Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 30: Pelakor itu Keponakanku


__ADS_3

Amanda's Point of View


Vito mencengkram erat pinggang Amanda saat ia sampai pada punc^k kenikm^tannya. Dikecupnya punggung polos Amanda yang ada di hadapannya. Ia ambruk ke sebelah kiri dan menetralkan deru nafasnya. Begitu juga Amanda, ia bangkit dari posisi merangkaknya dan terlentang di sebelah Vito.


"Wait." Amanda merasakan sesuatu yang salah pada inti tubuhnya. "Kamu gak pakai pengam^nnya?!" Teriak Amanda panik.


"Aku lepas tadi. Lagian biasanya juga gak pernah pakai. Gak enak pakai itu." Ucap Vito yang masih terlentang di samping Amanda, dengan mata yang tertutup masih menetralkan nafasnya.


Amanda bangkit dan menatap nanar pada Vito. "!UD Tante baru Tante lepas, Vito!!"


Sontak Vito membuka matanya. "Kenapa dilepas?"


"Udah lima tahun! Udah waktunya Tante lepas! Rencananya Tante baru akan pasang lagi saat Tante dapet bulan ini!" Amanda panik sepanik-paniknya. Karena melakukan kegiatan itu adalah kebutuhan baginya, kegiatan yang akan selalu ia lakukan hampir setiap harinya, maka ia selalu dengan telaten mengecek kapan masa suburnya, untuk berjaga-jaga. Apalagi tidak ada pelindung yang dipasangnya sekarang.


Dan saat ini, ia berada di masa suburnya.


Amanda cemas bukan main. Vito pun bangkit dari posisi berbaringnya. "Kenapa Tante gak bilang?!"


"Harusnya kamu ngerti dong kenapa Tante minta kamu pakai pengaman!"


"Ya mana aku tahu kalau Tante gak bilang!!" Vito meraih celananya yang tergeletak di lantai dan segera memakainya. "Harusnya gak usah ada salam-salam perpisahan segala! Jadi gini 'kan!"


"Okay, kita harus tenang dulu, Vit." Amanda mencoba menenangkan dirinya. "Dulu sama Rey, pas malam pertama, Tante pernah berhubungan tanpa pengaman, tapi Tante gak hamil, kok. Iya, sekarang juga pasti kayak gitu."


Vito yang sudah berpakaian lengkap, berjalan dengan kesal ke arah pintu dan tak menggubris Amanda. Segera Amanda membungkus tubuhnya dengan sprei dan dengan terburu dan menyusul Vito.


"Vito! Kamu tenang, dong." Amanda meraih tangan Vito.


Ditangkisnya tangan Amanda. "Tenang, Tante bilang? Kalau Tante hamil gimana?! Aku gak mau punya anak dari hasil kayak gini!"


"Tante gak akan hamil!!"


"Tante yakin?" Tantangnya.


Seketika Amanda menciut. Ia bungkam karena dirinya sama sekali tidak yakin.


"Sekarang lakuin sesuatu. Jangan sampai Tante hamil. Aku gak mau tahu, ini adalah terakhir kali aku ketemu Tante! Jangan hubungi aku lagi!"


Vito pergi setelah membanting pintu apartemen Amanda dengan sangat keras.


"SIAL!!" Teriak Amanda tak kalah kesal dan panik.


Setelah itu ia ke kamar mandi dan mencoba membersihkan inti tubuhnya dari sisa-sisa cairan milik Vito yang sudah terlanjur menyembur di rahimnya.

__ADS_1


"Gue gak akan kenapa-kenapa. Gue gak akan hamil." Ujarnya masih dalam keadaan panik, air mata mulai mengalir dari matanya. Ia terus menghujani tubuhnya dengan rintik air dari shower di kamar mandinya.


***


Keesokan harinya, di sore hari, Amanda datang ke rumah Rey. Ia menekan bel berkali-kali, tapi tak ada jawaban. Ia mencoba menghubungi nomor mantan suaminya itu, tapi tak tersambung. Ternyata nomornya sudah diblock. Kemudian ia mencoba menghubungi Danisa. Tapi Danisa tidak menjawabnya.


"Pada kemana sih?!" Ujarnya kesal.


Kemudian ia pergi menuju ke sebuah rumah mewah nan megah milik sang ibu mertua, atau sekarang ia harus menyebutnya mantan ibu mertua. Hari itu ia akan mencoba untuk menemui Rey ataupun ibu mertuanya. Ia akan mencoba untuk mengembalikan keadaan seperti semula.


Ia tak bisa kehilangan Rey.


Sekalipun ada banyak laki-laki yang selama ini menjadi pengh!bur baginya, menemaninya bersenang-senang, tapi hatinya tetaplah milik seorang Reyhan Panca Kusuma. Ia sadar akan hal itu saat kemarin, di pagi hari saat akan berangkat ke kantor, sebuah surat datang kepadanya. Surat dari pengadilan, yang menyatakan bahwa ia sudah resmi bercerai.


Saat itu Amanda sadar, bahwa cintanya terhadap Rey ternyata belum padam. Selama ini keegoisannya membuatnya menginginkan Rey tetap seperti saat mereka berada di Jepang. Berstatus suami istri, hidup bersama walaupun tak ada keharmonisan di rumah tangga mereka. Tetap melakukannya walaupun ia tahu Rey mau melakukan itu hanya demi mendapatkan anak yang tak akan pernah didapatkannya. Tak ada cinta yang ia rasakan dari Rey pun tak apa.


Amanda sungguh tidak peduli itu.


Ia hanya ingin tetap memiliki laki-laki sempurna itu, meskipun ia tahu Rey terluka karena perbuatannya.


Semuanya berjalan lancar bagi Amanda selama lima tahun terakhir. Tapi kehadiran wanita itu, selingkuhan Rey itu, yang membuat semuanya kacau seperti ini. Jika perempuan itu tidak ada, mungkin hubungannya dengan Rey akan baik-baik saja.


Baik-baik saja dalam versi Amanda tentunya.


Setiap kali mengingat perempuan yang sudah merebut Rey yang ia bahkan belum ketahui siapa, membuat darahnya mendidih. Siapa perempuan yang berani mengambil suaminya itu?


Mobil yang Amanda kendarai akhirnya tiba di gerbang rumah dengan halaman yang sangat luas itu. Ia menyalakan klakson, agar satpam yang berjaga membukakan pintu untuknya. Namun Satpam itu tidak membukakan gerbang dan malah menghampiri Amanda.


"Maaf Bu Manda 'kan? Ibu tidak diperkenankan masuk. Di dalam sedang ada acara dan yang diundang hanya keluarga saja." Terang Satpam itu.


"Saya juga anggota Keluarga Kusuma! Saya istri dari putra bungsu Bu Sekar! Jangan gak sopan ya kamu!!" Bentaknya.


"Maaf, Bu. Pesan dari Bu Sekar, anda tidak diizinkan masuk ke rumah ini. Untuk selanjutnya anda harus membuat janji dulu jika akan bertemu dengan Bu Sekar ataupun keluarganya."


Beberapa saat Amanda berdebat dengan satpam itu, hingga akhirnya ia menyerah. Ia parkirkan mobilnya tak jauh dari rumah itu. Ia mencoba untuk menelepon Danisa lagi, juga nomor siapapun itu agar ia bisa bertemu dengan Rey.


Tak lama, sebuah mobil datang. Mobil SUV putih milik Rey. Segera ia keluar dari mobilnya dan mengejar mobil yang mulai memasuki halaman rumah itu.


"REY!" Teriaknya. Mobil itu terus melaju memasuki halaman lebih dalam. Amanda yang dilarang masuk, tertahan di gerbang.


Amanda terus berteriak memanggil sang mantan suami. Rey pun keluar dari kursi kemudi, bersamaan dengan seorang gadis yang juga keluar dari kursi penumpang mobil itu.


"Re..." Amanda menghentikan teriakannya saat menyadari siapa perempuan itu.

__ADS_1


"Danisa...?" Gumamnya tak percaya.


Amanda melihat Rey berjalan menghampiri Danisa dan mereka tertawa bahagia kemudian mulai memasuki rumah dengan tangan yang bertaut. Bahkan, Rey mencium puncak kepala Danisa saat sampai di ambang pintu rumah.


"Enggak... Gak mungkin pelakor itu Danisa! Rey selingkuh sama keponakan gue sendiri?" Ia bermonolog dengan rasa terhenyak yang bercokol di hatinya.


Sore itu juga ia segera melajukan mobilnya menuju Bandung. Ia pergi ke rumah sang ayah. Dimana disana tinggal juga sang kakak, Diana, ibu dari Danisa.


Malam sudah mulai larut saat ia tiba di rumah tempat ia dibesarkan. Segera ia mengetuk rumah sederhana di satu perumahan itu.


Terdengar sahutan dari dalam dan kemudian pintu terbuka. Tanpa salam, ataupun menyapa, Amanda langsung saja berteriak melontarkan emosinya.


"BAPAK TEGA!!"


"Manda, kamu..." Pria tua beruban itu begitu terkejut dengan kedatangan putri keduanya yang tahu-tahu  memakinya.


"Kenapa bapak gak bilang kalau Rey pernah kesini buat ngembaliin aku ke Bapak?! Aku cinta sama Rey, Pak! Bapak ini orang tua macam apa?!"


"Rey sudah cerita apa yang kamu lakukan di belakangnya. Bapak malu, Manda!"


"Ini rumah tangga aku!! Bapak harusnya bujuk Rey supaya gak cerai sama aku! Bapak malah..." Amanda terisak hingga ucapannya terjeda.


"Manda?" Seorang perempuan bertubuh kurus baru saja memasuki rumah. Ia baru saja dari rumah tetangganya untuk mengambil daftar pesanan untuk kue basah yang akan dibuatnya esok hari.


Amanda yang emosi, menatap bengis pada sang kakak. "Dasar gak tahu terima kasih!!"


PLAK!!


Wajah Diana tertoleh kesebelah kanan setelah pipi kirinya ditampar oleh sang adik.


"MANDA!" Karsana langsung membentengi sang putri pertama dari putri keduanya. "Kenapa kamu mukul dia?! Dia kakak kamu!"


"Dia bukan kakak aku! Dia cuma perempuan yang gak tahu diri! Gak tahu terimakasih!"


Diana yang tak paham dengan duduk masalahnya hanya bisa tertegun sambil memegang pipinya yang berdenyut. "Apa maksud kamu, Man?"


"Selama ini aku selalu ngasih kalian uang! Aku bantuin Mbak Dian buat bayar sekolah Danis, keperluan Danis, dan juga buat berobat Bapak! Gara-gara Mbak nitipin Danis di rumah Rey, sekarang Rey sama Danis pacaran!! Keponakan yang udah aku bantuin segala macam keperluannya, malah nusuk aku dari belakang! Aku bener-bener dikut^k karena punya keluarga kayak kalian!! Masih pura-pura gak ngerti kalian?! KALIAN GAK TAHU DIRI!! GAK TAHU TERIMAKASIH!! "


Syok. Diana dan Karsana hanya terdiam, terkejut bukan main.


"Itu gak mungkin, Manda! Rey itu berusia 12 tahun lebih tua dari Danisa!" Karsana sama sekali tak pernah menyangka hal itu terjadi. Di matanya Danisa hanyalah anak-anak, sedangkan Rey merupakan pria yang sudah dewasa. Rasanya tak mungkin mereka memiliki hubungan seperti itu.


"KENAPA GAK MUNGKIN?! BUKTINYA SEKARANG UDAH KEJADIAN!!" Histeris Amanda masih belum reda. "Lihat aja, kalau Bapak dan Mbak Dian ngerestuin mereka untuk menikah, aku gak akan maafin kalian semua!"

__ADS_1


__ADS_2