
Setelah Mas Rey meninggalkan rumah
Fina menghampiriku yang sedang duduk di sofa di beranda belakang, depan kolam renang. Kedua tangannya membawa banyak goodie bag. Isinya ada berbagai macam makanan yang dibelinya sebelum datang kesini.
"Lo sampai bawa makanan sebanyak ini, Fin. Lo gak akan tekor?"
"Gak apa-apa. Ini buat calon keponakan gue. Permintaan maaf karena auntynya baru bisa dateng kesini." Di usapnya perutku olehnya. "Gimana sehat 'kan dia?"
Aku mengangguk bahagia. "Sehat kok. Anteng banget dia di dalem. Kayak papanya, gak pernah rewel gak pengen apa-apa. Cuma dia selalu bikin gue gak pengen ngapa-ngapain. Pengennya diem aja."
"Beneran anak Om Rey kalau gitu, persis banget." Fina terkekeh. "Eh, Nis, gue dateng sama Vito. Gak apa-apa 'kan dia ikut?"
Sebenarnya aku agak sedikit enggan, tapi ya jika dia ingin menjengukku dan sekedar main, tidak apa-apa. Yang penting ada Fina yang menemaniku. "Ya gak apa-apa kali. Mana dianya?"
"Masih di luar kayaknya?" Fina menoleh ke arah pintu. Lalu terlihat Vito berjalan menghampiri kami. "Nah itu sadboy dateng." Canda Fina.
"Sialan, masa gue disebut sadboy." Cetus Vito, membuat kami berdua terkekeh.
Bi Karti menghampiri dengan sebuah nampan berisi dua gelas kosong. "Nyonya, ini gelas kosongnya. Tadi Bibi lihat temennya bawa cola, jadi Bibi bawain nih gelasnya."
"Makasih ya, Bi. Bibi, ayo ambil makanannya." Tawarku.
Bi Karti langsung menggeleng. "Gak usah, Nyonya. Bibi udah makan masih kenyang." Ujarnya seraya meninggalkan kami. "Permisi."
"Itu ART baru?" Tanya Fina seraya menuangkan cola ke dalam dua gelas kosong itu.
"Bukan, itu yang ngasuh Mas Rey dari waktu kecil. Dia sekarang kadang disuruh kesini sama Mas Rey nemenin gue. Secara gue banyak magernya sekarang."
"Perhatian banget sih suami lo. Sehari-hari udah ada ART yang kerjanya beres-beres. Sekarang, dia nyuruh pengasuhnya buat nemenin lo. Lo udah beneran jadi Nyonya Reyhan Panca Kusuma." Seloroh Fina.
Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Tak sengaja aku menoleh ke arah Vito, ia terlihat kesal dengan percakapan ini.
"Silahkan, Nyonya. Minumnya susu ya, Nyonya gak boleh minum cola dulu. Gak sehat buat debay. Iya 'kan Pak Dokter?" Fina menyodorkan sekotak susu ibu hamil untukku, alih-alih memberiku cola, seraya menyimpan segelas cola di meja di hadapan Vito.
"Lo lagi cosplay jadi Bi Karti?" Aku terkekeh seraya menerima susu itu.
"Abis lo apa banget dipanggil 'nyonya' di umur lo yang segini." Komentar Fina.
__ADS_1
"Gue juga pengennya dipanggil 'mbak', tapi Mas Rey pengen gue dipanggil kayak gitu. Katanya gue 'kan istrinya dia, jadi jangan panggil gue pakai 'mbak' lagi."
"Hidup lo nyaman banget kayaknya ya, Nis." Akhirnya Vito bersuara. Ada nada tidak suka dari nada bicaranya.
Aku tak menyahutinya dan mulai meminum susu kotak khusus ibu hamil itu.
"Apaan sih lo, Vit? Komentar lo kayak gak suka lihat Danis hidup nyaman." Sindir Fina.
"Gue komentar gitu justru karena gue tahu hidup Danis gak senyaman itu. Mana ada cewek yang bahagia suaminya punya istri lain." Ujar Vito gamblang.
Suasana hening seketika. Selama ini tak ada yang pernah membahas kondisi kami bertiga lagi termasuk ibuku dan Mbak Kinan. Mereka semua selalu menjaga perasaanku.
Selama satu bulan hidup dengan situasi seperti ini, aku tak pernah lagi tahu tentang kabar Tante Manda, juga seperti apa interaksinya dengan Mas Rey saat mereka berada di dua hari itu.
Termasuk Mas Rey sendiri. Saat bersamaku ia tak pernah menyinggung Tante Manda. Jika ia harus pergi setelah lima hari bersamaku pun, ia tak pernah mengatakan akan pergi menemui Tante Manda. Ia hanya akan mengatakan "Mas pergi dulu ya. Dua hari lagi kita ketemu lagi."
Baru tadi lagi, saat kami memeriksakan kandungan, aku menyinggung Tante Manda lagi, karena aku khawatir Mas Rey tidak ingat kapan Tante Manda memeriksakan kehamilannya, jadi aku mengingatkannya.
Ini pertama kalinya ada orang yang kembali membahas mengenai kondisi kami bertiga. Hatiku rasanya kembali seperti remuk. Apalagi sekarang Mas Rey tak ada bersamaku. Pikiran-pikiran mengenai bagaimana interaksinya di sana bersama Tante Manda terus menghantuiku.
Seketika pandanganku kabur dan pipiku terasa hangat dan basah.
"Yah, Nis. Jangan nangis dong." Ujar Fina ikut merasa simpati. Lalu ia menoleh ke arah Vito dengan geram. "Gara-agar lo sih! Ngapain sih lo harus bahas-bahas masalah itu? Tahu gitu gue gak akan ngeiyain pas lo pengen ikut gue ke rumah Danis."
"Gue cuma kasihan sama Danis. Dia harus nikah sama om-om di umur dia yang baru 18 tahun. Harusnya sekarang Danis tuh ikut kegiatan mahasiswa, nongkrong dimana gitu abis kuliah. Bukannya malah jadi istri orang, mana sekarang hamil, dengan kondisi dimadu pula."
Fina segera memukul mulut Vito lumayan keras, membuat Vito meringis kesakitan. "Mulut lo emang harus banget gue pukul kayaknya!"
Aku terkekeh melihat tingkah mereka. "Udah Fin, kasihan si Vito. Entar mulutnya jontor." Candaku seraya menghapus air mataku. Kami pun tertawa mendengar gurauanku.
Mungkin kata-kata Vito terdengar keterlaluan. Tapi itu memang kenyataannya. Orang lain selain Vito pasti banyak yang berkata seperti itu tanpa sepengetahuanku. Hanya saja tidak cukup berani berbicara di depanku. Hanya Vito yang dengan nekatnya mengatakan itu tepat di depan hidungku.
Namun, aku tak marah padanya. Justru aku merasa berterimakasih karena itu artinya ia bersimpati padaku. Ia sampai sekesal itu melihat keadaan pernikahanku yang seperti ini.
"Awas ya sekali lagi mulut lo ngomong kata-kata yang gak perlu. Gue usir juga dari sini!" Ujar Fina yang sepertinya masih jengkel.
Vito hanya bisa terdiam dan mendengus kesal.
__ADS_1
"Udah, udah. Gak usah berantem. Kita 'kan di sini mau ngabisin weekend bareng." Leraiku. "Eh gimana kalau kita pindah ke ruang tengah, sambil nonton. Biasanya lo punya rekomendasi film yang bagus, Fin."
Aku berusaha untuk terlihat ceria. Seperti inilah caraku, daripada aku harus terus larut dalam kesedihan. Lebih baik aku mengalihkan perhatianku.
Kemudian kami memindahkan semua makanan ke meja ruang tengah dan mulai mencari film rekomendasi Fina di netflix untuk kami tonton. Namun baru saja beberapa menit film diputar, Fina mendapat pesan katanya sang ayah jatuh di kamar mandi. Ayahnya yang masih sakit itu, kini memang dirawat oleh pamannya Fina yang tinggal di Jakarta.
Mau tak mau Fina harus pergi.
Ia pun pamit, tak lupa ia memaksa Vito untuk ikut pulang bersamanya. Ia tak ingin membiarkan Vito hanya berdua saja denganku. Aku pun mengantar mereka ke depan rumah.
"Nis, gue pulang dulu bentar ya. Gue pengen lihat dulu keadaan bokap gue. Katanya sih gak apa-apa, cuma memar dikit di tangan. Tapi gue pengen lihat dia dulu. Entar gue langsung ke sini lagi." Terang Fina.
"Nyantei aja, Fin. Lo mending temenin bokap lo dulu aja. Gue gak apa-apa kok, ada Bi Karti juga yang nemenin gue. Pokoknya kalaupun lo gak jadi nginep juga gak apa-apa. Okay? Gue malah gak enak kalau lo malah disini sedangkan bokap lo sakit." Ujarku.
"Enggak, Nis. Beneran, bokap gue udah jauh lebih baik. Gue cuma pengen mastiin aja semuanya, terus nanti gue langsung ke sini lagi. Tunggu, ya." Ia mulai menyalakan motor cross jingga miliknya. "Buruan lo juga bawa motor lo, Vit."
Vito dengan malas mulai menunggangi motor ninja putihnya dan mengeluarkannya dari halaman depan rumah.
Namun mendengar deru motor besar milik Vito yang meraung-raung, entah bagaimana aku mulai tertarik pada motor itu.
"Vit, susah gak sih pakai motor kayak gitu?" Tanyaku, entah mengapa aku penasaran.
Vito menatap motornya dan aku bergantian dengan heran.
"Vit, buruan!" Teriak Fina yang sudah berada di luar gerbang rumah.
"Fin, lo duluan aja." Aku menyahutinya. "Gue ada perlu sama Vito."
Fina tercengang. "Serius lo, Nis?"
"Iya. Lo lupa siapa gue? Udah lo berangkat aja. Salam ya buat bokap lo."
"Ya udah deh kalau gitu. Entar gue balik lagi ya." Kemudian Fina pun pergi bersama motornya.
Aku menghampiri Vito dan motornya dengan riang.
"Vit, ajarin gue pakai motor lo. Please?" Ucapku dengan mata berbinar.
__ADS_1