anak ini udah gede dia tahu hubungan seperti apa yang sebenernya terjalin antara ibu dan ayahnya? Kamu bakal jelasin apa? Mau kamu kayak gitu?" Tantang Amanda.


Vito bungkam.


"Ya mending Tante ^borsi aja kalau gitu caranya." Kembali ia menyesap wine di tangannya.


Dengan kesal Vito meraih gelas yang Amanda genggam. "Alkohol itu gak baik buat janin! Ngerti gak sih? Minimal Tante peduli sama janin yang tante kandung! Tante bener-bener gak punya hati."


Amanda tertawa antara mengejek dan juga gemas. "Perhatian banget sih Papa Vito ini."


Vito meletakkan gelas itu di meja, dan ia pun duduk di sofa sebelah Amanda, mencoba untuk tenang. "Jadi Tante gak jadi ^borsi 'kan?"


"Enggak." Ujarnya singkat.


"Terus tante tadi bilang kalau tante manggil aku bukan buat minta tanggung jawab aku itu apa?"


"Tante cuma pengen minimal kamu tahu, gara-gara kamu ngelepas pengaman waktu itu jadi aja kayak gini! Hidup tante kacau! Tiap hari tante muntah-muntah, badan Tante lemes. Ngeselin banget tahu gak sih?"


Vito mengusak rambutnya frustasi. Ia benar-benar menyesal, marah, dan tak tahu harus bagaimana.

__ADS_1


"Tapi kamu tenang aja. Tante punya ide yang lebih brilian buat ngubah kemalangan tante ini jadi keberuntungan."


"Tante gak usah bertele-tele deh. Ngomong yang jelas!" Vito semakin tidak sabar juga penasaran dengan apa yang sudah Amanda rencanakan.


Amanda menatap keluar jendela. Diusapnya perutnya. "Bayi ini... mungkin aja ada karena kamu. Tapi tante jamin, dia bukan tanggung jawab kamu. Tante akan buat dia jadi anak dari suami tante."


Vito sontak mengerutkan keningnya. "Maksudnya? Bukannya tante udah cerai?"


Amanda terkekeh, "Terus kalau udah cerai emang gak bisa nikah lagi?"


"Aku gak paham sama maksud Tante. Tante mau ngakuin kalau anak itu anak mantan suami Tante? Gimana caranya?"


"Untuk itu Tante butuh bantuan kamu."


"Bantuan apa?"


"Hari Sabtu ini," ujarnya dengan penuh amarah, "dia nikah sama keponakan Tante sendiri."


"Keponakan? Jadi suami tante selingkuh sama ponakan tante?!"


Amanda mengangguk. "Dasar cewek gak tahu diri." Gumamnya penuh penekanan. Amarah tergambar jelas di matanya.


"Terus aku harus ngapain?"


"Kamu dateng ke pernikahan itu. Cari tahu mereka honeymoon kemana. Sisanya biar Tante yang urus."


"Iya. Tante akan ngejebak suami tante di acara honeymoon mereka." Ucapnya penuh tekad. "Honeymoon yang harusnya jadi kenangan manis, akan tante bikin jadi kenangan buruk." Amanda terkekeh membayangkan rencana yang sudah tersusun rapi di otaknya.


"Gak akan tante biarin pernikahan mereka berjalan mulus di saat Tante malah kayak gini." Gumamnya kesal.


Vito tertegun. Merasa tak yakin apakah ia harus ikut melakukan kegilaan ini.


"Tapi, Tan. Itu jahat banget. Tante sendiri yang selama ini udah sia-siain suami Tante. Bukannya lebih bagus tante cerai? Tante bisa bebas jalan sama cowok manapun yang tante mau."


Amanda menatap tajam pada Vito. "Gak usah ceramah deh kamu! Siapa di sini yang bikin tante hamil kayak gini?! Emang kamu mau tanggung jawab?!"


Vito berpikir sejenak. Ia menatap Amanda sendu.


"Aku mau, Tan."


Ucapan Vito benar-benar diluar dugaan Amanda.


"Aku akan tanggung jawab. Kita udah bikin kesalahan, jangan ditambah lagi dengan kesalahan yang lain." Ujar Vito yakin.


Dalam hati, Amanda merasa sedikit tersentuh.


Tapi keegoisan dan ambisinya untuk kembali bersama dengan sang mantan suami lebih besar dari kata-kata Vito yang berhasil menyentuh hatinya.


Amanda terbahak mendengar ucapan Vito yang terdengar begitu klise. "Gak, tante gak mau! Tante gak butuh pertanggungjawaban kamu. Tante cuma mau memanfaatkan anak ini supaya bisa ngambil suami tante lagi."

__ADS_1


"Tapi kalaupun Tante nikah lagi, mantan suami tante juga gak akan mau cerai sama ponakan Tante nantinya. Tante mau jadi yang kedua?"


"Tante gak masalah dengan itu. Tante cuma pengen kehidupan pernikahan mereka gak bahagia. Gak akan tante biarin mereka bahagia berdua aja. Seperti keponakan tante yang udah hadir di antara tante dan suami tante, sekarang tante juga akan hadir diantara mereka berdua." Ucapnya penuh tekad.


Vito menghela nafas. Ia merasa dilema. Ia tahu yang dilakukan Amanda sangat salah. Yang telah mereka lakukan saja sudah sangat salah, ia tak mau menambah kesalahannya menjadi lebih besar lagi. 


Amanda meraih ponselnya dan mengirimkan sebuah alamat pada Vito. "Itu alamat resepsi pernikahan mereka. Kamu lihat venue itu? Mereka menikah di venue yang dulu sangat tante inginkan untuk melangsungkan pernikahan. Tapi sekarang malah dia yang dapetin semuanya." Tanpa sadar bahkan air mata Amanda menggenang di pelupuk matanya.


"Dia bahkan disayang banget sama ibu. Beda sama Tante yang selalu diketusin, diomelin, dan dikritik. Bener-bener ngeselin!"


"Perlakukan orang ke kita itu tergantung perlakuan kitanya, Tante. Tante selama ini...."


"Tante udah bilang." Selanya. "Gak usah ceramah!"


Vito menghela nafasnya, menyerah untuk berdebat dengan wanita keras kepala seperti Amanda.


"Kenapa tante gak nyari info ke keluarganya aja? Malah minta tolong ke aku. Aku gak mau terlibat dengan semua ini, pokoknya."


"Kamu harus terlibat, Vito! Inget, tante hamil itu gara-gara kamu!"


Vito kembali menghela nafas frustasi.


"Denger, tante gak bisa nyari info ini ke keluarga tante atau ke keluarganya. Mereka akan curiga. Keluarga tante juga masih mikirnya tante sekarang masih di Bali, karena ditugasin disana. Dengan kondisi tante yang terus-terusan morning sick kayak gini, Tante gak mau mereka curiga kalau tante lagi hamil. Makanya tante sembunyi. Ngerti kamu? Cepet kamu cek alamatnya."


Vito merogoh sakunya dan mengecek ponselnya. Sontak Vito terbelalak melihat alamat yang dikirimkan oleh Amanda. "Ini 'kan..."


"Kenapa?" Amanda terheran-heran.


Vito menatap Amanda dengan nanar. "Nama mantan suami tante, Rey? Keponakan tante namanya Danisa?!"


"Iya." Amanda tertegun. "Kamu kenal sama mereka?"


"Danisa...." Vito masih dengan ekspresi tak percaya.


Mengapa ada kebetulan seperti ini?


"Kamu kenal sama Danis?" Tanya Amanda lagi.


"Danisa itu cewek yang aku suka, Tan! Yang aku suka ceritain sama Tante!"


"Cewek yang bikin kamu mutusin buat jadi berondong itu Danis?" Ulang Amanda ingin jawaban yang membuatnya yakin.


"Iya, Tan." Vito benar-benar syok. "Jadi... dia keponakan Tante?"


Amanda tertegun beberapa saat, kemudian ia terkekeh. "Kalau gitu semuanya makin sempurna, Vit." Amanda mendekat pada Vito. "Ayo kita kerja sama."


"Kerja sama?"


Amanda mengangguk, ditatapnya Vito dengan lekat. "Kita pisahin mereka, biar tante bisa kembali lagi sama Rey. Dan kamu bisa dapetin Danis."

__ADS_1


__ADS_2