Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 62: Rencana Mas Rey


__ADS_3

Malam harinya setelah Mas Rey mengantar Tante Manda ke apartemennya, kami berada di ruang tengah. Aku berbaring dengan kepalaku di paha Mas Rey, sedangkan ia mengusap pelan rambutku.


Rasanya lega sekali. Kini aku tak akan melihat Tante Manda lagi di sini.


"Mas, Tante Manda..."


"Gak usah ngomongin dia." Potong Mas Rey geram.


"Tapi..."


"Kita udah sepakat 'kan tadi, lima hari Mas akan sama kamu. Dua hari Mas akan bareng Manda." Ucapnya jengah. "Udah, sekarang kalau kita lagi berdua kayak gini, jangan anggap dia ada. Anggap semuanya baik-baik aja. Bisa 'kan?"


Aku mengangguk patuh. "Iya, Mas. Terus kapan Mas mau beliin penthouse buat Tante Manda?"


"Secepatnya." Ucapnya. "Mas juga akan belikan kamu satu."


Sontak aku menatapnya. "Buat apa?"


"Masa Mas beliin Manda, tapi Mas gak beliin kamu?" Ujarnya.


"Gak usah, Mas. Apartemen yang Mas kasih aja gak pernah aku tempatin lagi. Sayang uangnya, Mas."


"Tabungan Mas ada banyak, Dan. Mas gak pernah pakai selama ini karena Mas lebih memilih untuk pakai gaji Mas untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan uang dari bisnis keluarga, gak pernah sama sekali Mas pakai."


"Tapi tetep aja, aku gak butuh Mas. Aku gak mau." Tegasku. "Yang penting Tante Manda setuju buat Mas lima hari bareng aku, aku udah bersyukur banget."


"Kalau gitu Mas jadi gak adil, dong." Keluhnya.


"Gak usah, Mas. Ya? Mending uangnya ditabung buat nanti anak kita sekolah. Kita sekolahin dia sampai tinggi, dimanapun dia mau, biar dia jadi orang sukses suatu hari nanti."


Mas Rey mengecup keningku seraya tangannya yang masih mengusap rambutku. "Kamu ini beneran masih 18 tahun? Tapi kok Mas ngerasanya kamu dewasa lebih dari tante kamu, Dan."


Aku melihat ke arah suamiku. "Iya dong, masih 18 tahun. Emang aku keliatan tua ya?"


"Bukan tua, Sayang. Tapi dewasa."


Aku tersenyum sejenak. "Mungkin karena aku sama Tante Manda beda. Aku terbiasa hidup susah dari kecil. Ayah cuma kerja jadi satpam di sebuah pabrik, sedangkan Tante Manda. Dia dibesarkan sama sepupunya Kakek yang kaya raya dan gak punya anak. Dia jadi kebiasa hidup enak dan dimanja. Jadi dia kayak gitu sekarang."


"Iya, kamu bener." Gumamnya. "Mas minta maaf ya, Sayang. Karena semuanya jadi seperti ini."


"Gak apa-apa, Mas. Tuhan gak akan ngasih kesulitan di luar batas kemampuan hamba-Nya untuk menghadapi kesulitan itu."


"Kamu sabar ya. Sebenernya, Mas lagi ngusahain sesuatu."


Sontak aku bangkit dari posisiku dan menghadap ke arahnya, penasaran apa yang sedang Mas Rey bicarakan. "Ngusahain apa?"


"Mas belum sempat nyeritain gimana Mas nyari bukti itu, 'kan?"

__ADS_1


Aku mengangguk penuh perhatian.


"Sebenarnya Mas minta bantuan sama seorang teman Mas, namanya dr. Yamato. Dia teman Mas waktu di Jepang. Kebetulan dia juga sering ke Korea, dia punya saham di rumah sakit itu. Mas minta bantuan sama dia. Akhirnya Mas mendapatkan hasil tes DNA itu, dan hasilnya, sudah kita lihat waktu itu."


"Tapi?" Tanyaku penasaran.


"Tapi, semuanya terasa aneh. Sebelumnya hasil DNA itu sulit sekali Mas dapatkan, Mas sampai datang ke Korea lagi. Tapi saat Mas sampai di sana, bahkan Mas bawa dr. Yamato untuk bantu Mas, surat itu Mas terima bahkan sebelum Mas menanyakannya. Seharusnya kalau memang karena sistemnya sedang mengalami gangguan, atau hasil DNA itu terselip diantara berkas lain, mereka mencari dulu, dan minimal meminta maaf atau kelalaian mereka, atau semacamnya."


"Jadi, maksud Mas, ini seperti kedatangan Mas udah ditunggu sama mereka?" Tebakku.


Mas Rey mengangguk. "Mereka langsung kasihin bukti itu gitu aja, bahkan tanpa bertanya Mas siapa dan keperluan Mas apa. Mereka juga ngasih hasil DNA itu sembunyi-sembunyi."


"Kok, aneh?"


"Makanya, Mas gak langsung pulang. Mas dibantu dr. Yamato nyoba nyari tahu tapi kabar yang Mas dapetin selalu sama, hasil tes DNA itu asli. Seakan orang-orang di lab rumah sakit itu udah diajak kompromi, untuk nutupin semua ini."


"Kalau jawabannya sama, bukannya itu berarti hasil tes itu benar-benar asli, Mas?"


Mas Rey terdiam menatapku. "Kamu gak percaya sama Mas, Dan?"


"Bukannya gitu, Mas. Tapi gak mungkin rumah sakit sebesar itu sampai 'membantu Tante Manda' untuk menutupi hal ini. Buat apa? Tante Manda itu siapa? Dia bukan orang yang punya kuasa sampai bisa nutupin hal kayak gini."


"Karena di belakang Manda ada seseorang yang namanya Thomas Akagi dan Watanabe Toshi,"


"CEO dan asisten di tempat Tante Manda kerja itu?" Tanyqku masih mengingat mereka.


"Iya. Thomas Akagi itu CEO tempat Manda bekerja. Dia pengusaha pemilik berbagai bisnis multinasional di berbagai negara. Selain Thomas, ada orang kepercayaannya Thomas, Watanabe Toshi, yang juga berhasil diperalat sama Manda. Kedua orang itu tunduk sama Manda."


"Manda udah putus sekarang sama CEOnya, tapi dengan orang yang namanya Toshi, masih. Dialah yang membuat semua ini terjadi, Dan. Dia yang bantu Manda ngejebak Om dan menyembunyikan bukti asli dari tes DNA itu."


"Harusnya Mas ceritain ini." Sesal kembali menyeruak di dalam dadaku. "Harusnya Mas ceritain semuanya sebelum aku nyuruh Mas nikahin Tante Manda. Mungkin kita gak akan kayak gini sekarang."


Mas Rey tertunduk lesu. "Maafin, Dan. Tapi saat itu, kamu tahu sendiri, semua orang gak ada yang percaya sama Mas. Bahkan Mas sendiri dilema. Mas sendiri sempat bimbang sekali, apakah Mas benar melakukan itu atau enggak. Kamu juga memaksa Mas untuk segera menikahi Manda. Jadi semuanya tidak bisa kita hindari."


Mas Rey benar. Aku sendiri saat itu begitu percaya bahwa Mas Rey yang membuat Tante Manda hamil. Jika semua ini benar permainan yang dibuat Tante Manda, maka Tante Manda sudah berhasil mempermainkan kami semua.


Benar-benar keterlaluan sekali dia!


"Terus sekarang gimana? Apa Mas mau nyerah gitu aja?" Tanyaku tersulut emosi.


Mas Rey menggeleng. "Sekarang satu kesempatan sedang datang pada kita. Perusahaan Thomas Akagi, meminta Mas untuk mendesain proyek terbaru mereka."


"Jadi?"


"Mas akan mencoba mencari cara agar Mas bisa bertemu langsung dengannya dalam waktu dekat. Mas akan membuka hubungan gelap Manda dengan supir kepercayaannya Thomas, dan membuat Thomas ada di pihak mas."


"Tapi apa Thomas akan percaya sama Mas?"

__ADS_1


"Mas yakin Thomas akan percaya. Karena Mas udah punya bukti-buktinya. Sekarang kita hanya perlu menunggu dia menghubungi Mas, karena dia orang yang sangat sibuk."


Seketika aku tak sabar. Jika semuanya berjalan lancar, maka rumah tanggaku dan Mas Rey akan kembali seperti semula.


"Semua ini harus kita rahasiakan." Lanjutnya. "Mas khawatir kalau Manda tahu, dia bisa ngegagalin semuanya lagi."


"Tapi gimana sama orang yang namanya Watanabe Toshi itu? Dia pasti tahu semua jadwal atasannya, termasuk kalau mas pengen ketemu sama dia?"


"Dia gak akan tahu, karena Mas dapet info, Watanabe Toshi lagi ada tugas khusus dari CEOnya di Korea. Jadi asisten Thomas saat ini yang selalu mendampingi Thomas, bukan Watanabe Toshi."


"Semoga apa yang udah Mas rencanain, berjalan lancar ya, Mas. Supaya kita bisa lepas dari Tante Manda."


Mas Rey merengkuhku, mengecup puncak kepalaku. "Pasti, Sayang. Kali ini Mas gak akan membiarkan Manda menang. Mas pasti akan membuat Manda terjatuh sangat dalam."


***


Minggu-minggu pun berlalu. Pemberlakuan lima hari bersamaku, dan dua hari bersama Tante Manda, benar-benar kami jalankan sesuai rencana. Aku tak ingin tahu apa yang Mas Rey lakukan disana bersama Tante Manda di penthouse baru miliknya.


Aku tidak peduli, dan aku tak ingin tahu.


Yang terpenting selama lima hari, Mas Rey selalu ada bersamaku dan kami menjalani kehidupan kami seperti biasa. Hingga saatnya aku memeriksakan kandunganku yang sudah memasuki minggu ke 10.


Kami mengunjungi seorang spesialis kandungan dan memeriksakan keadaan janinku, dan bersyukur janinku baik-baik saja.


Sepulang dari dokter Mas Rey mengantarku pulang, dan setelah ini ia akan kembali ke penthouse Tante Manda.


"Makasih ya, Mas." Ujarku saat kami tiba di rumah. "Ya udah, Mas pergi sekarang."


"Mas gak apa-apa terlambat, kok. Mas masih pengen sama kamu." Ia memelukku dengan eratnya.


"Mas juga harus bawa Tante Manda ke dokter 'kan? Ayo mas cepet, nanti terlambat ke dokternya. Nanti kita masih bisa chat kayak biasa."


"Tunggu Fina dateng, baru Mas pergi." Ujarnya bersih kukuh.


Kehidupan kami seperti ini memang sudah berlangsung selama sebulan. Setiap Mas Rey akan pergi ke penthouse Tante Manda, Mas Rey pasti menghubungi seseorang untuk menemaniku menginap. Kadang ibuku, kadang Mbak Kinan, dan kali ini Fina.


Ting tong!


Terdengar bunyi bel.


"Itu Fi..." Mas Rey segera membungkamku dengan bibirnya. Sampai bel itu berbunyi beberapa kali.


Aku mendorongnya karena khawatir Fina pergi. "Mas, nanti kalau Fina mikirnya gak ada orang di rumah gimana."


Ia mendengus. "Mas bakal kangen banget sama kamu, Sayang. Makanya Mas pengen cium kamu yang puas."


"Dua hari lagi juga ketemu lagi, Mas."

__ADS_1


"Mas udah cape hidup kayak gini." Ia pun bangkit dan berjalan menuju pintu. Lalu ia berbalik kembali, teringat sesuatu . "Oh iya, Mas tadi dapet kabar, dua hari lagi Mas ketemu sama Thomas Akagi."


Setelah satu bulan menunggu, akhirnya kesempatan itu datang juga. Aku semakin tak sabar. Semoga semuanya yang direncanakan Mas Rey bisa berjalan lancar sesuai rencana.


__ADS_2