Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 38: Mas Rey


__ADS_3

Hari pernikahan pun tiba. Hari dimana aku melepas masa lajangku di usiaku yang baru 18 tahun. Dengan sangat yakin aku memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupku dengan seorang pria berusia 30 tahun yang sudah sangat mapan, tampan rupawan, baik hati, dan juga pengertian.


Dia adalah cinta pertamaku, pacar pertamaku, ciuman pertamaku, juga akan menjadi pengalaman pertamaku. Setelah apa yang sudah dikatakan oleh ibuku tempo hari bahwa ia telah memberikan bantuan selama masa-masa tersulit dalam kehidupan kami, aku bertekad untuk bisa mengabdi padanya. Berbakti sebagai seorang istri yang baik, yang akan selalu melayani dan memenuhi segala kebutuhannya dengan sepenuh hatiku.


Aku juga tak pernah bermimpi menjadi seorang pengantin dengan resepsi semegah ini. Aku memang bukan perempuan yang sering mengkhayalkan hal-hal seperti ini. Bahkan memikirkan pernikahan saja tidak pernah. Aku hanya pernah memimpikan memiliki seorang pacar, karena sampai usiaku menginjak 18 tahun, tak ada laki-laki yang berhasil mencuri hatiku hingga aku bertemu dengannya, Reyhan Panca Kusuma.


Selama ini sebelum aku datang ke Jakarta, aku berencana untuk menyelesaikan kuliahku dengan baik dan mendapatkan pekerjaan, baru kemudian memutuskan untuk mencari pasangan hidup. Namun siapa sangka diantara rencana masa depanku terselip takdir yang tak pernah aku duga akan terjadi padaku. Hanya dalam waktu singkat semua ini terjadi. Hanya perlu 3 bulan saja untuk hubunganku dengan pria yang telah resmi menjadi suamiku, bisa terjalin sedalam ini.


Namun di tengah-tengah semua hal membahagiakan ini, tetap ada satu hal yang masih saja mengganjalku, yaitu Tante Manda.


Aku tahu menghadapinya akan sangat sulit, mengingat betapa keras kepalanya tanteku itu, pasti ia tak akan mudah memberikan restunya untuk kami. Ia belum rela melepaskan Om Rey karena tiba-tiba saja suaminya yang selalu sabar itu dalam waktu singkat memutuskan melepaskannya, dan menikahi keponakannya sendiri.


Tapi aku yakin ia akan mengerti nanti. Toh, bukankah selama ini ia lebih memilih untuk berhubungan dengan banyak pria dibandingkan setia pada suaminya itu? Jadi, melepaskan Om Rey, adalah sesuatu yang akan lambat laun ia lakukan.


Begitu pikirku.


Rangkaian acara pernikahan mulai dari ijab kabul hingga resepsi yang panjang dan melelahkan itu akhirnya selesai. Keesokan harinya sesuai rencana, aku dan Om Rey bertolak ke Seoul, Korea Selatan. Disanalah kami akan berbulan madu.


Aku yang sering mengatakan tidak terlalu bersahabat dengan cuaca panas, bahkan sering kali mengeluh dengan panasnya cuaca ibu kota, membuat Om Rey menawarkan kami untuk berbulan madu ke tempat yang sejuk, bahkan dingin, dimana di sana sedang mengalami musim dingin sekarang. Tanpa pikir panjang aku menyetujuinya. Maka disinilah kami sekarang, berbulan madu untuk sekitar 1 minggu ke depan.


Setelah dari bandara kami check in ke sebuah hotel bintang lima. Saat kami tiba di ruangan yang lebih mirip apartemen mewah itu, aku terkesiap. Kamar hotelnya sangat indah.


Kamar itu tipe presidential room. Luas dan pastinya sangat nyaman. Begitu kami masuk, dekorasi khas pengantin baru menyambut kami. Ku langkahkan kakiku ke dekat dinding kaca yang menampilkan kemilau lampu kota Seoul yang mulai menyala di senja hari itu.


"Kamu suka hotelnya?"


Om Rey menelusupkan kedua tangannya ke sela-sela pinggangku dan menautkan kedua tangannya di perutku. Diistirahatkannya dagunya di pundakku.


"Suka banget, Om." Lirihku. "Eh, Mas." Ralatku, seraya terkekeh malu-malu. Sungguh sangat belum terbiasa dengan panggilan baru itu.


"Harus mulai dibiasain ya, Sayang. Kamu sekarang istri Mas, loh." Tegurnya lembut.

__ADS_1


"Abis belum biasa. Masih kayak mimpi kita sekarang udah nikah."  Tatapanku masih tertuju pada pemandangan di luar yang semakin gelap.


Om, maksudku Mas Rey, membalikkan tubuhku hingga kini tubuh kami berhadapan. Diraupnya kedua pipiku dan menciumku mesra. Rasanya ciuman itu kini terasa berbeda. Setelah adanya ikatan di antara kami membuat sentuhan fisik seperti itu terasa lebih hangat, lebih romantis, dan juga lebih... leluasa.


Tangannya mulai menelusup ke dalam sweater yang aku kenakan, namun dengan cepat aku menahannya. Mas Rey terkejut karena aku menghentikan pergerakannya.


"Kenapa, Sayang?" Tanyanya bingung.


Malam ini semuanya akan terjadi dan aku tidak ingin ada gangguan kecil yang akan membuat semuanya menjadi canggung. Malam ini harus sempurna tanpa suara perut yang keroncongan, atau badan yang lengket setelah perjalanan jauh.


Tidak. Aku ingin semuanya perfect.


"Kita harus makan dulu, bersih-bersih dulu, baru seudah itu.... boleh." Ucapku tersipu.


Mas Rey tersenyum. Terdengar suara pintu diketuk. "Nah pas banget, itu pasti room servicenya." Mas Rey meninggalkanku dan berjalan menuju pintu, dan benar saja seorang pelayan membawakan makan malam kami.


Kemudian kami makan malam sambil mengobrol hal-hal menarik seputar pernikahan kami kemarin.


Setelah makan aku pamit ke kamar lebih dulu. Ku lihat ratusan kelopak bunga mawar merah bertebaran di atas kasur, membuatku tiba-tiba saja menjadi gugup.


Kemudian ku buka koperku. Tak henti-hentinya aku terbelalak melihat pakaian dalam dan juga pakaian tidur yang s^ksi yang sudah disiapkan oleh Mbak Kinan, kakak keempat Mas Rey.


Aku menatap sebuah pakaian yang hanya terdapat tali kecil di kedua pundak, menerawang, dan juga panjangnya hanya sekitar menutupi hingga ke bok^ngku.


"Mbak Kinan, yang bener aja!" Pekikku pelan.


Selain pakaian-pakaian itu tidak ada lagi pakaian yang bisa digunakan untuk tidur. Semuanya adalah pakaian tebal untuk kami pakai keluar agar bisa menghalau dinginnya musim salju yang sedang berlangsung.


"Pantesan, aneh banget Mbak Kinan bilang pengen beresin koper aku kemarin. Ternyata dia bawa semua baju tidur aku dan dia ganti sama baju kurang bahan begini?!" Gumamku tak habis pikir.


"Sayang, belum mandinya?" Mas Rey masuk begitu saja ke dalam kamar, dan memergokiku yang sedang berjongkok di depan koper. Segera ku tutup koper dan kusembunyikan baju itu.

__ADS_1


"Mau sekarang, Mas." Aku bawa pakaian yang ku genggam itu dan ku sembunyikan di belakang punggungku kemudian melangkah dengan terburu menuju kamar mandi.


Ku tutup pintu di belakangku. "Tenang dong, Nis. Ini 'kan bukan pertama kali Mas Rey lihat aku. Mas Rey bahkan pernah melihat aku gak pakai baju. Tapi kok, rasanya aku deg-degan banget sekarang. Gimana ini, aku malu banget!" Ocehku seraya menetralkan detak jantungku.


Pikiranku berkelana, malam ini semuanya pasti akan terjadi.


Entah mengapa aku begitu gugup. Diam-diam aku bersyukur karena Mas Rey selalu menghentikan pergerakan kami selama kami nyaris melakukannya. Jadi malam ini, akan menjadi malam pertama bagi kami. Dan karena ini yang pertama, pastilah akan menjadi malam yang istimewa, penting, dan tak terlupakan.


Coba kami melakukannya waktu itu, mungkin hal seperti ini tidak akan sama lagi rasanya. Tidak spesial, apalagi istimewa.


Setelah mandi aku menggunakan pakaian min!m itu. Seketika aku terkesiap saat melihat pantulan diriku di cermin. Pakaian itu menerawang dan menampakkan lekuk tubuhku begitu jelas. Pakaian dalam yang aku kenakan di balik l!n9erie yang aku kenakan terlihat jelas karena bahannya yang tembus pandang.


"Sayang." Ujar Mas Rey seraya mengetuk pintu kamar mandi. "Kamu lagi apa? Kenapa lama?"


Segera ku raih bath robe dan memakainya. Rasanya belum siap Mas Rey melihatnya, "Bentar, Mas."


Akupun keluar kamar mandi. "Maaf lama."


Ia tersenyum, "Gak apa-apa. Ya udah mas mandi dulu ya." Ia pun masuk ke dalam kamar mandi.


Selama Mas Rey membersihkan diri, aku tak bisa tenang. Gugup masih saja menjalar di seluruh tubuhku. Karena bingung aku pun memutuskan untuk berbaring di tempat tidur sambil memainkan ponsel. Entah ada pikiran dari mana, aku membuka artikel yang memberikan tips agar malam pertamaku ini bisa berjalan dengan baik.


Aku tak bisa berhenti tersenyum dan malu sekali rasanya membaca artikel-artikel itu. "Apa aku harus ngelakuin ini sama Mas Rey?" Gumamku dengan wajah yang memanas. "Bener-bener gak bisa bayangin!" Gumamku heboh sendiri.


Pintu kamar mandi terbuka, membuatku terlonjak kaget. Segera aku keluar dari artikel-artikel itu khawatir Mas Rey akan mengetahuinya.


Rambutnya basah. Dada bidangnya tak tertutup apapun. Hanya sebuah handuk yang melingkar di pinggangnya. Ia berjalan ke arahku. Wangi sabun tercium seraya tubuhnya yang mendekat padaku. Ia duduk di tepi tempat tidur, dan menatapku hangat.


Jantungku berdebar kencang sekali.


"Sayang..." diraihnya tanganku.

__ADS_1


"I-iya, Mas." Sahutku dengan gugup.


"Malam ini, izinkan mas memiliki kamu seutuhnya."


__ADS_2