Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 58: Tanteku, Maduku


__ADS_3

"Kamu mirip sama ibu waktu ibu lagi hamil Rey dulu." Tangan hangat dan keriput ibu mertuaku memegang tanganku. Sore itu kami berada di kamar ibu mertuaku. Kesehatannya belum juga pulih sepenuhnya sejak kejadian itu. Hingga ia lebih sering terbaring di tempat tidurnya.


"Jadi ibu juga gak ngalamin mual dan lain-lain?" Tanyaku yang duduk di sampingnya.


"Enggak. Ibu malah baru tahu kalau ibu hamil pas usia kandungan ibu udah hampir 12 minggu. Ibu benar-benar gak nyangka kalau ibu hamil lagi karena tadinya ibu sudah cukup dengan empat orang anak. Kamu tahu, Rey bener-bener gak pernah nyusahin ibu. Ibu gak mual, bisa makan apapun, cuma ibu jadi cepet cape aja. Dia selalu jadi anak yang baik selama ini bahkan sejak ia masih di kandungan." Terangnya.


"Danis juga ngerasanya kayak gitu, Bu. Kayaknya dede bayi di perut Danis bakal mirip ayahnya banget deh, Bu." Ujarku seraya tersenyum bahagia membayangkan Mas Rey kecil berlarian kesana kemari di rumah ini.


Ibu mertuaku tersenyum getir. "Kamu kuat sekali, Nak." Ibu mertuaku mengusap pipiku. "Ibu gak tahu harus berkata apa lagi pada kamu. Rasanya maaf dan terimakasih gak bisa menyampaikan semua perasaan syukur dan bersalah ibu pada kamu."


Aku hanya bisa tersenyum lirih. Bukan tak sakit, tapi aku tak punya pilihan lain.


"Danis hanya berusaha ikhlas, Bu. Itu yang Bunda Danis bilang sama Danis waktu Danis pulang ke rumah kemarin. Kata Bunda, setiap masalah yang kita hadapi, bisa membuat kita kuat atau bisa membuat kita hancur. Tergantung kita menyikapinya. Bunda selalu ingetin Danis tentang kejadian waktu kita pertama kali tahu ayah divonis sakit kanker stadium akhir. Di situ kami sulit nerima pada awalnya, tapi ayah bilang kita harus kuat dan ikhlas. Waktu ayah tinggal sedikit, kami beruntung karena tahu kapan ayah akan pergi. Jadi daripada kami harus marah dan sedih, lebih baik kami menggunakan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya."


Air mata ibu mertuaku mulai menetes di pipinya.


"Danis juga ingin seperti waktu itu Bu sekarang." Sambungku. "Danis akan mencoba ikhlas dengan keadaan kami bertiga."


Ibu mertuaku merengkuh tubuhku. "Selamanya, bagi Ibu, hanya kamu menantu yang paling ibu sayangi, Nak. Satu-satunya menantu perempuan yang Ibu punya."


Kata-kata itu sangat berarti untukku. Setidaknya walaupun Mas Rey akan memiliki istri selain aku, tapi bagi ibu mertuaku, hanya akulah menantu yang dianggapnya.


Beberapa hari kemudian pernikahan Mas Rey dan Tante Manda pun digelar secara siri. Mas Rey bersih kukuh bahwa pernikahan akan dilaksanakan seperti itu. Ia tidak mau menikahi Tante Manda secara legal. Bahkan ia mengancam tak akan menikahi Tante Manda jika Tante Manda terus memprotesnya. Akhirnya Tante Manda tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya.


Pernikahan mereka juga tak mengundang siapapun. Hanya aku, keempat kakak Mas Rey, ibu, kakek, dan nenek sambungku, serta dilangsungkan di rumah ibu mertuaku tanpa ada dekorasi apapun. Tak ada jamuan makan, atau apapun. Hanya menu makan siang biasa yang disajikan setelah akad nikah selesai dilakukan.


Semua orang di meja makan tak ada yang menunjukkan raut wajah bahagia. Semuanya menyantap makanannya dengan tenang. Tak ada suasana ramai riuh bahagia khas saat pernikahan berlangsung. Karena semua orang di sini tak menginginkan pernikahan ini kecuali satu orang, Tante Manda.


Ia terus menerus bertingkah manja pada Mas Rey, membuatku jengah setengah mati. Hatiku berdenyut nyeri sejak Mas Rey mengucapkan ijab qabulnya untuk menikahi Tante Manda. Sekuat tenaga aku mencoba untuk menahan tangisku.


Ini baru awal, tapi sakitnya sudah seperti ini. Ibuku sampai terus memegang tanganku, memberiku kekuatan.

__ADS_1


Aku kembali bertanya-tanya, apa aku sanggup hidup bersama dengan seseorang yang kini berstatus sebagai maduku?


Namun aku kembali teringat pada calon bayiku, ia membutuhkan ayahnya. Bayi yang dikandung Tante Manda juga membutuhkan Mas Rey, jadi aku bisa apa sekarang?


Semuanya baru saja dimulai tapi hatiku sudah terseok-seok seperti ini.


Namun untungnya, Mas Rey selalu mengabaikannya. Tak pernah ia menyambut Tante Manda. Yang membuat aku sedikit kuat dan berusaha untuk bertahan adalah, sikap Mas Rey menyiratkan kata-katanya selama ini. Ia tak lagi mencintai Tante Manda dan aku bisa melihat itu. Sebaliknya, ia selalu menatapku sedih seakan meminta maaf padaku.


Setelah makan siang kami pamit pulang, iya kami bertiga akan kembali ke rumah Mas Rey. Saat berjalan menuju mobil Tante Manda memegang tangan Mas Rey dan sedikit menjauhkannya dariku.


"Sayang, kita pulang ke apartemen aku ya? Kita di sana... " Mas Rey segera menghempaskan tangannya dari Tante Manda.


"Kamu mau pulang ke apartemen kamu terserah! Aku sama Danis pulang ke rumah kami." Ujar Mas Rey seraya meraih tanganku dan membawaku ke pintu penumpang depan.


"Rumah kami?!" Kesalnya. "Itu rumah kita sebelum ada Danis!"


Aku ataupun Mas Rey tak ada yang menggubrisnya. Mas Rey membukakan pintu dan mempersilahkan aku masuk. Tapi seketika Tante Manda menarik tanganku.


"Manda!!" Mas Rey terlihat jengah.


"Udah Mas, gak apa-apa aku di belakang aja." Ujarku tak ingin berdebat hal tak penting dengannya. Aku cukup kelelahan dengan hari ini, jadi aku benar-benar tidak memiliki tenaga lagi untuk mendebatnya.


Tante Manda pun masuk ke pintu penumpang depan, sedangkan Mas Rey membukakan pintu belakang dan membantuku masuk, kemudian menutupnya.


Selama perjalanan Tante Manda terus bertingkah. Tangannya tak mau diam dan berkata hal-hal menyebalkan. Aku tahu sepertinya ia sengaja ingin membuatku cemburu.


"Sayang, kita honeymoon, yuk. Kamu inget gak dulu kita ke Bali? Pokoknya aku pengen kita ke luar negeri. Masa kamu bawa Danis ke Korea, sedangkan aku? Kita harus minimal ke Eropa ya. Eh tapi sekarang namanya bukan honeymoon, tapi babymoon. Kan udah anak kita sekarang di perut aku. Mau 'kan, Sayang?" Ujar Tante Manda seraya menyentuh pipi Mas Rey.


Tapi Mas Rey langsung menghempaskan tangan Tante Manda. "Kamu bisa diem gak sih?!"


"Kamu kok, gitu sih? Aku ini udah jadi istri kamu lagi loh. Aku juga lagi hamil, harusnya kamu manjain aku. Dari tadi kamu nyuekin aku terus." Gerutunya.

__ADS_1


Kami berada di persimpangan dan lampu merah menyala. Mas Rey menghentikan laju mobilnya dan menatap ke arah Tante Manda.


"Kamu denger baik-baik ya, Man. Aku nikahin kamu lagi karena aku belum bisa buktiin semuanya. Sampai saat ini, aku masih yakin kalau anak itu bukan anak aku. Aku belum nyerah, Man. Aku bakal bongkar kebusukan kamu. Tunggu aja." Ancaam Mas Rey tanpa perasaan.


"Rey, kenapa sih kamu masih belum percaya? Okay, aku emang yang maksa kamu dateng. Tapi saat ketemu aku, kamu langsung nyium aku, terus kamu ngelepasin semua baju..."


"STOP!!" Teriak Mas Rey. "Aku gak pernah ngelakuin itu. Aku tahu betul itu! Kamu berhenti ngarang cerita!" Amarahnya sepertinya sudah berada di puncaknya karena Mas Rey berteriak keras sekali.


"Terserah kamu deh, yang pasti sekarang kamu harus terima, ini anak kamu! Anak yang udah kamu tunggu-tunggu dari selama lima tahun!"


"Anak itu bukan anak aku! Dan aku peringatkan sekali lagi, Man. Bagi aku istri aku hanya Danisa. Kamu bukan siapa-siapa bagi aku." Tegasnya.


Tante Manda terdiam. Kedua tangannya mengepal kuat. "Semua ini gara-gara Danis..." Gumamnya kesal. Ia melirik ke arahku yang sejak tadi hanya terdiam mendengar segala ocehannya. "Kamu yang bikin Rey kayak gini sama Tante!!"


Aku menghela nafas kasar mencoba menghilangkan emosiku. Aku benar-benar tak ingin berdebat dengannya. Ku alihkan pandanganku dan melihat hiruk pikuk di luar jendela. Sungguh aku lelah. Aku hanya ingin tidur.


"Berhenti, Man! Kalau kamu masih ngomong juga, aku bakal paksa kamu turun sekarang juga." Ancaam Mas Rey lagi. Membuat Tante Manda tak punya pilihan lain selain menutup mulutnya.


Beberapa saat kami tiba di rumah. Tante Manda kembali berceloteh. Ia terus menuturkan kata-kata penuh iri dengki setelah melihat interior rumah yang berubah.


Aku sudah tak tahan. Rasanya telingaku pegal mendengar segala ocehannya. Mas Rey pun mengabaikannya dan membawaku ke arah kamar kami.


"Loh, Danis tidur di kamar itu? Terus aku?" Langkahku terhenti mendengar ucapannya yang tak terima aku akan memasuki kamarku dan Mas Rey, yang adalah kamar utama di rumah ini.


"Kamar kamu disana. Barang-barang kamu udah ada di dalam." Ujar Mas Rey. Kali ini Mas Rey juga tak banyak mengeluarkan emosinya saat bicara, sepertinya Mas Rey juga sudahmulai lelah melihat tingkah Tante Manda.


"Disana?! Kamar aku disana?!" Telunjuknya mengarah ke sebuah kamar yang terletak agak belakang, pintunya terletak di ruang tengah dekat dengan pintu menuju halaman belakang. "Gak bisa! Aku mau di kamar itu! Itu kamar kita dulu!"


Tiba-tiba rasa kesalku sampai di ubun-ubunku. Aku berbalik dan berteriak padanya. "Tante sadar dong, Tante itu istri kedua sekarang! Apa salahnya dengan kamar itu? Kamar itu juga nyaman, sama luasnya sama kamar ini? Tante kalau mau tinggal di sini, jangan banyak drama deh! Telinga aku tuh udah pegel tahu gak denger semua ocehan Tante dari tadi! Sekarang Tante masuk dan istirahat! Kalau enggak Tante balik lagi aja ke apartemen Tante! Aku gak suka rumah ini jadi berisik! Sekali lagi Tante berisik, aku bakal banting Tante pakai jurus karate aku, Tante mau? Aku gak peduli kalau Tante jatoh dan keguguran. Bagus malah! Jadi Tante gak usah nikah lagi sama Mas Rey!"


Kata-kataku total membuat Tante Manda tercengang. Mulutnya terbuka lebar. Tapi aku segera membuka pintu dan menarik tangan Mas Rey masuk ke dalam kamar kami.

__ADS_1


__ADS_2