
"Lo... serius?" Tanyaku tak percaya.
"Gue gak terlalu yakin. Mending lo segera tes untuk lebih akuratnya." Ucapnya sendu. "Kalau bener lo hamil, selamat ya."
Ku abaikan Vito dan berlalu keluar. Segera aku memasuki sebuah mobil yang aku tahu itu milik ibu mertuaku. Langsung aku meminta supir mengantarkanku pergi ke suatu tempat.
Satu tempat yang ingin aku tuju saat mendengar dugaan Vito mengenai kehamilanku, tempat Mas Rey bekerja. Semoga saja ia ada disana, walaupun hatiku sebenarnya menyangsikannya.
Beberapa saat akhirnya aku tiba di lobi Melcia Tower. Ku datangi resepsionis yang waktu itu pernah kutemui.
"Selamat siang di Head Office Melcia Tower, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya ramah.
"Mbak, masih inget sama aku 'kan? Aku istrinya Mas Rey. Aku pengen ketemu sama Mas Rey. Tolongin izinin aku masuk." Selorohku tak sabar.
"Mbak Danisa 'kan? Mbak, Pak Reyhan sedang cuti untuk beberapa hari ke depan karena beliau pergi ke Korea untuk menyelesaikan sesuatu. Mbak Danisa memang tidak tahu tentang kabar ini?"
Ke Korea? Jadi ke sana Mas Rey pergi.
Aku tak kehabisan akal. "Kalau gitu aku minta tolong buat ketemu sama Om Marcel bisa? Eh, maksud aku Pak Marcel."
"Sebentar saya cek dulu."
Setelah menunggu akhirnya resepsionis itu membiarkanku memasuki gedung dan menemui Om Marcel. Sampai di ruangannya, aku dipersilahkan duduk oleh sahabat suamiku itu.
"Jadi, ada apa istri kecilnya Rey mau ketemu Mas Marcel." Ucapnya tengil.
Pembawaan Om Marcel ini memang berbeda jauh dengan suamiku yang terkenal baik hati, cenderung tenang, dan lembut. Om Marcel justru kebalikan dari Mas Rey. Dia dulu seorang playboy, pandai merayu perempuan, tidak pernah bisa serius, dan sangat suka bercanda.
"Jadi sekarang aku juga harus panggil Mas sama Om Marcel?" Tanyaku dengan polosnya.
"Iya, dong. Masa masih panggil Om. Gue ini sahabat bagai kepompongannya suami lo, Nis. Masa iya gue masih disebut Om sama istrinya dia. Berasa gue jadi Om-om yang suka main sama ayam kampus. Lo bukan kayak gitu 'kan?" Candanya.
Benar-benar tak paham. Bagaimana kedua orang yang bertolak belakang ini bisa bersahabat sejak mereka masih di bangku SMA hingga detik ini.
"Iya deh, Mas Marcel" Ucapku akhirnya.
Mas Marcel terkekeh. "Pinter banget istri si Rey." Ujarnya dengan nada gemas. "Seudah dikadalin sama Manda dia jadi pinter sekarang malahan bisa dapetin cewek yang lebih pantes dia jadiin ponakan daripada istri."
"Udah deh, Mas Marcel." Ujarku jengkel.
"Iya-iya, sorry. Jadi gimana, lo mau apa nemuin gue?" Tanyanya akhirnya.
__ADS_1
"Aku mau nanyain, Mas Rey bener pergi ke Korea buat nyari bukti itu?"
Ia pun mengangguk. "Bener. Demi ngeyakinin lo, dia lagi ngusahain cari bukti itu."
"Bukti apa sih yang Mas Rey cari?"
"Jadi, Rey pernah cerita, waktu dia pulang dari kamar hotelnya Manda abis kejadian dia dijebak itu, dia nyari rekaman CCTV tapi anehnya rusak semua. Terus dia inisiatif buat ke rumah sakit, ngambil sampel di itunya dia, buat di tes ada DNA Manda gak di sana. Itu jadi bukti yang kuat yang bisa buktiin kalau suami lo itu bener-bener gak ngehamilin Manda."
Jadi seperti itu. Karena terlalu emosi aku tak memberikan Mas Rey kesempatan untuk menjelaskan apapun.
"Tapi..." lanjutnya, "hasil dari tes DNA itu gak pernah Rey terima sampai sekarang. Kayaknya itu ada kaitannya sama Manda yang udah kerjasama sama seseorang biar hasil tes itu gak pernah sampai ke tangan Rey. Makanya Rey lagi nemuin seorang kenalannya di Jepang, yang kebetulan banget lagi ada di Korea, buat bantu dia dapetin hasil tes DNA itu."
Ku usak rambutku penuh sesal. Seharusnya aku mempercayainya. Seharusnya aku percaya pada suamiku. Mas Rey jadi harus kembali cuti kerja, pergi ke Korea lagi demi semua ini.
Mas Rey, maafkan aku.
"Lo tenang aja, Nis. Rey pasti dapetin bukti itu." Pungkasnya.
"Semoga aja, Mas." Sahutku. "Tapi kalau gak dapet gimana." Ujarku cemas.
"Lo gak usah mikir apa-apa. Kalaupun dia gak dapet itu bukti, dia gak akan pernah mau nikahin Manda lagi. Lo tahu gak, susah banget bagi Rey sampai akhirnya dia mutusin buat udahan sama Manda. Padahal rasanya udah lama mati sama tante lo itu. Rey itu orangnya megang teguh apa yang udah dia putusin. Sekarang dia udah mutusin Manda, terus milih buat mulai sama lo, berarti Rey akan mertahanin itu gimanapun caranya."
Setelah itu aku pun memutuskan untuk pulang. Aku pulang ke rumah ibu mertuaku. Saat aku sampai satu koper sudah ada di kamar lama Mas Rey. Kata Bi Karti, Mas Rey mengantarkannya tadi pagi sebelum ia pergi ke bandara.
Ku buka koper itu dan aku melihat baju-bajuku tersusun rapi di dalamnya. Aku membayangkan Mas Rey yang melipat dan menyusun baju-bajuku satu persatu ke dalam koper ini, sampai isinya serapi ini.
Dasar, laki-laki tapi bisa serapi ini.
Memang, Mas Rey orang yang sangat telaten dan menyukai kerapihan dan kebersihan, bahkan ia lebih pintar dalam hal bersih-bersih dibandingkan aku. Aku mengingat saat akhir pekan lalu, saat kami membersihkan rumah bersama-sama.
Seketika aku merindukannya. Sangat rindu.
"Maafin aku, Mas. Aku sempet ragu sama Mas. Padahal aku sendiri udah tahu sejak awal, kamu adalah laki-laki yang sangat baik. Tapi aku sempat lupa karena rasa cemburu yang bodoh itu." Air mataku menetes.
Aku mengelus perutku. Sempat terlintas dalam pikiranku ingin mengunjungi dokter, atau ke apotek membeli alat tes, sebelum pulang ke rumah tadi. Tapi aku tidak mau mengetahui hal ini sendirian. Aku ingin mengetahui kebenaran ini bersama-sama dengan Mas Rey. Maka dari itu, aku urungkan niatku.
Aku akan menunggu sampai Mas Rey pulang, baru setelah itu aku dan dia akan bersama-sama memeriksakan keadaanku.
Semoga, yang Vito katakan benar. Semoga aku hamil.
Semoga saja, hatiku penuh harap.
__ADS_1
***
Keesokan harinya aku sudah memasuki minggu tenang sebelum ujian akhir semester dimulai. Aku bangun di subuh hari, sarapan bersama ibu mertuaku, mengobrol bersamanya, menemaninya jalan-jalan di sekitar rumah dan melakukan banyak hal hingga matahari berada tepat di atas kepala. Ibu mertuaku tertidur setelah selesai meminum obatnya.
Aku kembali ke kamar dan kembali mencoba menghubungi Mas Rey. Tapi lagi-lagi tak diangkat olehnya. Chat pun hanya dibacanya.
Aku menghela nafas, berharap gelisahku bisa hilang seiring dengan nafas yang aku hembuskan.
Sampai tiba-tiba aku terpikirkan satu hal. Segera saja aku kembali mengunjungi Mas Marcel di kantornya.
"Maaf Mas aku ganggu lagi." Ujarku merasa bersalah. Ia sepertinya sedang sangat sibuk.
"Gak apa-apa, Nis. Gue nerima lo dengan tangan terbuka kok, apalagi lo bawa beginian buat gue. Tiap hari aja ya kalau bisa." Candanya seraya membuka sekotak bento yang memang aku beli untuknya sebagai rasa terimakasih dan juga maafku.
Rupanya ia belum sempat makan karena sibuk dengan megaproyek yang memang sedang dijalankan oleh perusahaan itu.
"Mas Marcel, pernah gak ngehubungin Mas Rey?"
"Enggak. Dia justru yang sering ngehubungin gue. Tadi aja dia nelepon." Ucapnya dengan mulut yang sibuk mengunyah.
"Hah?!" Sontak aku berteriak. "Kok kalau aku yang chat gak pernah dibales?!"
"Mana gue tahu, Nis." Wajahnya menatapku tanpa dosa.
Aku menengadahkan tanganku. "Pinjam HP Mas Marcel."
"Mau apa?" Tanyanya sedikit waspada.
"Maaf Mas, tapi aku cuma pengen nelepon Mas Rey pakai nomor Mas Marcel. Aku pengen ngomong sama dia. Bisa tolong sambungin?" Mohonku.
Kemudian Mas Marcel mengutak-atik HPnya dan menyerahkannya padaku. Layar HP itu menampilkan panggilan berdering pada Mas Rey. Tak lama telepon itu diangkat.
"Kenapa lagi, Cel? Gue udah kirim..."
"MAS!!" Potongku.
Terdengar jeda beberapa detik. "Danisa?"
Terharu rasanya mendengar suaranya.
"Mas masih inget sama istrinya?! KENAPA TELEPON AKU GAK PERNAH DIANGKAT?!"
__ADS_1