
"Dan? Kamu kenapa? Sakit?" Lamunanku tersadar karena tangan Om Rey yang menyentuh keningku.
"Eng-enggak Om." Pikiranku masih saja sibuk dengan apa yang baru saja aku lihat.
"Beneran? Terus kenapa kamu ngelamun gitu?" Tanya Om Rey khawatir.
Pikiranku sibuk menimang-nimang, apakah aku akan mengatakan tentang Tante Manda padanya? Aku begitu ingin mengatakannya, tapi aku yakin ini akan sangat menyakitkannya. Bagaimanapun juga ia pernah mencintai Tante Manda selama bertahun-tahun sebelum aku datang. Pasti tak semudah itu perasaannya terhadap Tante Manda hilang.
"Gak apa-apa, Om." Kuputuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. "Aku cuma ngantuk aja." Ucapku seraya menguap, aku memang sudah sangat kelelahan karena aktivitasku sejak pagi hari.
"Ya udah kamu tidur aja. Nanti Om bangunin kalau udah nyampe ya." Pandangannya masih terfokus ke jalanan. "Kursinya mau dikebelakangin gak? Biar nyaman?"
Mendapat perhatian darinya seperti ini setelah melihat bagaimana kelakuan Tante Manda, membuat aku merasa semakin miris. Benar-benar tak habis pikir. Tante Manda benar-benar tidak punya hati. Bagaimana bisa dia menyia-nyiakan laki-laki sebaik Om Rey dengan berselingkuh dengan pria lain? Kurangnya Om Rey apa?
"Dan?" Tegurnya lagi.
"Iya, Om. Nanti bangunin aku ya kalau udah sampai." Ku tarik tuas di sebelah kiriku dan seketika sandaranku merendah dan aku bisa duduk dengan nyaman.
Hingga tak terasa akupun terlelap. Kesadaranku kembali saat aku merasa Om Rey akan menggendongku. Tangan Om Rey sudah berada di belakang pundakku, dan tangan lainnya sudah berada di belakang lututku.
"Om... kenapa gak bangunin?" Wajah kami begitu dekat.
"Kamu tidur aja biar Om gendong kamu." Tatapannya hangat menenangkan.
Aku menggeleng dengan wajah yang mengantuk. "Nanti Om keberatan. Aku jalan aja."
Om Rey tak menjawab. Ia sibuk menatapku. Entah apa yang dipikirkannya. Sedangkan, sebuah pertanyaan tiba-tiba saja muncul di benakku.
Kapan terakhir kali Om Rey melakukannya dengan Tante Manda ya?
Aku sendiri merasa aneh sekali tiba-tiba saja aku terpikirkan tentang itu.
Tanpa sadar mataku tertuju pada bibir Om Rey. Bibir tipis dan merah muda, yang sudah menciumku beberapa kali. Perasaanku terdorong untuk menyentuhnya.
"Jangan, Dan..." Lirihnya saat tanganku mulai menyapu bibirnya.
"Kenapa jangan..." Jawabku lirih.
"Ini... udah terlalu larut. Bahaya..." Nada bicaranya menggantung.
Beberapa saat Om Rey terpaku. Dia pasti sangat syok. Aku sendiri syok. Apa yang aku lakukan ini pasti membuatnya berpikir bahwa aku memintanya untuk menciumku lagi.
__ADS_1
Tapi itu memang benar, aku ingin diciumnya lagi.
Apa tidak apa-apa kami melewati batas? Hatiku bertanya.
Aku melihat Tante Manda berselingkuh dengan mata kepalaku sendiri. Juga sebetulnya mereka masih berstatus suami istri walaupun Om Rey dan Tante Manda sedang dalam proses perceraian mereka. Kalau begitu bukankah sebetulnya aku dan Om Rey juga berselingkuh di belakang Tante Manda?
Berarti kami ini sama saja 'kan dengan Tante Manda dan pacar gelapnya itu?
Bimbang. Aku tahu yang kami lakukan dan rasakan itu salah. Tapi lihat Tante Manda. Dia saja tak pernah berpikir ini salah atau tidak. Juga, aku jamin tak pernah terpikirkan olehnya bagaimana perasaan Om Rey selama ini.
Itu artinya Om Rey juga boleh 'kan melakukan hal yang membuatnya bahagia?
Aku tahu semua itu hanyalah pembenaran saja. Pembenaran yang membuat aku semakin ingin membalas perbuatan Tante Manda.
Tubuhku meremang aneh karena pikiran itu. Dan bibirku begitu saja melontarkan sesuatu yang gila.
"Aku ingin cium Om lagi."
Seketika Om Rey menjauh dariku dengan wajah yang syok bukan main.
Ku raih tangan Om Rey dan berkata, "Cium aku lagi, Om."
Seketika aku teringat kata-kata Fina, aku akan terbakar karena aku sudah menyalakan api sekarang. Tapi entahlah, aku tak peduli. Rasa ini lebih besar dari rasa takutku akan terbakar.
Ku biarkan bibir kami saling tert^ut, menuruti entah apa yang kini menguasaiku. Semakin lama ia semakin dalam menciumku. Dibaringkannya tubuhku di tempat tidurnya dan kembali menyentuhku. Dari bibirku, turun menuju leherku, dikecupnya dengan penuh gelora, dengan tangannya mulai melucuti satu persatu kancing blouse yang aku kenakan.
Aku pasrah. Aku akan biarkan Om Rey menyentuhku. Agar setidaknya kedudukan Om Rey satu sama dengan pengkhianatan yang sudah Tante Manda lakukan.
Kemudian blouse hitamku sudah berhasil terlepas dari tubuhku. Dilanjutkannya dengan membuka kaitan yang berada di punggungku, perlahan ia meraih tali di kedua pundakku dan menurunkannya. Seketika buk!t kemb^rku terbebas.
Aku tak tahu rasanya akan sangat semendebarkan ini. Om Rey pun pastilah merasakan hal yang sama terlihat dari tatapannya yang tertuju pada area pribadiku itu tanpa berkedip sama sekali.
Beberapa saat ia terdiam. Nafasnya menderu.
"Om...?" Ku raih tangannya, menyadarkannya.
"Dan...Om..." Wajahnya berubah gelisah.
Akupun bangkit dari posisi berbaringku dan berinisiatif untuk menciumnya lagi. Seperti yang dilakukannya tadi, ku raih sweater yang membalut tubuhnya, dan kini aku bisa melihat tubuh sempurnanya tanpa tertutup apapun.
Ku sentuh dada bidang yang sudah tak berbalut kain apapun itu. Ku tatap wajahnya yang lagi-lagi gelisah.
__ADS_1
"Om boleh kok sentuh aku..." Ku yakinkan lagi dirinya yang kini terlihat ragu.
Tak melihat ada pergerakan darinya, ku ambil tangannya dan menaruhnya di salah satu buk!tku.
"Danisa... Tolong..." Lirihnya.
"Gak apa-apa, Om. Aku mau Om yang pertama buat aku."
Tangannya mulai meremasku, sepertinya kata-kataku berhasil membuat sesuatunya kembali terbangun. Seketika des^ahan lolos dari bibirku, membuatnya mulai terdorong untuk manj^mahku lebih dalam lagi.
Mulutnya mulai melahap punc^kku. Membuatku gila. Kutumpukan tubuhku pada lutut hingga kedua area pribadiku itu berada sejajar dengan bibirnya. Tanganku menjambak pelan rambut hitamnya, menikmati sensasi yang ditimbulkan dengan apa yang Om Rey lakukan padaku.
Tiba-tiba ia melepaskanku dan beringsut dari tempat tidur, menjauh dariku.
"Om..?" gumamku, sungguh tak mengerti kenapa tiba-tiba ia menghentikannya di saat aku benar-benar menikmatinya.
Om Rey menjauh menjambak rambutnya kesal. "Kita gak boleh sampai sejauh ini, Dan." Ia masih membelakangiku. "Pakai baju kamu."
Seketika aku tertegun.
"Kenapa, Om?"
"Ini salah, Danisa! Kamu keponakannya Manda!" ucapnya frustasi.
Tiba-tiba saja aku merasa sangat kesal, marah, dan juga malu. "Sejak Om cium aku pertama kali! Sejak Om bilang sayang sama aku, Om udah sangat tahu dan sadar kalau aku keponakannya Tante Manda! Terus kenapa Om malah kayak gini di saat aku udah mau kasih pengalaman pertama aku buat Om!"
Om Rey berbalik dan mendekat. Ia meraup pipiku. "Om sangat hormatin kamu, Om ngehargain kamu, Sayang. Om sayang banget sama kamu. Tapi..."
"Kenapa? Om gak mau?" Air mataku menggenang begitu saja, antara sedih dan kesal karena harga diriku yang terluka.
"Om mau, Danisa. Om mau sekali." Kedua matanya menunjukkan sekali keseriusan dari ucapannya. "Kamu gak tahu gimana Om selama ini menahan diri buat gak nyium kamu? Om sangat tersiksa. Tapi Om gak bisa sampai melakukan itu."
Kuhempaskan kedua tangannya yang meraup pipiku. "Kenapa gak bisa? Tante Manda aja ngelakuinnya sama laki-laki lain! Om emang gak mau ngebales perbuatannya Tante Manda?! Om juga bisa lakuin ini sama aku!"
Om Rey bergeming. Ia terdiam mematung, sepertinya sama sekali tak menyangka aku mengetahui semua itu.
"Kamu... tahu dari mana?" Lirihnya ragu.
Terlanjur kesal akhirnya aku meraih blouseku dan memakainya lagi.
"Danisa..." Tangan Om Rey mencoba menahanku.
__ADS_1
Kutangkis tangannya dan keluar dari kamarnya dengan terburu kemudian ku tutup pintu kamar itu dengan kerasnya, meluapkan rasa kesal dan maluku yang menjalar ke setiap sendi di tubuhku.