Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 72: Permainan Selesai


__ADS_3

"Kamu sudah tak bisa mengelak, Manda." Ucap Mas Rey seraya mematikan kembali layar LED itu.


"Rey, itu gak..."


"Apa aku perlu memperlihatkan cuplikan saat Vito mencium perut kamu dan setelah itu kalian melakukannya?" Ucap Mas Rey telak.


Wajah Tante Manda sudah sangat pucat. "Kamu pasang kamera di penthouse itu?! Jadi itu tujuan kamu gitu aja ngasih aku penthouse?!"


"Iya." Ujar Mas Rey. "Katanya kamu mau setia sama aku, Man. Tapi ternyata kamu masih sama. Ditambah kali ini kamu sampai mengandung anak laki-laki lain. Tak ada alasan lagi untuk aku tidak menceraikan kamu."


"Cerai...?" Satu kata itu sangat membuat Tante Manda syok. "Kita gak akan pernah cerai! Kamu ngomong apa sih, Rey? Okay, aku akuin aku salah karena berhubungan sama Vito. Tapi anak ini anak kamu! Vito bukan ayah dari bayi yang aku kandung!"


Mas Rey menghela nafas jengah. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah amplop. Diletakkannya amplop itu di hadapan Tante Manda. "Buka." Titahnya.


Tante Manda semakin panik ketika ia melihat kop surat yang tertera pada amplop itu, bertuliskan huruf hangeul dan juga terdapat logo dari sebuah rumah sakit.


"Apa itu Rey?" Tanya ibu mertuaku.


Mas Rey merogoh lagi sakunya dan memberikan amplop yang sama pada sang ibu. "Rey berhasil mendapatkan hasil tes DNA itu, Bu."


Mbak Dewi segera menyambar amplop itu dan membukanya. Kedua mata Mbak Dewi membulat sempurna. "Ini... tidak ditemukan DNA Manda pada Rey, Bu." Mbak Dewi menjelaskan pada sang ibu. Kemudian ia menatap berang pada Tante Manda. "Kalau DNA kamu saja tidak ditemukan, bagaimana mungkin kamu hamil anak dari adik saya!"


"Itu... itu bohong! Itu pasti palsu!" Tante Manda masih mencoba mempertahankan semuanya. Ia masih gigih untuk mempertahankan semua permainannya.


"Kamu masih ingat dengan pria ini, Man?" Mas Rey kembali merogoh sakunya dan menyimpan sebuah foto di hadapan Tante Manda. "Aku bertemu dengan dia kemarin. Kami menyelesaikan segala hal di masa lalu dan memutuskan untuk melupakannya. Tapi sebelum itu, kami memutuskan untuk memberikan kamu dan juga Toshi pelajaran. Sekarang Toshi sudah tidak bekerja lagi sebagai asisten Thomas, dia dibuang ke sebuah penjar^ di sebuah negara terp^ncil."


Air mata Tante Manda mulai bercucuran.


"Kamu masih selamat, karena aku hanya akan melepaskan kamu sebagai istri aku. Atau kamu lebih memilih untuk menyusul Toshi?"


Sontak Tante Manda menggelengkan kepalanya. "Enggak, Rey. Aku mohon! Kamu salah paham!"


"Kamu masih bisa berkata bahwa Rey salah paham setelah semuanya terbongkar seperti ini?!" Ibu mertuaku geram.


Tante Manda menghampiri ibu mertuaku dan berlutut di depannya dengan kedua tangan yang saling menangkup. Jujur kali ini aku sedikit merasa iba padanya. Tapi aku juga tak bisa apa-apa, Tante Manda sedang menuai hasil dari benih yang ia tanam.


"Bu, saya mohon. Saya berani sumpah ini adalah anak Rey! Terlepas dari semua yang saya lakukan! Anak ini anak Rey!" Ia masih bersih kukuh.


Mas Rey menoleh pada Vito. "Kamu bawa hasil USGnya?"

__ADS_1


Vito menangguk lemah dan mengeluarkan dua buah kertas kecil. Diberikannya kertas itu pada Mas Rey.


"Vito kamu jangan ikut-ikutan!!" Tante Manda semakin panik.


Mas Rey memeriksa kedua hasil USG itu. "Ini adalah hasil USG tiga bulan lalu, dan juga dua bulan lalu. Nama 'Nyonya Amanda' jelas-jelas ada disini. Klinik dan dokternya sama dengan hasil USG yang waktu itu kamu bawa ke rumah Ibu." Mas Rey menatap Tante Manda yang masih berlutut di depan sang ibu. "Kamu edit tanggalnya. Iya 'kan?"


"Enggak, Rey! Aku gak..."


"CUKUP!"


Tiba-tiba Vito yang sejak tadi diam tak bersuara, berteriak cukup keras. Kami semua terdiam dibuatnya. Wajahnya kembali menunjukkan frustasi yang dirasakannya. Ia bangkit dari kursinya dan menghampiri Tante Manda. Ia meraih kedua tangan Tante Manda dan membantunya berdiri.


"Cukup, Tan. Tante harus terima, semua kebohongan Tante udah terbongkar." Lirih Vito dengan nada yang lelah.


PLAK!!


Sebuah tamparan Tante Manda daratkan pada pipi Vito. Ia menatap Vito dengan bengis.  "Kamu jangan ikut campur ya! Kebohongan? Tante gak bohong! Ini anak Rey!!"


"ANAK YANG TANTE KANDUNG ITU ANAK AKU!" Teriaknya membuat Tante Manda terpaku. "Usia kehamilan Tante sekarang udah hampir empat bulan. Sedangkan kalau Tante melakukannya dengan Om Rey, seharusnya usia kandungan Tante baru sekitar tiga bulan."


Tante Manda kini menangis histeris. Vito mencengkram kedua lengan Tante Manda. "Lepaskan Om Rey, Tan. Jangan kita ganggu lagi kebahagiaan Danis dan suaminya."


"INI SEMUA GARA-GARA KAMU DASAR KEPONAKAN SIALAN!!"


Namun dengan segera Vito segera menahan Tante Manda yang semakin di luar kendali. Begitu juga Mas Rey segera menghampiriku, menjagaku, khawatir Tante Manda berhasil menyentuhku.


"Manda kamu harus tenang!" Ujar ibu mertuaku meminta Tante Manda untuk mengendalikan dirinya.


"Aku gak bisa tenang, Bu! Danis udah rebut Rey dari aku! Aku gak bisa terima itu! DANIS UDAH NGANCURIN HIDUP AKU!" Tante Manda masih terus histeris dan mencoba mendekat padaku.


Melihatnya seperti ini benar-benar membuatku sedih. Aku tahu dia salah, tapi entah mengapa aku tak tega melihatnya seperti ini. Di samping itu, temanku Vito, juga terlihat begitu frustasi dengan sikap Tante Manda. Ia terus mencoba untuk menahan Tante Manda agar tidak berlari ke arahku.


Sejujurnya ada rasa puas saat aku melihat Tante Manda sehancur ini. Namun di sudut hatiku yang paling dalam, aku juga merasa sangat iba. Hingga aku tak ingin berlama-lama melihatnya seperti ini.


"Mas, aku pengen pergi dari sini." Pintaku pada Mas Rey.


Akhirnya Mas Rey membawaku keluar dari ruangan itu. Begitu juga ibu dan kakak-kakak Mas Rey memutuskan untuk pulang, meninggalkan Tante Manda dan juga Vito sendirian.


Kamipun sudah berada di mobil sekarang. Namun pikiranku masih tertuju pada kejadian yang baru saja terjadi. Aku masih percaya tak percaya bahwa semua permainan Tante Manda kini sudah selesai, dengan akhir yang benar-benar tak pernah aku sangka-sangka. Selama ini sepertinya Vito memang sudah sangat dekat dengan Tante Manda. Bahkan melihat video mereka berciuman masih sangat membuatku syok.

__ADS_1


"Sayang, kamu baik-baik aja?" Tanya Mas Rey. Ia melirikku sekilas dari pandangannya yang terfokus pada jalanan di depan kami.


"Enggak, Mas. Aku cuma masih syok aja. Aku masih belum bisa percaya Tante Manda dan Vito bener-bener terlibat dalam hubungan kayak gitu."


"Kamu masih kepikiran video yang tadi, ya?"


Aku mengangguk lemas. "Aku syok banget, Mas."


"Kamu akan lebih syok kalau lihat video yang fullnya." Ujar Mas Rey.


"Emang mereka ngapain?" Tanyaku penasaran.


Mas Rey melirikku lagi. "Ya... mereka melakukan itu."


"Ya ampun. Dan Mas lihat itu?"


"Enggak, Sayang. Mas gak lihat. Males juga ngapain Mas lihat mereka melakukan itu." Ujarnya.


Aku menghela nafas lega. "Jadi semuanya udah selesai 'kan?"


Mas Rey mengangguk pasti. "Karena Mas dan Manda hanya menikah siri, Mas hanya perlu menceraikan Manda di depan saksi dan wali yang kemarin hadir pas pernikahan. Setelah itu, Mas udah gak akan berurusan dengan Manda lagi."


"Aku masih gak nyangka, Mas. Akhirnya semuanya terungkap juga." Ucapku penuh rasa syukur. "Makasih ya, Mas udah usahain semua ini."


"Kenapa makasih, Sayang? Justru Mas ngerasa ini adalah kewajiban Mas, mengungkap semua kebusukan Manda. Juga, saat kamu ragu sama Mas, tentunya Mas harus bikin kamu percaya lagi sama Mas."


"Iya tetep dong, aku harus berterimakasih sama Mas. Kalau Mas gak bersih keras membuktikan semuanya, mungkin kita masih ada di dalam permainan Tante Manda. Tapi jujur, aku kasihan sama Vito dan juga Tante Manda. Nasibnya setelah ini gimana, ya?"


"Manda harus menikah dengan Vito. Vito udah setuju, tinggal Manda yang mau gak mau menerima kalau itu adalah satu-satunya jalan."


"Vito mau nikahin Tante Manda?" Tanyaku tak percaya.


"Iya. Dia bilang sebenernya sejak dia tahu kalau Manda hamil, dia udah bilang bersedia buat bertanggung jawab. Tapi Manda nolak dengan alasan Vito masih kuliah, dia belum bisa nafkahin dia. Sedangkan Manda terbiasa memiliki segalanya, tanpa kekurangan sedikitpun. Makanya dia bersih keras buat kembali sama Mas setelah dia gak bisa lagi dapet 'donasi' dari Thomas Akagi. Selain itu, dia juga masih gak rela karena kamu 'ngerebut' Mas dari dia. Di samping itu Vito juga ingin sekali mendapatkan kamu. Makanya dia gelap mata, dan ngikutin permainannya Manda. Tapi Mas ngelihatnya sih, dia udah bener-bener nyesel sekarang."


Aku setuju, Vito sudah menyesali segala perbuatannya. Setidaknya Vito yang asli, Vito yang aku dan Fina kenal, masih tersisa dalam diri Vito yang sempat hilang arah itu karena pada akhirnya ia mau untuk bertanggung jawab.


Dia sebenarnya orang yang baik. Hanya sempat tersesat dan salah langkah saja. Aku yakin Vito akan menjaga Tante Manda dan juga bayinya mulai sekarang.


Semoga baik Vito maupun Tante Manda bisa mengambil hikmah dari semua kejadian ini.

__ADS_1


__ADS_2