Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 45: Berkunjung ke Dokter Kandungan


__ADS_3

Hari itu aku berkunjung ke rumah ibu mertuaku. Saat aku tiba di sana, ibu mertuaku langsung membawaku ke sebuah klinik kandungan. Tak lama Mas Rey yang sedang bekerja berjalan tergopoh menghampiri kami yang duduk di ruang tunggu.


"Bu." Wajah Mas Rey terlihat terkejut sekaligus lega. Ia mencium punggung tangan sang ibu, begitu juga aku mencium punggung tangannya. Kemudian ia duduk di sebelahku. "Sayang, kamu gak apa-apa?"


Dengan bingung aku menggeleng. "Gak apa-apa, Mas. Kenapa emangnya? Mas kok bisa dateng kesini?"


Mas Rey menatap sang ibu. "Bu, ibu bohong bilang Danisa pingsan dan dibawa ke rumah sakit?"


"Kalau gak gitu emang kamu bisa dateng? Ibu pengen kalian periksain ke klinik kandungan, minta vitamin biar kalian cepet dapet momongan."


"Ya ampun, Bu. Rey sampai ninggalin meeting sama pimpinan. Lagian kalau mau ke dokter kandungan gini, kenapa Ibu gak bilang aja. Sore juga 'kan bisa, Bu." Gerutu Mas Rey dengan lembut, tak ingin menyinggung sang ibu.


"Penting mana kebahagiaan rumah tangga kamu sama pekerjaan kamu itu?" Mas Rey terdiam. "Kamu itu udah pernah gagal berumah tangga. Ibu pengen kamu sekarang gak buang-buang waktu lagi. Kemarin Danisa udah menstruasi lagi. Itu tandanya bulan madunya gagal. Jadi mulai sekarang kalian harus berusaha lebih keras."


Aku merasa bersalah. "Maafin Danis ya, Bu."


"Enggak, Nak. Ibu gak nyalahin kamu. Kita cek kondisi kalian berdua. Semoga kalian sehat dan subur ya."


Tak lama dokter memanggil kami. Aku dan Mas Rey memeriksakan keadaan kami. Setelah hasil tes keluar, kami beserta ibu mertuaku menunggu penjelasan dokter.


"Jadi gimana keadaan anak dan menantu saya, Dok?"

__ADS_1


Dokter itu tersenyum. "Mereka sehat, Bu. Anda jangan khawatir."


Seketika kami menghela nafas lega.


"Usia pernikahan mereka masih dua minggu, jadi masih banyak waktu." Kemudian dokter memberikan tips dan nasihatnya agar aku bisa segera mengandung.


Setelah itu kami meninggalkan klinik itu, menuju rumah ibu mertuaku. "Ibu lega sekali kalian tidak memiliki masalah apapun. Sekarang dengarkan nasihat dari dokter tadi ya supaya cepat ada kabar baik."


"Iya, Bu. Ibu gak usah khawatir. Danis pasti minum vitaminnya yang rajin. Danis bakal secepatnya kasih Ibu kabar baik." Aku begitu bersemangat.


Bu Sekar tertawa senang mendengar ucapanku. "Ibu tunggu kabar baiknya ya, Nak. Ibu gak sabar untuk mendengar kabar itu. Juga Rey," Bu Sekar menatap tajam pada sang putra yang duduk di kursi penumpang depan. "Kamu denger tadi kata dokter? Kurangi begadang." Tegasnya.


"Iya, Bu. Rey gak akan begadang."


"Nah itu, 'kan. Kamu itu harusnya jaga kondisi kamu." Ibu mertuaku terus menceramahi Mas Rey. Aku hanya bisa tersenyum gemas melihat Mas Rey yang tidak berkutik di depan sang ibu.


Hingga tanpa terasa kamipun tiba di rumah kediaman Bu Sekar. Kami mengantar Bu Sekar ke ruang tengah dan di sana sudah ada Mbak Dewi. Melihat kedatangan kami ia menghampiri sang ibu dan memapahnya duduk di sofa ruang tamu.


"Jadi gimana keadaan mereka, Bu?" Tanya Mbak Dewi seraya duduk di samping sang ibu.


"Sehat, kok. Cuma harus lebih berusaha lagi." Ujar Bu Sekar. "Wi, kamu pesankan jamu kesuburan untuk mereka. Biar Danis cepat isi."

__ADS_1


"Rey sama Danisa udah dapet vitamin dari dokter barusan, Bu." Protes Mas Rey.


"Biar tambah afdol. Kamu jangan banyak protes." Tegur Bu Sekar membuat Mas Rey terdiam menurut.


Kemudian Mbak Dewi menatap ke arahku, dari ujung kaki ke ujung kepala. "Danis, kamu selalu pakai baju seperti ini?"


Sontak aku melihat ke arah pakaianku. Memang ada apa dengan pakaianku? Aku menggunakan pakaian seperti biasa. Sweater oversize, celana jeans belel, dan sepatu kets.


"Emang kenapa Mbak dengan baju Danis?" Tanyaku.


Mbak Dewi menghela nafas kasar. "Kamu sama Rey berdiri sebelahan gini, lebih mirip om sama keponakan. Bukan suami dan istri. Kamu ajak dong istri kamu belanja, Rey. Beliin dia baju yang lebih feminim dan dewasa."


"Mbak, Danis 'kan masih 18 tahun. Rey gak ada masalah sama pakaiannya."


"Kamu bisa ngomong gitu. Tapi kalau kalian pergi keluar, kalian pasti bakal dilihatin." Mbak Dewi menatapku tajam. "Kamu harus bisa lebih dewasa, Danis. Minimal kamu pakai make up sedikit."


Aku memang tidak pernah menggunakan make up. Malah aku tak bisa bersolek. Walaupun rasanya berlebihan, tapi memang benar, aku harus merubah pakaianku. Setidaknya saat harus pergi bersama dengan Mas Rey dan bertemu keluarganya aku harusnya tidak secuek ini.


Akhirnya karena Mas Rey terlanjur izin kerja, begitu juga aku yang izin tidak masuk di mata kuliah siang, maka aku langsung meminta Mas Rey membawaku ke mall.


"Sayang, kamu jangan terlalu dengerin apa kata Mbak Dewi. Mas gak masalah kok sama pakaian kamu."

__ADS_1


Aku mulai memilih beberapa pakaian di sebuah toko pakaian di mall itu. "Enggak, Mas. Mbak Dewi bener. Aku harus menyesuaikan sama Mas. Seenggaknya pas pergi ke rumah ibu kayak tadi aku harus lebih feminim."


"Tapi, Mas gak mau kamu jadi merasa gak nyaman."


__ADS_2