
Amanda's Point of View
"Vit..." Sosok Vito muncul di ambang pintu apartemennya. Dengan berderai air mata Amanda menghampirinya dan langsung saja masuk ke dalam pelukan pria kurus itu. Tangisnya pecah. Namun tak ia dapatkan balasan pelukan dari sang kekasih gelap, kedua tangan Vito menggantung di kedua sisi tubuhnya.
"Apa lagi sih, Tan? Kenapa Tante terus-terusan manggil aku buat dateng kesini?" Ujarnya kesal.
Dilepaskannya pelukan Amanda dan berjalan lebih dalam. Ia menuju dapur dan membuka kulkas, diraihnya sekaleng cola untuk menghilangkan dahaganya setelah kemacetan kota Jakarta yang dilaluinya saat datang ke sini.
Amanda masih di depan pintu, berdiri dengan tangan menutup wajahnya dan terisak.
Beberapa saat Vito masih mendiamkan sang tante. Setelah colanya habis, ia menghampiri kembali Amanda. "Tante kenapa sih, nangis gitu?"
"Bawa Tante ke kamar, Vit." Isaknya.
Vito mendengus. "Tante 'kan bisa jalan sendiri."
Amanda tak menyahut membuat Vito merasa tidak enak. Akhirnya dibopongnya Amanda menuju kamarnya dan membaringkannya di kasur. Saat akan pergi, Amanda menahan tangan Vito. "Peluk Tante, Vit."
Vito bergeming.
"Please, Tante butuh kamu." Mohonnya.
Dengan malas Vito berbaring di sebelah Amanda, dan merengkuh tubuh Amanda dalam pelukannya.
Amanda kembali terisak. Sebetulnya Vito jengah, beberapa minggu terakhir Amanda selalu seperti ini. Kesepakatan awal, mereka hanya akan berada pada hubungan fisik, tapi akhir-akhir ini Vito juga harus melakukan hal-hal seperti ini. Dan itu tidak masuk dalam kesepakatan awal yang mereka lakukan.
Namun Vito juga tidak bisa menolak karena uang dan barang-barang pemberian Amanda yang diterimanya sudah sangat banyak jumlahnya. Tidak 'profesional' saja rasanya jika Vito menolak keinginan Amanda yang telah 'berinvestasi' sebanyak itu padanya.
"Tante udah cerai." Ucapnya tiba-tiba. "Proses cerainya udah selesai. Tante udah benar-benar kehilangan dia, Vit." Amanda kembali terisak.
"Ya itu salah Tante sendiri. Kalau aku jadi suami Tante juga gak akan mau punya istri tukang main cowok." Ucap Vito tanpa perasaan.
"Tante baru sadar, Tante ternyata masih cinta sama dia. Padahal Tante gak memproses surat itu, tapi ibu mertua Tante ikut campur dan bikin semuanya kacau kayak gini!"
"Hebat banget berarti ibu mertua Tante. Udah bener tuh yang dilakuin sama dia. Pake koneksi yang dia punya buat nyelametin anaknya dari istri pl^y girl kayak Tante."
"VITO!!" Teriaknya, mendorong Vito menjauh darinya.
__ADS_1
Vito yang marah bangkit dari sisi Amanda dan bersiap pergi. "Katanya butuh, tapi diteriakin, sialan!" Umpatnya seraya berjalan menuju pintu.
Saat akan meraih gagang pintu, Amanda segera memeluk Vito dari belakang. "Tante minta maaf, Tante lagi kalut, Vit. Tolong temenin Tante. Kamu mau apa, Tante akan kasih buat kamu."
Vito melepas kedua tangan yang melingkar di perutnya. "Tante, aku mau ngomong." Kini ia menghadap kepada perempuan dengan mata yang berair dan sembab itu. "Aku akan kembaliin motor dan juga semua barang yang Tante kasih buat aku. Kita udahan. Aku udah muak sama semuanya!"
Dahi Amanda mengkerut. "Kenapa... Vito kenapa kamu tega sama Tante?!"
Vito terdiam menelisik sikap Amanda. "Jangan bilang Tante ada rasa sama aku ya."
Amanda memutar bola matanya dan menjauh dari Vito. "Pergi dari sini kalau itu yang kamu mau!" Usirnya, sekaligus menyanggah ucapan Vito.
Ia meringkuk di sofa dan kembali menangis tersedu-sedu. Melihat kondisi Amanda, rasa empati Vito muncul. Iapun menghampiri sang tante dan duduk di sebelahnya.
"Kenapa kamu gak pergi? Pergi sana! Tante gak butuh kamu! Tante akan suruh Sean kesini."
Sean, berondong lainnya yang 'dipelihara' Amanda diteleponnya. Tapi laki-laki yang juga berstatus sebagai mahasiswa itu tak menjawab teleponnya. Kesal, Amanda pun membanting ponselnya ke sembarang arah.
Vito hanya bisa menghela nafas melihat Amanda semakin histeris. Ia tak bisa pergi jika keadaan Amanda seperti ini. Didekatinya Amanda dan direngkuh tubuhnya.
"Udah dong. Tante tenang. Aku akan temenin Tante buat malam ini sampai Tante tenang. Tante boleh nangis sepuasnya sekarang. Tapi Janji cuma hari ini, besok-besok udah gak boleh nangis lagi. Inget Tante itu independent woman. Gak cocok banget nangis gara-gara cowok. " Ditepuknya punggung Amanda pelan.
Setelah beberapa saat Amanda sudah tenang. Tangisnya sudah berhenti, kendati demikian ia masih berada dalam pelukan Vito. "Thanks ya, Vit. Tante udah jauh lebih tenang sekarang."
"Sama-sama. Kalau gitu, aku pergi sekarang." Vito mendorong pelan tubuh Amanda dan beranjak dari sofa, namun Amanda menahannya.
"Kamu bener-bener mau pergi? Kamu beneran mau putus sama Tante?" Tanyanya menatap sendu pada Vito.
"Kayaknya iya. Aku akan balikin semuanya besok."
"Kenapa? Apa alasannya? Kamu kesel karena beberapa minggu terakhir Tante kayak gini sama kamu?"
"Yah..." Vito kembali duduk di sebelah Amanda. "Itu salah satu alasannya. Aku udah gak mau kalau kita ngelibatin perasaaan, udah gak sesuai sama kesepakatan awal."
Amanda terdiam sesaat. "Maafin Tante ya, Tante emang lagi banyak pikiran. Dan Tante butuh seseorang buat nemenin Tante."
"Udahlah lupain aja. Aku juga minta maaf kalau selama ini servis yang aku kasih kurang." Vito mengatakannya dengan mendengus. Hatinya kesal bukan main.
__ADS_1
"Kamu minta maaf, tapi kamu kok kayak kesel gitu?" Amanda menelisik.
"Jujur, aku nyesel setuju jadi berondongnya Tante." Ucap Vito dengan kesal. Raut wajahnya menunjukkan rasa penyesalan yang teramat sangat.
"Apa Tante kurang kasih kamu uang? Tante tahu harusnya Tante kasih kamu lebih dari ini. Servis kamu okay banget, muka kamu ganteng, walaupun kamu kadang nyebelin, tapi Tante suka sama kamu. Seharusnya Tante kasih kamu minimal mobil atau apartemen. Tapi Tante juga lagi gak bisa kasih kamu lebih. D^ddy Tante tahu Tante punya kamu dan Sean, jadi dia marah dan..."
"CUKUP TANTE!!"
Vito bangkit dari sofa dan berjalan beberapa langkah dengan tangan menjambak rambutnya.
"Tante tahu kamu marah. Maaf ya. At-atau, Tante akan kasih kamu nomor temen Tante yang bisa kasih kamu segala yang kamu mau, mobil, apartemen, liburan ke..."
"Aku gak mau, Tan!! Aku bukan nyesel karena Tante gak sekaya tante-tante lain, atau tante gak ngasih aku mobil, atau apartemen! Aku nyesel karena aku udah mutusin buat jadi kayak gini! Aku ngerasa hina! Mur^han!! Gak punya harga diri!!"
"Vito..."
"Aku terlalu kemakan sama ambisi aku buat deketin cewek yang aku suka. Aku pengen kelihatan keren di mata dia, di saat kayak gitu aku malah ketemu sama orang yang salah. Dia yang ngenalin aku ke dunia kayak gini sampai akhirnya aku kenal sama Tante."
"Tapi kamu pernah cerita kamu jadi deket 'kan sama dia? Bukannya itu bagus?"
Vito menggelengkan kepalanya. "Enggak, Tan. Dia gak pernah sama sekali ngelirik aku. Dan hal yang mencengangkan lagi, baru aku tahu hari ini. Ternyata dia sama kayak aku, dia jadi sug^r b^by!"
"Serius?"
Vito memijit kepalanya yang terasa berdenyut. "Selama ini aku ngelihat dia sebagai cewek yang baik, ceria, apa adanya, gak neko-neko, dan mandiri. Semuanya. Dia cewek paling perfect yang pernah aku kenal. Tapi ternyata tahu dia kayak gitu, bikin rasa kagum aku, rasa sayang aku sama dia berubah. Aku jadi ngerasa jij!k sama dia." Amarah tergambar jelas di kedua mata sipitnya. "Dari situ aku sadar, dia juga akan kayak gitu ngelihat aku kalau dia tahu kelakuan aku yang kayak gini."
Vito kembali merebahkan dirinya di sofa sebelah yang Amanda duduki. "Sekarang aku tahu, aku harus kembali sebelum aku makin jauh."
Amanda terkekeh. "Ternyata kamu emang naif banget. Tapi Tante gak akan maksa kamu buat tetap di 'dunia' ini. Itu pilihan kamu. Yang jelas, Tante akan kangen sama kamu nanti."
Vito menggeleng. "Kita gak akan ketemu lagi setelah ini, Tan. Aku juga minta tolong buat yang terakhir kali, tolong rahasiain semuanya. Kalau kita ketemu, pura-pura gak kenal aja. Tante bisa 'kan?" Tegas Vito.
Amanda menghela nafasnya, "Okay. Tante akan kubur dalam-dalam hubungan kita ini." Amanda menghampiri Vito, duduk di sebelahnya. "Tapi, kasih Tante salam perpisahan."
Vito terlihat menimang-nimang.
Tangan Amanda sudah mulai membuka kancing kemeja yang Vito kenakan. "Sebagai kenang-kenangan, motor itu buat kamu. Kamu cocok banget pakai motor sport. Tante gak mau kamu balik lagi ke motor matic butut kamu lagi."
__ADS_1
Vito mulai tergiur. "Thanks. Tapi ini terakhir ya?"
"Iya, Sayang. For the last time." Dikecupnya bibir Vito. "Motor itu buat kamu, dan setelah ini kita gak usah saling ketemu lagi. Tante janji."