Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 57: Kabar


__ADS_3

Aku berlari memasuki rumah ibu mertuaku. Saat baru keluar ruangan setelah menyelesaikan ujian akhir semesterku, aku mendapatkan kabar bahwa Mas Rey akhirnya pulang.


Dua minggu dia berada disana.


Iya, satu minggu lebih lama dari yang sudah dijanjikannya. Setelah itu bahkan ia tak menjawab semua panggilan dan chatku lagi. Ia juga tak menghubungi Mas Marcel. Ia hanya menghubungi untuk memberikan progress pekerjaannya. Selain itu semua pertanyaan mengenai bagaimana kabar pencarian buktinya, tak ia jawab.


Semua sikap Mas Rey membuatku resah. Ada apa dengannya sebenarnya? Hingga saat kabar kepulangannya sampai padaku akupun tak sabar untuk menemuinya.


Saat sampai di ruang tamu. Aku melihat Mas Rey duduk di salah satu sofa, bersama dengan ibu mertuaku, Mbak Dewi dan juga Mbak Kinan. Aku menghampiri mereka dan seketika mereka menatapku tegang.


"Mas udah pulang?" Tanyaku sumringah dengan nafas tersengal.


Mas Rey menoleh pelan dan wajahnya lebih tirus dari yang aku ingat sebelumnya.


Ia tersenyum tipis. "Mas pulang, Dan. Maaf Mas pergi lebih lama dari perkiraan." Lirihnya


"Nak, duduk." Ujar ibu mertuaku. Aku pun duduk di samping suamiku.


Semua orang terdiam, membuat aku kebingungan. "Mas, ada apa? Kenapa muka Mas lemes? Mas sering telat makan ya selama di sana?"


Mas Rey tak menjawab. Ia malah tertunduk lesu.


"Mas kenapa..." Aku semakin bingung dengan situasi ini.


"Nis, kamu lihat ini." Ujar Mbak Kinan, ia menggeser sebuah kertas yang tergeletak di meja ke arahku.


Dengan bingung aku melihat ke arah kertas itu. Ku raih dan ku baca. Semuanya berbahasa Inggris. Aku tahu beberapa istilah di surat itu, dan seketika luka di hatiku yang sudah sembuh kembali terasa berdenyut di saat aku mulai memahami isi dari surat itu.


"Ini..." Aku menatap mereka semua satu persatu. Mereka semua balas menatapku tegang.


"Iya, Nis. Itu hasil tes DNA yang Rey lakukan setelah ia menemui Manda." Akhirnya Mbak Dewi bersuara. "Hasil itu mengatakan ditemukan DNAnya Manda di Inti tubuh Rey. DNA itu berasal dari cairan v^ginanya Manda."


Tubuhku seketika bergetar hebat. Penglihatanku mulai tertutupi air mata yang menggenang.


"Bukannya Mas bilang..." Bahkan aku tak tahu harus mengatakan apa. Selama ini aku sudah kembali percaya padanya. Tapi apa ini?


"Mungkin aja Rey gak sadar sudah melakukan itu. Tapi bukti ini valid membuktikan semuanya." Ujar Mbak Dewi dengan ekspresi dinginnya.


Seketika aku menangis sesenggukan. Sakit yang sebelumnya sudah sembuh, kini aku rasakan lagi. Padahal aku sudah melupakannya. Padahal aku sudah kembali percaya pada Mas Rey tapi ternyata...


"Kalian mengobrollah dulu. Wi, bawa ibu ke kamar." Ucap ibu mertuaku lemah. Kemudian mereka bertiga pergi meninggalkanku dengan Mas Rey.


Beberapa saat aku hanya bisa menangis. Mas Rey juga hanya membiarkanku. Ia terdiam di sampingku.


"Maafin Mas, Dan." Akhirnya ia bersuara.


Rasanya sakit sekali harus merasakan ini lagi. Bahkan kali ini rasanya lebih sakit dari sebelumnya. Dan yang membuatku kesal adalah aku tak bisa menyalahkan Mas Rey lagi. Kini aku terlanjur mempercayai bahwa Mas Rey tak mengkhianatiku. Aku tahu itu adalah kecelakaan. Aku tahu dan aku percaya Mas Rey tidak bermaksud melakukan itu. Aku percaya Mas Rey melakukannya saat ia sedang tidak sadar.

__ADS_1


Entahlah, perasaanku mengatakan demikian. Aku tak bisa meluapkan amarahku seperti sebelumnya.


Sekarang naluriku justru ingin ia terus bersamaku, tak ingin aku sampai kehilangan dia. Tak ingin marah kepadanya, berteriak padanya, padahal hatiku rasanya sakit sekali.


Tangisku perlahan mereda.


"Itu artinya... Mas harus menikahi Tante Manda?" Lirihku akhirnya.


"Mas gak akan nikahin Manda."


"MAS!" Teriakku.


"DEMI TUHAN MAS GAK MAU, DAN!!" Ia balik meneriakku.


"Terus gimana dengan kandungannya Tante Manda? Itu anak Mas." Isakku.


Mas Rey merengkuh tubuhku dan ia yang sedari tadi terdiam kini menangis sesenggukan. Kami berdua menangis saling meluapkan rasa sakit itu.


"Mas yakin gak melakukan itu... Tolong percaya pada Mas..." ucap Mas Rey di tengah isaknya.


Aku percaya, Mas. Itu hanya kecelakaan, tapi tetap saja itu menyakitkan. Sahutku dalam hati.


Akhirnya hari itu aku memutuskan untuk pulang ke rumah ibuku. Kejadian ini tepat terjadi di saat ujian akhir semesterku selesai. Maka dari itu untuk sementara waktu, aku ingin berada di Bandung bersama ibuku untuk menenangkan diri.


Sedangkan Mas Rey tetap berada di Jakarta. Ia mau tak mau kembali bekerja seperti biasa. Setelah kami menangis bersama saat itu, Mas Rey jadi lebih pendiam. Sikapnya berubah terhadapku. Kami berkomunikasi setiap hari melalui telepon dan chat, tapi aku bisa merasakan bahwa ia masih begitu merasa bersalah.


Hidup kami berubah. Bahkan setelah kami memutuskan untuk kembali ke rumah, hubungan kami sudah tidak sama lagi. Mas Rey selalu menghindariku. Ia lebih banyak berada di ruang kerjanya. Saat waktunya makan kami makan dalam diam. Saat tidur, ia tak pernah menyentuhku lagi.


Hingga malam itu, ketika kami makan malam. Aku tidak bisa membiarkan situasi ini lebih lama. Juga ada satu hal yang ingin aku pastikan sejak lama, yang ingin aku ketahui bersama-sama dengannya.


"Mas..."


Mas Rey tak menyahut, ia masih memakan makanannya dengan malas.


"Udah ini antar aku ke suatu tempat ya." Ujarku.


Ia menatapku sekilas. "Kemana?"


"Nanti Mas juga tahu."


Kami pun bersiap dan beberapa saat kemudian kami sampai di sebuah klinik kandungan.


"Ini... kenapa kita kesini?" Tanya Mas Rey.


Aku tak menyahut, hanya tersenyum getir seraya keluar dari mobil.


Kamipun memasuki klinik tersebut, melakukan pendaftaran dan menunggu antrian. Setelah menunggu sekitar 30 menit, kami dipersilahkan masuk. Dokterpun memeriksaku.

__ADS_1


Aku berbaring di brangkar, dengan sebuah alat dengan gel ditempelkan di perutku. Pandangan kami tertuju pada sebuah TV layar datar yang terpasang di dinding.


"Selamat ya bu, pak, usianya sudah menginjak 5 minggu. Dan keadaannya sehat." Ujar Dokter itu sumringah.


Seketika aku dan Mas Rey saling pandang. Kami tersenyum bahagia. Ini adalah hal terbaik yang terjadi setelah beberapa minggu terakhir. Hal baik yang terjadi di tengah-tengah kekalutan kami.


Kemudian kami sudah kembali di rumah. Setelah mengganti baju, aku kembali ke kamar dan melihat Mas Rey duduk di tepi tempat tidur dengan tangan memegang hasil USG itu. Ia begitu fokus, entah apa yang dipikirkannya hingga aku duduk di sampingnya pun, ia masih bergeming menatap foto calon bayi kami.


"Dilihatin terus calon anaknya, Pak Reyhan." Candaku untuk sedikit mencerahkan suasana kelabu yang selama beberapa minggu terakhir selalu menyelimuti kami.


Mas Rey mengusap air matanya dan menatap ke arahku. "Mas bahagia sekali, Sayang." Ucapnya. Tapi wajahnya tak menunjukkan itu. Aku paham. Sangat paham. Ia bahagia, tapi di satu sisi ia juga masih tak bisa menerima kenyataan pahit yang kami alami.


Aku meraih foto USG itu dan menyimpannya di nakas. Ku raih kedua tangan suamiku, mengecup kedua punggung tangannya dengan penuh kasih dan hormat.


Aku menatapnya dan tersenyum.


"Jangan perlakukan Mas kayak gini, Dan. Mas gak layak dapetin semua kasih sayang kamu." Suaranya bergetar menahan tangis.


"Sampai kapan Mas mau sedih kayak gini?" Tanyaku lirih.


"Mas udah ngelakuin sesuatu yang jahat sama kamu. Kenapa kamu malah gak marah sekarang?" Mataku menatapku lekat.


"Kata siapa?" Air mataku menggenang. "Aku marah sama Mas. Marah banget. Aku udah nungguin Mas pulang dari Korea, tapi setelah Mas pulang, Mas malah bawa kabar kayak gitu. Hati aku sakit banget, Mas." Tangisku pecah dan kamipun kembali terisak bersama.


"Tapi..." sambungku setelah bisa menguasai diriku lagi. "Sekarang aku lebih membutuhkan Mas. Aku kangen sama Mas. Dan rasa kangen itu ngalahin semuanya."


"Gimana bisa kamu gak marah? Kamu boleh marahin, pukul Mas kayak waktu itu. Mas udah jahat sekali, Dan." Isaknya.


Aku menggeleng. "Aku juga pengennya gitu, tapi kayaknya ada seseorang yang selalu ngendaliin emosi aku. Sekarang yang aku rasain justru kangen terus sama Mas."


"Siapa yang ngendaliin emosi kamu?" Mas Rey mengerutkan dahinya.


Aku membawa sebelah tangan Mas Rey ke arah perutku. "Anak Mas. Dia kayaknya gak rela kalau aku marahin ayahnya."


Mas Rey semakin terisak mendengar ucapanku. "Maafin Mas... Maafin Mas..."


"Mas, selama aku di rumah Bunda, aku memang sedih dan marah. Tapi tahu gak rasa kangen aku sama Mas jauh lebih besar dari itu. Makanya aku mutusin buat balik lagi ke sini dan secepatnya memastikan aku hamil atau enggak. Dan ternyata aku beneran hamil."


"Jadi, waktu kamu bilang kamu punya sesuatu yang pengen kamu omongin itu adalah tentang kehamilan kamu?"


Aku mengangguk. "Aku belum yakin kalau aku hamil atau enggak waktu itu. Aku pengen tahu kabar ini bareng-bareng sama Mas. Makanya aku nunggu Mas pulang."


Mas Rey terdiam menundukkan kepalanya. Ku raup kedua pipi Mas Rey agar bisa menatap kedua matanya.


"Mas, aku dan Tante Manda sekarang sama-sama ngebutuhin Mas." Sakit hatiku kembali menelusup, hingga air mataku kembali menetes.


Mas Rey menggeleng, ia tahu kemana arah pembicaraanku.

__ADS_1


Ku kumpulkan keberanianku, ku abaikan rasa sakitku, rasa engganku dan berkata, "Mas harus menikahi Tante Manda secepatnya."


__ADS_2