
Hari berikutnya kami tidak mengurung diri di kamar lagi. Kami melakukan banyak kegiatan dan mengunjungi beberapa destinasi wisata. Walaupun kegiatan yang bisa kami lakukan di kamar jauh lebih menyenangkan bagiku sekarang, tapi kapan lagi aku pergi keluar negeri bersama Mas Rey seperti ini? Akan sulit ada kesempatan seperti ini lagi.
Tak lupa Mas Rey menyewa seorang fotografer untuk mengabadikan momen bulan madu kami ini sehingga foto-foto dan video yang didapat sangat-sangat bagus. Akun instagram milikku langsung saja penuh dengan segala macam kegiatan bulan madu kami.
"Mas, beneran gak punya instagram?" Tanyaku tercengang, saat kami beristirahat untuk makan siang sebelum mengunjungi destinasi berikutnya.
"Punya, Sayang. Cuma Mas udah jarang banget buka."
"Masih ada Tante Mandanya ya?" Tidak tahu kenapa tiba-tiba aku merasa cemburu, tapi di waktu yang sama aku merasa sangat penasaran. Mengapa Mas Rey tidak mau memberitahukanku akun instagramnya.
Mas Rey menghela nafasnya seraya menyerahkan ponselnya. "Nih, kamu boleh cek HP Mas."
Aku menatapnya sesaat, merasa tidak yakin. "Beneran aku boleh lihat?"
"Boleh dong, Sayang. Kamu mau pegang HP Mas selama kita honeymoon juga boleh."
Baiklah, aku percaya. Mas Rey memang tidak lagi menyimpan hal-hal mengenai mantan istrinya itu.
Aku mulai membuka akun instagramnya dan benar, tidak ada jejak tante Manda sama sekali. Isinya hanya ada foto-foto berbagai bangunan yang diambil dengan sangat estetik. "Ini Mas sendiri yang ambil foto-fotonya? Terus ini bangunan-bangunannya Mas yang buat?"
"Iya. Itu beberapa ada yang Mas desain sendiri. Sisanya ada yang didesain sama temen Mas dan dosen Mas, dan arsitek-arsitek favorit Mas." Mas Rey menunjukkan beberapa mahakaryanya yang dimana ialah otak di balik bangunan-bangunan megah nan indah itu. Bangunan itu ada yang berupa gedung perkantoran, museum, perpustakaan, mall, sampai tempat ibadah. Dan hampir semuanya ada di luar negeri.
"Mas, kok bisa kepikiran sih bikin bangunan sebagus ini?" Aku masih menatap foto-foto itu dengan takjub. "Mas keren banget." Aku sampai menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Makasih, Sayang. Mas seneng banget kamu mengapresiasi pekerjaan Mas." Ucapnya tulus.
"Sebagai istri, aku harus dong mengapresiasi pekerjaan Mas. Tapi kalaupun aku bukan istrinya Mas Rey, misal aku orang lain, aku juga bakal tetep setakjub ini sama karya-karyanya Mas. Karena emang sebagus dan sekeren itu."
Aku masih sibuk membuka satu persatu foto-foto itu, tanpa sadar Mas Rey sejak tadi melihat terus ke arahku. "Kenapa, Mas?" Tanyaku saat mulai menyadari tatapannya terus tertuju padaku.
"Mas bingung aja, apa yang kurang dari kamu sih, Sayang? Kamu itu bener-bener istri impian Mas selama ini."
Wajahku sontak memerah. "Istri impian apaan, Mas. Mas belum tahu kurangnya aku gimana. Nanti malah ilfeel sama aku lagi kalau udah tahu."
Mas Rey menggeleng. "Di mata Mas, kamu itu sempurna."
__ADS_1
Ku pukul pelan pipinya saking salah tingkahnya. "Mas ih, jangan gombal."
"Gak gombal, Sayang. Beneran."
Ku alihkan pandanganku karena malu, bibirku tak bisa berhenti tersenyum.
"Sayang. Lihat sini." Mas Rey meraih rahangku dan memintaku untuk melihat ke arahnya.
"Apa, Mas?"
"Mas sekarang ngerti kenapa Mas harus kesepian selama ini."
"Kenapa?"
"Karena Mas harus nunggu kamu tumbuh jadi perempuan secantik ini dulu. Coba kalau Mas ketemu kamu pas kamu masih umur 15, 16 atau 17 tahun. Mas gak akan bisa langsung nikahin kamu."
"Umur aku segitu Masnya juga masih jadi suaminya Tante Manda kali." Ujarku sedikit kesal.
"Enggak. Kalau Mas ketemu kamu pas umur kamu masih 15-17 tahun, Mas juga akan langsung cerai sama Manda. Tapi sayangnya Mas belum bisa nikahin kamu, karena kamu belum cukup dewasa. Paling kita pacaran sampai kamu lulus SMA."
"Iya gak apa-apa. Karena anak SMAnya 'kan kamu. Kalau bukan kamu, Mas gak akan pacarin."
Aku tak habis pikir dengan mas Rey yang sebegitu cintanya padaku.
"Udah ah, Mas. Lama-lama aku pengen ngajak Mas pulang ke hotel." Candaku, membuat Mas Rey terkekeh.
"Ayo, pulang ke hotel yuk." Ia menanggapiku dengan serius.
"Ih aku bercanda, Mas." Sanggahku salah tingkah. "Pokoknya sekarang kita harus lanjut jalan-jalannya. Kasih istirahat kek sama aku. Masih sakit ini juga tahu." Gerutuku.
Mas Rey terkekeh gemas. "Ya udah kita jalan-jalan dulu aja sekarang." Mas Rey mendekatkan bibirnya ke telingaku, dan berbisik. "Tapi siap ya malam nanti kita lanjut lagi."
Wajahku memerah seketika. "Mas!" Tegurku.
***
__ADS_1
Hari-hari berikutnya kami lewati dengan berbagai kegiatan yang sangat padat. Berbagai destinasi wisata kami datangi dari pagi hari hingga sore hari. Sedangkan saat waktu malam tiba, setelah senja, kami menghabiskan malam dengan kegiatan panas itu. Seperti sudah menjadi kebutuhan bagi Mas Rey untuk menyentuhku.
Namun karena kegiatan yg sangat padat, dan malam hari aku kurang istirahat, di hari terakhir tubuhku sudah tak bisa mentolelir lagi. Akhirnya aku tumbang. Badanku demam dan sedikit flu. Mas Rey sampai membawaku ke dokter saking khawatirnya. Akhirnya hari itu kami tak pergi kemanapun dan beristirahat di kamar Hotel hingga waktunya kami untuk check out nanti.
"Mas ke bawah sebentar ya." Pamitnya, tapi aku tetap menggenggam tangannya.
"Mau kemana? Di sini aja, Mas. Jangan kemana-mana." Pintaku, tak ingin ditinggalkan barang sebentar saja.
"Ke minimarket sebelah hotel, Sayang. Katanya disana dijual ginseng merah. Bagus buat daya tahan tubuh. Mas pengen beliin itu buat kamu. Biar kamu cepet sehat lagi. Tunggu sebentar ya, Mas gak akan lama."
Namun entah mengapa aku tak ingin ia pergi. "Gak usah, Mas. Aku 'kan udah punya obat dari dokter tadi malem. Gak usah ya? Mas jangan kemana-mana."
Melihatku bersih keras, Mas Rey pun menyerah. "Ya udah Mas gak akan kemana-mana. Kamu istirahat ya. Mas temenin." Ia membaringkan tubuhnya di sampingku dan memelukku erat. Menepuk-nepuk punggungku hingga tanpa terasa akupun terlelap.
Hingga aku terbangun sekitar waktu makan siang. Saat ku buka mataku, kepalaku meringan. Demamku juga sudah turun.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ku temukan suamiku. "Mas Rey, dimana?" Gumamku.
Akupun mengeceknya ke kamar mandi, tidak ada. Ke ruang santai, juga tidak ada. Ku raih ponselku dan menghubunginya. Namun ternyata ia meninggalkannya di meja kantor di ruang santai.
Sepertinya Mas Rey pergi ke minimarket seperti yang tadi ia katakan. Aku pun menunggunya beberapa saat, dan aku tak berpikir yang macam-macam.
Namun satu jam berlalu. Mas Rey belum juga pulang. Perasaanku mulai tidak enak. Segera aku mengambil mantelku dan memakainya. Aku turun mengecek ke minimarket yang dimaksud tapi ternyata tidak ada.
Ku tanyakan resepsionis, dan akhirnya aku mendapat kabar tentang Mas Rey. Ia melihat Mas Rey pada pagi hari, sekitar pukul 9.00 dan belum melihatnya kembali lagi.
Seketika aku panik. "Mas Rey kemana?" Gumamku.
Pihak hotel mengizinkanku untuk melihat CCTV. Dan benar saja, Mas Rey terlihat meninggalkan hotel dan belum terlihat kembali lagi. Lalu petugas itu mengecek CCTV yang berada di luar hotel. Untung saja CCTV itu mencapai minimarket dekat hotel.
Mas Rey terlihat keluar area hotel dan masuk ke minimarket itu. Namun saat keluar dari minimarket, ia bertemu dengan seorang pria paruh baya. Mas Rey seperti mengenalnya. Mereka terlihat mengobrol beberapa saat dan pergi menuju ke arah yang berlawanan dari hotel.
Setelah itu Mas Rey tak terlihat lagi.
"Anda mengenal laki-laki itu?" Tanya petugas keamanan padaku.
__ADS_1
Aku menggeleng dengan bingung. "Tidak. Saya tidak tahu itu siapa."