Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 69: Dua Pria Bodoh


__ADS_3

Rey's Point of View


Rey duduk di meja sebuah ruangan VIP di restoran bintang lima. Ia sudah sampai sekitar lima menit yang lalu. Sambil menunggu, pikirannya melanglang buana ke masa lalu, saat ia masih sangat menaruh rasa pada mantan istrinya itu.


Dulu Rey sangat ingin bertemu dengan laki-laki hebat yang sedang ditunggunya ini. CEO dari berbagai bisnis multinasional, kekasih gelap Amanda yang menjalin hubungan dengannya selama kurang lebih lima tahun, waktu yang hampir sama dengan waktu pernikahannya dengan Amanda.


Ia juga ingin membuat perhitungan pada laki-laki yang sudah membuat Amanda berpaling itu. Namun dengan segala pengaruh yang dimiliki pria itu, ia seperti tak tersentuh. Seujung rambutpun, tak pernah Rey bisa bertemu dengan laki-laki ini.


Tapi kini rasanya terhadap Amanda sudah hilang. Sebetulnya dalam hati ia juga sudah tak peduli dengan pria ini. Namun, Amanda harus mendapatkan pelajaran.


Tak lama, sosok yang tak lebih tinggi darinya itu datang. Rambutnya sudah dipenuhi uban, kulitnya keriput, sudah tak muda lagi. Namun wibawanya begitu kuat menyeruak. Ia berjalan dan menghampiri meja yang di tempati Rey.


Sontak Rey berdiri, menyambut pria itu. Langsung saja Rey menyapanya, dengan berbahasa Jepang.


"Selamat datang, Pak Akagi." Sambut Rey. Merekapun kini duduk berhadapan.


"Terimakasih, Pak Reyhan." Ujarnya. "Akhirnya kita bertemu juga."


"Betul, akhirnya kita bertemu. Jika saja anda tidak terus menerus menolak permintaan saya untuk bertemu, mungkin kita sudah bertemu sejak beberapa tahun lalu." Ujar Rey.


"Mana mungkin saya mau menemui suami dari kekasih saya." Ujarnya dengan tenang, seakan yang dikatakan bukanlah apa-apa.


Rey tersenyum meremehkan. "Tetapi jika saya menjadi anda, saya akan menemui anda dan menghadapinya dengan berani suami dari perempuan yang sudah saya selingkuhi. Bukan malah menjadi pengecut."


Pria itu terkekeh pelan. "Baru kali ini ada seseorang yang berani mengatakan saya seorang pengecut."


"Terimakasih atas pujiannya." Ujar Rey sarkas.


"Baiklah." Ia menghela nafas. "Kita selesaikan semua ini secepatnya. Saya tidak bisa lama-lama. Saya yakin arsitek terkenal seperti anda, sama sibuknya dengan saya. Bahkan mungkin lebih sibuk."


"Saya setuju. Kita tidak perlu mengobrol untuk menjadi lebih akrab. Kita hanya perlu menyelesaikan apa yang belum selesai."


"Baik. Jadi apa yang anda inginkan dari saya?" Tanyanya to the point.


"Saya ingin hasil tes DNA itu."


"Hanya itu?" Tanyanya.


"Iya itu saja. Karena asisten anda, saya tidak bisa mendapatkan hasil tes itu bahkan setelah saya dibantu oleh dr. Yamato. Saya hanya ingin membuktikan pada istri saya dan juga keluarga saya, bahwa saya sudah tidak ada hubungannya dengan Amanda."


"Jadi betul anda sudah melupakan Amanda, dan menikahi keponakan dari Amanda sendiri?" Tanyanya. Entah darimana ia tahu, namun Rey tidak heran. Tak ada yang Thomas Akagi tidak ketahui.

__ADS_1


"Betul. Dan saya sudah melakukan keputusan yang tepat. Bahkan jika anda ingin kembali pada Amanda sekarang, saya sudah tidak peduli lagi." Ujar Rey dingin.


Thomas menggeleng. "Saya sudah tidak akan terperangkap dalam permainan Amanda lagi. Kamu tahu, selama 60 tahun saya hidup, saya tidak pernah berpikir untuk menaruh hati saya pada seorang wanita. Wanita itu sangat merepotkan. Saya berhubungan dengan mereka hanya untuk bersenang-senang. Tapi Amanda membuat saya jatuh hati. Dia mengambil hati saya juga banyak bersenang-senang dengan uang yang saya berikan. Tapi pada akhirnya saya hanyalah seorang 'donatur' baginya. Saya hanya meminta ia tidak bermain dengan pria lain selain saya dan juga anda. Tapi ia malah mengencani banyak pria. Bahkan asisten kepercayaan saya sendiri, ikut mengkhianati saya karena Amanda."


"Mengapa anda menyetujui Amanda yang ingin merahasiakan hubungan kalian dari saya? Jika anda menaruh hati padanya, bukankah seharusnya anda merebut Amanda dari saya? Tapi yang anda lakukan justru ikut menutupi hubungan gelap kalian?"


"Saya tidak pernah bisa sepenuhnya mempercayainya. Saya tahu Amanda wanita yang materialistis. Walaupun Amanda berhasil menguasai hati saya, tapi saya masih bisa mempertahankan logika saya.Tidak mungkin saya menjadikannya seorang istri, meskipun ia sering menyinggung masalah ini. Maka dari itu saya tidak merebutnya dari anda. Karena saya tak berniat menikahinya. Jadi saya membiarkan hubungan kami, sekedar hubungan perselingkuhan semata."


"Pantas saja anda menjadi seorang CEO. Anda tidak sebodoh yang saya kira." Seloroh Rey dengan begitu beraninya.


"Tidak, kamu salah. Justru saya merasa sangat bodoh karena jatuh hati pada Amanda." Ucapnya seraya kembali terkekeh, menertawakan dirinya sendiri.


"Anda tidak sendiri. Saya juga laki-laki bodoh yang sudah terperangkap oleh permainan perempuan itu." Kini Rey pun ikut menertawakan dirinya dengan miris.


"Kamu benar. Kita adalah para pria bodoh, korban cassanova versi wanita." Ucapnya tak habis pikir.


"Untuk itu mari kita berikan perempuan itu dan juga 'teman kencannya' pelajaran." Ucap Rey dengan mantap.


"Kamu punya rencana?" Tanyanya.


"Sebetulnya Amanda sudah sangat kepayahan karena anda memutuskan hubungan dengannya, ia kehilangan 'donaturnya'. Sisanya biarkan menjadi urusan saya. Sedangkan anda, saya minta anda memberi pelajaran pada Watanabe Toshi. Saya tahu sulit bagi anda untuk memecatnya karena terlalu banyak hal yang diketahuinya mengenai anda dan juga perusahaan. Namun saya tidak peduli bagaimana caranya, anda harus bisa memberikan pelajaran padanya."


Thomas terdiam sejenak. "Baik. Saya setuju. Kamu tidak perlu khawatir. Toshi akan saya singkirkan secepatnya. Mereka harus mendapatkan pelajaran. Saya akan menghubungi anda lagi nanti."


Siang harinya Rey sudah kembali berada di kantornya. Pintu kantornya diketuk.


"Masuk." Sahut Rey agak berteriak. Masuklah seorang pria kurus ke dalam ruangan kantornya. Ia menoleh sekilas dari aktivitas menggambarnya. "Duduk." Titahnya pada laki-laki berkemeja kotak-kotak khas mahasiswa itu.


Dengan lemas Vito duduk di sofa di tengah ruangan itu. Rey pun menghampiri dan duduk di hadapan laki-laki itu.


"Gimana tadi malam, kamu menemani Manda?"


Vito mengangguk lemas.


"Dia sudah tahu tentang saya yang mengetahui tentang hubungan kalian berdua?"


Vito menatap Rey cemas. "Belum, Om."


"Kenapa belum?" Tanya Rey dengan alis bersatu.


"Saya gak tega. Dia pasti histeris dan menyalahkan saya."

__ADS_1


Rey menghela nafas kasar. "Tahu gitu, saya kasih tahu Danisa tentang ini."


"Jangan, Om! Saya mohon!" Sontak Vito agak berteriak karena panik. "Tolong biarkan saya sendiri yang memberitahukan ini pada Danis. Saya mohon sebentar lagi, kasih saya waktu. Setelah tahu semua ini, Danis pasti sangat benci pada saya. Saya belum siap untuk itu."


Rey menatap Vito dengan iba. Laki-laki di depannya begitu kacau. Ia masih muda, tapi sudah harus menanggung hal semacam ini. Tapi logikanya segera mengingatkan. 'Salah sendiri. Kenapa dia mau jadi berondongnya Manda.' Gumamnya dalam hati.


"Kamu mahasiswa kedokteran, 'kan? Saya juga merasa kamu bukan anak yang nakal. Tapi mengapa kamu harus melakukan semua ini? Uang yang diberikan Manda kamu gunakan untuk apa? Saya yakin bukan untuk membayar kuliah karena kamu penerima beasiswa."


Vito menunduk tak menjawab.


"Saya sudah bilang, saya tidak suka jika pertanyaan saya tidak dijawab." Ucap Rey dengan nada mengintimidasi.


"Saya..." Ujar Vito cepat. "Saya membutuhkan uang untuk membeli pakaian dan juga motor."


Rey tercengang mendengarnya. "Saya mengira semua mahasiswa kedokteran adalah anak-anak yang pintar. Ternyata ada juga mahasiswa kedokteran yang bodoh."


Vito hanya bisa kembali terdiam mendengar perkataan Rey.


"Untuk apa pakaian dan juga motor itu? Untuk menarik perhatian perempuan? Harusnya kamu belajar dengan tekun, raih gelar dokter kamu. Saat kamu sudah menyandang gelar dokter, saya yakin kamu tidak perlu mencari, tapi justru banyak perempuan yang akan mengejar-ngejar kamu."


Wajah Vito sangat tidak nyaman. Kedua tangannya terkepal kuat, kentara sekali ia sangat marah.


"Kalau ada sesuatu yang ingin kamu katakan, katakan. Jangan ditahan." Rey menyadari amarah sudah menguasainya Vito.


Vito menatap Rey dengan berang. "Semua karena Om mendekati Danis! Seharusnya saya yang mendapatkan Danis! Karena ada Om saya jadi tidak pernah dilirik sedikitpun oleh Danis! Saya ingin Danis melihat saya! Makanya saya ingin berubah!"


"Terus Danis jadi melihat kamu setelah kamu berubah?"


Vito kembali bungkam. Kata-kata Rey tak bisa dibalasnya.


"Semua itu bukan salah saya. Danisa bukan perempuan yang melihat materi. Jika kamu berpikir semua perubahan yang kamu lakukan untuk mendapat perhatian dari istri saya, kamu sudah sangat salah mengambil keputusan."


Vito kembali menghela nafas panjang, nampak sangat frustasi.


Rey mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat kepada Vito. Ia pun berkata. "Sekarang lupakan Danisa, karena sampai kapanpun kamu tidak akan bisa mendapatkan istri saya. Dia adalah milik saya selamanya." Cetus Rey.


Vito menatap mata Rey dengan putus asa.


"Rencana kamu dan Manda sudah gagal. Sekarang nasib kamu dan anak kamu ada di tangan saya. Kamu sekarang harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kamu perbuat. Besok, kamu datang ke tempat yang nanti akan saya beritahukan."


"Saya harus kemana, Om?" Tanya Vito khawatir.

__ADS_1


"Kamu akan tahu besok."


__ADS_2