
Empat bulan kemudian
Mas Rey menghentikan motor sport hitam yang kami tunggangi di parkiran klinik kandungan yang selalu kami datangi beberapa bulan terakhir. Aku pun turun dengan perlahan dari motor itu dan menyerahkan helm pada suamiku. Kami masuk dan menunggu antrian, karena sebelumnya kami sudah registrasi secara online.
Kami duduk di salah satu kursi tunggu di klinik itu. Mas Rey tiba-tiba mengusap perutku yang sudah membesar. "Sekarang kamu seneng, Nak, udah Papa bawa pakai motor?" Ucapnya.
Aku terkekeh pelan. "Seneng banget bisa pakai motor sport." Aku pun bergelayut manja pada lengan suamiku. "Makasih, Papa Rey Sayang."
"Mas masih ngerasa aneh sama ngidam kamu ini, Sayang." Ujarnya.
"Jangankan Mas, aku sendiri masih aneh. Mas tahu sendiri beberapa bulan terakhir aku gak pernah absen nonton motoGP. Terus kalau tiba-tiba gak sengaja denger suara motor sport aku tuh langsung kayak excited gitu loh, Mas."
"Puncaknya kamu minta buat dibeliin motor sport. Jangan terlalu sering ya minta pakai motornya." Ia masih tak habis pikir seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aku terkekeh. "Mas tahu gak dulu aku pernah loh pakai motor Vito buat keliling komplek rumah."
Mata Mas Rey langsung terbelalak. "Kamu kok baru bilang sekarang?"
"Abisnya aku takut mata Mas kayak gini nih." Ujarku seraya menunjuk ke arah dua matanya.
Ia menghentikan ekspresi marah dan terkejutnya. "Ya Mas pasti khawatir dong, kamu lagi hamil malah pengen naik motor sport?"
"Mas jangan nyalahin aku. Kalau kata Bi Karti sih, ini kayaknya ada hubungannya sama Mas yang dulu juga suka motor sport. Waktu SMA sampai kuliah Mas masuk klub motor 'kan? Mas juga suka ikut touring dan balapan. Tapi gara-gara Mas pernah jatuh, ibu jadi ngelarang Mas pakai motor lagi. Jadi jangan salahin aku kalau sekarang aku ngidamnya aneh begini."
Mas Rey terkekeh pelan. "Iya juga sih. Dulu Mas emang suka banget sama motor sport. Kalau dikasih uang sama ibu, Mas abisin buat ngemodif motor. Sampai akhirnya seudah jatuh Mas dilarang lagi main motor. Bener-bener gak boleh, sampai motor Mas dijual sama ibu."
"Iyalah, bahaya. Apalagi suami aku ini 'kan anak bungsu kesayangannya Bu Sekar." Jahilku seraya mencubit pipinya dengan gemas. Mas Rey hanya bisa terdiam pasrah mendapat kejahilan dariku.
Lalu namaku dipanggil. "Ibu Danisa Citra Seruni." Panggil seorang perawat. Lalu kamipun bergegas memasuki ruang pemeriksaan.
"Akhirnya kelihatan juga dede bayinya perempuan atau laki-laki." Dokter yang memeriksaku terlihat sumringah.
Begitu juga aku dan Mas Rey. Sejak beberapa bulan lalu, kami terus merasa penasaran mengenai jenis kel^min dari anak kami ini. Namun sepertinya bayi yang ada di dalam perutku masih begitu malu-malu. Jadi ia selalu saja berhasil menyembunyikan inti tubuhnya setiap kali kami memeriksakan kehamilan. Tapi kali ini jenis kelaminnya akhirnya menampakkan diri juga.
"Bapak dan ibu ingin mengetahuinya sekarang? Atau akan dibuat kejutan?"
Mungkin dokter itu bertanya karena siapa tahu kami akan mengadakan acara gender reveal.
"Gimana, Sayang? Kamu mau adain acara gender reveal?" Tanya Mas Rey.
Aku berpikir sejenak.
__ADS_1
"Ibu bakal setuju gak ya?" Tanyaku.
"Ibu kayaknya bakal ikut aja kok, Sayang. Sekarang terserah kamu maunya kayak gimana. Mas juga ikut aja."
Sepertinya akan seru.
Namun seketika aku teringat pada Tante Manda. "Gak usah pakai acara gitu kayaknya, Mas. Rasanya gak enak kita seneng-seneng di tengah kondisi Tante Manda kayak gitu." Ujarku sedih.
"Kita bisa adain sama keluarga besar Mas aja, Sayang. Sederhana, sambil kumpul keluarga. Kayak setiap minggu pertama di awal bulan, semua keluarga kan biasanya pada ngumpul di rumah ibu. Nah, pas itu kita bisa adain acara gender revealnya. Gimana? Kamu gak usah ngerasa gak enak terus sama Manda, Sayang."
Mas Rey juga pasti ingin memberikan kabar bahagia seperti ini kepada keluarga besarnya dengan cara yang tidak biasa. Secara, anak dari Mas Rey ini sudah sangat dinanti-nantikan oleh keluarga besarnya, terutama ibu mertuaku.
Akhirnya aku menyetujuinya. Gender reveal akan diadakan pada saat kumpul keluarga yang diadakan akhir pekan ini. Diadakan secara sederhana saja, sekedar mengabarkan jenis kelamin dari calon bayi kami dengan cara yang agak spesial.
Dokter pun akhirnya tidak menyebutkan jenis kel^min bayi kami agar menjadi kejutan bagi kami semua.
Begitulah, hari-hari kehidupanku dan Mas Rey selalu diliputi kebahagiaan sekarang.
Empat bulan lalu, Mas Rey menceraikan Tante Manda. Mau tidak mau, Tante Manda menerimanya. Setelah itu rumah tanggaku, kehamilanku, semua diberikan kelancaran dan kebahagiaan. Aku sangat bersyukur dengan semua yang terjadi.
Namun di tengah kebahagiaan kami, aku tak bisa berhenti memikirkan Tante Manda, karena kini kondisinya justru berbanding terbalik denganku.
Setelah diceraikan Mas Rey, Kakekku memutuskan membawa Tante Manda kembali ke Bandung. Ia sempat dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu. Psikisnya terguncang. Ia harus diawasi secara intensif oleh psikiater dan juga dokter Sp.Og karena keadaannya yang mengkhawatirkan.
Beruntungnya juga, Vito benar-benar membuktikan ucapannya untuk bertanggung jawab atas kehamilan Tante Manda. Ia senantiasa selalu mendampingi Tante Manda dalam keadaan terpuruknya. Setiap seminggu sekali ia pergi ke Bandung untuk menemui Tante Manda.
Dan sekitar satu bulan lalu, setelah keadaan Tante Manda sudah jauh lebih baik, akhirnya mereka melangsungkan pernikahan.
Untuk membantu finansial Tante Manda, Mas Rey membiarkan penthouse yang diberikannya kepada Tante Manda untuk dijual dan uangnya digunakan untuk kebutuhan Tante Manda sehari-hari. Semua itu kami putuskan karena Tante Manda sudah tidak memiliki penghasilan, juga Vito yang masih belum bisa mencari nafkah karena kesibukan kuliahnya.
Kehidupan yang begitu berbeda antara aku dan Tante Manda membuatku perlahan memaafkan mereka. Tak ada lagi alasan untuk membenci Tante Manda dan juga Vito setelah melihat bagaimana kehidupan mereka sekarang.
Apalagi, sampai sekarang Tante Manda masih menolak untuk bertemu denganku dan juga Mas Rey. Psikiater yang menangani Tante Manda juga mengatakan, sebaiknya ia dijauhkan dari stressor yang akan membuat psikisnya kembali labil. Akhirnya aku hanya bisa bertanya pada ibuku mengenai bagaimana perkembangan kesehatannya.
Keesokan harinya, ketika sedang makan siang, tanpa sengaja aku dan Fina melihat Vito memasuki kantin Universitas. Di kampus, kami memang sudah tak pernah lagi bertegur sapa. Terakhir aku berbicara padanya adalah pada saat pernikahannya sekitar satu bulan lalu.
"Nis, Si Vito kelihatan lebih kurus gak sih?" Tanya Fina menelisik.
"Iya. Mukanya juga kelihatan gak segar gitu." Ucapku setuju.
Kami melihat Vito baru saja mengambil nasi dan beserta lauk pauk di sebuah kedai makanan. Kemudian ia duduk di salah satu kursi dan memakan makanannya seorang diri.
__ADS_1
"Yang gue denger, dia sekarang gak ada temennya di fakultas. Masih banyak orang yang ngomongin dia." Ujar Fina iba.
"Ngomongin karena dia nikahin Tante Manda?" Tanyaku.
"Iya. Orang-orang masih ngomongin dia. Mereka sering ngatain katanya Vito dapet karma dari kelakuannya yang main sama Tante-tante. Akhirnya banyak anak-anak yang jadi targetnya si Stefan jadi pada mundur pas udah tahu kejadian si Vito."
"Baguslah, kejadian ini jadi pelajaran dan peringatan juga buat orang lain." Ucapku dengan mataku yang masih memperhatikan sosok tinggi kurus itu.
Karena merasa iba, akhirnya aku memutuskan untuk menghampirinya.
"Nis, mau kemana?" Tanya Fina saat aku beranjak dari kursiku.
"Bentar." Ucapku seraya mendekat ke meja yang ditempati Vito.
"Hai, Vit." Sapaku seraya duduk di depannya. Wajahnya begitu terkejut saat melihatku. "Boleh gue duduk di sini?"
"Boleh." Ujarnya singkat seraya melanjutkan makannya.
Piring itu hanya berisi nasi dan tempe orak-arik. Seketika aku semakin merasa iba.
"Lo makan sama itu aja?" Tanyaku hati-hati.
"Iya. Gue harus hemat, biar gue punya ongkos buat bulak-balik Jakarta-Bandung tiap minggu." Jawabnya tanpa melihat ke arahku.
"Oh, gitu..." Hatiku terenyuh mendengar penjelasannya. "Gimana kabar lo?" Tanyaku.
Sedikit senyum hadir di wajahnya yang semakin tirus. "Ya gini aja."
"Lo kurusan." Komentarku simpati.
Vito menatapku sekilas. "Gak nyangka lo merhatiin gue. Gue kira lo udah gak akan mau ngomong sama gue lagi."
"Udah empat bulan sejak kejadian itu. Ya masa iya gue masih marah sama lo."
Seketika Vito terdiam dan hanya memainkan nasinya yang masih sisa sedikit. "Makasih, Nis. Gue bisa tenang sekarang kalau lo beneran udah gak marah lagi sama gue." Ucapnya dengan tulus.
"Hari Sabtu nanti gue bikin acara gender reveal, lo sama Tante Manda dateng ya. Yang dateng cuma keluarga aja kok." Undangku.
Vito tak langsung menjawab. Ia meraih segelas air putih yang ada di sisi kanan piringnya, lalu meminumnya. "Gak mungkin gue bawa Manda ketemu sama keluarga suami lo lagi, Nis. Dia masih belum stabil."
Aku sedikit tertegun dengan Vito yang kini menyebut nama Tante Manda dengan sebutan 'Manda' saja, tanpa tante.
__ADS_1
"Gimana keadaannya sekarang, Vit?"