
"Danisa, kamu masih ingat 'kan? Lima tahun lalu kamu juga pernah ketemu. Ini ibunya Om, namanya Bu Sekar, dan di sebelahnya Kakak pertama Om, Kak Dewi."
Aku kembali mengangguk sopan.
Iya, tentu aku mengingat mereka. Pertama kali bertemu mereka adalah saat acara pertunangan Om Rey dan Tante Manda dulu. Aku masih bisa mengingat dengan jelas ekspresi wajah Bu Sekar dulu sangat tidak ramah. Yang aku dengar Bu Sekar sebetulnya tidak merestui pernikahan keduanya, namun putra bungsunya yang sangat yakin akan pilihannya saat itu membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.
Waktu itu kami menyangka Bu Sekar tidak merestui hubungan Om Rey dan Tante Manda karena status sosial mereka yang berbeda. Tante Manda pernah bercerita pada ibuku bahwa calon mertuanya itu sangat tidak bersahabat, rewel, dan menyebalkan. Itu jugalah yang menjadi salah satu alasan mengapa Tante Manda langsung menyetujui saat ia dipindahtugaskan ke resort cabang Jepang. Itu karena Tante Manda ingin menghindari mertuanya yang galak itu. Setelah itu keluargaku dan keluarga Om Rey tidak sering bertemu, bahkan aku sendiri baru sekarang bertemu dengan mereka lagi.
Namun yang aku lihat hari ini sangat berbeda. Bu Sekar begitu ramah dan hangat, justru Kakak pertama Om Rey yang sedikit terlihat tidak welcome terhadapku.
"Kamu baru pulang jam segini? Dari mana?" Tanya Kakak pertama Om Rey yang bernama Dewi itu, dengan sedikit ketus.
"Saya pulang kerja, Tante." Jawabku.
"Kerja? Dimana?" Tanyanya lagi.
"Di sebuah kafe, Tante."
"Kamu ini jangan ketus gitu dong sama Danisa. Sini, Nak. Duduk sama Ibu." Ujar Bu Sekar, beliau ramah sekali. Aku pun duduk di sampingnya.
"Ibu, harusnya Danisa ini panggil Eyang sama Ibu, dia 'kan seumuran sama Risa." Komentar Tante Dewi. Seketika aku mengingat Risa, ia adalah putri pertama dari Tante Dewi yang memang seumuran denganku.
"Gak apa-apa, emang kenapa kalau Danisa panggil Ibu dengan sebutan Ibu juga? Risa itu cucu Ibu, Danisa bukan cucu Ibu, Danisa seorang perempuan yang sudah dewasa." Wajah keriputnya begitu sumringah.
"Dewasa? Dia ini baru juga jadi mahasiswa, Bu." Debat Tante Dewi.
"Kamu ini, Wi. Danisa sudah 18 tahun, berarti dia sudah jadi perempuan dewasa. Lihat aja tubuhnya sudah membentuk sempurna. Sudah bisa untuk mengandung anak."
Apa? Mataku sampai membulat.
__ADS_1
"Ibu, ngomong apa sih, Bu." Tegur Om Rey dengan halus, ia mencuri-curi pandang padaku, antara terkejut dan salah tingkah.
Sesaat kami bersih tatap dengan canggung.
"Loh memang benar 'kan? Dulu, ibu juga mengandung Kakakmu Dewi di umur yang sama dengan Danisa sekarang." Ujarnya semangat.
"Nah itu masalahnya. Harusnya Ibu memarahi Rey karena mereka sudah tinggal bersama seperti ini di bawah satu atap. Itu tidak sepantasnya, Bu."
"Memang benar itu tidak sepantasnya. Tapi Rey 'kan hanya membantu keponakan Manda. Dan dari yang diceritakan Rey tadi, Ibu justru bersyukur Danisa tinggal di sini."
"Ibu!" Tegur Tante Dewi.
Wajar memang Tante Dewi marah seperti itu, yang tidak wajar justru Ibunya Om Rey ini. Ia malah terlihat senang karena aku tinggal bersama putranya.
Aneh sekali, 'kan?
Kemudian Bu Sekar menatapku. "Nak, jadi selama ini kamu memasak untuk Rey?"
"Kamu pasti jago sekali memasak. Ibu kamu juga 'kan jago sekali memasak terutama kue-kue basah. Ibu kamu masih sering membuat kue-kue seperti itu?" Tanya Bu Sekar.
"Masih, Bu. Bunda masih membuat kue untuk dititipkan ke beberapa toko kue di dekat rumah. Kadang Bunda juga mendapat pesanan untuk catering kecil-kecilan. Danis dulu suka bantu Bunda jadi sedikitnya Danis bisa masak dari situ, Bu."
"Kamu ini memang tipe calon istri ideal. Cantik, sopan, pintar memasak. Bahkan saat kamu harus bekerja sampai malam, kamu sudah siapkan makanan untuk Rey jadi Rey hanya tinggal menghangatkan makanannya saja." Pujinya, membuatku kembali tercengang dengan ucapannya.
Lalu ia melihat ke arah Om Rey dengan ekspresi dingin. "Seharusnya kamu mencari calon istri seperti ini, Rey. Sekarang kamu sendiri tahu, firasat seorang ibu tidak pernah salah. Sejak awal ibu sudah mengatakan pada kamu bahwa Manda bukan calon istri yang baik. Dia sibuk bekerja, tidak bisa mengurus suami, tidak bisa memasak, dan juga sangat manja. Kalau harus bekerja lembur, pernah tidak ia memikirkan menyiapkan makanan untuk kamu?"
"Sekarang kamu sadar 'kan?" Lanjutnya. "Umur kamu sudah memasuki kepala tiga, menikah lima tahun lebih, tapi belum juga dikaruniai anak. Akhirnya sekarang kita semua tahu kenapa Manda belum juga hamil. Ibu benar-benar gak percaya dia melakukan itu. Apa lagi kebobrokan dia yang belum ibu tahu?"
Om Rey hanya terdiam mendengar ucapan Bu Sekar.
__ADS_1
"Selama di Jepang, pernahkah Manda sendiri yang memberikan kabar pada ibu? Tidak pernah. Dia tidak pernah video call, menyapa ibu secara pribadi. Dia pasti selalu menyapa ibu kalau sedang bersama kamu. Ibu benar-benar gak ngerti, Rey. Kenapa kamu mempertahankan semuanya jika kamu sudah tidak nyaman? Harusnya kamu bercerai lebih cepat dari ini. Ibu ini tahun depan sudah masuk kepala tujuh, tidak bisakah kamu mengabulkan permintaan ibu yang sederhana ini? Ibu ingin segera melihat kamu memiliki seorang anak. Ibu ingin menggendong cucu dari satu-satunya putra Ibu. Tapi apa, kamu malah selalu memikirkan perasaannya Manda. Manda, Manda, dan Manda. Kamu tutupi semua kekurangan Manda. Sekarang kamu sendiri kena batunya."
Om Rey kembali tertunduk lesu. "Maafin Rey, Bu." Ujarnya penuh sesal.
Bu Sekar menghela nafas, mencoba menghilangkan emosinya. "Ya sudah, yang penting kamu sudah menceraikan Manda sekarang. Ibu akan bantu proses perceraian kalian agar secepatnya surat cerai itu keluar. Setelah itu kamu nikahi seseorang dan cepat berikan cucu untuk ibu sebelum ibu meninggal."
"Ibu kenapa sampai bawa-bawa meninggal? Ibu 'kan sehat-sehat aja sekarang." Tegur Tante Dewi.
"Wi, ibu ini sudah tua. Kapan saja hipertensi ibu bisa memburuk. Ibu ingin sebelum itu terjadi, ibu sudah melihat Rey hidup bersama seseorang dan membina rumah tangga yang harmonis dengan perempuan yang tepat."
"Iya, Bu. Rey akan segera selesaikan proses perceraian Rey dengan Manda." Ujarnya patuh.
"Kamu udah ketemu sama ayahnya Manda, Rey? Jika kamu mau menceraikan Manda, kamu harus segera mengembalikan Manda kepada orang tuanya." Saran Tante Dewi.
"Udah, Kak. Rey udah ketemu Pak Karsana sejak Rey tahu Manda pakai alat kontr^sepsi tanpa sepengetahuan Rey. Itu yang buat Rey yakin buat cerai sama Manda. Tapi saat itu Rey memang belum secara gamblang mengembalikan Manda pada Pak Karsana. Tapi saat itu Pak Karsana sudah pasrah jika Rey akan menceraikan Manda. Mungkin besok Rey akan menemui Pak Karsana lagi, dan mengembalikan Manda secara resmi pada ayahnya."
Om Rey pernah mengatakan bahwa ia mengetahui perihal Tante Manda menggunakan alat kontr^sepsi itu saat awal aku pindah ke Jakarta. Tapi saat itu aku dan ibuku tidak tahu menahu soal kedatangan Om Rey. Apakah Kakek menyembunyikannya dari kami? Atau hanya aku yang tidak tahu?
"Katakan juga pada beliau mengenai Danisa." Bu Sekar menambahkan.
Sontak aku dan Om Rey kembali bersih tatap.
"Kenapa dengan Danisa, Bu?" Tanya Om Rey bingung.
"Kamu gak perlu pura-pura." Bu Sekar menggenggam tanganku. "Sekali lihat saja Ibu tahu kamu suka pada Danisa."
Sontak nafasku tertahan, antara kagum dan terkejut dengan kepekaan Bu Sekar terhadap putranya ini.
Bu Sekar menatapku. "Firasat Ibu juga mengatakan, Danisa juga menyukai Rey. Betul 'kan?" Ditodong pertanyaan seperti itu membuatku syok bukan main. Aku harus jawab apa?
__ADS_1
Aku dan Om Rey hanya bisa bungkam. Rasanya seperti tertangkap basah sedang berselingkuh. Apa hubungan kami sekentara itu hingga Bu Sekar menyadarinya? Atau ini adalah naluri seorang ibu yang menginginkan kebahagiaan untuk putranya?
Seakan belum cukup dibuat tercengang, Bu Sekar kembali berkata. "Kalian jangan khawatir, Ibu merestui hubungan kalian berdua. Rey, daripada mengundang pikiran-pikiran neg^tif seperti Kakakmu barusan, sebaiknya segera kamu halalkan hubungan kamu dengan Danisa."