Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 64: Tertangkap Basah


__ADS_3

Rey's Point of View


Rey terkejut bukan main. Ternyata laki-laki yang bersama Amanda, yang mengecup perutnya, yang berhubungan badan dengan Amanda di ruang tengah penthouse pemberiannya, adalah teman dari sang istri yang tadi baru ditemuinya.


Vito yang ia kenal sebagai seorang laki-laki yang menyukai Danisa, ternyata adalah laki-laki yang menghamili Amanda?


Sungguh Rey belum bisa mempercayainya.


Ia semakin yakin bahwa ia tak salah lihat karena pakaian yang Vito kenakan di video itu, sama dengan pakaian yang Vito kenakan saat ia bertemu di depan rumah tadi.


Rey tak habis pikir, Vito bukannya menyukai Danisa? Mengapa ia melakukannya dengan Amanda? Sejak kapan mereka saling mengenal dan berhubungan?


Hubungan mereka berempat, membuat Rey terhenyak sendiri. Ia dan Danisa saling mencintai. Di satu sisi ada Amanda yang katanya masih mencintainya, juga di sisi lain ada Vito yang menyukai Danisa. Namun ada hubungan gelap yang tak pernah ia sangka-sangka terjadi, dimana Amanda dan Vito justru menjalin hubungan.


Jika Amanda dan Vito saling menyukai, kenapa mereka harus mengganggu hubungan Rey dan Danisa? Apalagi Rey melihat Vito sepertinya juga menerima kehamilan Amanda, terbukti dengan sikap Vito terhadap Amanda yang begitu memperhatikan Amanda.


Hal itu masih menjadi tanda tanya besar di dalam benak Rey.


Rey ingin membongkar semua ini, namun bukti yang dimilikinya belum cukup. Bukti rekaman ini belum bisa membuktikan bahwa Vito adalah laki-laki yang menghamili Amanda. Ia harus mencari bukti lain yang akan membuat Amanda tak bisa mengelak lagi.


Pagi harinya Rey terbangun. Ia mandi dan bersiap dengan pakaian kantornya. Ia keluar kamar dan melihat Amanda masih tertidur pulas di sofa. Rey berinisiatif membuat sarapan. Ia melihat hanya ada susu, oatmeal dan strawberry di kulkas. Rey menghela nafas, merasa nostalgia melihat kondisi kulkas yang kosong.


Dulu hal ini setiap hari terjadi. Tak ada makanan yang bisa dimakan untuk sarapan, ataupun bahan masakan yang dapat diolah. Sehingga akhirnya ia akan memesan online atau membeli makanan di perjalanan ke kantor.


Namun kali ini ia ingin membuat sarapannya sendiri dengan bahan-bahan yang ada, juga untuk sedikit menyindir Amanda. Ia menyiapkan makanan itu untuknya, dan juga untuk Amanda.


Disimpannya semangkuk oatmeal dengan potongan buah strawberry dan susu di hadapan Amanda.


"Man, bangun. Sarapan dulu." Rey menyingkap selimut yang menutupi tubuh Amanda.


Amanda mulai terbangun, ia menggeliat seraya menyipitkan matanya. Ia duduk dan kesadarannya terkumpul sepenuhnya. Ia menatap semangkuk oatmeal di depannya.


"Kenapa dilihatin aja? Dimakan." Ujar Rey dingin, seraya menyantap oatmeal yang dibuatnya.


Amanda meraih mangkuk itu dan memakannya sedikit. Wajahnya berubah. "Sayang, aku gak mual loh. Biasanya aku 'kan mual-mual kalau pagi. Gak bisa makan apa-apa."


"Ya bagus kalau gitu." Sahut Rey sekenanya.

__ADS_1


"Tapi aku gak mau makan ini. Aku pengen makan yang lain." Ia menyimpan mangkuk itu kembali di atas meja.


"Kamu banyak maunya tapi gak bisa mandiri nyiapin semuanya sendiri. Kulkas bahkan selalu kosong. Harusnya kamu isi sampai penuh. Beli bahan makanan yang kamu suka. Jadi kalau mau makan tinggal makan, tinggal masak. Selama aku gak ada gimana sih kamu makan." Rey berpura-pura berpikir saat ia tidak ada, Amanda berada di penthouse ini, tinggal sendirian.


"Soalnya..." Amanda terlihat berpikir. "Aku 'kan gak suka masak. Aku lebih suka beli. Sayang, aku lagi pengen ayam sambal kemangi. Enak deh kayaknya. Beliin ya?" Ujarnya dengan manja.


Rey menatap Amanda malas. Mangkuk yang sudah kosong ia simpan di atas meja. "Aku pergi duluan."


"Rey, kamu denger gak sih. Aku pengen ayam sambal kemangi!" Ujarnya jengkel.


"Kamu 'kan ada aplikasi ojek online. Pesen sendiri 'kan bisa. Aku mau berangkat." Rey menggunakan blazernya dan berjalan menuju pintu.


"Ini anak kamu yang mau! Bukan aku!" Ujar Amanda seraya bangkit dari sofa dan meraih lengan Rey.


Rey menatap perut Amanda dan tersenyum sinis. "Anak aku?"


"Iya. Dia tuh suka bikin aku ngidam macem-macem tahu gak. Harusnya seudah kita nikah kamu itu siap siaga beliin apapun kepengen aku! Dari awal kita nikah lagi, pernah gak sih kamu ngabulin ngidam aku?!" Teriaknya.


Rey menghempaskan tangan Amanda. "Makanya, kamu harusnya nikahin ayah dari anak yang kamu kandung. Kalau kamu nikahin dia, dia pasti akan dengan senang hati stand by dan ada buat kamu setiap kamu butuh. Bukan maksa nikah lagi sama aku yang udah jelas gak peduli dan udah males banget sama kamu."


Amanda sedikit gelagapan. "Ayah dari anak aku itu kamu, Rey! Kamu kok makin lepas tangan dari tanggung jawab kamu?!"


"Gak bisa! Harusnya kamu 'kan semalem lagi sama aku?"


Rey selesai memakai sepatunya. Ia menatap Amanda dengan dingin. "Aku kangen sama Danisa. Gak kuat pengen ketemu." Kemudian ia keluar begitu saja membiarkan Amanda yang tercengang dengan kata-kata Rey.


Di kantor, setelah waktu makan siang, Rey sedikit senggang. Ia kembali membuka ponselnya dan membuka kembali rekaman dari kamera pengintai yang ia pasang.


Ia melihat sekitar dua jam dari ia pergi meninggalkan Amanda, Vito datang dan membawakan sekeresek makanan, yang Rey yakin itu adalah ayam sambal kemangi yang diinginkan Amanda.


Rey semakin penasaran dengan hubungan mereka berdua. Amanda begitu ketergantungan pada Vito. Vito juga sepertinya dengan senang hati menuruti semua yang Amanda inginkan, tapi mengapa mereka tidak menikah saja, dan merawat bayi mereka berdua. Malah mengganggu ketentraman rumah tangga dirinya dan Danisa.


Sore harinya ia bersiap pulang ke rumah Danisa. Ia akan memberikan surprise pada sang istri. Ia berencana membeli sebuket bunga dan juga beberapa makanan dan pakaian untuk Danisa. Ia segera mengendarai mobilnya untuk pergi ke salah satu toko bunga.


Saat baru keluar dari area gedung, sebuah motor besar berwarna putih menghadangnya.


Rey akhirnya menyadari bahwa itu adalah Vito. Vito seperti meminta Rey untuk mengikutinya. Akhirnya Rey yang penasaran mengikuti kemana Vito membawa motornya.

__ADS_1


Kemudian mereka sampai di sebuah taman kota yang lumayan sepi. Vito memarkirkan motornya dan melepas helm fullfacenya.


"Keluar. Gue pengen ngomong."  Ujar Vito berdiri di sisi mobil Rey.


Rey keluar dari mobilnya, cukup penasaran juga dengan apa yang akan Vito bicarakan. Ia menutup pintu dan bersandar di mobilnya. "Mau ngomong apa?"


"Gue gak akan basa-basi. Gue pengen lo lepasin Danis." Ujar Vito dengan galaknya.


Rey merasa geli sendiri. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba ia harus melepaskan Danisa. "Lepasin Danisa?" Tanya Rey dengan sinis.


"Lo gak ngerti juga? Dengan keadaan lo yang berpoligami, emang lo kira bisa diterima sama Danis? Dia selama ini emang baik-baik aja di depan lo. Tapi di belakang lo, dia nangis. Dia ancur!"


Seketika Rey tertegun. "Danisa nangis?"


"Kenapa? Lo gak nyangka? Selama ini lo mungkin ngira Danis baik-baik aja dengan kondisi kalian bertiga. Tapi nyatanya, dia kemarin bilang waktu gue sama Fina ke rumahnya, kalau dia masih belum bisa nerima sepenuhnya keadaan kalian bertiga."


Rey berusaha untuk tidak terpengaruh dengan apa yang Vito ucapkan. Masalah ini akan ia tanyakan dan diskusikan langsung dengan Danisa.


"Kamu gak perlu ikut campur dengan rumah tangga saya. Baik rumah tangga saya dan Danisa, atau pun saya dan juga Amanda." Sengaja Rey membawa nama Amanda, ingin melihat bagaimana reaksi Vito.


"Gila. Lo bener-bener cowok munafik! Di depan Danis, lo bilang cuma sayang sama dia doang. Tapi ternyata di belakang dia, lo menikmati 'kan punya istri dua?!"


"Kamu gak tahu apa-apa. Gak usah men-judge saya." Ujar Rey masih dengan tenangnya.


"Gue tahu semuanya!!" Teriak Vito emosi. "Lo bisa gak sih, pilih salah satu? Gak usah lo 'pakai' dua-duanya!!"


"Pakai kamu bilang? Emang mereka barang? Memang kenapa kalau saya berhubungan dengan mereka berdua? Mereka adalah istri saya. Saya bisa menyentuh siapapun yang saya mau. Dan itu tidak menyalahi apapun." Rey semakin memancing Vito yang kini sudah semakin tersulut emosi.


Vito mendekat dan meraih kerah Rey. "Brengs^k!!"


Rey segera menghempaskan Vito dengan mendorongnya sekuat tenaga hingga Vito tersungkur. Tubuh Vito yang lebih kurus, tentu tidak akan bisa mengimbangi tubuh Rey yang lebih tinggi dan terlatih. "Apa hubungannya dengan kamu? Kenapa kamu begitu ikut campur dengan rumah tangga saya?" Rey sedikit meninggikan suaranya.


"Kalau lo gak bisa adil, lebih baik lo lepasin salah satu! Jangan cuma cari enaknya doang! Perihal ngabulin ngidamnya istri lo aja lo gak bisa! Dia sampai harus telat makan dan lambungnya kena! Dia sakit sendirian dan lo gak peduli itu 'kan?!"


Rey tersenyum tipis penuh arti.


Kemudian ia berpura-pura terkejut dan merasa bersalah. "Apa? Danisa sakit?"

__ADS_1


"Bukan Danis yang sakit, tapi..." Vito seketika menghentikan ucapannya. Wajahnya tegang dan panik sekali.


Rey hanya terkekeh dalam hati, 'Vito, kamu tertangkap basah.'


__ADS_2