
Mohon kebijakannya dalam membaca bab ini
Nafasku seketika menderu. Kata-kata yang terucap dari bibir Mas Rey membuat tubuhku berdesir aneh.
"Tunggu sebentar."
Mas Rey bangkit dan berjalan menuju saklar lampu. Lampu utama pun mati, berganti dengan lampu tidur di atas nakas yang terletak di kedua sisi tempat tidur. Lampu itu menyala temaram membuat suasana semakin mendukung.
Mas Rey kembali menghampiriku. Diraihnya tanganku dan membimbingku berdiri di hadapannya, disebelah tempat tidur.
"Mas... "
"Iya, Sayang?" Tangannya menarik pinggangku mendekat padanya.
"Aku pengen nanya sesuatu." Tiba-tiba hal ini terbersit dalam benakku, dan ingin segera kukonfirmasi padanya, sebelum kami melangkah pada tahap itu.
Tangan Mas Rey menarik simpul tali bathrobe yang ku kenakan sehingga tali itu terlepas. "Mau tanya apa, Sayang?"
Walaupun tubuhku sudah mulai bereaksi, tapi ku tahan karena aku harus menanyakan ini.
"Apa benar waktu itu yang suka ngirim uang buat pengobatan almarhum ayah dan juga kakek itu mas, bukan Tante Manda?"
Seketika tangan Mas Rey berhenti saat akan menanggalkan bathrobe yang membalut tubuhku. Ia menatapku lekat.
"Apa Mas Rey juga yang suka ngirim uang sama bunda buat keperluan sekolah aku?" Tanyaku lagi.
"Mau Mas ataupun Manda yang kirim, apa bedanya, Sayang? Saat itu kalian adalah keluarga Mas juga."
"Beda, Mas. Beda banget. Aku sama bunda tuh baru tahu kayak gimana kelakuan Tante Manda seperti apa selama ini. Dan Mas tahu gak gimana berartinya uang itu buat keluarga aku waktu itu?" Pandanganku mulai kabur karena air mata yang kini menggenang menghalangi sedikit pandanganku. "Karena uang itu ayah bisa kemoterapi. Walaupun kami tahu kondisi ayah udah gak mungkin disembuhkan, tapi ayah berhasil bertahan beberapa bulan lebih lama dari von!s dokter. Kami jadi punya waktu lebih lama bareng sama ayah. Terus kakek bisa operasi, sampai akhirnya sekarang kakek sehat. Selama ini kita selalu berterimakasih sama Tante Manda, tapi setelah Mas nemuin kakek waktu itu dan ternyata kelakuan Tante Manda kayak gitu, jujur aku jadi ragu kalau selama ini yang kirim uang buat keluarga aku itu Tante Manda."
Mas Rey tersenyum mendengar penjelasanku. Ekspresinya tak berubah, ia menatapku hangat. "Sayang, dulu mas dan Manda masih suami istri. Jadi gak ada bedanya mau Mas atau Manda yang kirim, sama aja."
"Tapi bukannya mas pernah bilang, kalau dulu Mas dan Tante Manda gak pernah menyatukan penghasilan? Uang Mas, punya Mas, uang Tante Manda, punya Tante Manda. Berarti salah satu dari kalian yang ngirim uangnya. Terus bunda bilang yang ngirim uang ke bunda selalu dari nomor rekening Mas. Itu artinya Mas 'kan yang selalu kirim uang itu? Jawab yang jujur, Mas. Aku mohon." Pintaku.
"Uang itu dari Mas dan Manda, Sayang." Mas Rey bersih keras.
__ADS_1
Aku terdiam. Ada pepatah mengatakan saat tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu tahu.
Apa Mas Rey merasa tidak enak mengakui semua perbuatan baiknya itu? Apakah ia takut pandanganku terhadap Tante Manda semakin buruk?
Pandanganku lekat padanya dan mengangguk-angguk paham. "Mas yang kirim. Aku tahu itu Mas yang kirim."Â Kurengkuh tubuh Mas Rey dengan eratnya. Merasa sangat berterimakasih atas apa yang dilakukannya dulu. "Makasih banyak ya, Mas. Berkat Mas, aku bisa bareng sama ayah lebih lama. Berkat Mas, kakek sehat sekarang. Berkat Mas, aku bisa sekolah sampai aku lulus. Makasih banyak." Air mataku deras mengalir membasahi dadanya yang polos tak tertutup apapun.
"Sama-sama, Sayang. Itu udah rejekinya keluarga kamu, Mas cuma jadi perantara aja." Ucapnya merendah seraya membelai rambutku.
Ku jauhkan wajahku dan kembali menatapnya. "Sekarang aku akan lakukan apapun buat balas budi sama Mas. Aku akan jadi istri yang baik buat Mas, berbakti, dan selalu mencintai mas. Aku janji."
Kepalanya menggeleng pelan. "Jangan gitu, Sayang. Cintai mas karena rasa kamu sendiri, bukan karena kamu ingin balas budi. Mas gak mau kamu ngerasa kayak gitu. Jangan dipikirin lagi ya yang udah-udah." Tangannya sibuk menyeka air mataku.
"Mas kok jadi orang baik banget sih." Tangisku malah semakin pecah, terharu dengan apa yang sudah diucapkannya. "Kalau aku gak boleh balas budi dengan perasaan. Aku akan balas budi dengan cara yang lain."
Dahi Mas Rey mengerut.
"Aku akan kasih Mas Rey anak. Yang banyak. Berapapun Mas Rey akan aku siap." Janjiku.
Mas Rey tercengang sesaat kemudian tertawa gemas. "Istri Mas yang satu ini, menggemaskan sekali." Saking gemasnya ia kembali merengkuh tubuhku. "Mas gak pengen punya anak banyak-banyak. Dua orang cukup. Dan sekali lagi, kamu kasih Mas anak jangan karena ingin balas budi. Lakukan karena kamu mencintai Mas. Itu aja yang Mas minta dari kamu, Sayang."
Sesaat ku kuasai diriku hingga tangisku benar-benar berhenti. Perlahan aku menengadah, ku jinjitkan kakiku, agar bibirku bisa menjangkau lehernya. Seketika ku kecup pelan leher jenjang Mas Rey.
Tubuh Mas Rey bereaksi.
Ia menatapku sesaat dan sepersekian detik kemudian ia melahap bibirku dengan rakusnya. Ku imbangi permainan bibirnya yang semakin lama semakin terasa dalam. Ditanggalkannya bathrobe yang mengantung di pundakku dan seketika ia menghentikan pergerakannya dan menatapku sesaat yang berbalut pakaian m!nim itu. "Kamu... cantik banget, Sayang."
Ia telan salivanya. Matanya tak berkedip barang sekalipun. Semempesona itukah aku dimatanya?
Tak ingin menunggu lebih lama kembali aku menyerangnya. Ku l^mat kembali bibirnya. Tangan Mas Rey mulai meraih tali tipis di kedua pundakku dan seketika pakaian itu sudah terlepas jatuh ke lantai. Hingga bagian atasku sudah tereksp0s polos tak terhalang apapun.
Mas Rey membawaku ke tempat tidur dan membaringkanku, bibirnya turun menuju leherku, puncakku, perutku. Ditinggalkannya jejak-jejak cintanya di setiap inchi tubuhku. Baik aku dan Mas Rey begitu larut dalam aktivitas itu.
Hingga kemudian ia membuka segitiga yang menutup inti tubuhku. Tangannya meraih handuk yang terselip di pinggangnya dan benda privat itu terpampang nyata di hadapanku.
Seketika tanpa sadar aku menutup mataku dan terkesiap.
__ADS_1
"Sayang? Ada yang salah?" Tanya Mas Rey bingung.
"Yang itu yang nanti dimasukin ke mimi aku?" Tanyaku cemas. "Tapi...tapi... Emangnya bakal masuk? Itu...besar banget."
Mas Rey kembali terkekeh beberapa saat.
"Mas kok ketawa sih??!" Gerutuku tak terima.
Aku tak pernah melihat hal seperti itu. Selama ini aku hanya pernah melihat inti tubuh milik anak laki-laki yang masih kecil. Jadi aku syok sendiri saat melihat benda milik seorang pria yang sudah dewasa. Aku benar-benar cemas bagaimana bisa benda sebesar itu masuk ke inti tubuhku yang sempit?
"Maaf, Sayang." Akhirnya Mas Rey menghentikan tawanya. Didekatkannya wajahnya padaku. "Ya udah jangan dilihat.Kamu jangan mikir apa-apa. Cukup nikmati aja seperti tadi. Awalnya mungkin akan sakit, tapi kesananya Mas jamin gak akan sakit lagi."
Aku menatapnya tak percaya. "Beneran?"
Mas Rey tak menjawabku, malah mengalihkanku dengan kembali mencumbuku. Dan seketika aku merasakan sesuatu menyentuh inti tubuhku, membuat sensasi yang aku rasakan sejak tadi meningkat berkali-kali lipat. Bahkan rasanya frustasi sekali membiarkan Mas Rey hanya menyentuhkannya seperti itu.
Melihat ekspresiku yang sudah lebih siap, Mas Rey berkata. "Mas masuk ya."
Seketika aku merasa begitu tegang. Dan perlahan benda itu masuk dengan sedikit kesulitan.
Hingga aku merasakan sakit yang luar biasa. "Sakit, Mas!" pekikku. "Stop! Berhenti!"
Namun bukannya berhenti dengan perlahan Mas Rey kembali mendorong masuk hingga aku merasakan inti tubuhku penuh.
"Sakit banget... " Isakku.
Dengan sabar Mas Rey menyeka air mataku. "Sabar ya. Nanti gak akan sakit lagi."
Perlahan Om Rey menggerakkannya. Membuat rasa sakitku semakin terasa. Walaupun aku terus meronta Mas Rey tak menghentikannya.
"Mas! Stop!" Ujarku kesal.
Namun entah bagaimana perlahan sensasi aneh yang menguasaiku sebelum Mas Rey memasukiku, kini muncul kembali dengan begitu nikmatnya. Rasa sakit itu perlahan mereda dan berganti menjadi kenikmatakan yang baru kali ini kurasakan.
"Udah gak sakit?" Tanya Mas Rey puas.
__ADS_1
Kugelengkan kepalaku malu-malu. Akhirnya aku tahu mengapa orang-orang menyukai aktivitas ini. Karena memang senikmat itu rasanya.