
Setelah mengantongi restu dari Kakekku dan juga ibuku, acara lamaran pun dilakukan seminggu kemudian. Sejak itu kami disibukkan dengan persiapan pernikahan, bertemu berbagai vendor, memilih baju pengantin, foto prewedding dan lain sebagainya. Bu Sekar ingin pernikahanku dan Om Rey digelar dengan sangat meriah.
Aku sempat bertanya kepada Mbak Kinan, kakak keempat dari Om Rey, kenapa pernikahan ini harus digelar secara besar-besaran, bahkan Bu Sekar ingin pesta pernikahan aku dan Om Rey nanti diadakan jauh lebih megah dari pernikahan Om Rey sebelumnya.
Dan ia menjawab, "Dulu ibu sebetulnya terpaksa merestui pernikahan Rey sama Manda. Ibu itu gak suka banget sama Manda sejak pertama kali Rey ngenalin Manda. Makanya ibu bilang pernikahannya digelar biasa aja. Kayaknya ibu di situ udah ada firasat juga kalau rumah tangga Rey sama Manda gak akan berjalan mulus. Tapi sekarang, saat Rey ngenalin kamu, reaksi ibu beda banget. Ibu kayak bener-bener yakin kalau kamu adalah menantu yang tepat buat Rey. Jadi kali ini ibu bener-bener bakal bikin acara nikahan yang mewah, megah, dan besar-besaran."
Pernikahan Tante Manda yang sudah sangat mewah itu masih dikatakan biasa saja? Aku tak bisa membayangkan bagaimana pernikahanku nanti.
Aku hanya bisa menerima semuanya dengan tangan terbuka. Jujur aku tidak terlalu peduli akan seperti apa pesta pernikahanku nanti, begitu juga dengan Om Rey. Yang terpenting bagi kami hanyalah kami bisa resmi menjadi suami istri yang sah. Semua yang berkaitan dengan resepsi memang diserahkan pada wedding organizer yang ditunjuk oleh Bu Sekar langsung. Semua biaya juga ditanggung oleh beliau. Katanya, "ini adalah acara ibu menikahkan anak ibu, rasa syukur ibu yang ingin ibu ungkapkan pada semua orang yang ibu kenal dan mengenal ibu, bukan hanya tentang kalian yang menikah."
Jadilah semua dipersiapkan dengan amat sangat megah sesuai dengan keinginannya.
Dua minggu setelah lamaran, aku masih berangkat ke kampus seperti biasa. Seorang pegawai dari Bu Sekar mendampingiku untuk membawakan satu dus undangan pernikahan untuk teman-teman dan dosen-dosenku. Setelah perkuliahan selesai, aku dan Fina menyebarkan undangan itu pada semua orang yang aku kenal. Karena itulah pesan dari calon ibu mertuaku, undang semuanya untuk menyaksikan hari bahagia kalian.
Setelah semua undangan dibagikan, aku dan Fina duduk di taman sebelah fakultas yang bersebelahan dengan fakultas kedokteran.
"Ini undangannya sisa satu?" Tanya Fina.
"Iya. Itu buat Vito." Ucapku.
"Lo mau ngundang dia? Bukannya beberapa minggu terakhir dia udah sering nyuekin lo?"
"Gue kan harus ngundang semua orang yang gue kenal. Maka dari itu gue mau ngasih dia undangan ini. Dan juga lo lihat 'kan reaksi anak-anak tadi, kaget banget saat ngelihat undangan ini. Gue juga pengen Vito sekaget itu dan berhenti mikir gue yang enggak-enggak."
__ADS_1
"Bener banget. Selama ini lo diem aja dibilang cewek panggilanlah, cewek simpananlah. Dan pas tiba-tiba lo sebar undangan, orang-orang langsung pada diem. Ternyata yang selama ini mereka ghibahin bener-bener salah total! Gue suka gaya lo, Nis." Ia mengulurkan telapak tangannya padaku dan aku menyambutnya, kami pun ber-tos ria.
"Tinggal satu orang lagi yang harus kita buat ngerti. Makanya kita tungguin itu anak di sini." Tatapanku terus tertuju pada gedung fakultas kedokteran di hadapanku. "Gue gak terima dia bilang gue sug^r b^by. Cuma dia yang terang-terangan bilang kayak gitu di depan gue, bahkan dia kayak ngelabrak gue gitu. Yang lain 'kan paling juga cuma ngomong di grup atau bisik-bisik di belakang gue."
"Okay, gue juga penasaran ngelihat reaksinya. Eh, by the way, tante lo gimana?"
Seketika aku menghela nafas. "Tante Manda masih di luar kota, masih ada tugas luar dari kantornya gitu. Udah hampir sebulan dia gak ngasih kabar."
"Kok aneh? Dia bukannya waktu itu marah banget ya karena lo pacaran sama mantan suaminya? Apalagi sekarang lo mau nikah."
"Gue juga gak ngerti. Gue kira juga dia akan bikin kacau pas kemarin lamaran. Ternyata enggak. Kakek gue juga bilang dia gak bisa dihubungin. Pas Kakek gue ngehubungin kantornya, katanya Tante Manda emang ditugasin di resortnya yang di Bali selama dua minggu. Tapi udah mau sebulan dia belum balik lagi."
"Mencurigakan banget." Fina begitu serius.
"Gue takutnya justru pas resepsi nikahan gue nanti dia justru dateng dan bikin kacau. Tapi calon ibu mertua gue udah jaga-jaga, nanti katanya bakal banyak keamanan yang jaga. Takutnya ada apa-apa."
Aku menggeleng. "Gue belum tenang, Fin. Gue justru pengen ngomong face to face langsung sama dia dan bilang ke dia kalau gue gak ngerebut Om Rey. Dia sendiri yang bikin keadaannya jadi kayak gini. Bahkan dia sendiri yang bilang kalau gue bisa tinggal bareng Om Rey pas awal gue tinggal di rumah itu."
"Udah sekarang lo jangan mikirin Tante lo terus. Lo harus happy dan fokus sama hidup lo aja. Inget kakek lo bilang lo harus bisa ngerawat dan berbakti sama suami lo nanti."
Sontak aku menatap Fina cemberut. "Fin, kalau inget gue cuma tinggal seminggu lagi jadi cewek lajang, gue jadi deg-degan banget. Gue takut banget!"
"Udah, nikah udah paling bener buat lo sama Om Rey. Lo harusnya bersyukur karena dia masih jagain kehormatan lo. Jarang ada cowok kayak gitu di zaman sekarang, Nis."
__ADS_1
"Iya sih..."
Tiba-tiba Fina berteriak. "Itu si Vito!" Sontak Vito yang baru keluar dari gedung fakultas dan akan menuju ke taman untuk menjangkau kantin, menoleh ke arah kami.
Langsung saja aku menghampirinya. Ia terlihat tidak nyaman dan wajah kesalnya tertuju padaku, seperti itulah wajahnya beberapa minggu terakhir ini saat melihatku.
"Gue mau ngasih lo sesuatu." Ucapku seraya menyodorkan sebuah kartu undangan berwarna putih keemasan. Vito menatapku dan undangan itu dengan bingung.
"Ambil." Ku raih tangannya dan memaksanya menerimanya. "Dateng ya. Gue tunggu lo." Ucapku dengan senyum puas di wajahku.
Vito masih bungkam. Ia mulai memerhatikan undangan itu dan terkejut saat melihat namaku di sampul undangan itu. "Ini..."
"Iya, itu undangan pernikahan gue sama Om Rey."
"Lo...mau nikah sama Om lo itu?" Wajahnya berubah, sepertinya ia terkejut sekali.
"Iya. Sekarang lo tahu 'kan gue gak bohong. Gue bukan cewek kayak gitu. Gue sama Om Rey saling cinta dan sebentar lagi kita bakal jadi suami istri."
Pundak Vito naik turun, wajahnya berubah panik. "Tapi lo baru 18 tahun, Nis!" Teriaknya. Reaksi Vito di luar dugaanku.
"Emang kenapa? Om Rey sangat menghormati gue, jadi daripada terjadi sesuatu yang gak diinginkan, apalagi selama ini kita tinggal bareng, jadi kita nikah aja. Lagian kita saling cinta, gak ada alasan buat nunda pernikahan." Terangku.
Sontak Vito mencengkram tanganku, keras sekali. "Sakit, Vito!" Aku meringis.
__ADS_1
Matanya menatapku lekat, dan bahkan aku melihat air mata menggenang di pelupuk matanya. "Jadi, lo belum pernah ngelakuin itu sama Om lo?"
"Ngelakuin...?" Seketika aku mengerti. "Enggak, dong! Udah gue bilang calon suami gue adalah cowok baik-baik, dia ngehargain gue sebagai seorang cewek. Gue sama dia gak akan ngelakuin itu sebelum kita nikah!"