
Mas Rey meraih tanganku dan menarikku keluar dari kamar ibu mertuaku. Dengan tergopoh aku berusaha mengimbangi langkah kakinya yang berjalan terburu dengan kakinya yang panjang. Hingga kemudian kami tiba di halaman belakang.
"Tadi kamu bilang apa? Kondisi kita bertiga?! Bertiga dengan siapa?!" Teriaknya menatap tajam padaku, sorot matanya terluka sekaligus marah.
"Om... harus nikahin Tante Manda..." Isakku.
"DANISA!!" Mas Rey nampak jengah.
"Terus aku harus gimana?!" Teriakku frustasi. "Gak ada cara lain, Om."
"Kita ini suami istri, Dan. Kita lagi ada dalam satu masalah. Kita harusnya hadapin ini sama-sama. Kita harus saling menguatkan. Mas lagi butuh semangat dan kekuatan dari kamu. Mas butuh kamu percaya sama Mas. Tapi kamu? Kamu malah seperti ini! Memutuskan sendiri! Kamu sendiri tahu gimana hubungan Mas dengan Manda selama ini. Gimana mungkin Mas sekarang harus menikahi Manda lagi?!"
"Tante Manda hamil empat minggu. Itu waktu yang pas dengan pertemuan Om sama Tante waktu itu. Om harus terima kenyataan kalau anak itu anak Om." Isakku.
"Gimana caranya supaya kamu percaya, Dan. Manda hamil bukan karena Mas!" Tegasnya.
Aku pun tak tahu bagaimana agar aku bisa percaya lagi sepenuhnya pada Mas Rey. Semuanya terlanjur terjadi seperti ini.
"Fine." Ucapnya setelah beberapa saat. Ia menatapku lekat. "Mas akan cari buktinya. Mas akan buat kamu percaya lagi sama Mas. Gak akan pernah ada kata bertiga antara Mas, kamu, dan Manda."
"Tapi Tante Manda harus segera dinikahi! Bayinya...."
"Jika bayi yang Manda kandung harus memiliki ayah," potongnya, "bukan Mas yang akan menjadi ayahnya. Anak itu bukan darah daging Mas. Manda harus mencari ayah kandung dari bayinya."
Mas Rey seyakin itu. Sorot matanya menunjukkan bahwa ia benar-benar yakin bahwa bukan dia ayah dari bayi yang dikandung Tante Manda.
"Kenapa Om... Kasian Tante Manda, Om..."
"Sekarang Mas tanya, kamu rela jika Mas menikahi Manda lagi? Kamu mau kita hidup bertiga dibawah satu atap?"
Skakmat.
Dalam hati aku berkata, tentu aku tak rela. Perempuan mana yang rela suaminya menikah lagi dengan perempuan lain?
"Mas yakin kamu gak akan rela." Mas Rey menyimpulkan setelah aku tak berkata apapun. "Mas gak akan menikahi Manda karena itu bukan tanggung jawab Mas. Mas gak melakukan apapun sampai Mas harus bertanggung jawab."
Sekarang aku harus bagaimana?
Mas Rey mendekat padaku, diraihnya tanganku dan menatapku lekat. "Kamu tinggal di rumah ini, seperti yang tadi kamu bilang, temani ibu. Mas akan pergi mencari bukti yang akan membuat semua orang percaya kalau memang bukan Mas yang menghamili Manda. Mas gak akan menemui kamu sampai Mas menemukan bukti itu."
Maksudnya? Mas Rey akan pergi kemana mencari bukti itu?
Ia merengkuh tubuhku. "Mas akan buktikan kalau Mas setia sama kamu, Dan. Mas gak melakukan itu. Sampai Mas bisa membuktikan kebohongan Manda, Mas gak akan menemui kamu."
Apa?
Seketika hatiku dirundung muram. Sampai Mas Rey bisa membuktikan bahwa ia bukanlah ayah dari anak yang dikandung Tante Manda, ia tak akan menemuiku? Akan selama apa itu?
"Dan Mas mohon, saat itu tiba, kamu jangan pernah panggil Om lagi sama Mas. Mas gak suka dengernya, Dan. Mas ini suami kamu, bukan Om kamu."
Sontak aku melingkarkan kedua tanganku di sekeliling tubuhnya dan memeluknya erat. "Tolong jangan pergi, Mas. Aku janji gak akan panggil Om lagi. Tapi Mas jangan pergi!" Mohonku.
__ADS_1
Entah mengapa aku tak suka ide ini. Aku tak bisa jika harus berpisah dengannya dengan waktu yang tak tahu sampai kapan.
"Mas harus pergi, Dan. Mas harus dapetin bukti itu. Gak akan Mas biarin Manda ada diantara kita. Itu gak akan pernah terjadi. Selamanya istri Mas cuma satu, cuma kamu aja."
"Gak mau." Isakku. "Aku gak mau Mas ninggalin aku."
Mas Rey menjauhkan tubuhku dan meraup pipiku, mencium keningku, kedua mataku, pucuk hidungku, dan bibirku. Kemudian menatapku lekat. "Mas janji, Mas gak akan pergi lama-lama. Secepatnya Mas akan kembali dengan membawa bukti itu."
Aku menggelengkan kepalaku, tak rela jika ia pergi. Aku ingin Mas Rey ada di sampingku. Namun Mas Rey segera membuktikan ucapannya. Dilepaskannya kedua tangannya yang meraup pipiku dan ia berjalan menuju ke dalam rumah, meninggalkanku.
"Mas..." Aku masih berdiri di posisiku, menatap punggungnya yang semakin menjauh.
"Mas Rey... jangan pergi, Mas..." Mulai kulangkahkan kakiku untuk mengejarnya. Perlahan pada awalnya dan semakin cepat saat sosoknya sudah semakin dalam memasuki rumah.
"Mas Rey!!" Panggilku ketika ia memasuki mobilnya. Ku coba mengejarnya namun ia sudah pergi bersama mobilnya. "MAS REY!!" Teriakku sambil terus mengejarnya.
Kini mobil itu sudah keluar dari gerbang utama. Hatiku sungguh sesak. Sampai kapan aku tak akan bertemu dengannya? Bagaimana cara Mas Rey menemukan bukti itu? Bagaimana jika ia tak pernah menemukannya?
***
Kakiku melangkah gontai menuruni tangga di fakultasku. Benda pipih menempel di salah satu telingaku.
"Cepet sembuh ya, Fin, buat bokap lo." Ucapku lirih.
"Thanks ya, Nis. Lo kalau mau tinggal di kost gue gak apa-apa. Kuncinya gue titip ke ibu kost, kok."
Tadi pagi Fina tiba-tiba tidak masuk kuliah. Kemudian aku mendapat kabar darinya bahwa ia kembali ke kota kelahirannya kemarin malam karena ayahnya sakit keras. Katanya ia akan izin untuk beberapa hari ke depan, melihat kondisi dari ayahnya, jika tak kunjung membaik maka ia akan disana lebih lama dari ini.
Aku tahu Fina sangat syok, ia sudah tak memiliki siapapun lagi kecuali sang ayah. Dengan kondisinya yang sedang kalut, tidak mungkin aku menambah pikirannya dengan masalahku.
"Gak apa-apa, Fin. Gue tinggal di rumah mertua gue, Fin. Lo yang tenang aja di sana, fokus ngurusin bokap lo. Gak usah mikirin apa-apa ya." Ucapku menenangkan.
"Oh gitu. Ya udah deh kalau gitu gue lega. Cepet lo baikan sama suami lo. Dia gak mungkin selingkuhin lo. Orang dia udah punya istri sebohay lo, gak mungkin dia selingkuh." Bisa-bisanya Fina menghiburku di tengah-tengah dirinya yang kini aku tahu sedang menangis karena kondisi ayahnya.
"Iya, Fin. Lo gak usah mikirin gue. Gue sama Mas Rey baik-baik aja, kok." Dustaku.
Kemudian setelah mengobrol beberapa saat mengenai ujian akhir semester yang akan dimulai sekitar dua minggu lagi dan lain sebagainya, telepon pun terputus. Aku memutuskan untuk segera pulang. Supir ibu mertuaku mengatakan akan segera tiba beberapa saat lagi. Aku pun berjalan menuju taman depan fakultas dan menunggu di salah satu bangku taman itu.
Saat sudah duduk disana, aku melihat ke arah ponselku. Chatku hanya di baca oleh Mas Rey.
Kemana kamu, Mas?
Sejak kepergiannya kemarin sore, Mas Rey benar-benar mengabaikan panggilan dan pesan dariku.
Bukti apa yang sedang dicarinya? Dan sampai kapan aku harus menunggunya?
"Nis, lo ngapain disini?" Tiba-tiba sebuah suara menginterupsi lamunanku. Aku pun menoleh dan melihat Vito duduk di sampingku.
"Gue nunggu jemputan." Ujarku singkat tak bersemangat.
"Suami lo?" Tanyanya.
__ADS_1
"Bukan." Ujarku tak ingin membuka obrolan lebih.
Vito menelisik wajahku. "Nis, lo lagi sakit? Kok pucet?"
Aku hanya menggeleng lesu. Sejak kemarin pingsan, badanku memang terasa linu dan tak enak badan.
"Sini gue periksa." Vito meraih tanganku dan memeriksa nadiku. Jika aku sedang sehat, aku pasti sudah menghempaskan tangannya yang berani-beraninya memegangku. Tapi saat ini aku malah semakin lemas, tak punya tenaga untuk meneriakinya seperti biasa.
"Nis, lo..."
Aku menoleh pada Vito dan pandanganku semakin buram dan gelap, hingga aku kembali kehilangan kesadaranku.
Sesaat kemudian ku hirup wangi minyak kayu putih yang begitu menyengat, dan aku rasa itulah yang membuatku tersadar.
"Lo udah gak apa-apa?" Vito menatapku cemas sekaligus lega.
"Gue dimana..." Tanyaku lemah.
"Lo tadi pingsan, gue bawa lo ke sini. Sekarang lo di poliklinik."
Lalu aku teringat. "Supir gue..."
"Ada di depan. Dia nungguin lo sadar."
Akupun berusaha bangkit, Vito mencoba membantuku. "Gue bisa kok." Menolak bantuannya.
Saat aku selesai menggunakan sepatuku lagi dan bersiap berjalan ke luar poliklinik, Vito menahan tanganku.
"Lepasin, Vit." Cegahku lemah.
Vito menatapku khawatir. "Lo sejak kapan kayak gini? Suami lo tahu kondisi lo?"
"Kondisi gue? Tahu kok. Mana mungkin dia gak tahu. Dia lagi gak bisa jemput makanya gue sama supir." Dustaku. Padahal kabarnya ada dimana, dan sedang apa saja aku tak tahu.
"Bukan kondisi sakit lo." Sanggahnya.
Aku mengerutkan dahi tak paham. "Maksud lo?"
Tangan Vito masih memegang tanganku. Kurasakan ibu jari Vito mengusap punggung tanganku.
"Apa sih, Vit. Udah lepasin gue mau pulang." Aku berusaha melepaskan tanganku.
"Lo sendiri, kayaknya gak tahu kondisi lo, ya?"
"Kondisi gue kenapa emangnya?" Tanyaku cemas. Bagaimanapun Vito adalah mahasiswa kedokteran. Kata-katanya yang terus menyinggung kondisiku membuatku resah.
"Tadi gue cek nadi lo. Emang sih gue juga gak terlalu yakin, buat lebih yakinnya lo harus tes. Tapi lihat kondisi... "
"Kalau ngomong itu yang jelas!" Ujarku jengkel.
Vito menghela nafas sesaat. "Lo kayaknya...hamil, Nis."
__ADS_1