Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 31: Bertemu Keluarga Kusuma


__ADS_3

Usai menjemputku, kini aku dan Om Rey dalam perjalanan menuju rumah Bu Sekar.


"Sayang, kamu kenapa? Senyum-senyum, ketawa-ketawa dari tadi." Tanya Om Rey keheranan.


Aku terkekeh melihat ke arahnya. "Om, tahu gak kenapa tadi aku minta Om jalan ke fakultas aku?"


"Kenapa, Sayang?" Sambil terus menyetir, Om Rey bertanya dengan penasarannya.


"Soalnya aku mau ngeliatin hubungan kita sama semua orang di kampus. Sekarang tuh lagi ada gosip yang kesebar tentang aku sama Om, loh."


"Gosip apa?"


"Gosip kalau Om itu sug^r d^ddynya aku."


Seketika Om Rey menatapku. "Hah? Kok bisa?"


"Kayaknya ada mahasiswa yang tinggal di apartemen itu juga deh, Om. Terus gak sengaja lihat aku dan Om keluar dari apart. Dia fotoin kita dan disebarin di grup angkatan. Ya udah tadi aku suruh Om jemput aku ke fakultas, dan kita jalan sambil pegangan tangan. Mereka pasti bakal ngomongin kita dengan lebih heboh lagi."


Om Rey menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. "Pantes aja tadi Om ngerasa banyak yang lihatin kita pas lagi jalan. Om udah berasa jadi artis aja dilihatin kayak gitu."


"Om 'kan emang seganteng artis korea. Om mirip banget sama Hyun Bin." Kekehku gemas.


"Hyun Bin?"


"Itu aktor korea, Om. Ganteng banget ada lesung pipinya kayak Om. Gemes pokoknya." Saking merasa gemas aku memegang kedua pipiku agar tak tersenyum lebih lebar.


Om Rey terlihat tersenyum dengan sedikit tersipu. "Seneng banget rasanya Om dibilang ganteng sama kamu. Sesuka itu kamu sama Om?"


Aku menggangguk. "Suka banget!"


Lesung pipinya kembali muncul membuat ketampanan Om Rey bertambah berkali-kali lipat. Ia meraih tanganku dan mengecup punggung tanganku. "Om juga suka banget sama kamu."


Wajahku pasti sudah merona merah. "Om ih, jangan bikin aku salah tingkah!"


Kami bersenda gurau seperti itu sampai tak terasa kami sampai di depan sebuah rumah yang sangat besar. Dua orang satpam membukakan pintu untuk kami dan mobil Om Rey langsung saja memasuki pekarangan rumah itu.

__ADS_1


Aku tak bisa berhenti tercengang. Rumah ini benar-benar sangat luas. Dari gerbang menuju depan rumahnya saja ada sekitar 100 meter jauhnya. Rumah itu bergaya eropa klasik. Berbeda dengan rumah Om Rey yang bergaya minimalis modern. Halamannya luas ditutupi rumput yang menghijau, pohon cemara juga terlihat menjulang tinggi di beberapa sisi rumah. Sungguh aku tak pernah membayangkan rumah ibu Om Rey sebesar ini.


"Om ini rumah Ibu besar banget?" Saat mobil Om Rey berhenti pandanganku masih saja tertuju pada bangunan kokoh nan megah di depanku.


"Ini rumah turun temurun, Sayang. Sejak orang tua dari kakeknya Om rumah ini udah ada. Cuma ya belum sebesar ini dulu. Setiap ada kesempatan direnov sedikit-sedikit sampai akhirnya jadi seperti ini."


"Ini bukan rumah, Om. Tapi mansion." Komentarku.


Om Rey meraih puncak kepalaku dan mengusaknya pelan. "Nanti ini akan jadi rumah kamu juga, Sayang. Kamu akan sering dateng ke sini. Nginep di sini."


Seketika aku merasa sangat gugup. "Om, kok tiba-tiba aku jadi takut ya ketemu keluarga besar Om. Aku takut mereka gak suka sama aku. Terus baru juga Om cerai, gimana kalau mereka gak suka sama aku? Terus aku dianggap pelakor, kayak yang di bilang Tante Manda."


Entahlah Tante Manda selalu terbayang semenjak aku meresmikan hubunganku dengan Om Rey, membuatku tiba-tiba saja merasa tidak nyaman dan gelisah.


Om Rey meraih pipiku. "Sekarang kita masuk, dan kita buktiin kekhawatiran kamu itu kejadian atau enggak." Om Rey meraih handle pintunya dan keluar dari mobil.


Aku pun melakukan hal yang sama. Om Rey seyakin itu aku akan bisa diterima oleh keluarganya. Apa aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun sekarang dan percaya dengan apa yang Om Rey katakan?


Ia menghampiriku dan meraih tanganku. "Orang-orang akan terkesima sama kecantikan tunangan Om ini. Senyum dong, Sayang. Nanti cantiknya hilang."


Dikecupnya pucuk kepalaku. "Om yakin semua keluarga Om akan suka sama kamu, Sayang."


Semoga saja benar seperti itu. Sampai hari ini di dalam hatiku selalu saja ada rasa gelisah yang selalu menelusup ke dalam bahagia yang aku rasakan. Tante Manda. Jujur, walaupun semua yang terjadi antara Om Rey dan Tante Manda adalah kesalahan dari Tante Manda sendiri yang telah sejahat itu pada Om Rey, hati kecilku selalu merasa bahwa aku telah merebut Om Rey dari Tante Manda. Ditambah Tante Manda belum tahu mengenai hubunganku dengan Om Rey, dan itu sangat membuatku tidak tenang.


Apa seharusnya aku mengatakan pada Tante Manda mengenai hubunganku dengan Om Rey ini? Iya. Aku harus mengatakan ini pada Tante Manda.


Baiklah aku akan mendiskusikan ini dengan Om Rey nanti, setelah acara ini selesai.


Setelah lagi-lagi aku dibuat kagum dengan interior rumah yang mewahnya tak main-main ini, kembali aku dibuat tercengang saat kami sampai di area halaman belakang rumah ini, dimana pesta ulang tahunnya diadakan.


Area outdoor itu didekorasi dengan tema princess bernuansa pink yang menghiasi semua area di taman belakang. Aku melihat banyak anak-anak berumur sekitar 6-7 tahun berlarian dan bermain di kolam mandi bola, istana balon, dan sebagian juga ada yang melompat-lompat di sebuah trampolin besar.


Orang-orang dewasa terlihat di beberapa area, ada yang duduk mengobrol, ada yang sibuk mencicipi berbagai makanan yang disediakan secara parasman dan juga yang tersedia pada stand-stand berbagai makanan.


Om Rey membawaku menghampiri Bu Sekar. Beliau langsung menyambutku, memelukku, dan mencium pipi kanan-kiriku juga keningku. Dirangkulnya aku dan diperkenalkannya aku kepada sanak keluarga yang hadir saat itu.

__ADS_1


Sepertinya dugaanku memang salah. Aku mengira keluarga Om Rey akan bersikap tidak ramah padaku. Meskipun kini Om Rey sudah resmi bercerai, bukankah seharusnya ini terlalu cepat memperkenalkanku pada keluarganya? Aku bahkan sudah membayangkan sanak saudara Om Rey menentang hubungan kami.


Tapi semua itu tidak terbukti. Mereka justru amat sangat welcome terhadapku.


Pertama ia memperkenalkanku pada seorang pria tua yang terlihat begitu berwibawa bernama Pak Wiraraja Kusuma, beliau adalah adik dari Bu Sekar Arum Kusuma. Lalu beliau memperkenalkan semua putrinya yang hadir saat itu, yang sebetulnya sudah pernah aku temui saat mereka datang ke rumah kakekku sekitar lima tahun silam.


Putri pertama, Mahadewi Eka Kusuma, atau Bu Dewi, yang menemani Bu Sekar ke rumah Om Rey waktu itu, yang berusia 51 tahun. Putri keduanya, Kartika Dwi Kusuma, atau Bu Tika yang berusia 45 tahun. Putri ketiga, Mawardhani Tri Kusuma, Bu Mawar yang berusia 40 tahun. Putri keempat, Kinanti Catur Kusuma, atau Bu Kinan yang berusia 38 tahun. Keempat putrinya itu juga datang bersama dengan suami dan putra-putrinya masing-masing. Diperkenalkannya juga aku pada semua menantunya dan cucu-cucunya.


Sungguh keluarga yang sangat besar dan yang membuatku terharu, aku begitu diterima oleh semuanya. Hingga tanpa sadar aku bisa mengobrol dengan santai dan luwes bersama sanak saudara Om Rey itu. Dan yang lebih membatahkan kekhawatiranku lagi, semua bahkan bertanya kapan kami akan melangsungkan pernikahan. Mereka juga mengatakan tidak sabar untuk kami segera memiliki momongan.


Namun ada satu hal yang membuatku heran juga, tak ada satupun yang menyinggung tentang Tante Manda seakan Om Rey adalah seorang lajang yang baru kali ini pertama kalinya ia membawa seorang perempuan untuk berkenalan dengan keluarga besarnya.


Semudah itu dan selancar itu perkenalanku dengan keluarga besar Om Rey.


Bahagia sekali rasanya bisa diterima dengan sangat baik oleh keluarga calon suamiku. Rasanya semesta sudah memberikan restunya.


Namun perasaanku tak bisa berbohong. Gelisah yang ditimbulkan saat teringat bahwa semua ini, perhatian dan ramah ini, dulu pernah dirasakan oleh Tante Manda, entah mengapa aku merasa seperti telah merebut semua ini darinya.


Hingga acarapun selesai pada malam hari. Om Rey mengantarku pulang hingga ke pintu apartemen. Saat tiba, baru saja aku melepas sepatuku, Om Rey sudah langsung membawa tubuhku merapat ke tembok dan menciumku.


Beberapa saat Om Rey menjauh. "Besok kita ke rumah orang tua kamu ya."


"Besok?"


"Iya, besok 'kan hari Sabtu. Pagi-pagi sekali Om jemput kamu, dan kita akan segera menemui ibu, kakek dan nenek sambung kamu."


"Gak kecepetan, Om?"


Om Rey menggeleng pelan. "Om ingin segera menikahi kamu, Sayang. Om ingin menyebut kamu istri, Om. Secepatnya Om pengen kita gak perlu pisah saat udah pergi bareng seperti ini. Om ingin tidur dan melakukan semua hal bareng kamu, dari bangun tidur sampai tidur lagi terus-terusan bareng kamu. Om udah gak bisa nunggu lagi."


Anehnya kata-kata manis itu tak mampu mengalahkan kegelisahanku yang ku rasakan sejak tadi.


"Sayang, kamu kenapa diem aja?"


Tatapanku seketika sendu, "Om, apa gak seharusnya kita ketemu sama Tante Manda juga?"

__ADS_1


__ADS_2