
Om Rey membawaku duduk di sofa ruang tengah. Disandarkannya tubuhnya pada sandaran sofa itu, wajahnya berubah muram.
"Apa yang mau Om ceritain?" Tanyaku penasaran.
"Soal Manda."
Ku tunggu apa yang akan diceritakannya dengan sabar.
"Sebetulnya dia sering gak pulang, ninggalin Om, bukan karena dia kerja."
"Karena Tante Manda ketemu laki-laki lain?" Tebakku.
Om Rey sontak menatapku. "Kamu tahu dari mana?"
Ku tatap sedih wajahnya. "Aku pernah lihat Tante Manda di Plaza Mall. Dia bareng seorang cowok. Mereka bukan mau jalan-jalan di Mall, Om, tapi mereka mau check in di hotel. Om tahu 'kan di Mall itu ada hotelnya juga. Aku ngikutin mereka dan dari percakapannya aku tahu kalau mereka udah selingkuh sejak Tante Manda masih tinggal di Jepang."
"Ternyata kamu udah sampai lihat." Om Rey tersenyum getir.
Ada rasa iba dan juga sedikit cemburu yang kurasakan sekaligus. Iba karena ternyata Om Rey sudah di selingkuhi sejak lama. Cemburu karena Om Rey pasti merasakan sakit dan dikhianati, yang mana itu membuktikan bahwa rasa Om Rey terhadap Tante Manda masih ada walau tak sebesar dulu.
"Aku gak nyangka Tante Manda ngelakuin itu di belakang Om. Apa coba kurangnya Om? Dia malah milih laki-laki lain di saat dia udah punya Om yang sesempurna ini."
Senyum lirih terbit di bibirnya. Digenggamnya tanganku, seakan berterimakasih atas apa yang ku katakan.
"Terlebih laki-laki itu juga udah punya istri." Sambungku. "Kalau gitu kenapa gak sama-sama cerai dulu aja terus mereka nikah! Kenapa Tante Manda harus menduakan Om kayak gitu? Sebagai keponakannya jujur aku malu punya tante kayak dia!" Seketika amarah menguasaiku.
"Laki-laki mana lagi itu?" Gumamnya.
"Maksudnya, Om?" Tanyaku tak paham.
Om Rey menatapku sesaat. "Manda selingkuh bukan karena Manda mencintai laki-laki itu."
Alisku seketika bersatu. "Maksud Om?"
"Yang kamu lihat hanya satu dari banyak laki-laki yang pernah berhubungan sama Manda."
Hah?
Maksudnya Tante Manda punya banyak pacar?
"Iya, Dan." Om Rey mengiyakan saat ekspresi wajahku yang begitu terkejut. "Manda seorang pl^y girl. Dia hobi gonta-ganti laki-laki."
__ADS_1
Kedua tanganku menutup hidung dan mulutku, sungguh aku tak bisa menggambarkan rasa terkejutku.
"Manda bisa bermain dengan satu laki-laki setiap minggunya." Imbuhnya lirih.
Emosiku sudah di level tertinggi. "Terus Om diem aja ngeliat kelakuan dia kayak gitu?! Om masih aja bertahan saat tahu semua itu?!" Teriakku sudah tak bisa mengontrol emosiku.
"Sejak awal kami berhubungan udah banyak orang yang memperingatkan Om tentang Manda. Tapi Om dibutakan cinta Om sendiri. Om selalu percaya Manda adalah perempuan yang baik dan sayang sekali pada Om. Padahal kabar miring tentang Manda udah sering terdengar sejak Manda masih kuliah. Kata orang-orang, Manda sering gonta-ganti pacar, bahkan sampai jadi simpanan laki-laki kaya raya, jadi sug^r b^by."
Aku mendengus tak percaya, Om Rey... Om bodoh sekali! Umpatku saking kesalnya.
"Dan Om mutusin buat tetap nikahin Tante Manda setelah tahu semua itu?!" Tanyaku masih dengan nada yang tinggi.
Om Rey mendengus penuh sesal. "Iya."
"Apa sih yang Om pikirin?!" Teriakku akhirnya.
"Kamu boleh bilang Om bodoh, Dan. Karena itu emang kenyataannya. Om bodoh sekali."
Ku hela nafasku kasar dan bersandar di sebelahnya, mencoba meredakan amarahku.
"Om sempat bertanya tentang itu, dan dia mengakuinya. Manda berjanji bahwa itu hanya masa lalu. Dia berkata serius membina rumah tangga bersama Om setelah itu. Pernikahan kami berjalan lancar, terutama saat awal kami tinggal di Tokyo. Tapi hari-hari bahagia itu Om jalani bersama Manda hanya sampai beberapa bulan aja. Setelah itu Manda mulai sibuk kerja, lembur setiap hari."
"Terus Om gak curiga sama sekali dengan 'lembur' nya Tante Manda itu?" Ku gerakkan telunjuk dan jari tengahku seperti telinga kelinci saat mengatakan kata 'lembur'.
"Jadi selama lima tahun itu Om gak tahu kelakuan Tante Manda?"
"Hanya selama satu tahun Manda berhasil bohongin Om. Akhirnya Om tahu lembur Manda itu ternyata adalah bertemu dengan banyak laki-laki seperti yang sering dia lakukan dulu. Om hancur saat tahu itu. Kami berantem hebat, bahkan hampir bercerai."
"Hampir?" Aku tak habis pikir. "Kenapa hampir, Om? Kenapa Om gak cerai aja?"
"Karena ibu."
"Karena Bu Sekar?"
Om Rey mengangguk mengiyakan. "Karena ibu, juga karena pandangan keluarga Om tentang perceraian. Sebetulnya sejak awal Om memperkenalkan Manda pada ibu, ibu udah sangat gak setuju dengan hubungan Om sama Manda. Tapi Om benar-benar buta saat itu. Ibu bahkan menjodohkan Om beberapa kali dengan beberapa perempuan, tapi Om menolak semuanya. Hingga akhirnya ibu gak punya pilihan lain dan merestui pernikahan Om."
Pantas saja tadi Bu Sekar seperti puas sekali saat mengatakan Om Rey sekarang kena batunya dari keputusannya dulu yang telah menikahi Tante manda.
"Tapi kalau Bu Sekar menentang pernikahan Om, seharusnya beliau akan seneng banget kalau Om pisah sama Tante Manda. Iya 'kan?"
"Om udah sampai pulang ke Indonesia saat itu untuk bilang tentang perceraian itu. Tapi saat itu ibu sakit keras. Saat itu semua mengira ibu sudah akan pergi. Om khawatir sekali. Karena kondisi ibu yang gak memungkinkan, membuat Om jadi gak bisa bilang tentang keinginan Om cerai dengan Manda. Akhirnya Om mutusin buat cerita pada Kak Dewi, tapi dia bilang perceraian adalah sesuatu yang t^bu di keluarga Om. Dalam lima generasi terakhir, belum pernah ada pasangan yang bercerai di keluarga Om. Perceraian dianggap aib. Makanya Om terpaksa bertahan menjalani kehidupan rumah tangga yang hambar itu."
__ADS_1
"Kak Dewi juga menyarankan Om punya anak sama Manda." Sambungnya. "Mungkin aja dengan adanya anak hubungan Om dan Manda bisa membaik. Tapi bertahun-tahun kami gak pernah berhasil dan Om mutusin untuk menyerah. Dan seakan udah ditakdirkan untuk benar-benar mengakhiri semuanya, Om akhirnya tahu kalau Manda pasang alat kontr^sepsi tanpa sepengetahuan Om. Disitu Om udah gak punya alasan lagi buat bertahan."
Om Rey meraih pipiku, "Sekarang kamu tahu, Om udah gak punya rasa sama sekali pada Manda sejak lama. Sekarang yang Om cinta cuma kamu, Dan. Bahkan saat kenal kamu, Om semakin yakin untuk udahan sama Manda. Om gak peduli keluarga Om bilang apa, Om cuma pengen ngerasain bahagia lagi. Dan sekarang cuma kamu yang bisa bikin Om bahagia. "
Aku percaya perasaan Om Rey memang sudah terkikis habis, apalagi yang Tante Manda lakukan memang sangat keterlaluan. Tapi kenyataan ia masih melakukan hubungan itu walaupun tanpa cinta, entahlah, aku merasa tak rela.
"Kapan terakhir kali Om ngelakuin itu sama Tante Manda?" Tanyaku lirih.
Om Rey terdiam.
"Jawab, Om."
"Sejak kembali ke Indonesia, Om udah gak pernah menyentuh Manda lagi." Jujurnya.
Itu artinya baru sekitar tiga bulan sebelum aku datang ke rumah ini? Terlintas begitu saja bayangan Om Rey melakukannya dengan Tante Manda.
Akupun menjauh darinya, beralih ke sofa di sebelahnya. Ku lipat tanganku di depan dada, bahuku naik turun, dan alisku menyatu.
"Dan, Om minta maaf."
Mendengarnya meminta maaf seperti itu membuatku akhirnya meled^k. "Katanya Om udah gak cinta sama Tante Manda sejak lama, tapi ternyata Om masih ngelakuin itu sama Tante manda?! Terakhir kali Om ngelakuin itu sekitar lima bulan yang lalu 'kan berarti?!"
"Kamu cemburu?" Tanya Om Rey dengan sedikit senyum heran di wajahnya.
Cemburu? Aku sendiri tidak yakin.
"Danisa," Om Rey berjongkok di depanku dan meraih kedua tanganku. "Itu masa lalu Om. Om gak bisa ngubah itu. Tapi masa lalu itu udah gak ada hubungannya sama Om. Om udah milih kamu buat jadi pasangan Om di masa sekarang dan di masa yang akan datang."
Seketika emosiku mereda.
Om Rey benar, itu masa lalunya. Jika aku ingin bersamanya sekarang, berarti itu adalah resik0 yang harus aku terima. Aku bukan akan menjalin hubungan dengan seorang laki-laki lajang yang akan memiliki pengalaman pertamanya bersamaku, tapi aku akan menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang sebentar lagi akan berstatus sebagai duda. Jika aku ingin menerimanya, maka aku harus menerima masa lalunya juga.
Yang harus aku cemaskan, harus aku pikirkan, aku fokuskan, adalah masa depan, bukan masa lalunya. Biarlah di masa lalu ada perempuan lain yang pernah Om Rey cintai, yang pernah disentuhnya, tapi yang terpenting di masa depannya hanya ada aku seorang.
Sontak aku memeluknya. "Aku sayang banget sama Om." Ku rengkuh tubuhnya dengan sangat erat seakan tak ingin melepasnya lagi.
"Dan..." Gumamnya, seperti tak percaya aku mengatakan itu.
Ku lepaskan pelukanku dan meraup pipinya. "Mulai sekarang Om itu pacar aku. Aku gak peduli sama masa lalu Om, yang jelas sekarang Om harus jaga hati Om supaya cuma ada aku di dalamnya. Om janji?"
Senyumnya merekah indah, menampakkan lesung pipinya lagi. "Iya, Om janji."
__ADS_1
Seketika aku merasa sangat lega, sangat bahagia. Ku akhiri percakapan itu dengan mencium Om Rey untuk pertama kalinya sebagai pacarku.