Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 71: Menjebak Amanda


__ADS_3

"Mas... " Dengan air mata yang terus berlinang aku memasuki ruangan kantor Mas Rey. Aku ingin segera mencurahkan isi hatiku, dan memuntahkan semua pertanyaan mengenai Vito.


Namun saat aku masuk, beberapa pria yang sepertinya rekan kerja Mas Rey sedang ada di dalam ruangan. Karena aku masuk tanpa mengetuk pintu, suara yang aku timbulkan begitu nyaring terdengar, suara dari pintu yang dibuka dan juga isak tangisku.


Seketika semua orang di ruangan itu menatap ke arahku dengan bingung. Suasana pun seketika menjadi canggung. Beberapa detik pria-pria itu menatapku.


Segera aku menyeka air mataku dan membungkuk dalam. "Maaf!" Pekikku. Seraya bersiap menutup pintu.


"Danisa!" Panggil Mas Rey, membuat langkahku terhenti. "Tunggu sebentar." Ucapnya. Lalu ia berkata pada orang-orang itu. "Kita lanjutkan di ruang meeting satu jam lagi."


Orang-orang itu kemudian mulai membubarkan diri dan tersenyum canggung ke arahku, saat mereka melewatiku.


Ya Tuhan, malu sekali! Lagi pula kenapa resepsionis tidak mengatakan kalau Mas Rey sedang ada meeting?


Pintu pun di tutup oleh Mas Rey saat orang terakhir keluar. Ia menghampiriku yang sudah berwajah cemberut.


Kupukul pelan lengannya. "Mas kenapa gak kasih tahu kalau lagi meeting! Aku malu tahu gak!"


Ia hanya terkekeh pelan seraya meraih pinggangku dan mengecup keningku. "Mas lagi gak meeting, kok. Ada yang pengen mereka bicarakan aja sebelum meeting nanti. Itu juga mereka tiba-tiba dateng ke sini setelah Mas dapet kabar kamu dateng."


"Aku malu banget!" Ucapku seraya menenggelamkan wajahku di dadanya.


"Lagian kenapa kamu gak ketuk pintu dulu? Malah langsung masuk." Mas Rey kembali terkekeh, membuat aku kembali mencebikkan bibir.


"Abisnya... " Tapi jika dipikir-pikir memang aku yang salah. "Udah ah jangan dibahas!"


"Ya udah." Mas Rey berusaha menghentikan tawanya. "Jadi ada apa istri Mas datengin Mas kesini? Terus kenapa kamu nangis gini?"


Ia membawaku ke sofa, dan kami pun duduk di sana. Ia menyeka sisa-sisa air mata di pipiku.


"Aku udah tahu kalau Vito ayah dari bayinya Tante Manda." Ujarku tanpa basa-basi. Tanpa sadar aku kembali terisak. Langsung saja Mas Rey merengkuhku dalam pelukannya.


Sesaat aku terus menangis. Kesal, marah, dan tak menyangka masih campur aduk di dalam hatiku. Mas Rey dengan sabar mengelus punggungku.


"Kenapa Mas gak bilang tentang Vito?" Tanyaku saat isakku mereda.


"Mas udah janji sama dia, dia pengen dia sendiri yang jelasin sama kamu. Mas gak nyangka dia beneran cerita semuanya sama kamu."

__ADS_1


Aku bangkit dari pelukannya dan menggeleng. "Vito gak bilang. Tapi aku tahu sendiri. Fina nemuin foto Tante Manda yang pakai baju yang sama persis sama baju Tante Manda yang lagi sama Vito."


"Foto Vito sama Manda?"


"Iya. Di kampus pernah ada yang nyebarin foto Vito yang lagi jalan sama cewek yang lebih tua. Tapi mukanya gak keliatan. Terus Fina nemuin foto Tante Manda. Pas dicocokin ternyata bener itu Tante Manda." Aku kembali terisak. "Aku gak nyangka ternyata Vito selama ini kerjasama sama Tante Manda. Aku gak akan maafin dia lagi. Dia bukan temen aku lagi mulai sekarang!"


Mas Rey kembali merengkuhku. "Mas ngerti kamu pasti marah banget."


"Gimana gak marah, semua yang ngebuat kita berantem, sampai ibu sakit, bahkan Mas sampai nikah lagi, itu tante dan temen aku sendiri. Walaupun aku tahu tentang perasaan dia sama aku, tapi aku masih nganggap dia temen aku. Tapi di belakang aku dia bisa rencanain hal sekotor itu. Aku ngerasa dikhianatin banget, Mas."


"Seudah ini Vito dan Manda akan mendapat pelajarannya, Sayang. Kamu tenang aja ya. Malam ini kita akan selesaikan semuanya."


Sontak aku menatap ke arah Mas Rey. "Mas bilang nanti malem Mas ngundang semua keluarga buat makan malam itu, buat bongkar semuanya?"


"Iya. Manda belum tahu kalau Mas tahu tentang dia dan Vito. Makanya nanti malam akan ada kejutan buat dia."


***


Malam harinya, aku beserta ibu mertua, Mbak Dewi, dan Mbak Kinan sudah berada di sebuah ruangan private di sebuah restoran. Sedangkan kedua kakak iparku yang lain tidak bisa hadir karena mereka memang tidak tinggal di Jakarta. Sehingga mereka tidak bisa datang pada acara yang diadakan secara mendadak ini.


Aku sudah menjelaskan semuanya pada mereka. Tanggapan mereka tentu syok dan tak menyangka. Namun raut lega juga tergambar dari wajah mereka. Mas Rey sendiri sekarang sedang menjemput Tante Manda.


Beberapa saat kemudian Vito yang memang sudah diundang juga ke acara ini pun datang. Dengan wajah yang sendu ia bergabung dengan kami di meja itu.


Caci maki dan luapan amarah langsung diterima Vito dari ibu mertuaku dan juga Mbak Dewi. Vito hanya terdiam dengan kepala tertunduk. Sepertinya ia memang sudah pasrah dengan semuanya. Tentu saja, tak ada yang bisa dilakukannya lagi sekarang.


Dan seseorang yang ditunggu-tunggu pun datang. Pintu ruangan terbuka. Masuklah Tante Manda yang sudah berias sangat cantik. Ia pasti sangat bersemangat saat Mas Rey mengajaknya untuk makan malam, maka ia sampai berdandan secantik itu.


Wajahnya yang asalnya tersenyum, seketika terkejut saat melihat di dalam ruangan ada kami yang menatapnya dengan dingin. Wajahnya semakin pucat saat ia melihat kehadiran Vito di meja makan bersama kami.


"Apa-apaan ini, Rey?" Tanyanya pada Mas Rey yang berdiri di belakangnya. Ia nampak mencoba untuk terdengar biasa.


Mas Rey menutup pintu di belakangnya dan menatap tenang pada Tante Manda. "Kita akan makan malam bersama."


"Tapi... "


"Aku gak bilang kita akan malam berdua aja." Potong Mas Rey. "Aku juga mengundang seseorang yang spesial untuk kamu malam ini."

__ADS_1


"Maksud kamu apa?" Ada sedikit geram dari nada bicaranya.


"Sebaiknya kamu duduk dulu, Manda." Sela ibu mertuaku. "Bukankah seharusnya kamu memberi salam terlebih dahulu pada semua orang yang ada di sini?"


Tante Manda semakin panik. Namun ia tak punya pilihan lain selain mendekat pada kami dan menduduki salah satu kursi.


Ibu mertuaku duduk di satu sisi pendek. Di sisi panjang sebelah kirinya duduk Mbak Dewi, Mbak Kinan, dan aku. Mas Rey mengambil posisi di sebelah kanan sang ibu, lalu Tante Manda di sebelah Mas Rey. Sedangkan Vito duduk di sebelah Tante Manda dan berhadapan denganku.


Ia sempat melirik Vito dengan tajam. Namun segera ia mengabaikannya.


"Maaf, Bu. Saya cuma kaget karena saya kira Rey mengajak dinner berdua aja. Ternyata sudah ramai begini di sini." Kembali ia berusaha terlihat biasa saja.


Jujur aku kagum dia masih bisa berusaha setenang itu di saat semuanya sudah terbongkar seperti ini.


Ibu mertuaku tersenyum remeh. "Tentu saja kami berkumpul disini. Hari ini sangat spesial. Terutama bagi kamu, Manda."


"Bagi saya?" Tante Manda terkekeh pelan. "Ada apa dengan saya, Bu?" Ada gugup dari nada bicaranya.


"Rey sudah mengatakan tadi, seseorang yang sangat spesial kami undang malam ini khusus untuk menemui kamu."


"Si-siapa, Bu?" Entah bagaimana, Tante Manda masih saja berpura-pura.


"Pria muda di sebelah kamu. Bukankah kamu mengenalnya dengan sangat baik?"


Seketika Tante Manda pucat. Wajahnya seputih may^t. "Maksud ibu apa? Saya tidak mengenalnya. Say-saya pernah melihatnya, dia bukannya temannya Danis? Atau mungkin pacar Danis?"


"Kamu gak usah pura-pura lagi, Man."


Mendengar Tante Manda menghubungkanku dengan Vito, Mas Rey nampak tak terima.


"Pura-pura apa, Rey? Aku beneran gak kenal sama dia!" Ucapnya.


Segera tangan Mas Rey menyambar sebuah remote yang tergeletak di tengah meja. Ditekannya sebuah tombol dan seketika layar LED yang berseberangan dengan ibu mertuaku menyala, menampilkan penggalan video dimana Tante Manda berciuman dengan Vito di sebuah ruangan.


Sontak aku dan semua orang kecuali Vito yang masih menunduk, terkesiap melihat video yang menampilkan adegan yang cukup vulg^r itu. Aku sampai bertanya-tanya, dimana itu? Darimana Mas Rey mendapatkan bukti valid seperti itu?


Tante Manda bangkit dari duduknya sampai kursi di belakangnya berderit nyaring. "STOP!" Teriaknya dengan suara yang menggelegar.

__ADS_1


Jika aku menjadi Tante Manda, aku akan sangat malu dipertontonkan hal seperti itu di depan semua orang seperti ini.


__ADS_2