
Aku berada di kamar mandi, sedang mengeringkan rambutku setelah aku mandi. Kemudian terdengar suara Baby Revi yang menangis. Segera kumatikan hair dryer dan masuk ke dalam kamar.
Saat aku membuka pintu, aku melihat Mas Rey tengah berdiri di hadapan Baby Revi, menatap bayi kecil itu tanpa ekspresi.
"Mas? Udah pulang?" Aku pun menghampiri mereka. "Digendong, dong, Baby Revi nangis itu, Mas."
Mas Rey masih bergeming. Kugendong tubuh kecil itu, namun ia masih juga menangis.
"Mas, tolong ambilin botol susunya." Aku menunjuk ke arah meja dimana terdapat botol susu yang sudah ku buat beberapa menit lalu sebelum aku pergi mandi.
"Kenapa bayinya ada disini?" Tanya Mas Rey seraya memberikan botol itu padaku.
"Tadi aku sama Bunda ke apartemen Vito. Pas aku mau pulang Baby Revi nangis loh, Mas. Kayak gak mau ditinggal sama aku. Jadi aku bawa kesini aja."
Kini Baby Revi tengah asyik meminum susu dari botol yang aku berikan. "Kasihan, Mas. Harusnya dia minum ASI, tapi malah minum susu formula."
"Kamu gak akan kecapean? Bayi sebesar ini tidurnya gak tentu. Nanti kalau malam dia kebangun gimana?"
"Nanti malam sama Bunda kok tidurnya."
Mas Rey tak menyahut lagi dan terdiam di sampingku.
"Mas, kenapa?" Aneh sekali Mas Rey yang biasanya sangat suka anak kecil, malah terlihat dingin pada Baby Revi.
"Gak apa-apa. Emang Mas kenapa, Sayang?" Ia malah balik bertanya.
"Mas ngerasa sedikit aneh karena ini anaknya Tante Manda ya?" Tanyaku.
Sontak Mas Rey mengerutkan dahinya.
"Atau karena ini anaknya Vito?" Tebakku.
Ia berdeham. Sepertinya tebakanku benar.
"Segera titipin sama Bunda bayinya, kita istirahat." Ujarnya sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Mas udah makan?" Tanyaku.
Ia menoleh sekilas. "Udah." Wajahnya memang terlihat lelah. Sepertinya pekerjaannya di kantor cukup membuat tenaganya terkuras.
Setelah Baby Revi selesai meminum susunya, ibuku ke kamarku dan mengambil Baby Revi untuk tidur bersamanya.
Aku pun bersiap tidur. Ku rebahkan punggungku dan bersandar pada headboard tempat tidur. Kemudian pintu kamar mandi terbuka, Mas Rey yang kini sudah menggunakan piyama menghampiriku dan berbaring di sampingku.
__ADS_1
Ia memelukku dan mengusap perutku. "Anak papa udah tidur?" Tanyanya.
Entah bagaimana permukaan perutku langsung saja bergelombang karena bayi di perutku tiba-tiba saja bergerak seakan menjawab pertanyaan dari sang papa.
Mas Rey tersenyum gemas seraya menatapku.
"Dia seneng kayaknya, papanya akhirnya pulang." Seruku.
"Maafin Papa ya. Beberapa hari ini selalu pulang telat. Papa lagi ada proyek besar. Jadi baru bisa pulang pas udah malem kayak gini. Kamu sehat-sehat dan main sama Mama dulu ya." Ucapnya seraya mengecup perutku yang sudah semakin membesar.
"Iya, Papa." Jawabku, mewakili jawaban dari calon bayi kami. "Papa kerja yang rajin ya, jangan kecapean. Terus kalau udah selesai kerjaannya, ayo ajakin Mama sama aku jalan-jalan nanti."
Mas Rey kembali menatapku gemas. "Iya sayang, kita babymoon ya bulan depan. Karena Mama udah gak boleh pergi jauh-jauh, kita cari tempat yang deket aja ya. Kamu maunya kemana?"
Aku berpikir sejenak. "Katanya pengen ke daerah pegunungan, Mas. Pengen ke tempat sejuk dan ada sungainya."
"Sungai?"
"Iya, Mas. Seru deh kayaknya." Mataku berbinar.
"Gak boleh, main di sungai itu bahaya. Nanti kamu kepeleset atau apa, gimana?" Ujarnya khawatir.
"Bukan main ke sungai, Mas. Aku itu lihat di Instagram tadi. Jadi ada resort yang bentuknya cottage gitu dan di samping cottagenya itu ada sungai gitu Mas. Jadi bukan main ke sungainya. Bagus banget loh, air sungainya jernih, suasananya asri, banyak pepohonan. Cocok banget 'kan buat babymoon."
"Makanya Masnya cepet beresin kerjaannya." Cemberutku.
"Iya, Sayangku. Mas juga pengennya cepet beres. Ini juga udah diusahain buat bisa selesai seminggu atau dua minggu lagi. Sabar ya."
Aku mengangguk paham, Mas Rey juga pasti ingin segera menyelesaikan pekerjaannya.
"Mas, aku boleh nanya gak?"
"Tanya apa?" Ia mulai tidak nyaman, sepertinya ia tahu apa yang ingin aku tanyakan.
"Mas kenapa sih kayak gak suka sama Baby Revi?"
"Mas bukan gak suka, tapi Mas sedikit merasa canggung aja."
"Iya kenapa? Kenapa Mas harus canggung? Mas 'kan suka sama anak kecil biasanya." Tanyaku penasaran.
"Gak apa-apa, Sayang. Kita tidur yuk? Mas udah ngantuk." Ia merebahkan dirinya di sampingku.
"Serius? Mas gak akan jawab pertanyaan aku?"
__ADS_1
"Danisa... "
"Aku itu suka banget sama Baby Revi. Aku selalu pengen ketemu sama dia. Malah Mas Tahu sendiri, aku suka video call sama Vito cuma buat lihat Baby Revi lagi apa. Tapi kenapa Mas kayak gak suka? Aku jadi gak enak kalau pengen bawa Baby Revi kesini. Dari pertama lihat Baby Revi Mas selalu gitu, ngelihat doang, kayak gak suka. Padahal biasanya kalau ngelihat anak kecil Mas suka langsung gendong, terus kayak yang gemes gitu. Tapi kalau lihat Baby Revi malah didiemin, kayak tadi, padahal Baby Revinya lagi nangis."
Mas Rey bangkit kembali dari posisinya dan menyandarkan tubuhnya ke headboard. "Mas gak enak cerita sama kamunya, Sayang."
"Mas bisa ceritain apapun sama aku, jangan ngerasa gak enak gitu. Inget 'kan kita udah janji gak akan nyembunyiin apapun."
Mas Rey menatapku sejenak sampai akhirnya ia berkata. "Mas ngerasa aneh aja lihat Baby Revi. Karena dia anaknya Manda."
Benar dugaanku, karena Baby Revi anak dari Tante Manda ia jadi merasa seperti ini.
"Dulu, Mas sangat berharap memiliki anak bersama Manda." Sambungnya. "Mas sering memimpikan punya anak yang mirip dengan Mas, ataupun mirip dengan Manda. Dan kamu sendiri lihat, walaupun masih bayi, Baby Revi sangat mirip dengan Manda. Dan entah kenapa Mas jadi merasa kurang nyaman aja."
Aku pun mengangguk paham, tak menyahutinya dengan kata-kata.
"Maafkan karena Mas merasa seperti ini." Ujarnya penuh sesal. "Maafkan juga karena... jujur, Mas sempat merasa kehilangan saat Manda dinyatakan meninggal. Maafkan Mas karena waktu itu Mas sempat merasa gak rela atas meninggalnya Manda, Dan."
Walaupun ada sudut hatiku yang berdenyut nyeri mendengar pernyataan Mas Rey, tapi aku sangat paham dengan kondisinya.
Aku menggeleng dengan penuh simpati. "Aku paham kok, Mas. Bagaimanapun Mas pernah mencintai Tante Manda dulu. Kepergian Tante Manda pasti sempat bikin Mas syok juga. Lagian walaupun udah gak cinta, aku yakin Mas juga gak benci sama Tante Manda. Apalagi waktu lihat keadaan Tante Manda selama empat bulan itu, aku yakin kita sama-sama khawatir sama Tante Manda."
"Makasih, Sayang. Kamu selalu bisa mengerti apa yang Mas rasakan." Ucapnya lega seraya mengusap pipiku.
"Sama-sama, Mas. Tapi Mas harus nyoba deket sama Baby Revi ya. Mas gak kasian sama Baby Revi? Dia gak punya ibu. Sebagai keluarga, seenggaknya dari sekarang, kita harus nunjukkan rasa sayang kita buat dia. Biar dia gak ngerasa kekurangan kasih sayang."
"Iya Sayang, Mas akan coba."
Aku pun tersenyum lega. "Nah, gitu dong."
"Yaudah kita tidur, ya."
"Yuk." Setujuku.
Saat membantuku menyiapkan bantal untukku, Mas Rey tiba-tiba berkata. "Sayang, kenapa dada kamu tiba-tiba basah?"
Sontak aku pun melihat ke arah dadaku. Benar saja ada basah di dua puncak bukit kembarku. "Eh iya, kok bisa?"
Aku pun mengeluarkan salah satu bukitku dan mengeceknya. Saat ku lihat ada cairan berwarna putih kekuningan menetes dari sana.
"Mas, kok... " Aku tertegun.
"Ini... Kamu ada ASI-nya, Sayang."
__ADS_1