
Setelah beberapa saat menunggu, Mas Rey datang. Raut mukanya tegang seketika melihat kami yang duduk di sofa di beranda halaman belakang.
Sesaat ia menatapku sedih, tak tahu apa yang dipikirkannya. Yang jelas ada di dalam situasi seperti ini, sungguh tak pernah aku bayangkan sebelumnya akan terjadi di pernikahan kami yang baru saja berjalan satu bulan.
Seketika aku rindu satu bulan di saat aku tak tahu mengenai 'perselingkuhan' mereka. Saat semua berjalan dengan selancar dan semanis itu.
Segera aku memalingkan wajahku.
"Rey, duduk." Perintah ibu mertuaku.
Dengan lunglai, Mas Rey duduk di hadapan sang ibu, dengan aku di sebelah kanannya dan Tante Manda di sebelah kiri.
"Apa ini foto asli?" Tanpa basa-basi, ibu mertuaku menyimpan ponselnya di meja di hadapan Mas Rey. "Betulkah ini kamu dan Manda ketika kamu sedang berbulan madu dengan Danis?"
Mas Rey dengan wajah pasrah berkata. "Rey gak mau bohong. Betul itu adalah Rey, Bu."
Sontak ibu mertuaku memukul meja dengan kerasnya. "Kamu sudah mengecewakan ibu, Rey. Kamu mengecewakan ibu untuk kedua kalinya! Tidak hanya ibu, kamu tak berpikir mengenai istri kamu? Dia baru saja kamu nikahi, dia relakan masa mudanya untuk menikahi kamu, tapi ini yang kamu lakukan?!"
"Tolong kasih Rey kesempatan untuk menjelaskannya, Bu. Ini gak seperti kelihatannya." Ucap Mas Rey frustasi.
Beliau terdiam beberapa saat sambil menatap wajah sang putra.
"Baik, kita dengarkan dari sudut pandang kamu." Ibu mertuaku menjawabnya dengan tenang.
Aku kagum karena beliau bisa begitu bijaksana, meskipun aku tahu hatinya terluka sama sepertiku.
"Rey dijebak sama Manda, Bu." ucapnya seraya menatap Tante Manda dengan penuh benci.
Ditatap seperti itu, Tante Manda hanya terdiam menunduk dengan wajahnya yang sedih.
"Kamu gak perlu akting, Man." Tegur Mas Rey dengan benci. "Ngapain kamu sampai mendatangi ibu seperti ini? Sadar, Man, kita udah selesai. Aku udah lepasin kamu seperti yang selama ini kamu mau, tapi kenapa kamu masih ganggu hidup aku? Atau apakah semua ini semata-mata karena kamu pengen balas dendam karena kamu masih gak terima karena aku nikahin keponakan kamu sendiri?"
Kata-kata Mas Rey terdengar sangat masuk akal. Tante Manda sampai gelagapan dibuatnya. Juga raut wajah Mas Rey yang tidak gentar dan menatap Tante Manda dengan tajamnya, semakin meyakinkanku bahwa Mas Rey tidak berbohong.
"Rey, aku tahu selama ini aku salah. Tapi kali ini aku sadar kalau kamu adalah satu-satunya laki-laki yang aku cinta. Aku gak mau kita pisah gitu aja. Aku... "
"Kita udah selesai!" Potongnya. Mas Rey sama sekali tidak terlihat iba oleh air mata dan nada bicara Tante Manda. "Kamu gak tahu betapa bencinya aku sekarang sama kamu, Man? Bahkan aku gak akan segan melaporkan kamu ke polisi karena kamu udah fitnah dan mencemarkan nama baik aku."
__ADS_1
Wajah Mas Rey masih sekeras tadi, ia tak main-main. Perlahan aku mulai percaya kembali padanya. Pria di sampingku ini benar-benar seperti suamiku yang aku kenal selama ini. Meskipun demikian, belum bisa sepenuhnya aku mempercayainya. Terlebih dengan bukti sevalid itu.
Tante Manda menggeleng cepat. "Dengerin aku dulu, Rey. Aku... "
"Bu, " Kembali Mas Rey memotong. "Rey akan jelaskan semuanya. Aku gak pengen ibu ataupun Danis salah paham."
Ia menatapku sendu. "Akan Mas ceritain semuanya. Percaya atau enggak, Mas serahkan sama kamu. Yang jelas Mas akan berkata jujur. "
Aku kembali menunduk. Tak ingin bersih tatap dengannya.
"Di hari terakhir bulan madu kami, Danisa sakit. Walaupun malemnya Danisa udah Rey bawa ke dokter, Rey pengen Danisa minum ekstrak ginseng merah yang dijual di minimarket deket hotel, biar dia cepet pulih. Rey ke bawah saat Danis tidur buat beli ginseng itu. Terus Rey ketemu sama supir dari pimpinan tempat Manda Kerja waktu di Jepang. Dia ngajak Rey buat minum kopi, katanya ada yang mau diobrolin sama Rey." Terang Mas Rey.
"Supir Mr. Thomas Akagi?" Tanya ibu mertuaku.
"Iya. Ibu kenal juga 'kan sama dia? Dia sugar d^addy nya Manda selama lima tahun kami berada di Jepang."
Apa? Tante Manda menjadi simpanan dari bosnya sendiri?
"Kamu yakin?" Ibu mertuaku menatap Mas Rey tak percaya, dan melihat ke arah Tante Manda dengan tatapan jij!k.
"Selama ini Rey nutupin ini dari ibu dan semua orang. Tapi kali ini Rey rasa ibu harus tahu sampai ke detailnya. Akagi Thomas dan supir kepercayaannya itu yang selama ini selalu bantu Manda nutupin semua perselingkuhannya dari Rey." Ditatapnya Tante Manda dengan bengis. "Bahkan saat Rey udah cerai, orang itu masih bantu Manda. Supirnya ngasih minuman sama Rey sampai Rey gak sadarkan diri. Rey dibawa ke sebuah kamar hotel dimana udah ada Manda di sana. Dalam keadaan Rey gak sadar itulah, Manda ngambil foto itu."
"Kamu benar-benar ular! Kamu perempuan yang seburuk-buruknya perempuan! Saya merutuki diri saya sendiri karena pernah membiarkan kamu menikah dengan anak saya!!" Murka ibu mertuaku.
Aku sendiri tak paham ternyata kelicikan Tante Manda bisa sampai pada level seperti itu. Berani sekali dia memfitnah suamiku!
"Saya melakukan itu karena saya masih mencintai Rey! Saya gak mau kehilangan Rey!" Teriaknya histeris.
"Kamu cuma mau balas dendam, Man. Kamu bukan masih ada rasa sama aku." Sanggah Mas Rey.
"Tapi semuanya bukan sepenuhnya salah aku! Saat di kamar itu kamu juga nyentuh aku, Rey! Kita berhubungan lagi seperti dulu! Sampai... "
"AKU GAK NYENTUH KAMU SAMA SEKALI, MANDA!" Kini Mas Rey yang selalu terlihat berkepala dingin dan sabar, berteriak dengan suara yang menggelegar, tak bisa menyembunyikan lagi emosinya.
"Iya, kamu udah nyentuh aku, Rey!" Dengan terburu ia merogoh tasnya dan mengeluarkan secarik kertas kecil. Ia meletakkannya di meja, dihadapan kami. Awalnya aku tak tahu apa itu, namun hatiku mencelos setelah menyadari bahwa itu adalah hasil foto USG.
"Aku hamil." Ucap Tante Manda membuat kami begitu tercengang.
__ADS_1
Saking mengejutkannya berita ini, kami terdiam beberapa saat, mencerna semuanya.
"Saya hamil anak Rey, Bu. Ibu bisa lihat akhirnya saya mengandung cucu ibu. Usianya sudah empat minggu, Bu."
Hatiku remuk, seremuk-remuknya.
Kini walaupun aku percaya Mas Rey bener-benar dijebak oleh Tante Manda, tapi kenyataannya, akibat dari insiden itu sudah sampai di titik seburuk ini.
"Gak mungkin... " Gumam ibu mertuaku.
"Saya melakukan itu dengan Rey tepat saya melepas IUD saya. Saya juga tidak menyangka saya akan langsung hamil." Tante Manda meraih tangan Mas Rey. "Rey, akhirnya aku hamil. Ini anak kamu. Itulah kenapa sekarang kamu harus nikahin aku lagi, Rey."
Pemandangan itu sungguh membuatku lemas. Air mataku bahkan mengalir dengan deras tanpa aku terisak. Mas Rey masih terdiam di posisinya, menatap foto USG di hadapan, dan satu tangannya digenggam erat oleh Tante Manda.
Semua ini membuat kata-kata Tante Manda seakan benar, bahwa aku adalah seorang pelakor. Seakan kisah ini adalah kisah Tante Manda dan juga Mas Rey, aku bukanlah siapa-siapa kecuali orang ketiga yang hadir diantara mereka.
Tak tahan, aku pun bangkit dan berlari menuju ke dalam rumah, melewati beberapa ruangan hingga aku pun sampai di teras.
Aku terus berlari menuju gerbang utama dengan isak tangisku. Hingga tanganku diraih oleh seseorang, membuat lariku terhenti.
"Mau kemana lagi kamu, Dan." Tanya Mas Rey dengan nafas tersengal.
"Lepasin!" Aku terus mencoba melepaskan cengkraman tangannya. Aku bersiap pada kuda-kuda untuk membantingnya lagi. Namun kali ini tubuhku malah dikuncinya. Ku coba untuk melepaskan diri tapi kali ini Mas Rey benar-benar mengunci tubuhku hingga aku tak bisa bergerak sama sekali.
Ku coba tendang tulang keringnya dengan sangat keras tapi ia tetap pada posisinya.
"Kamu boleh lakukan apapun pada Mas. Patahkan kaki Mas jika kamu mau. Tapi jangan harap kamu bisa pergi dari Mas lagi." Ucapnya sambil menahan sakit.
"LEPASIN!" Teriakku.
"Kamu bisa siksa Mas, tapi jangan tinggalkan Mas. Mas gak akan ngebiarin itu."
Dengan masih terisak akupun berkata, "Lepasin aku, Om."
"Apa? Om... Kamu bilang?"
Isakku tak berhenti. Aku mengasihani diriku sendiri. "Iya. Harusnya aku gak usah ada diantara Om sama Tante."
__ADS_1