
"Danis, kamu udah datang. Sini, Nak." Ujar Ibu mertuaku lembut.
Tante Manda menoleh ke arahku. Seketika darahku mendidih melihatnya. Teringat kembali foto yang ku lihat tadi malam. Ku kepalkan tanganku menahan emosiku. Rasanya ingin aku menghampirinya dan menjambak rambutnya yang coklat ikal di ujungnya.
Berani sekali ia melakukannya dengan laki-laki yang sekarang berstatus sebagai suamiku?!
Namun tentu tak aku lakukan. Aku mulai berjalan mendekat kepada ibu mertuaku. Ia mengulurkan tangannya dan akupun menyambutnya dan mencium punggung tangannya. Ia menarikku dan mencium pipi kiri dan kananku, tetap memegang tanganku dan membimbingku duduk di sampingnya, dekat sekali.
"Kamu udah selesai kuliahnya, Nak?" Tanya ibu mertuaku dengan ramahnya.
"Udah, Bu." Jawabku singkat.
"Kamu kenapa pucat sekali? Kamu pasti sekarang jadi sering kurang tidur ya? Pasti karena Rey selalu meminta kamu melayaninya setiap malam."
Sontak mataku terbelalak. Apa ia ingin Tante Manda mendengarnya? Aku pun hanya tersenyum lirih tak tahu harus menjawab apa.
Ibu mertuaku menatap Tante Manda dengan tajamnya. "Kamu lihat, Danisa adalah perempuan yang selama ini saya cari untuk Rey. Rey adalah anak kebanggaan saya. Dia anak yang sangat berbakti. Dia harusnya berdampingan dengan perempuan seperti Danisa. Tapi karena pengaruh perempuan seperti kamu! Entah apa yang sudah kamu lakukan padanya, Rey seperti tertutup mata, hati, dan telinganya. Ia selalu membela kamu! Ia habiskan waktunya dengan sia-sia selama lima tahun! Apalagi kenyataan saat kamu menggunakan alat kontr^sepsi itu! Saya sangat tidak habis pikir! Saya tahu kamu bukan perempuan baik-baik, tapi ternyata kamu lebih buruk dari yang saya ketahui! Tapi sekarang tidak lagi ya, Manda. Rey sudah sadar. Bahkan ia memiliki seorang istri yang sangat baik, berbeda jauh, 180 derajat kebalikan dari kamu! Jadi sekarang juga kamu pergi! Karena saya sudah tidak ingin berhubungan dengan kamu!"
Tante Manda masih tertunduk lesu. Bahkan terdengar isak darinya. Sesekali tangannya mengusap pipinya yang basah.
"Maafkan saya, Bu." Isaknya. "Saya berusaha mencoba untuk bertemu dengan Ibu, karena ada hal yang ingin saya sampaikan."
"Sebenarnya saya sangat malas bertemu dengan kamu lagi! Tapi karena kamu terus-terusan meneror saja, jadi saya berikan satu kesempatan terakhir untuk kita saling berpamitan. Hiduplah seperti kamu selama ini, saya sudah tidak peduli lagi. Kamu bukan lagi menantu saya! Jangan ganggu Rey lagi. Dia sudah bahagia sekarang. Paham kamu?!"
Tante Manda terisak. "Enggak, Bu. Saya tidak pernah menceraikan Rey! Ibu yang membuat kami berpisah. Saya gak bisa melepaskan Rey. Saya sangat mencintai Rey. Maafkan sikap saya selama ini, Bu. Saya sangat menyesal. Tolong berikan saya kesempatan untuk menjadi istri yang baik bagi Rey, Bu."
Aku terbahak dalam hati. Setelah ia menyia-nyiakan Mas Rey bertahun-tahun, kini ia mengemis untuk kembali. Tak tahan rasanya untuk diam saja.
"Bu, Danis izin berbicara ya, Bu." Izinku pada ibu mertuaku. Ibu mertuaku mengangguk pasti.
Langsung saja kukeluarkan unek-unek yang selama ini ku tahan. "Tante, selama ini Tante kemana?! Di saat Mas Rey selalu setia pada Tante, apa yang Tante lakukan?"
__ADS_1
Di tengah isaknya ia tersenyum getir, "Mas Rey?"
"Iya! Mas Rey adalah suami aku sekarang. Terima atau enggak. Mas Rey udah jadi suami sah aku. Dia udah cerai sama Tante. Dan sekarang dengan plin-plannya Tante bilang kalau Tante cinta sama Mas Rey? Tante punya hati gak sih? Kalau Tante jadi Mas Rey, atau Tante jadi Ibu, apa yang Tante rasain?" Bentakku.
"Kamu diem, deh, Nis! Gara-gara kamu, Rey jadi cerai-in Tante! Kamu itu udah ngerebut suami orang! Dasar kecil-kecil kamu udah jadi pelakor!" Bentaknya tak mau kalah.
"Pelakor? Aku? Sekarang aku tanya ya, siapa yang nyuruh aku tinggal di rumah Mas Rey di awal aku dateng ke Jakarta? Tante yang nyuruh! Sedangkan Tante malah nelantarin aku gitu aja. Sikap Tante juga gak pernah bikin Mas Rey gak nyaman! Main cowok kesana-kesini, suami mana yang akan betah punya istri kayak gitu! Jangan salahin Mas Rey atau aku juga kalau kami sekarang saling jatuh cinta! Karena Tante sendiri yang menciptakan celah itu! Kalau Tante bisa jaga hati, jaga rumah tangga Tante dengan baik, Mas Rey gak akan berpaling sama aku!"
"BERANI KAMU CERAMAHIN TANTE!! KAMU ITU SALAH! GAK TAHU DIRI! GAK TAHU TERIMAKASIH!" Teriaknya murka. Kedua maniknya menatapku penuh benci.
Bahkan ia bangkit dari posisi duduknya. Dari sikapnya itu aku tahu Tante Manda mulai merasa terintimidasi karena semua ucapanku benar adanya.
Aku pun melontarkan hal yang selama ini bercokol di hatiku. Semua yang mengganjal di hatiku dan ingin ku utarakan padanya, ku keluarkan semuanya, tak mau kalah darinya.
Aku pun ikut bangkit dari posisi dudukku. "Gak tahu diri? Gak tahu terimakasih? Tante masih mikir kalau Tante yang selama ini bantuin biaya pengobatan almarhum ayah, kakek, dan juga sekolah aku?! Tante yang gak tahu diri! Aku sekarang tahu bukan Tante yang bayarin semua biaya itu, tapi Mas Rey! Mas Rey yang udah dengan baiknya, secara rutin ngasih kami uang untuk bertahan hidup. Sedangkan Tante? Yang Tante lakuin cuma foya-foya dan main cowok! Aku udah tahu semuanya, Tante!"
Tangan Tante Manda bergetar saking kerasnya ia mengepalkan tangannya. "Bohong itu, Bu! Kamu bener-bener..." Ia bersiap mendekat padaku.
"CUKUP!" Ibu mertuaku bersuara, membuat Tante Manda terdiam, mengurungkan niatnya mendekatiku. Entah apa yang akan dilakukannya. Yang pasti aku tidak takut. Ia akan tumbang dengan sekali tendangan atau bantinganku.
Tante Manda menggeleng. "Enggak, Bu. Saya gak bisa pergi dari sini." Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah surat. "Ini adalah surat keterangan bahwa saya sudah melepaskan IUD saya."
"Terus untuk apa kamu memperlihatkannya pada kami?" Tanya ibu mertuaku tak peduli. "Tidak ada gunanya kamu membukanya sekarang karena kamu sudah bukan lagi istri dari Rey!"
"Kami sempat bertemu di Korea, Bu."
Seketika aku merasa oksigen disekitarku menyusut, membuatku sesak sekali.
"Apa maksud kamu?" Tanya ibu mertuaku, bingung.
"Saat Danis dan Rey berbulan madu gak sengaja kami bertemu. Kami bertemu dan melakukannya lagi seperti dulu saat kami sah menjadi suami istri. Rey masih mencintai saya, Bu! Dia masih berhasr^t untuk menyentuh saya! Rey menyentuh saya saat saya sudah melepaskan IUD!"
__ADS_1
"Omong kosong apa yang sedang kamu bicarakan, Manda?!"
Tante Manda tidak menjawab. Ia meraih ponselnya dan mengutak-atiknya. Tak lama ponsel ibu mertuaku berbunyi.
"Tolong ibu cek. Saya mengirimkan sebuah bukti pada ibu." Ucapnya dengan nada menantang.
Dengan ragu, ibu mertuaku melihat ke arah ponselnya dan seketika ia terduduk lesu ke sofa. "Ya Tuhan..."
Seketika air matakupun menetes. Tanpa melihatnya, foto itu seakan sudah terpatri di benakku. Setiap aku mengingatnya, seperti ada luka menganga di dalam hatiku. Sakit sekali rasanya.
Kurasakan tangan hangat dan keriput meraih tanganku, "Danis..."
Aku pun menoleh dan duduk kembali di sampingnya. Aku tersenyum getir seraya air mataku yang terus keluar.
"Kamu..."
"Danis tahu foto itu tadi malam, Bu." Isakku.
"Ya Tuhan, Rey...." Isak ibu mertuaku. Beberapa saat kami terdiam tak mengatakan apapun. Rasanya begitu nelangsa.
Aku berharap hubunganku dengan Mas Rey hanya sebatas berpacaran. Hingga saat ada kejadian seperti ini, aku bisa langsung putus dengannya dan segera menjalani kehidupanku dengan menatap ke depan. Tapi hubunganku dan Mas Rey tidak seperti itu, kami terikat pada janji suci pernikahan. Itu membuatku harus bisa lebih bersabar jika ada dalam situasi seperti ini.
Ditambah rasaku terhadap Mas Rey yang begitu besar, membuat rasa sakitnya juga berkali-kali lipat terasa lebih sakit.
Meskipun demikian hati kecilku sedikit ragu dengan apa yang terjadi. Aku ragu, benarkah Mas Rey tega melakukan ini padaku? Mas Rey yang begitu sayang padaku? Mas Rey yang selalu menjunjung tinggi kesetiaan pada pasangannya?
"Gak mungkin, ini pasti salah. Ini pasti editan!" Teriak ibu mertuaku. "Rey gak mungkin melakukan hal seperti ini!"
"Kalau Ibu gak percaya, ibu bisa panggil Rey kesini." Ujar Tante Manda.
Ibu mertuaku pun menghubungi sang putra dan memintanya untuk segera datang.
__ADS_1
Diam-diam aku berharap semuanya salah. Aku harap semuanya hanya jebakan Tante Manda, seperti yang Mas katakan. Kini aku menunggunya hadir di sini dan menjelaskan pada kami.
Aku sudah lebih siap. Aku sudah tak seemosional kemarin. Saat Mas Rey datang nanti, aku ingin mendengar penjelasannya.